Ini Baru Festival, Ini Festival Baru

18/02/2013 at 12:45 (artikel)

Kompas, 1 September 1979

Tersentak kaget saya ketika pada suatu pagi ada sebuah iklan yang dengan serius bertanya : Kapan terakhir kalinya anda menggerutu karena mutu film iklan? Iklan ini dipasang oleh Aspindo (Asosiasi Pemrakarsa Dan Penyantun Iklan Indonesia) beberapa waktu berselang di beberapa penerbitan terkemuka.

Iklan ini sebenarnya lebih tepat kalau berbunyi : Kapan terakhir kalinya anda menggerutu karena mutu film iklan kita yang jelek? Sebab terus terang, terhadap film iklan yang bagus saya tak pernah menggerutu. Hanya sayangnya, selama ini saya lebih banyak menyaksikan yang jelek daripada yang pantas untuk ditonton, baik bila sempat nongkrong di depan teve atau kalau lagi ada yang nraktir masuk gedung bioskop.

Iklan Aspindo itu tak hanya sekedar memasang pertanyaan yang mungkin tidak produktif, tapi juga sekalian mengundang para peminat untuk ramai-ramai ambil bagian dalam Festival Film Iklan Indonesia yang baru pertama kali ini diselenggarakan. Festival ini mempunyai tugas yang tidak bisa dianggap enteng. Pertama bertujuan menetapkan standar dan meningkatkan mutu film iklan di negeri ini. Kedua untuk mengemukakan film iklan dengan warna Indonesia yang menonjol, tatakrama yang dapat diterima oleh konsumen di Indonesia, teknis yang unggul, dan tentunya juga yang bisa membantu memasarkan produk yang diiklankan itu.

Film iklan yang baik

Tentunya, dengan adanya festival tersebut, kita bisa mengharap nantinya tak bakal ada lagi iklan yang dapat semprotan dari penonton seperti iklan Colgate Baru yang bilang sialan itu. Juga tak bakal ada film iklan yang didamprat oleh Mas Permadi SH lantaran menampilkan ketiak yang disemprot Rexona deodorant. Atau tak akan ada lagi iklan Green Spot yang mendadak barisan botol minuman lain dibelakangnya berubah menjadi hitam (karena dapat protes dari perusahaan minuman lain tentunya).

Film iklan yang baik harus memenuhi dua syarat : baik sebagai film yakni enak untuk ditonton, dan baik sebagai iklan. Penonton tentunya lebih senang melihat film iklan yang baik sebagai film. Sementara si pemasang iklan tentu cenderung senang dengan film iklan yang berhasil sebagai iklan (yang membantu memasarkan barang dagangannya). Dua-duanya pasti keberatan untuk dikorbankan, padahal menghasilkan film iklan yang yahud ditonton tapi sekaligus berkenan di kalbu klient juga bukan pekerjaan gampang.

Pada hemat saya, film iklan yang baik seharusnya yang bisa memikat seluruh lapisan penonton. Misalnya iklan Toyota HI-ACE, mobil yang pinter main bola ini mestinya kan cuma ditujukan untuk para bapak yang berminat beli kendaraan. Tapi film ini lumayan bagus hingga anak-anak maupun wanita banyak sekali yang senang. Iklan bumbu masak S. Bagyo tentu lebih diharapkan untuk menggaet para ibu rumah tangga. Tapi para bapak kita juga sering ikut melirik si Bagyo yang ter “copot-copot”, dan iklan ini lumayan populer di semua kalangan. Termasuk iklan jenis yang ini antara lain : Sepatu Bata. Iklan-iklan jam (semua), serta semen Cibinong. Apakah iklan-iklan yang enak ditonton begini kurang bisa membujuk konsumen?

Ada pula film iklan yang baik untuk ditonton dan konon juga baik sekali sebagai iklan (karena senantiasa dipasang tanpa diganti-ganti tanda efektif). Padahal sebenarnya iklan ini telah mengelabuhi konsumen alias memberitahu yang tidak betul. Sekedar contoh: yang namanya pasta gigi itu gunanya sekedar untuk membersihkan. Dikaitkan dengan kesehatan gigi oke boleh saja, tapi kalau kemudian rentetannya lalu ke mencegah kerusakan gigi dan memberi lapisan pelindung, wah ini siasat sudah menyesatkan. Sebab sia-sia saja kita pakai odol kalau tujuannya untuk mencegah kerusakan gigi, padahal saban hari kita masih saja makan yang panas dan dingin silih berganti ditambah yang asin-asin, manis-manis dan asam-asam.

Iklan obat bagaimana pun baiknya juga sering menyesatkan. Obat sakit kepala misalnya. Sakit kepala itu sebenarnya bukan penyakit tapi gejala penyakit. Obat sakit kepala tidak menyembuhkan penyakit tapi menghilangkan rasa sakit. Dan ini bisa kita artikan sebagai menghilangkan gejala penyakit, yang akibatknya justru lebih membahayakan si konsumen. Apakah iklan yang begini ini, meskipun enak ditonton dan berhasil menaikkan omset penjualan, juga bisa kita anggap sebagai iklan yang baik? Dan apakah ini juga akan masuk sebagai kriteria dalam festival baru yang nanti akan diselenggarakan oleh Aspindo? Kita tunggu saja hasilnya.

Yang betul-betul “baik”

Sementara itu, perlu disadari bahwa laku tidaknya suatu dagangan bukan hanya melulu tergantung dari gencarnya iklan. Mutu dari barang itu sendiri ikut menentukan bahkan boleh dibilang paling menentukan. Bagaimanapun bagusnya sebuah iklan, bagaimanapun seringnya dia nongol di layar bioskop atau teve, tapi kalau mutu barangnya itu sendiri kualitas kambing juga mustahil bisa naik pesat omset penjualannya.

Tetapi ini juga tidak berarti bahwa karena dagangan sudah bermutu baik lalu tak perlu dibantu iklan lagi. Iklan yang baik tetap diperlukan bukan hanya oleh produsen atau media yang dipasangi iklan, tetapi juga bagi konsumen. Iklan yang baik akan membantu konsumen untuk mendapatkan barang yang diperlukannya tanpa banyak menderita kerugian. Bahkan film iklan yang baik juga akan sangat bermanfaat bagi orang yang sebenarnya sama-sekali tak berkepentingan dengan barang yang diiklankan. Orang awam tentu akan berterimakasih pada semen Cibinong, sebab gara-gara melihat iklannyalah mereka jadi mudeng, dari bahan apa sebenarnya semen itu dibuat.

Jangan harap sebelumnya bahwa nantinya festival ini bakal ramai, lalu sebagai pemenangnya akan tampil film-film iklan yang yahud hasil karya perusahaan periklanan yang top. Jelas festival ini bukan festival film tontonan yang sering dimanfaatkan sebagai tumpuan harapan bagi kalangan orang film. Masih jelas terbayang hasil Lomba Cipta Iklan Indonesia 1978 yang lalu. Peminatnya terbatas, banyak kalangan iklan sendiri (terutama biro iklan raksasa) yang memandang sebelah mata lomba seperti ini. Sampai-sampai Bondan Winarno mengeluh di Tempo 30 September 1978. Padahal, baik lomba maupun festival seperti ini sebenarnya merupakan kesempatan yang bagus untuk unjuk tampang pada konsumen : Ini lo film iklan yang yahud!

Sebenarnya, bila ada gerutuan mengenai iklan jelek, media yang menyiarkan iklan tersebut tak perlu keqi. Itu bukan hanya melulu kesalahan dia. Justru yang lebih pantas ditohok adalah si pembuat iklan tersebut. Taruhlah film iklan. Nun di balik tampang-tampang yang beraksi di layar itu, bersembunyilah para tokoh dari berbagai kalangan. Ada orang sastra, ada pelukisnya, ada orang musik, ada tokoh drama dan tentunya tak ketinggalan orang-orang film sendiri. Jelas mereka ini sudah saatnya tak hanya sendiko dawuh pada klient, hingga yang mereka hasilkan hanyalah sebangsa rengekan kenes dari cewek-cewek kelas gedongan yang hidupnya terbelenggu kosmetik.

Yang bisa bikin repot barangkali justru akibat festival seperti ini. Untuk produkser film tontonan, kalah dalam festival barangkali hanya akan berarti film jadi tak selaris bila menang, alias masih juga laku. Ada terselip rasa khawatir jangan-jangan akibat kekalahannya nanti si klient bakalan lari. Dan ini menyangkut masalah periuk nasi banyak karyawan. Juga yang jadi soal ialah : Banyak sekali film iklan yang asalnya dari perusahaan periklanan luar negeri. Orang sini pokoknya tinggal mengganti teks (suara) dan putar begitu saja. Apakah iklan-iklan begini ini akan diikutsertakan juga? Masih belum begitu jelas

Tapi yang penting, festival seperti ini pasti menarik. Bukan haya untuk kalangan periklanan dan film, tapi juga bagi masyarakat. Seberapa jauh festival seperti ini bisa mempengaruhi mutu iklan yang membanjir ke masyarakat. Sebab nampak-nampaknya meskipun DPN (Dewan Periklanan Nasional) sudah lahir tahun kemarin dan tentunya dewan ini tak cuma duduk-duduk merenung, tapi toh mutu iklan kita baik pers, radio maupun film masih juga belum banyak berubah. Maka, semoga Aspindo ini bisa berhasil menggugah para tokoh film, sastra, musik, lukis dan drama yang menggantungkan periuk nasinya di dunia periklanan. Tentunya, supaya tergugah untuk lebih kreatif. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: