SEORANG SERDADU DENGAN HELM BIRU

28/01/2013 at 11:42 (artikel)

Halef memang tahu kalau negerinya lagi dilanda peperangan. Siapa yang berperang, dan untuk apa, dia tidak tahu. Ayahnya sendiri telah mati tertembak. Sekolahnya telah ditutup sejak beberapa bulan terakhir ini. Tapi karena ibunya belum mengajaknya pergi mengungsi, maka Halef pun tetap tinggal dan bermain-main di desanya.

Dia tak pernah mau bermain-main dengan adik-adiknya. Bukan karena dia tidak suka tapi karena tak pernah bisa. Maklum tiga orang adiknya semua perempuan. Dia sendirilah satu-satunya lelaki dan kebetulan yang paling besar di antara seluruh saudaranya. Halef, anak yang badannya nampak kurus dan tak terurus itu merupakan salah satu di antara sekian ribu anak-anak Negeri Lebanon yang saat ini sedang dilanda peperangan. Dia sudah biasa mendengarkan suara bedil dan kadang-kadang dilihatnya bom yang meledak dan menghancurkan desa-desa di sekitar tempat tinggalnya. Dia melihat banyak sekali tentara. Dia tidak tahu apakah itu tentara negerinya sendiri atau tentara musuh. Dia hanya melihat tentara-tentara itu saling tembak-menembak dan kadang-kadang berlarian tunggang-langgang sambil menyeret teman-teman mereka yang terkena tembakan atau ledakan bom.

Halef sama sekali tidak takut dengan tentara-tentara itu sebab mereka tidak pernah menembak anak-anak. Sering pada malam hari Halef terbangun dan melihat ibunya menangis sambil mendekap adiknya yang terkecil. Di kejauhan terdengar serentetan tembakan dan bunyi pesawat terbang kadang-kadang terdengar sangat dekat dari rumahnya. Halef tak pernah ikut menangis meskipun ketiga adiknya selalu menangis kalau melihat ibunya menangis. Dia tidak menangis bukan karena tidak kasihan pada ibu serta adiknya, tapi karena ia seorang laki-laki. Kata almarhum ayahnya dulu, laki-laki tidak boleh manangis apa pun yang menimpa dirinya. Dia ingat terus kata-kata itu meskipun ayahnya sekarang telah tiada.

# # #

Hari itu Halef bermain jauh sekali dari desanya. Dia melihat rumah-rumah yang roboh, tanaman gandum yang rusak dan kebun anggur yang berantakan karena diinjak-injak tank. Dia juga melihat bangkai-bangkai domba yang mati entah karena kelaparan atau kena tembakan senapan. Menjelang tengah hari istirahatlah Halef di sebuah kebun yang penuh dengan pohon zaitun. Dia mengharap ada tentara yang lewat, dan ia akan minta roti atau apa saja yang bisa dimakannya. Perutnya sudah lapar, dan karena tempat itu terlindung dari sengatan matahari, tak lama kemudian tertidurlah Halef dengan nyenyaknya. Entah berapa lama dia tertidur tapi ketika bangun yang mula-mula dilihatnya ialah tentara yang berlarian banyak sekali. Sebentar-sebentar terdengar tembakan dan pesawat terbang pun mendengung-dengung di udara.

Dengan cepat dia berlindung dibalik sebuah batu besar. Tapi rupanya peluru-peluru banyak juga yang lewat di sekitar itu, bahkan banyak pula yang mengenai batu yang dipakainya sebagai tempat berlindung itu. Dengan cepat Halef merayap ke sebuah parit yang terletak tak begitu jauh dari batu tadi. Di sana pasti aman, begitu perkiraan Halef. Ternyata di dalam parit itu telah terdapat seorang serdadu dengan helm biru. Ketika sekolahnya masih dibuka dia pernah mendengar bahwa serdadu-serdadu yang berhelm biru itu tentara PBB. Mereka tidak ikut perang tapi malah berjaga-jaga serta menyerukan agar yang berperang itu damai saja. Setelah diperhatikan, ternyata serdadu yang di parit itu terluka. Dada serta perutnya sudah penuh dengan darah. Niatnya untuk minta roti segera dibatalkannya. Halef buru-buru mendekat untuk melihat apakah serdadu itu masih hidup atau sudah mati. Sambil merangkak pelan-pelan diperhatikannya dada serdadu itu. Ternyata masih bergerak-gerak. Jadi masih hidup.

“Kasihanilah!” Kata serdadu berhelm biru itu kepada Halef. Tapi Halef tak mengerti karena dia bicara bahasa Inggris. Serdadu itu mengulangi kata-katanya sambil memberi isyarat dengan tangannya supaya Halef mendekat.
“Tolonglah ambilkan ransel itu!” Katanya lagi sambil menunjuk ke sebuah ransel yang tergeletak agak jauh dari serdadu itu. Meskipun tak mengerti bahasanya, Halef tahu maksud tentara itu. Setelah ransel diambil dan dibawa mendekat, serdadu itu mengambil kertas dan pulpen, lalu dia buru-buru menulis. Sebentar-sebentar berhenti dan napasnya tersengal-sengal menahan sakit. Darah terus mengalir dari lukanya. Halef memberanikan diri untuk bertanya : Apakah bisa saya panggilkan temanmu? Tapi tentara itu tak mengerti maksudnya. Halef menuding-nuding tetapi tentara itu menggeleng. Dia terus melanjutkan menulis:

“Untuk anakku Hari dan Lilies : Sayang aku tak bisa menulis cukup banyak. Ayahmu telah tertembak ketika pasukan PBB sedang memisah kelompok-kelompok yang saling bermusuhan di Lebanon. Di samping ayah ada seorang anak kurus yang sebaya dengan kau. Pesan ayah …… Oh ya, Anak itu tentu saja anak Lebanon. Dan kau belajarlah baik-baik. Bersyukurlah pada Tuhan karena negeri kita tidak ….. Anu, katakan kepada ibu juga bahwa ……………”
Sampai di situ tulisan tadi berhenti. Kertas itu terjatuh bersamaan dengan pulpen yang dipegangnya. Serdadu berhelm biru itu meninggal. Halef mengambil kertas itu, dibacanya, tapi dia tetap tak mengerti yang ditulis. Dibalik kertas itu juga ada tulisannya : “Untuk ibunya anak-anak di Pekalongan Indonesia.” Tapi kata-kata itu kemudian dicoret lagi dan tidak dilanjutkan. Dengan cepat Halef bangkit dari parit. Dia tak ingat lagi peluru yang simpang-siur di samping kepalanya. Dia berlari. Dia memanggil-manggil. Dia terus berlari sampai akhirnya ketemu dengan beberapa orang tentara. Tapi dia melihat helmnya tidak biru hingga niatnya untuk memanggil segera diurungkan.

Dia lalu menyelinap dan berlari lagi sampai akhirnya dijumpainya dua orang serdadu itu mendekat. Halef menyerahkan kertas dan berkata-kata tapi dua orang serdadu itu tak tahu. Mereka membaca lalu bertanya pada Halef : “Dimana?” Tapi Halef juga tidak tahu. Dia tidak mengerti tapi tangannya menunjuk lalu berjalan dan dua orang serdadu itu mengikuti Halef dari belakang. Sisampai di parit tadi, dua orang itu memeriksa temannya. Yang seorang mengambil sesuatu dari ranselnya lalu bicara dengan alat itu. Alat itu juga bicara. Tak berapa lama kemudian datanglah beberapa tentara lain. Mereka memakai helm biru juga. Setelah berbicara satu sama lain mereka lalu mengangkat serdadu yang tertembak itu dengan tandu.

Salah seorang serdadu mengambil pulpen serdadu yang tertembak itu, memberikannya pada Halef. Dia juga mengambil roti dari ranselnya lalu menyuruh Halef pergi dengan mengacung-acungkan tangannya. Halef lalu pergi. Sesampai di rumah roti tadi diberikannya pada ibunya. Roti itu dibagi-bagi dengan adiknya. Setelah malam tiba Halef masih juga mengamat-amati pulpen serdadu yang tertembak itu. Bagus betul. Kasihan tentara itu meninggal. Pulpen ini enak sekali untuk menulis. Kalau nanti perang ini telah berhenti, kalau sekolah telah dibuka kembali, pulpen ini akan kupergunakan untuk menulis. Begitu pikir Halef, dan dia pun tertidur. ***

Halaman Anak-anak Kompas, 17 November 1978

1 Komentar

  1. ocitamala said,

    Cerita yang menyentuh, Pak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: