PANGAN DAN POLITIK ORDE BARU

25/03/2013 at 15:14 (artikel)

KOMPAS – Senin, 14 Oct 1996   Halaman: 4
Oleh F. Rahardi

MUSIM kemarau tahun 1965 terasa sungguh sangat keras. Sudah beberapa bulan hujan tak kunjung turun. Lumpur sawah mengeras dan pecah-pecah. Pohon-pohon kelihatan kuyu dan berdebu. Banyak di antaranya mengering lalu mati. Rumputan menjadi cokelat. Pangan merupakan komoditas langka dan berharga. Batang “sente”, keladi gatal yang sebelumnya tidak pernah dimakan, tiba-tiba menjadi enak dan laku dijual. Pohon-pohon aren ditebang, diambil sagunya. Itulah menu yang paling membosankan tetapi harus ditelan. Kadang-kadang hanya dengan garam. Bulgur, yang di Amerika sana kata Pak Guru hanya untuk pakan kuda, di lidah saya terasa benar-benar lezat. Kalau ditanak, bau kepulan asapnya harum sekali.

Ketika itulah pada dinihari, di langit timur laut muncul “lintang kemukus”. Sebuah bintang yang mengeluarkan “kukus” (asap). Dua remaja Jepang yang pertama kali mengintip bintang aneh ini dengan teleskop mereka, hanya menganggapnya sebagai gejala alam biasa yang disebut komet. Nama mereka Ikeya-Seki kemudian diabadikan sebagai nama komet ini. Namun bagi warga kampung saya, lintang kemukus adalah “sasmito” bahwa sebentar lagi akan datang “pageblug” (wabah penyakit) atau perang. Para “pinisepuh” pun lalu memberi nasihat agar segera diadakan selamatan penolak bala di perempatan jalan di tengah-tengah kampung. Menu untuk selamatan harus berupa nasi liwet dan sambal goreng ikan mas. Banyak warga kampung saya yang tidak mampu memenuhi saran itu, namun juga tidak berani menolak. Mereka lalu patungan untuk bisa
menghadirkan nasi liwet dan ikan mas, menu yang teramat sangat istimewa untuk kondisi kampung saya tatkala itu.

Tak berapa lama kemudian, pagi-pagi tanggal 1 Oktober 1965, RRI menyiarkan berita tentang adanya Dewan Revolusi yang telah menindak Dewan Jenderal yang antek Kapitalis dan agen CIA. Namun berita yang tersebar dari mulut ke mulut di kampung saya adalah, Bung Karno telah meninggal. Khaos akibat “kutukan lintang kemukus” itu pun datang. Teman-teman SMA saya yang anggota IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), diciduk oleh PM. Tak berapa lama kemudian dalang wayang kulit kondang yang juga tokoh Lekra diarak ke kebun karet lalu dibunuh oleh massa yang sebelumnya selalu mengelu-elukannya setiap kali dia mendalang. Dokter satu-satunya di kota saya yang dulu mengambil alih rumah sakit dari tangan para suster (Misi), tiba-tiba hilang. Teman-teman saya yang IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan ISKI (Ikatan Siswa Katolik Indonesia), ikut berdemonstrasi. Gedung CHTH dan Koperasi Gotong Royong diserbu. RPKAD dengan seragam lorengnya, dengan baret merahnya dengan bedil AK yang keren itu tampak berjaga-jaga di mana-mana. Suasana sangat kacau dan pangan makin langka.

Saya tidak pernah ikut berdemonstrasi. Acara pagi saya padat sekali. Harus mencari rumput untuk kambing, mencari kayu bakar, memanjat pohon kelapa dan yang paling berat dan membosankan adalah “matun”, menyiangi padi di sawah. Rumput-rumput dan gulma lain itu harus dicabut dengan tangan telanjang lalu dibenamkan ke dalam lumpur atau dilempar-lemparkan ke pematang. Jam sebelas saya buru-buru mandi dan berangkat ke sekolah. Makan, entah itu singkong, jagung, bulgur atau kalau beruntung dapat ketemu nasi beras, baru akan terjadi malam nanti jam tujuh, delapan, sembilan atau sepuluh atau tidak makan sama sekali. Ini bukan hanya saya alami sendirian. Semua teman di kampung saya juga selalu menceritakan hal yang sama.

***

KERJA “matun” yang sangat berat dan membosankan itu akhirnya hilang juga. Pak Bekel (Kepala Dukuh), dan Pak “mantri tani” mengenalkan bibit padi baru yang pendek-pendek dan lucu. Namanya PB 5. Menanamnya harus dengan “kentengen” tali ijuk dan “penggaris” dari bilah bambu. Padi lalu jadi barisan yang rapi sekali hingga menyiangi rumputnya bisa menggunakan “gledegan” yang disebut landak. Enak sekali, karena tidak usah membungkuk-bungkuk dan cepat selesai. Tapi padi baru ini harus dipupuk dan disemprot. Pupuk dan obatnya bisa diambil di “Padi Sentra”. Kalau padi lama empat bulan atau lima bulan baru panen, padi baru ini seratus hari sudah menguning. Memanennya juga lucu. Tidak menggunakan ani-ani tetapi dibabat pakai sabit berikut seluruh jeraminya. Kalau padi “bengawan” dan “cempo” harus diiles dengan kaki telanjang agar rontok dari malainya, padi baru ini cukup dibanting-banting sebentar sudah beres.

Nasi beras PB ini memang tidak enak. Keras, kasap, pera dan tidak wangi. Lain dengan cempo, lebih-lebih bengawan, apalagi rojolele. Tapi ini beras. Bukan bulgur, bukan jagung, bukan singkong, bukan pati aren. Betapa pun keras dan kasap dan peranya nasi PB, di perut terasa lebih dingin dan nyaman. Makan lalu bisa benar-benar dirasakan sebagai makan. Sehari bisa tiga kali dan kenyang. Tidak hanya sekali pada malam hari dan itu pun tidak pasti. Kalau dulu jagung, gaplek dan gabah harus ditumbuk di lumpang atau lesung dengan alu yang berat, sekarang di dekat kampung saya ada selepan. Penggilingan gabah. Kalau dulu menumbuk padi harus dilakukan seharian sampai telapak tangan lecet-lecet dan kapalen, sekarang cukup datang ke selepan dalam beberapa menit dan gabah pun jadi beras. Ketika itu saya sungguh tidak menyadari bahwa di negeri ini sedang berlangsung sebuah revolusi di sektor pertanian.

Sebab yang justru saya ketahui adalah BBC, Radio Australia, Suara Amerika, lebih-lebih Radio Moskwa dan RRC, setiap hari tak henti-hentinya mencerca dan memaki pemerintah Orde Baru Indonesia. Pemerintahan itu diramalkan oleh para pengamat asing tidak akan dapat bertahan lama. Ia akan segera disusul oleh kudeta selanjutnya atau segera ditumbangkan oleh sebuah kesadaran untuk berdemokrasi. Tetapi ternyata pemerintah Orde Baru itu dapat bertahan selama hampir tiga puluh tahun. Berbagai gejolak dan krisis silih berganti. Ada banyak huru-hara memang, ada GPK, ada pelanggaran HAM, ada koran dan majalah dicabut SIT-nya atau dibatalkan SIUPP-nya. Ada demonstrasi, ada walk out di DPR, ada korupsi, ada kolusi, ada ekstasi. Tetapi mengapa pemerintahan Orde Baru yang diramalkan oleh para pengamat asing bakal segera ambruk itu masih sehat walafiat?

Padahal Soeharto, anak desa Godean, Yogyakarta yang memimpin pemerintahan Orde Baru itu, sangat sederhana konsep politiknya. Ia hanya ingin membuat rakyat Indonesia tidak lapar. Sebab konon, ketika perut lapar orang lebih mudah marah, lebih mudah ngamuk, lebih mudah membunuh. Niat sederhana inilah mungkin yang justru paling punya andil terhadap keawetan pemerintahan Orde Baru. Pangan adalah senjata yang jauh lebih hebat daripada bedil, meriam, bom nuklir dan teror. Tetapi ketika perut sudah kenyang, baju bagus-bagus, rumah gedek diganti papan dan tembok, ketika anak-anak bisa sekolah, ada radio, tv, dan bioskop, pasar swalayan, mall; ketika itulah muncul pertanyaan tentang keadilan, pemerataan, HAM, demokrasi. Pertanyaan itu muncul karena empat hal tadi memang jelas masih menjadi masalah besar di negeri ini.

Tetapi, pertanyaan-pertanyaan itu juga muncul karena sekarang yang datang dari Amerika bukan sekadar bulgur. Ada gandum yang angka impornya terus menanjak, bungkil untuk pakan ternak, apel, jeruk Sunkist, film seri yang membanjiri tv dan yang terutama adalah juga kecenderungan untuk berani berpikir dan bersikap kritis.

***

POLITIK pangan yang diterapkan dengan sangat streng dan konservatif itu kadang-kadang juga membuat pemerintah Orde Baru kerepotan sendiri. Lima belas tahun yang lalu saya telah menganjurkan melalui tulisan ini, agar pemerintah segera merencanakan pembukaan kebun padi di luar Jawa. Meskipun itu jelas akan merugi. Memang kemudian Pertamina dengan Patra Taninya membuka lahan pasang surut dengan mekanisasi untuk “kebun padi” (rice estate-Red.) di Sumatera Selatan dan gagal lalu tidak dilanjutkan. Seandainya kegagalan Patra Tani itu justru dianggap sebagai tantangan lalu terus dicoba dan dicoba lagi, mungkin sekarang ini tidak perlu ada megaproyek lahan gambut sejuta hektar yang telah menyibukkan sekian banyak Menteri kita.

Tantangan yang sekarang ini kita hadapi, telah jauh sekali berbeda dengan 30 tahun silam. Sekarang masalah kita bukan lagi sekadar soal perut lapar, tetapi juga pasar global. Bulog mungkin sudah perlu dirancang untuk menjadi sebuah persero (BUMN) yang efisien. Struktur organisasi di Departemen Pertanian, khususnya di Ditjen Tanaman
Pangan dan Hortikultura juga perlu untuk dipelajari dan dikaji ulang. Apakah mau mengikuti asas komoditas atau alur kerja. Sebab gado-gado terus jelas tidak akan mungkin mampu bersaing dalam menghadapi pasar global. Kalau asas komoditas, Direktoratnya padi, palawija dan hortikultura. Masing-masing menangani mulai dari benih, budi daya sampai pascapanen dan pemasaran. Kalau mengikuti alur kerja, direktoratnya perbenihan, budi daya, pascapanen dan pemasaran, namun menyangkut seluruh komoditas. Ini tentu memerlukan proses panjang untuk merancang dan mengkajinya.

Di daerah tingkat I dan II pun masih banyak yang perlu kita kaji ulang. Untuk menanggulangi “serbuan” buah impor, seyogyanya pengusaha/investor mau turun tangan. Untuk membuka kebun buah, mereka akan “kulonuwun” ke Dinas Perkebunan. Namanya juga membuka “kebun”. Celakanya, Dinas Perkebunan hanya tahu kelapa sawit, karet, cengkeh, kopi, teh, kakao, tembakau, dan tebu. Yang tahu buah adalah Subdin Hortikultura, yang secara struktural berada di bawah Dinas Pertanian Tanaman Pangan hingga tidak “berwenang” untuk mencampuri urusan “perkebunan buah”. Kalau kita mau jeli, hal-hal semacam ini masih akan lebih banyak lagi kita temukan.

Dewasa ini kalau bicara soal pangan tidak lagi hanya sekadar ingin kenyang, tidak hanya sekadar perlu gizi baik dari telur, ikan maupun daging. Sekarang orang perlu “menu seimbang” supaya sehat dan panjang umur. Orang perlu banyak makan buah, perlu banyak sayuran, perlu teh dan jamu untuk kecantikan, untuk kelangsingan. Tiga puluh satu tahun yang lalu untuk selamatan nasi liwet dan ikan mas, orang-orang di kampung saya terpaksa harus patungan. Sekarang ini, di kota-kota besar di Indonesia, ikan mas adalah pakan Arwana. Betapa banyaknya yang telah berubah di negeri ini, juga di kampung saya, selama tiga puluh satu tahun terakhir ini.

*  F. Rahardi, penyair/wartawan, tinggal di Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: