KADAL

28/01/2013 at 11:28 (cerpen)

Kadal terhitung tak seberapa menakutkan dibanding dengan ular. Lebih-lebih ular kobra yang sekali pagut bisa menghilangkan nyawa. Tapi kalau ada orang yang bilang bahwa kadal terhitung binatang yang menjijikkan, kita semua pasti akan segera setuju tanpa perlu ada voting segala macam.

Kodok, yang kawasan operasinya sama dengan kadal, sudah lama tercatat dalam daftar menu kita. Tapi kadal? Barangkali kalau ada orang yang sampai hati menggorengnya, para tetangga pasti akan segera mempergunjingkannya. Kekecualian selalu ada, adikku misalnya. Orang-orang yang dekat dengannya sudah lama pada tahu bahwasanya dia ini merupakan pelahap kadal nomor wahid. Bahkan konon, dia sendiri sudah menganggap dirinya betul-betul kecanduan daging kadal. Sehari saja menu kadal ini dia abaikan, eksim akan segera merata di sekujur kulit tubuh bak jamur di musim penghujan. Adapun asal-usul kebiasaan aneh itu konon begini : Sedari kecil adikku tersebut mengidap penyakit kulit. Diobatkan ke dukun mana saja tak mau sembuh. Dibawa ke poliklinik dan dokter partikelir juga sama saja.

Eksim itu nampak kerasan betul tinggal di badan adikku. Nenek bilang bahwa penyakit itu namanya gudig wesi – eksim besi. Besi itu diapa-apakan tetap saja kuat. Mengatasinya ya didiamkan saja. Coba besi itu kalau didiamkan saja kan malah karatan lalu keropos! Nenekku lalu menganjurkan agar eksim itu didiamkan saja dengan catatan si adik mesti jauh dari segala macam makanan ikan dan udang. Mana bisa? Itulah sebabnya ikhtiar yang lain segera ditempuh. Dia lalu meluangkan waktu untuk mandi di sumber air panas yang mengandung banyak belerang nun di lereng gunung sana. Hasilnya lumayan. Tapi lantaran dia malas kalau mesti tiap minggu naik turun gunung, maka si eksim datang lagi, malah lebih ganas dari yang kemarin-kemarin. Seisi rumah jadi puyeng.

# # #

Datanglah kemudian seorang famili dari jauh yang demi melihat tampang adikku yang compang-camping digerogoti eksim itu lalu menelorkan sebuah gagasan aneh. Adikku disuruh makan kadal. Mula-mula dia ogah. Tapi ketika dipaksa oleh ibuku, sekali, dua kali, tiga kali dan setelah berjalan sekian kali, eksim itu amblas entah ke mana perginya. Kulit adikku jadi mulus seperti semula. Malah lantaran kulit lama itu mengelupas, tampang adikku persis seperti cina. Kulitnya bersih kemerah-merahan. Tapi celakanya, kebiasaan makan kadal itu lalu susah dihilangkan. Setiap kali dicoba menu kadal itu ditinggalkan barang sehari dua hari, gejala eksim itu muncul lagi hingga buru-buru seekor kadal dipotong dan digoreng.

Dan atas pertimbangan bahwasanya kadal tidak tergolong hewan langka yang masuk dalam daftar binatang yang mesti dilindungi undang-undang, maka kebiasaan makan kadal iu sampai sekarang masih terus saja dilestarikan. Di kampung, kadal memang bisa dijumpai dimana saja kapan saja dan menangkapnya juga tidak susah. Tapi akhir-akhir ini pelestarian kebiasaan makan kadal itu kembali dipertimbangkan dengan serius oleh adikku. Soalnya dia telah nyata-nyata ikut masuk di daftar calon para yang mulia anggota wakil rakyat. Entah dia dicalonkan oleh partai apa aku kurang begitu ambil peduli. Jalan pikiran adikku begini : Kesempatan untuk ikut duduk di kursi yang sangat terhormat itu terhitung langka.

Hanya sekian tahun sekali, itupun kalau kebetulan ada koneksi di kalangan yang berwenang mendaftar pada yang mulia calon wakil rakyat. Kalau tidak? Sampai ajal tiba tetap saja akan jadi rakyat gembel yang diperintah dari atas sana. Pertimbangan lainnya adalah : Memanjat ke atas secara wajar di eksekutif ibarat jalannya seekor siput. Mula-mula golongan IIa lalu IIb terus golongan tiga tapi tahu-tahu sudah mesti pensiun. Lain kalau dengan lebih dulu melompat ke legislatif. Kalau nasib baik, setelah sekian tahun duduk di kursi wakil rakyat itu, tahu-tahu ada tawaran untuk sebuah pos yang lumayan tinggi di kursi eksekutif. Itulah sebabnya adikku lalu dengan penuh semangat ambil ancang-ancang. Antara lain dia telah memerlukan “sowan” ke hadapan kakandanya, yakni diriku sendiri.

“Sudah kau pikirkan baik-baik rencana itu?” hardikku dengan lantang untuk menguji mentalnya. Terjun ke dunia begituan konon mental mesti bagai baja.
“Memikirkan sih sudah lama Mas. Tapi keputusan akhir masih kabur.”
“Loh, kan sudah masuk daftar calon kan?”
“Ya, tapi kan Mas tahu sendiri. Orang seperti saya ini kan istimewa Mas. Tidak seperti yang lain-lain itu.”
“Maksudnya bagaimana?”
“Meski sudah resmi terdaftar tapi masih saja bisa jadi pegawai negeri. Tak ada problem, Mas. Pertimbanganku justru bukan jadi pegawai negeri atau anggota wakil rakyat.”
“Lalu?”
“Kalau aku tetap pegawai negeri, risikonya sudah jelas. Sulit merambat ke atas. Tapi kalau aku sampai terpilih dan duduk di kursi terhormat itu?”
“Ya, kan tidak ada masalah?”
“Ada! Apa masih tetap bisa makan kadal Mas?”
“Oho, itu maksudmu. Kenapa tidak bisa?”
“Pertama aku mesti boyong ke kota. Di kota kadal sudah terhitung langka hingga kalau toh masih ada harganya pasti berlipat ganda. Kedua, aku pasti sering rapat dan bepergian untuk meninjau macam-macam. Artinya harus tidur di hotel atau guest house dan makan menu yang sudah ditentukan. Dan akhirnya sudah pasti, eksim itu akan datang lagi.”
“Itu kan bukan masalah, to, dik!”
“Bukan masalah bagaimana, Mas? Orang sampai puyeng begini kok.”
“Kau pindah ke kota kan tidak ada soal. Di sana kadal memang bukan sekedar hanya langka, tapi malah sudah tidak ada. Tapi kau kan orang penting. Wakil rakyat kan penting. Kau bisa minta pada rakyat yang kau wakili untuk mengatasi masalah ini. Bisa saja mereka menangkapkannya untuk keperluan wakil mereka secara teratur tiap hari lalu mengirimkannya ke kota. Bisa saja kau mengusukan pada pihak eksekutif untuk mengusahakan pemeliharaannya. Kau toh bisa bilang bahwa kadal mengandung protein hewani tinggi dan bisa menyembuhkan penyakit kulit secara jitu. Kenapa masih ragu-ragu?”
“Lalu bagaimana kalau mesti ke luar kota?”
“Itu sepele. Kau bisa membawanya dalam tas. Bukan kadal hidup, tapi yang sudah digoreng dan bisa tahan beberapa hari. Mau apalagi. Atau bisa juga kau interlokal ke daerah yang akan kau kunjungi agar sedia kadal beberapa ekor untuk menu sang wakil rakyat. Itu bukan masalah, Dik!”

Adikku manggut-manggut. Nampaknya nasehatku ini sungguh amat mengena di hatinya. Sambil senyum-senyum dia minta diri. Tak lupa, seperti kebiasaannya selama ini, dia selalu meninggalkan beberapa ribu rupiah untuk anak-anak. Sebenarnya kurang begitu baik untuk perkembangan jiwa anak-anakku, tapi mau apalagi? Ini kan menandakan bakti seorang adik kepada saudara tuanya. Kalau dia langsung memberi padaku atau pada isteriku, pasti tak akan diterima. Jadi jalan keluarnya, ya disalurkan lewat tangan anak-anak itu. Biasanya kalau jumlahnya sampai puluhan ribu, ibunya anak-anak pasti segera mengamankannya dengan alasan anak kecil belum boleh pegang duit kelewat banyak. Nah, nampaknya masalah perkadalan yang dihadapi oleh adikku sedikit banyak sudah agak terpecahkan. Aku sebagai kakaknya tentu saja ikut senang bukan main. Lebih-lebih ketika pada suatu hari terbaca di sebuah koran : Budi daya Kadal, Alternatif Baru untuk Mengatasi Kekurangan Protein Hewani! Sub judulnya: Paijo, Seorang Pegawai Negeri telah Mempeloporinya! Buset, cepat benar dia bertindak.

Apa yang terbaca di koran itu sudah sangat jelas. Adikkulah yang disebut-sebut sebagai pelopor peternak kadal yang berhasil itu. Dia telah memakannya tiap hari, aku tahu. Dulu kebiasaan ini seketat mungkin dia rahasiakan lantaran sikon yang belum mengijinkan. Tapi jaman nampaknya telah berputar dengan cepat. Apa yang dulu tabu kini menjadi perlu. Apa yang dulu perlu sekarang malah mesti jauh-jauh dihindari. Untuk membuktikan berita di koran itu, pada akhir pekan aku memerlukan datang menemuinya. Dia nampak lagi sibuk melayani banyak sekali tamu. Aku duduk begitu saja di antara orang banyak itu. Mereka ada mahasiswa, ada dokter, ada wartawan, malah ada pula orang dari teve. Adikku mau masuk teve? Anak yang dulu penuh eksim berbelontang-belonteng itu akan dimasukkan teve?

“Jadi sebagaimana anda semua ketahui,” kata adikku dengan lantang pada hadirin. Orang teve menyorotnya pakai lampu tajam. “Sekarang ini masalah pangan, dalam arti padi, sudah bukan persoalan lagi. Produksi sudah melimpah. Tapi soal protein?”
“Lalu bagaimana pengalaman bapak selama ini dengan kadal. Maksud kami seluk-beluknya?” tanya seorang hadirin yang ternyata wartawan.
“Gurih! Dagingnya sangat gurih. Nanti saudara-saudara semua bisa ikut serta mencicipinya.”
“Lalu bagaimana prospeknya di masa mendatang ini Pak? Apakah ada kemungkinan populasi kadal lalu akan merosot hingga pemerintah mesti mengimpornya untuk konsumsi protein dalam negeri?” tanya si mahasiswa.
“Jangan ngaco!” sambar adikku dengan garang. Untuk sementara aku diam saja mengikuti debat ini. “Begini. Dari tadi kan aku sudah bilang, kita mesti segera membudidayakannya. Jadi apa yang saya lakukan selama ini bukannya sekedar memelopori makan kadal tapi sekaligus memberi contoh bagaimana cara membudidayakannya. Jadi nantinya orang yang gemar makan kadal mesti memeliharanya dan bukan sekedar mencaplok dari kebun orang atau parit tetangga.
“Katanya juga berkhasiat untuk obat Pak?” tanya dokter yang dari tadi cuma bengong itu.
“Persis! Ini, itu kakak saya itu, yang baru datang ini tadi, dialah yang paling tahu bagaimana keadaanku dulu. Penuh eksim. Dan sekarang bagaimana keadaan saya. sebagaimana anda semua lihat, kulit saya malah mirip cina kan?”

Hadirin manggut-manggut, istri adikku keluar membawa baki berisi beberapa piring daging kadal. Ada yang digoreng, ada yang disate, ada yang disop. Hadirin dengan ragu, tapi malu menolaknya, segera melahapnya. Habis acara makan yang disorot kamera teve itu, hadirin diantar oleh adikku ke kebun belakang rumah. Di sana ada pagar kawat mengelilingi puluhan ekor kadal. Wartawan memotret. Dokter dan mahasiswa tanya ini-itu. Orang teve menyorotkan lampu serta kameranya. Mereka semua nampak gembira dan manggut-manggut. Mendadak saja popularitas adikku dengan pesat meroket. Namanya terdaftar sebagai tokoh nasional yang disegani. Tiap hari tamu berdatangan ke rumahnya. Ada pejabat pemerintah, ada pedagang, ada hansip tapi yang terbanyak adalah orang kena eksim yang ingin mencicipi daging kadal. Kesibukan adikku juga meningkat. Hampir tiap malam dia diundang berceramah. Tentu saja ceramahnya hanya berkisar sekitar kadal jua adanya. Ceramah itu selalu disedot oleh koran dan majalah dan tampang adikku dengan anggun terpampang di sana. Tatkala pada suatu hari dia kutanya mengenai bagaimana kabarnya kelanjutan cerita pencalonannya menjadi anggauta wakil rakyat dulu itu, adikku hanya tersenyum.

“Sekarang menjadi tidak begitu penting, Mas.”
“Kok?”
“Terpilih sih pasti terpilih. Pindah ke kota juga pasti. Tapi semua itu sekarang kalah dengan soal kadal. Ini sebentar  lagi ada orang bule mau datang. Dia itu orang lembaga asing yang tertarik pada soal kadal, dan mau menyalurkan dana untuk keperluan penelitian.
“Lalu bagaimana dengan kerjamu di kantor. Kau kan masih pegawai negeri?
“Yah, kegiatan perkadalan ini kan juga ada kaitannya dengan kesibukan kantor kan? Jadi begini Mas, orang seperti saya ini memang sulit dipisah-pisahkan dengan tegas. Kantor dan pribadi kan sulit untuk dipisahkan kalau sudah seperti saya ini.

Adikku benar. Menjadi wakil rakyat agar bisa menjangkau kelas elit di negeri ini nampaknya sudah tak begitu penting lagi baginya. Dengan kadal dia sudah bisa bergaul dengan menteri. Karena kadal, sekarang adikku jadi akrab dengan gubernur, sementara atasannya sendiri belum pernah sekalipun bisa tatap muka dengan bupati. Berkat usaha adikku, tiba-tiba saja seluruh negeri terjangkit demam kadal. Di mana-mana warung makan yang menyajikan menu kadal bermunculan. Koran dan majalah berebutan menampilkan riwayat hidup adikku. Teve dengan bersemangat menyiarkan berbagai resep ciptaan istri adikku. Terakhir : pemerintah dengan tegas mencanangkan kampanye nasional makan kadal. Untuk menanggulangi eksim dan mencukupi keperluan protein. Seluruh keluarga sungguh bangga dengan prestasi adikku yang satu ini. Kecuali aku. Soalnya tiba-tiba saja nama adikku bertambah. Sekarang namanya “Paijo Kadal”. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: