EKONOMI KERAKYAT-RAKYATAN

11/03/2013 at 14:49 (artikel)

Kompas, 28 Mei 2009

Oleh F. Rahardi

Frasa ekonomi kerakyatan pertamakali dipopulerkan oleh Prof. Dr. Mubyarto. Frasa ini makin populer di tangan Adi Sasono.  Dan sekarang, menjelang Pilpres 2009, kembali frasa ini bergulir ke ranah publik.

Mubyarto (1938 – 2005), guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, adalah doktor ekonomi lulusan Universitas Iowa AS. Jelas dia seorang pakar ekonomi, bukan politikus. Namun, gagasan Mubyarto tentang Ekonomi Pancasila, yang identik dengan ekonomi kerakyatan, bukan hanya teori ekonomi, melainkan telah merambah ranah politik. Maka, selama tahun 1993-1998, Mubyarto terseret oleh arus besar kekuatan politik Orde Baru. Ia diminta Soeharto menjadi Asisten Kepala Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional), khusus untuk menangani desa miskin.  

Soeharto tidak suka dengan istilah desa miskin. Maka kata itu dilunakkan menjadi “desa tertinggal”. Program yang dirancang Mubyarto bersama seorang teman LSMnya adalah membagi-bagi uang, yang disebut Dana Inpres (Instruksi Presiden) Desa Tertinggal atau IDT. Program ini disertai dengan penerjunan tenaga lulusan S1 ke desa-desa penerima dana IDT. Agar tenaga S1 itu kapabel, mereka ditraining secara kilat tentang pengembangan masyarakat, oleh LSM tadi. IDT adalah sebuah proyek besar Orde Baru, dengan alokasi dana yang juga sangat besar untuk kurun waktu itu.

Secara sosial maupun politik, proyek IDT gagal. Tahun 1997 fondasi Ekonomi Pancasila Indonesia, yang berpihak pada “ekonomi kerakyatan” juga mulai goyah. Lalu tahun 1998 proyek itu rontok bersamaan dengan tumbangnya pemerintah Orde Baru. Anehnya, rakyat sendiri mudah lupa. Adi Sasono, Menteri Koperasi dan UKM, Kabinet Reformasi Pembangunan (1998 – 1999) kembali mengusung isu ekonomi kerakyatan, dan masih tetap laku. Ketika itu isu ekonomi kerakyatan, menempel pada Program Jaring Pengaman Sosial (JPS), dan Kredit Usaha Tani (KUT), yang sebagian besar macet.

Kucing Deng Xiaoping

Ketika mereformasi perekonomian RRC, Deng Xiaoping (1904 – 1997), dicerca oleh lawan maupun teman. Ia dituduh telah berkhianat kepada sosialis (komunis), dan lebih berpihak kepada kapitalis. Jawaban Deng enteng. “Saya tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting bisa menangkap tikus.” Bagi Deng, komunis atau kapitalis tidak penting, asal bisa menyejahterakan rakyat. Ketika akan berangkat ke Perancis untuk belajar, Deng ditanya sang ayah: “Apa yang kau harap dari belajar ke Perancis?” Mengulang kata-kata gurunya, ia menjawab, ingin menimba ilmu dan kebenaran dari Barat, untuk menyelamatkan China.  

Secara konkrit, Deng menyebut, bahwa sosialis tidak berarti membagi kemiskinan sama rata sama rasa. Rakyat di negeri komunis juga harus sejahtera, dan boleh kaya. “Kendali pemerintah dan pasar bebas, bukan perbedaan utama antara sosialis dan kapitalis. Kendali pemerintah terhadap perekonomian, tidak selalu identik dengan sosialisme, sebab kendali itu juga berada di bawah kapitalisme. Sebaliknya, pasar bebas juga bisa terjadi di bawah sosialisme. Kendali dan kekuatan pasar, dua-duanya hanyalah cara untuk mengawasi kegiatan perekonomian.” Sejak itulah Deng mengubah wajah RRC dari sosialis menjadi komunis yang kapitalis.

Kata-kata Deng tentang kucing hitam dan kucing putih, sebenarnya juga sebuah pernyataan politik. Bedanya, pernyataan itu bukan hanya sekadar alat, melainkan benar-benar target politik. Target utama Deng bukan sekadar menjadi pemimpin tertinggi,  melainkan menyejahterakan rakyat RRC. Untuk itu ia akan pasang badan, bahkan sampai harus melakukan pelanggaran HAM, dalam peristiwa Tiananmen. Agar target itu tercapai, ia tidak mempertentangkan sosialis dengan kapitalis. Ia justru sangat memanfaatkan struktur sosial yang sudah dibangun Mao, untuk ditempeli sistem ekonomi kapitalis. Populasi penduduk di atas satu milyar jiwa, ia lihat sebagai berkah, bukan musibah. Maka, di tengah resesi dunia akibat keteledoran sistem kapitalis AS, saat ini RRC bisa berbangga sebagai negeri dengan cadangan devisa terbesar, dan nyaris tanpa hutang.

Nasib Indonesia

Indonesia dengan populasi penduduk di atas 200 juta, berada pada ranking keempat setelah RRC, India, dan AS. Tetapi kita melihat populasi penduduk yang besar itu sebagai musibah. Angkutan umum penuh pengasong, dan pengamen. Trotoar kota besar dijejali pedagang kaki lima. Di ujung gang dan pertigaan jalan selalu ada “Pak Ogah”, dan berjejal tukang ojek. Di terminal bus, stasiun KA, dan pelabuhan, selalu ada orang yang merebut tas, dan menarik-narik paksa calon penumpang. Kita sekarang  juga terkenal sebagai eksportir TKI, terlebih TKW. Meski penduduk RRC di atas satu milyar, tak ada yang berminat untuk jadi TKC (Tenaga Kerja China), sebab pemerintah bisa mengupayakan lapangan kerja bagi rakyatnya.

Di negeri eksportir TKI ini, dari jaman Mubyarto sampai Pilpres 2009, isu ekonomi kerakyatan, masih sekadar alat politik, bukan target politik. Karena hanya sebagai alat, kalau tujuan sudah tercapai alat boleh dibuang, minimal disimpan untuk digunakan lagi tahun 2014. Tahun 1999, pernah ada partai politik mengusung slogan “membela wong cilik”. Ini juga hanya alat politik, bukan target. Maka ketika partai itu menang pemilu, wong cilik sah untuk dilupakan. Andai partai ini benar-benar menjadikan wong cilik sebagai target untuk diangkat martabatnya, untuk disejahterakan, rakyat pasti akan tetap mendukungnya sampai 2009 ini.

Dalam Pilpres 2009, mustahil isu ekonomi konglomerat diangkat, terlebih  ekonomi untuk diri sendiri. Maka tiga pasangan Capres dan Cawapres, sama-sama berebut isu ekonomi kerakyatan. Tetapi rakyat juga tahu, bahwa di negeri ini yang sering dijanjikan, bukan sesuatu yang akan benar-benar terjadi. Sesuatu yang mirip anak, padahal jelas sudah bukan anak-anak lagi, akan disebut kekanak-kanakan. Orang bukan Barat yang bertingkah-laku seperti orang Barat, disebut kebarat-baratan. Ekonomi yang seperti untuk rakyat, tetapi tidak benar-benar untuk rakyat, pas disebut sebagai ekonomi kerakyat-rakyatan. # # #

F. Rahardi, Penyair, Wartawan   
    

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: