FOBIA ULAT BULU DI REPUBLIK HANTU

19/03/2013 at 15:47 (artikel)

Kompas, Selasa 19 April 2011
Oleh F. Rahardi

Ledakan populasi ulat bulu belakangan ini, sebenarnya bukan sebuah ancaman yang serius bagi sektor agro, lingkungan hidup, apalagi kesehatan manusia. Itulah fobia, yang akan merugikan si penderita.

Akhir tahun 1950an dan awal 1960an Indonesia kesulitan pangan. Warga masyarakat, biasa mengonsumsi pupa ulat avokat. Padahal ulat avokat adalah jenis ulat bulu yang cukup besar, dengan penampilan “seram”. Panjang sekitar 5 cm, warna tubuh hitam, bulu putih, kepala dan kaki merah, dengan garis membujur yang juga berwarna merah di kedua sisinya. Akan tetapi pupa yang disangrai sangat gurih, dan kaya protein. Terlebih kepompongnya yang berbentuk jaring, dan berwarna emas, sekarang banyak dicari perajin sebagai bahan industri asesoris.

Tidak semua kepompong ulat avokat dipanen untuk dimakan pupanya. Pupa yang tersisa akan menetas menjadi kupu-kupu indah, yang beterbangan di cuaca pagi nan cerah. Andaikan semua ulat bulu yang ada sekarang ini selamat menjadi pupa, dan kupu-kupu, maka ruang terbuka republik ini akan semarak dengan aneka kupu-kupu warna-warni. Minggu lalu di lahan garapan Kelompok Tani Lestari Griya Karmel di Purwakarta, saya melihat banyak sekali kupu-kupu kuning beterbangan  berpasang-pasangan. Saya yakin sekarang anak ulat bulu sudah mulai memangsa apa saja yang hijau di kawasan tersebut.

Metamorfosis

Manusia memang selalu menyimpan paradoks dalam dirinya. Ulat, terlebih ulat bulu, sangat dibenci. Sementara kupu-kupunya dikagumi keindahannya. Padahal ulat tidak menyebarkan penyakit mematikan seperti nyamuk. Ketakutan terhadap ulat bulu sudah cukup serius hingga bisa disebut fobia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, fobia diartikan sebagai: ketakutan yang sangat berlebihan terhadap benda atau keadaan tertentu, yang dapat menghambat kehidupan penderitanya. Ketika kelompok ulat bulu merayapi dinding sekolah, kepala sekolah segera meliburkan para murid, bukannya menjelaskan bahwa ulat adalah larva kupu-kupu dan tidak berbahaya.

Semua ulat bulu memang akan bermetamorfosis menjadi pupa, kemudian kupu-kupu. Beda dengan ulat tak berbulu yang akan menjadi moth, kupu-kupu malam, rama-rama, atau pijer (Jawa). Penampilan moth tidak seindah kupu-kupu. Moth tidak akan beterbangan kesana-kemari seperti halnya kupu-kupu. Warna moth juga cenderung cokelat atau abu-abu kusam. Beda dengan kupu-kupu yang berwarna-warni cerah dan menarik. Spesies moth di dunia yang antara 150.000 sampai 250.000, juga 10 kali lipat dibanding kupu-kupu yang hanya 15.000 sampai 20.000 spesies.

Dalam menghadapi fenomena ledakan populasi ulat bulu, dunia pendidikan telah salah menanamkan perilaku cinta lingkungan terhadap anak-anak. Terlebih ketika para guru memerintahkan anak-anak untuk membeli racun serangga dan menyemprotkannya ke kelompok ulat bulu tersebut. Dunia pertanian pun juga seperti kalang kabut mempermasalahkan ledakan populasi ulat bulu. Padahal hujan yang terus turun berkepanjangan selama tahun 2010, lebih merugikan petani dibanding ledakan populasi ulat bulu sekarang ini. Sebab yang lebih banyak diserang ulat bukan tanaman semusim, melainkan tanaman tahunan. Pengetahuan seperti inilah yang seyogyanya disampaikan ke anak-anak sekolah, dan bukannya mereka digiring ke arah fobia.

Siklus Alam

Tahun 2010 hujan memang turun berkepanjangan tanpa ada kemarau sedikitpun. Dalam kondisi seperti ini, siklus hidup kupu-kupu tidak terputus. Biasanya pada musim kemarau, kupu-kupu hanya bertahan di lingkungan yang benar-benar sangat basah. Tahun lalu, kupu-kupu bisa terus bertahan hidup di semua lingkungan, karena hampir tak ada kemarau. Dampak dari kondisi ini, pertumbuhan vegetatif tanaman tak terhenti, dan pertumbuhan generatifnya justru terganggu. Akhir tahun 2010 dan awal 2011, tak ada panen raya mangga, durian, rambutan, manggis dll. Para petani buah gigit jari. Kedatangan ulat bulu kali ini sebenarnya justru akan membantu petani buah.

Akhir tahun 1950an dan awal 1960an, sehabis panen pupa ulat avokat, biasanya masyarakat juga akan memanen buah avokat dalam volume sangat besar. Sebab avokat justru akan berbuah lebat setelah semua daunnya habis dimangsa ulat bulu yang menyeramkan itu. Akan tetapi, kondisi tahun 2011, tentu beda dengan 1960an. Sekarang Indonesia sangat makmur. Mall berdiri di mana-mana dengan Mc Donald, KFC, Pizza Hut, dan Hokben. Anak-anak pasti akan merasa sangat jijik apabila tahu bahwa generasi pendahulu mereka pernah mengonsumsi pupa ulat bulu. Bahkan sampai saat ini pun, masyarakat di sekitar hutan jati juga masih menikmati pupa ulat jati yang gurih itu.

Belakangan ini siklus alam secara normal memang terganggu akibat pemanasan global, yang disebabkan oleh pembakaran BBM dan batu bara berlebihan. Selain itu predator alami ulat, terutama spesies kepik,  juga ikut terbasmi oleh pestisida pabrikan yang masal. Penangkapan burung untuk tujuan komersial, juga memicu peningkatan populasi ulat. Burung prenjak, ciblek, dll. yang selama ini menjadi pemangsa ulat adalah komoditas bernilai tinggi. Di negeri ini, masyarakat bukan sekadar mudah dihinggapi fobia, melainkan juga gampang tergoda hobi yang sadis: mengurung burung seumur hidup, tanpa diberi jodoh.

Bukan Dagelan

Banyak kalangan yang menyebut perusakan lingkungan, karut marut politik, dan krisis ekonomi belakangan ini sebagai dagelan. Kalau ada anggota parlemen dalam sebuah sidang paripurna, sibuk menonton pornografi, itu sebenarnya sebuah tragedi. Bukan lelucon. Maka pentas komersial “Republik Dagelan”, meskipun laris manis, sebenarnya bukan pendekatan yang cerdas untuk solusi bagi tragedi republik ini. Sebab permasalahan Indonesia yang kita hadapi sudah sangat serius. Saat ini  yang rusak bukan sekadar alam dan lingkungan, melainkan moralitas para pemimpinnya.

Kemiskinan yang masih terus diderita oleh sebagian besar masyarakat Indonesia jelas bukan dagelan, melainkan tragedi akibat kerakusan para anggota eksekutif, legislatif, yudikatif, dan aparat penegak hukum. Indonesia saat ini ibarat Republik Hantu. Masyarakat mudah sekali terserang fobia oleh sesuatu yang sebenarnya tidak benar-benar membahayakan. Demikian pula dengan para pemimpinnya yang juga mudah sekali terkena fobia untuk hal-hal yang belum tentu benar. Presidennya takut dimakzulkan, menterinya takut diresafel, partai politiknya takut dikeluarkan dari koalisi, itu semua sudah menjadi fobia nasional.

Di Republik Hantu, ulat bulu bukan dianggap sebagai berkah dari Allah untuk menyeimbangkan alam, melainkan sebagai tulah kesebelas. Sebab Firaun yang dikutuk oleh Allah, pada zaman Nabi Musa, hanya diberi 10 tulah. Padahal ulat bulu bukan tulah.  Mereka akan menjadi pupa dan kupu-kupu. Mangga, jambu, dan avokat yang daunnya habis, dijamin akhir tahun 2011 akan berbuah lebat. Fobia terhadap apa pun, pada akhirnya akan sangat merugikan si penderita. Terlebih kalau fobia itu terjadi secara massal, dan berkepanjangan seperti di Republik Hantu.

F. Rahardi, Sastrawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: