LEMBAGA EKONOMI MIKRO

25/03/2013 at 15:04 (artikel)

KOMPAS – Jumat, 30 Dec 2005   Halaman: 7
Oleh F. Rahardi

Lembaga perekonomian makro, dengan pelaku multinasional dan manajemen modern, telah sukses diterapkan di Amerika Serikat. Jepang juga menerapkan hal serupa, tetapi dengan sentuhan manajemen tradisional. Sementara Perancis, Belanda, dan kemudian China justru menguatkan lembaga perekonomian mikro.

Selama ini Perancis dikenal sebagai produsen wine (anggur) dan parfum utama di dunia. Belanda adalah raksasa bunga dan tanaman hias daun di pasar internasional. AS, Inggris, dan Perancis pun tunduk kepada Belanda untuk urusan bunga. Padahal, industri wine dan parfum Perancis serta bunga di Alsmeer, Belanda, didominasi oleh pelaku berkelas mikro (sangat kecil). Namun, pelaku kelas teri ini didukung oleh lembaga perekonomian mikro yang kuat.

Hal yang sama terjadi di Thailand, sebagai penghasil buah tropis utama di dunia. Taiwan dengan agroindustri sayurannya, kemudian RRC yang dalam satu dekade terakhir bisa tampil sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di dunia. Perancis, Belanda, Thailand, Taiwan, dan China adalah beberapa contoh negara yang sangat memerhatikan lembaga perekonomian mikro. Secara konkret, lembaga ini berupa kelompok, koperasi, dan asosiasi, untuk menangani satu komoditas yang homogen.

Para pakar ekonomi Indonesia, seperti Bung Hatta, juga sangat memahami hal ini. Itulah sebabnya sejak zaman Orde Lama di negeri kita ada kelompok dan koperasi yang menjadi pelaku ekonomi cukup penting. Koperasi Pengusaha Tahu dan Tempe, Koperasi Peternak Bandung Selatan, dan Koperasi Warung Tegal adalah contoh kelembagaan mikro yang kuat. Namun, kebanyakan koperasi di Indonesia justru jadi ajang korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) para pengurus dan penguasa negeri.

Bukan keuangan mikro

Di Indonesia, lembaga perekonomian mikro lebih sering ditangkap sebagai lembaga keuangan mikro. Hingga di mana- mana tumbuh Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Padahal, BPR dan juga lembaga keuangan mikro lainnya, tanpa disertai lembaga perekonomian mikro, fungsinya lalu hanya menjadi seperti rentenir biasa. Mengambil uang dari bank, lalu meminjamkannya ke pelaku usaha mikro dengan tingkat suku bunga lebih tinggi.

Dalih para pendiri BPR dan lembaga keuangan mikro adalah, para pelaku perekonomian mikro kita, tidak akan mampu berhubungan dengan bank. Sebab, mereka sama sekali tidak memiliki skill dan koleteral. Karena itu, para pelaku perekonomian mikro ini perlu jembatan, berupa BPR atau lembaga keuangan mikro lainnya. Lembaga ini bukan hanya berfungsi sebagai penyedia modal, melainkan juga bertindak sebagai pembina kelompok.

Di Perancis dan Taiwan, pelaku usaha mikro juga tak punya skiil dan koleteral untuk berhubungan dengan bank. Mereka lalu membentuk koperasi. Di Thailand, koperasi malahan dibentuk oleh pemerintah melalui Menteri Pertanian dan Koperasi. Koperasilah yang kemudian
berhubungan dengan bank untuk kepentingan para anggota serta kelompok usahanya. Koperasi dan kelompok usaha ini melakukan kegiatan usaha, sesuai bidang masing-masing, untuk kepentingan para anggota.

Di Indonesia, penyelenggara lembaga keuangan mikro hanya membina kelompok, bukan membina usaha. Mereka juga tak pernah ikhlas membentuk koperasi produksi, yang pasti akan efektif untuk melakukan kegiatan usaha. Hingga praktis lembaga keuangan mikro di Indonesia
hanya menjadi pelepas uang. Kelompok yang ada hanya menjadi obyek sebab bidang usaha mereka sangat heterogen. Yang diucapkan aktivis lembaga LSM di forum dan yang mereka lakukan di lapangan menjadi dua hal yang berlawanan.

Pada zaman Orde Lama, Indonesia telah bereksperimen untuk menerapkan sistem ekonomi sosialis. Pemerintah Orde Baru justru sangat bernafsu untuk mengadopsi sistem kapitalis. Namun, dua-duanya dilakukan dengan setengah hati dan tidak berhasil. Tahun 1965 dan 998 terjadi krisis ekonomi, sosial, dan politik yang menumbangkan dua rezim tadi. Indonesia lalu seperti tergagap untuk bersikap di bidang perekonomian. Dalam membasmi korupsi pun kita tampak seperti banci.

Tim ekonomi baru

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono melihat titik lemah tim ekonomi ini setelah masa setahun dilampaui. Itulah sebabnya tim ini perlu dirombak, agar bisa bekerja dengan lebih efektif dan efisien. Namun, kalau perhatian hanya ditujukan terhadap lembaga perekonomian makro, dikhawatirkan upaya ini tetap akan menyuburkan korupsi. Disefisiensi akan semakin terjadi.Sebab, korupsi sudah menjalar ke legislatif, yudikatif, dan pemerintahan di daerah.

Penguatan lembaga perekonomian mikro seyogianya dilakukan oleh para pelaku ekonomi itu sendiri. Bukan oleh pemerintah, perguruan tinggi, LSM, atau lembaga keagamaan. Selama ini pertumbuhan lembaga perekonomian mikro justru telah dihambat oleh lembaga yang turun tangan untuk melakukan pembenahan. Kebanyakan LSM enggan membentuk koperasi sebab lembaga baru berbadan hukum ini akan potensial menjadi pesaingnya.

Di Indonesia sebenarnya sudah cukup banyak pelaku ekonomi mikro yang sukses secara makro. Ada petani jeruk, markisa masam, salak, apel, anggur, dan lain-lain, dengan kelembagaan yang kuat dan mampu mengembangkan sentra. Industri logam, keramik, gerabah, kayu, dan anyaman juga telah menjadi sentra. Pedagang bakso, jamu, kerupuk, warung tegal (warteg), warung padang, warung lamongan, dan pedagang martabak adalah usaha mikro yang kelembagaan mereka sangat kuat. Namun, para pejabat dan pakar perekonomian kita tentu akan turun gengsi untuk belajar dari mereka.

Selain turun gengsi, belajar dari pelaku perekonomian mikro di Tanah Air juga tidak bisa diproyekkan. Lain halnya dengan studi banding (wisata gratis) ke luar negeri. Untuk menguatkan lembaga perekonomian mikro, memang diperlukan sebuah ketulusan dan juga pengorbanan.

Saya melihat dua hal ini belum banyak dimiliki oleh para pejabat pemerintah, para pakar ekonomi, dan tokoh LSM kita. Mereka masih sering diliputi nafsu untuk disebut sebagai pahlawan pembela wong cilik. Sementara yang mereka lakukan justru bertentangan dengan predikat itu.

F. Rahardi
Ketua Forum Kerja Sama Agrobisnis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: