Wawancara dengan Dick Hartoko

28/01/2013 at 11:37 (artikel)

SENIMAN KITA HANYA SIBUK KONCO-KONCOAN

Pagi-pagi sekali gerimis telah mengguyur kota Yogyakarta. Kantor redaksi Basis yang terletak di jalan Abubakar Ali nampak sangat sepi. Hari itu memang hari Minggu. Tapi Dick Hartoko, sang pemimpin umum yang juga dikenal sebagai budayawan kenamaan itu menyambut kedatangan Horison dengan ramah. “Mau minum teh atau kopi?” Waktu itu sekitar pukul 10.00 WIB dan pastor Katolik yang telah menerjemahkan dan menulis sekian banyak buku itu mempersilahkan Horison masuk ke ruang kerjanya yang tak seberapa luas tapi penuh dengan buku-buku, majalah serta map-map. Seperti biasa, tokoh yang sangat akrab dengan panggilan “Romo” atau Pater Dick ini selalu nampak tenang. Dick Hartoko (D.H.) dengan sabar mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan Horison yang disampaikan oleh F. Rahardi (FR).

FR     Saya dengar Basis barusan merayakan ulangtahunnya yang ke 33 Jum’at malam kemarin. Apa rencana Basis setelah selamat melewati usia tigapuluh tiga tahun?
DH    (Agak lama berpikir). Ya, akan ada sedikit pembaharuan. Nantinya akan ada seorang redaktur pelaksana yang bisa menangani urusan redaksi sehari-hari.
FR    Siapa orangnya Romo?
DH    Wah, itu masih rahasia. Masih belum boleh diumumkan. Baru Januari nanti. Jadi nantinya, dengan adanya redaktur pelaksana, saya sendiri masih tetap bisa dipakai sebagai “bendera”, sebagai pemimpin umum. Tapi urusan keredaksian sehari-hari kelihatannya memang sudah harus dikerjakan oleh tenaga muda yang lebih segar. Tapi ini bukan berarti saya meragukan kemampuan Mas Rahmanto (B. Rahmanto, Sekretaris Redaksi/Redaktur Puisi Basis – Red). Soalnya saya memandang nantinya pengganti saya akan lebih baik kalau juga seorang pastor.
FR    Sebenarnya ini pertanyaan usang yang sudah sering dikemukakan. Kenapa Basis sebagai majalah kebudayaan umum selalu dengan setia menampilkan puisi di setiap edisinya?
DH    Saya kira ini bukan pertanyaan usang. Ini cukup menarik. Begini, Basis sebagai majalah kebudayaan umum perlu memperhatikan banyak masalah kebudayaan termasuk kesenian, Sastra sebagai salah satu bagian kesenian juga perlu mendapatkan tempat. Dalam hal ini kami melihat bahwa puisi dapat menjadi lambang minat Basis terhadap sastra. Tradisi memuat puisi di setiap edisi ini terus dilanjutkan karena ternyata beberapa penyair muda yang dulu bamyak menulis di Basis sekarang telah menjadi penyair yang cukup kuat. Misalnya Rendra, Taufiq Ismail dan lain-lain juga Mas Sapardi sendiri.
FR    Tapi saya mendengar dari teman-teman, akhir-akhir ini puisi yang ada di Basis banyak yang kurang bagus. Monoton, begitulah kata mereka.
DH    Oh, ya, untuk ini saya memang telah menyerahkan segala-galanya pada Mas Rahmanto. Dulu kepada Mas Sapardi. Yang saya lakukan paling hanya melihat misalnya kalau dari Linus ada yang agak porno dan saya katakan pada Mas Rahmanto, jangan.
FR    Jadi seluruhnya wewenang Mas Rahmanto?
DH    Ya.
FR    Apakah tidak ada rencana untuk membentuk tim redaksi. Misalnya seperti yang dilakukan oleh Horison. Setiap puisi yang masuk dibaca oleh lebih dari satu orang redaksi. Bisa 2 atau 3 orang yang masing-masing punya wawasan berlainan.
DH    Saya kira itu anjuran yang bagus dan akan dipertimbangkan.
FR    Saya juga sering mendengar katanya para penyair muda di daerah. termasuk Yogya, sering bersikap Jakarta Sentris.
DH    Jakarta?
FR    Jakarta Sentris. Jadi yang menjadi barometer selalu Jakarta. Mereka seakan-akan punya kiblat ke Horison dan TIM. Apakah mereka tidak pernah melihat misalnya J.B. Mangunwijaya?
DH    Apakah gejala itu ada?
FR    Ada. Apakah mereka tak melihat bahwa sasterawan seperti Mangunwijaya meskipun tidak pernah menulis di Horison dan ramai-ramai di TIM toh bisa mendapatkan pengakuan nasional bahkan juga internasional?
DH    Itu begini. Romo Mangun itu juga banyak mengamati masalah sosial. Dan lagi, anak-anak Yogya nampaknya lebih akrab dengan Umar Khayam, Kuntowijoyo, Linus dan Emha. Nampaknya empat nama itulah yang selama ini jadi panutan anak-anak sini.
FR    Jadi kesadaran bahwa tanpa Horison dan TIM juga bisa menjadi besar nampaknya memang tidak ada?
DH    Nampaknya tidak ada.
FR    Apakah kiblat ke Horison itu bukan hanya karena kita memang hanya punya satu-satunya majalah sastra dan apakah itu sehat? Taufiq Ismail dalam wawancara dengan Horison baru-baru ini menyebutkan bahwa idealnya kita punya 2 atau 3 majalah sastra.
DH    Sangat setuju. Kita memang masih perlu tambahan majalah sastra. Sekarang sudah ada Horison di Jakarta. Supaya ada warna lain, sebaiknya majalah sastra yang baru, bisa terbit di daerah. Saya kira kota-kota Medan, Padang, Surabaya, Ujung Pandang dan juga Yogya memiliki potensi untuk menerbitkan majalah sastra.
FR    Lalu siapa yang mesti menerbitkannya Romo?
DH    Ya, siapa itu?
FR    Sekarang kan banyak orang kaya yang juga ada minat ke sastra?
DH    Ya, memang sekarang banyak sekali yang memiliki uang. Tapi seperti yang saya katakan di TIM beberapa waktu yang lalu, dari kalangan mereka tidak ada yang tertarik untuk menerbitkan majalah sastra seperti Horison atau juga Basis.
FR    Apakah ini bukan karena kesalahan si seniman sendiri Romo?
DH    Maksudnya?
FR    Selama ini seniman terkenal tidak bisa bekerja dengan rapi hingga si cukong selalu ragu-ragu untuk membiayai. Horison misalnya, sekarang ini menejemen usaha dan keredaksiannya campur jadi satu dan ditangani oleh Hamsad Rangkuti. Basis sendiri selalu terlambat terbit (Edisi Oktober terbit pada akhir Oktober).
DH    Terlambat? Basis tidak pernah terlambat.
FR    Maksud saya, edisi Oktober seharusnya ya terbit di akhir September, atau awal Oktober. Jadi beredarnya tepat di awal bulan hingga masa jualnya bisa persis di bulan yang bersangkutan dan bisa lebih lama. Dulu Horison juga selalu begitu. Edisi Oktober bisa terbit di akhir November sudah untung. Tapi itu mungkin karena pekerjaan rangkap tadi.
DH    Untuk suatu usaha yang hanya kecil-kecilan, kerja seperti itu wajar saja. Dulu saya juga mengetik naskah, mengantar ke percetakan, nanti kalau sudah jadi juga mengantarkan majalahnya ke langganan dan sebagainya.
FR    Tapi dengan cara kerja begitu barangkali pihak donatur lalu ragu-ragu?
DH    Seharusnya tidak begitu. Di mana-mana majalah khusus seperti Basis ini harus disubsidi. Itulah sebabnya perlu ada suatu lembaga yang mengurus bagian umum sekaligus memberi jaminan dana. Asal saja jangan pemerintah. Tapi redaksinya sendiri yang mengurus harus seniman.
FR    Kenapa jangan pemerintah? Apakah pemerintah selalu jelek Romo?
DH    Tidak. Tapi Budaya Jaya kan mati. Maksud saya begini. Kalau yang memberi dana itu pemerintah, begitu pejabatnya ganti, biasanya polesinya juga ganti dan dana yang dulu ada bisa berhenti. Jadi sebenarnya lebih ke pejabatnya dan bukan pemerintahnya.
FR    Tapi kembali ke Basis tadi, kenapa selalu terlambat Romo?
DH    Tenaganya kurang. Kami hanya punya satu orang tenaga untuk seluruh bagian administrasi.
FR    Jadi bukan soal naskah?
DH    Bukan.
FR    Benarkah Romo Dick selaku tokoh budayawan dan juga selaku pengasuh Basis sering mendapatkan todongan?
DH    Todongan?
FR    Ya. Ditodong oleh para seniman yang sedang tidak ada uang.
DH    (Tertawa). Ya, itu memang biasa. Tapi kalau itu menyangkut forskot untuk tulisan atau  vinyet di Basis, ya bisa diberi. Kalau misalnya untuk beli obat atau yang lain, biasanya yang datang itu bukan seniman dan saya selalu ambil dari kantung dan bukan dari Basis atau lainnya. Tapi kasus seperti ini sangat jarang terjadi.
FR    Bagaimana dengan todongan untuk menerbitkan buku puisi?
DH    Untuk buku puisi, karena jumlah tidak banyak, biasanya diberi.
FR    Tanpa melihat karyanya?
DH    Tergantung siapa orangnya. Kalau orangnya itu Linus, saya percaya. Tapi kalau yang saya belum kenal perlu dilihat dulu karyanya. Tapi biasanya ya tetap diberi. Jumlahnya memang tidak banyak.
FR    Berapa Romo?
DH    Paling hanya sepuluh ribu.
FR    Tapi bukankah para calon penyair tadi banyak yang hanya ongkang-ongkang tidak mau kerja bahkan sering apa yang mereka lakukan sehari-hari sangat bertentangan dengan yang selalu digembar-gemborkannya dalam tulisan?
DH    Lalu?
FR    Apakah bukan berarti apa yang ditulisnya itu sebenarnya hanya omong kosong saja?
DH    Itu biasa. Di luar negeri pun banyak sastrawan kenamaan yang hidupnya berantakan dan kekeluarganya kacau. Menurut saya apa yang mereka tulis itu sebenarnya hanya merupakan proyeksi dari cita-cita mereka yang sulit untuk dicapai di alam kenyataan.
FR    Tapi masalah ini jarang sekali mereka bicarakan. Yang menarik dan selalu banyak diributkan justru soal pertentangan antara sastra yang terlibat dengan masalah sosial serta sastra yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Menurut Romo bagaimana?
DH    Sastra itu kalau bagus ya tetap bermanfaat bagi masyarakat, baik yang berangkat dari masalah sosial maupun yang merupakan ekspresi pribadi murni. Dan sebenarnya kita memang tidak bisa terlalu banyak berharap dari sasta. Nanti kita bisa terjebak. Dulu politik jadi panglima, sekarang pembangunan jadi panglima, bisa saja kemudian masalah sosial kita jadikan sebagai panglima ….
FR    Jadi dari mana pun titik tolaknya yang penting bagus?
DH    Ya.
FR    Yang juga sering laris dibicarakan para sastrawan adalah pertentangan antara sastrawan yang selalu setia menekuni pelacur, gelandangan, alam dan lain-lain dengan sastrawan yang hanya sibuk mengetik di kamarnya.
DH    Yah, di kamar, seperti Mas Sapardi misalnya. Sebenarnya dia tidak terus-menerus mengetik. Dia juga berpikir sebelum mulai mengetik. Dan dia juga punya pengalaman hidup. Kadang-kadang memang perlu juga kita ini menimba langsung dari alam atau dari masyarakat. Tapi seperti halnya para mahasiswa yang juga perlu ber-KKN (Kuliah Kerja Nyata), kan tidak perlu terus-terusan KKN?
FR    Akhir-akhir ini kesibukan para sastrawan juga tambah satu lagi Romo.
DH    Apa itu?
FR    Memperdebatkan soal angkatan. Bagaimana pendapat Romo?
DH    Ya, saya juga mendengar itu. Menurut saya, angkatan 66 nya HB. Jassin memang agak lemah. Angkatan enam-enam kelihatannya hanya merupakan tonggak bahwa yang dulu dibrangus sekarang bisa menulis bebas lagi. Lain halnya dengan Angkatan 45.
FR    Kalau Angkatan 70 dan 80 Romo?
DH    Masih terlalu prematur untuk dibicarakan.
FR    Tapi menurut Romo siapa sebenarnya yang lebih pantas mencetuskan adanya sebuah angkatan sastra? Para kritikus, sastrawannya sendiri atau malah masyarakat?
DH    Masyarakat jelas tidak mungkin. Menurut saya yang paling berwenang adalah para pengamat sastra. Tapi lebih bagus lagi kalau pernyataan itu juga didukung oleh para sastrawannya sendiri.
FR    Lalu bagaimana dengan sastrawan yang punya nama tapi tak masuk angkatan manapun. Seperti HAMKA misalnya.
DH    Juga Mochtar Lubis. Mereka adalah “brontosaurus-brontosaurus” sastra Indonesia dan ini memang perlu ada.
FR    Selain ada sastrawan yang ketakutan kalau tidak masuk “angkatan”, ada juga yang cemas kalau belum punya buku. Bagaimana ini Romo?
DH    Itu tidak betul. Di luar negeri, sastrawan atau terutama penyair biasanya terkenal dulu baru kemudian mengumpulkan karya-karyanya untuk dibukukan. Jadi keadaannya terbalik.
FR    Tapi bukankah yang membudayakan tradisi seperti ini kritikus sastra? Mereka cenderung hanya memperhatikan penyair yang sudah punya buku. Yang belum punya meski karyanya bertebaran di mana-mana dan bagus, jarang diperhatikan.
DH    Ini memang termasuk salah satu kekurangan pihak pengamat sastra. Seharusnya mereka juga memperhatikan koran, majalah. Tapi itu sulit mereka lakukan hingga kemudian ambil praktisnya saja.
FR    Tapi bagaimana kalau kebetulan penyair yang sudah punya buku tadi kebetulan sangat jelek kualitasnya?
DH    Itulah. Kalau mereka terkenal dulu baru kemudian punya buku kan lain?
FR    Nampaknya akhir-akhir ini juga ada kecenderungan masyarakat kita seperti mau kembali ke budaya lisan. Sebenarnya kita ini pernah sampai ke tradisi sastra tulis lalu kini kembali ke lisan atau justru sama sekali belum pernah sampai ke sana?
DH    Soal ini sebenarnya pernah saya bicarakan di gelanggang mahasiswa waktu ada FFI yang baru lalu. Sayang hanya sedikit sekali dikutip koran. Sekarang sedang saya garap lagi untuk Basis bulan depan. Judulnya New Humanities. Pendapat saya ini diperkuat oleh Prof. Teeuw. Berdasarkan observasi, dewasa ini masih sedikit sekali masyarakat kita yang bisa menekuni buku. Itulah sebabnya buku-buku sastra agak seret peredarannya sementara acara baca sajak dan cerpen selalu diminati orang meski harus dengan membayar.
FR    Jadi jelasnya kita memang belum pernah sampai ke budaya sastra tulis?
DH    Belum pernah.
FR    Apakah ini tidak repot sebab sekarang media elektronik seperti radio, tivi, film bahkan juga video sudah meluas di masyarakat?
DH    Inilah yang saya sebutkan dalam ceramah saya itu. Jadi seharusnya sastrawan kita harus sudah mulai masuk ke media elektronik selain tetep menggunakan media cetak. Saya menduga dengan media elektronik sastra akan lebih mudah diserap oleh masyarakat. Lain halnya dengan dunia ilmu. Dunia ini mau tidak mau harus tetap setia dengan buku.
FR    Siapa yang seharusnya punya inisiatif untuk ini?
DH    Pemerintah.
FR    Pemerintah?
DH    Ya, misalnya pihak TVRI. Contohnya di Yogya. Setiap kali mereka punya inisiatif untuk bikin acara sastra dan para sastrawan yang ditodong untuk mengisinya. Tapi ini masih belum kontinyu. Hanya kadang-kadang saja.
FR    Jadi tegasnya media elektroniklah yang harus punya inisiatif, misalnya seperti radio yang sudah sejak lama suka membacakan sajak serta cerpen?
DH     Ya.
FR    Apakah justru bukan sastrawannya yang diharuskan agresif masuk ke sana?
DH    Ya dua-duanya.
FR    Waktu ulang tahun tempo hari, HB Jassin bilang bahwasannya sastra kita sehat-sehat saja. Apakah Romo sependapat?
DH    Saya melihat justru sebaliknya. Dewasa ini para sastrawan kita nampak hanya sibuk konco-koncoan (membentuk klik), saling menyanjung atau melempari pisuhan (caci maki). Padahal karya-karya mereka kurang bergaung dan juga kurang gairah.
FR    Apakah ini bukan akibat daya apresiasi masyarakat yang masih kurang?
DH    Sedikit banyak kondisi ekonomi masyarakat memang ikut menentukan juga. Misalnya saja di negeri Belanda. Kita tahu keadaan ekonomi negeri itu memang sudah lumayan baik. Di sana musim penerbitan buku adalah bulan-bulan September dan Oktober. Pada bulan-bulan tersebut penerbit gencar sekali mempromosikan buku-buku baru mereka. Juga para pengarang tak ketinggalan ikut pula memperkenalkan karya-karya mereka dan ternyata memang laris. Koran dan majalah juga ikut membantu dengan membuat semacam barometer tentang siapa-siapa sastrawan yang masih bertahan, siapa yang nomor satu, mana-mana wajah baru dan mana pula yang mulai hilang dari peredaran…
FR    Jadi semacam daftar tangga lagu Indonesia populer yang ada di koran-koran mingguan itu?
DH    Ya, dan buku-buku itu memang laris.
FR    Ssastra maksudnya?
DH    Buku-buku sastra termasuk kumpulan sajak. Di sana memang banyak sastrawan yang bisa hidup hanya dengan menulis. Dan saya melihat upaya demikian belum kelihatan di Indonesia.
FR    Lalu siapa yang salah Romo?
DH    Sastrawan jelas salah karena kurang ada upaya ke sana. Tapi pihak penerbit, juga masih banyak terbentur ke kondisi masyarakat yang makin dibelit oleh budaya konsumerisme.
FR    Dan khususnya di Yogya, konon kebebasan juga tak ada. Katanya sering ada sensor?
DH    (Tertawa). Itu biasa. Terutama pada acara baca puisi.
FR    Dan penyair mau menerimanya?
DH    Mau. Tapi pernah ada yang agak unik. Pada waktu ada acara baca puisi di Karta Pustaka (Gedung Pusat Kebudayaan Indonesia – Belanda – Red), pihak polisi sudah kasih lampu hijau. Tidak ada yang disensor. Tapi saya justru melarang sajak-sajak itu dibacakan. Pihak polisi heran sekali. Kenapa tidak boleh pak? Saya jawab, karena mutu puisinya masih sangat rendah. Dan polisi itu menjawab, yah, untuk urusan mutu kami memang tidak tahu apa-apa. Biasanya mereka hanya peka terhadap kata-kata yang ada kaitannya dengan politik seperti dwi fungsi dan lain-lain.
FR    Terakhir Romo, soal kumpul kebo.
DH    (Tertawa lagi). Istilah itu kurang estetis.
FR    Kurang estetis?
DH    Ya, menurut saya lebih tepat kumpul parkit. Burung parkit kan selalu mesra tiap hari. Kerbau justru tidak pernah. Dan sebenarnya kasus seperti ini bagi masyarakat Jawa bukan termasuk sesuatu yang agak luar biasa. Mereka itu kan munafik.
FR    Jadi Romo setuju dengan Kumpul Kebo?
DH    (Hanya tertawa dan tidak bersedia menjawab).

Pembicaraan kemudian berlanjut di sekita kumpul kebo. Gerimis sudah berhenti tapi langit tetap kurang cerah. Dengan panjang lebar Dick Hartoko memberikan penjelasan soal yang akhir-akhir ini cukup menarik perhatian masyarakat itu. Sayang rohaniawan Katholik ini dengan tertawa berpesan bahwa pembicaraan ini off the record. Rencananya, setelah memberikan khotbah di siang harinya, budayawan kita ini akan berangkat ke Giri Katon, sebuah gubuk kecil yang terletak di pinggir jurang di ujung dukuh Tanen, masuk sekitar 2 kilometer di km. 20 jalan raya menuju ke Kaliurang. Di gubuk ini Dick Hartoko biasa menyepi untuk menulis buku atau menerjemahkan karya-karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. ***

Majalah Horison No. 11 Tahun XIX – November 1984

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: