PANCASILA DALAM HIDUP SEHARI-HARI

02/04/2013 at 11:19 (artikel)

KOMPAS – Senin, 18 Nov 1996   Halaman: 4
Oleh F. Rahardi

PAMAN saya seorang petani dan tinggal di pucuk gunung di Ambarawa sana. Di rumahnya yang berdinding papan kayu sengon, terpasang gambar Presiden Soeharto dan Bung Karno. Di dinding rumah itu juga terpasang foto cucunya, gambar Garuda Pancasila, teks Pancasila, lukisan pemandangan dan beberapa tokoh wayang. Saya pun bertanya, apakah Paman memahami betul arti sila-sila dalam teks Pancasila yang dipasangnya itu? Paman saya mengatakan tidak tahu sama sekali.

Dia dan istrinya memang buta huruf dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Tapi mengapa Paman memasang teks Pancasila itu? Dia membelinya di pasar dan memasangnya karena perintah Pak Kepala Dusun.
Di pedukuhan (dusun=kampung) tempat tinggal paman saya itu masyarakatnya beragama Islam, Kristen Jawa dan beberapa orang beragama Katolik. Hindu Dharma dan Budha tidak ada. Meskipun berbeda-beda
agama, mereka rukun. Hari raya Lebaran adalah hari raya seluruh kampung. Tidak peduli Islam, Kristen atau Katolik semua berbaju baru, makan enak dan bersilaturahmi.

Kalau ada yang sakit atau meninggal seluruh kampung juga bingung dan sibuk. Kuburannya juga cuma satu. Di kuburan itulah orang Kristen dimakamkan bersanding dengan orang Katolik, Islam dan kakek-nenek mereka yang animisme. Ketika hal ini saya tanyakan ke Paman saya, dia menjawab dengan enteng. Wong ketika masih hidup rumah mereka juga bersebelahan kok setelah mati mau dipisah-pisahkan kuburannya? Demikian pula halnya kalau mereka membangun rumah. Orang seluruh kampung ikut “sambatan”. Ini istilah untuk kerja yang tidak dibayar dan hanya diberi makan saja.

Saya pun lalu bertanya, bagaimana kalau mereka mengurus KTP, surat girik tanah, surat nikah, surat kematian dan lain-lain? Apakah dipersulit oleh Pak Lurah dan dipungli? Ternyata tidak. Memang mereka
harus membayar tetapi tarifnya sudah jelas atau hanya dengan memasukkan sumbangan ke kotak yang sudah disediakan. Paman saya merasa tidak pernah merasa dipersulit dan diintimidasi meskipun dia itu
nyata-nyata anggota PDI. Hidup lalu menjadi sederhana dan nyaman. Memang kadang-kadang ada maling, ada intrik, ada orang bertengkar, ada penipuan, tetapi frekuensinya kecil sekali. Meskipun mereka tidak tahu apa itu Pancasila, namun justru di kalangan merekalah Pancasila itu diamalkan dan dipraktekkan dengan sangat baik dalam hidup sehari-hari.

***

KONDISI di Jakarta ternyata lain sekali. Para politikus, seniman, budayawan dan cendekiawan, bisa berdebat berjam-jam soal ideologi negara ini. Mereka paham betul soal ideologi negara ini. Namun setelah itu mereka bisa dengan enteng berangkat ke diskotik dan panti pijat. Di kalangan elite bisnis yang dibicarakan lain lagi. Bagaimana caranya bisa dekat dengan anak atau istri pejabat tinggi agar bisa mendapat jatah proyek. Di kalangan LSM yang katanya non profit pun, sekarang yang dipermasalahkan adalah dana, gedung, jabatan dan juga proyek. Untuk itu mereka rela beradu mulut bahkan kalau perlu juga beradu otot. Nyata benar bedanya antara Pancasila sebagai ideologi negara yang sudah kita sepakati bersama dengan praktek hidup sehari-hari.

Mulai dari mengurus KTP, surat nikah, paspor, SK pegawai negeri, urusan dengan polisi di jalan raya, mengurus ijin mendirikan PT, IMB sampai ke soal untuk mendapatkan jabatan, memenangkan tender, menjadi caleg, semua harus dengan uang yang sangat tidak transparan. Ketika ada demonstran yang dipukuli “oknum” bahkan sampai “hilang”, dan hal ini dipermasalahkan sebagai pelanggaran Hak Asasi Manusia, maka jawabannya adalah bahwa konsep HAM di negeri liberal sana berbeda dengan HAM dalam demokrasi Pancasila. Apakah benar maksud sila kedua Perikemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam Pancasila itu berarti boleh memukuli orang, apapun dalihnya?

Dalam elite politik di negeri ini, kita sering mendengar berbagai pernyataan yang intinya mengkhawatirkan adanya sekelompok orang yang berniat untuk mengganti ideologi negara dengan ideologi lain yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa ini. Kalau memang benar ada manusia Indonesia yang seperti itu, baik terang-terangan atau secara sembunyi-sembunyi (namun ketahuan juga), mestinya segera saja ditangkap dan diadili. Habis perkara. Kita juga sering mendengar pernyataan bahwa semua permasalahan seyogyanya diselesaikan dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Ini sesuai dengan sila ke 4 dalam Pancasila. Namun dalam praktek hidup perpolitikan kita, yang terjadi sering justru sebaliknya.

Mengapa segala hal di metropolitan Jakarta ini bisa berbeda benar dengan yang terjadi di kampung paman saya yang udik itu? Apakah ini berarti bahwa Pancasila hanya cocok untuk warga kampung yang buta huruf dan tidak bisa berbahasa Indonesia? Apakah ini berarti bahwa sebuah kampung yang udik dan juga sangat “kampungan” justru lebih Pancasilais daripada kota metropolitan Jakarta? Mengapa kalau orang semakin pintar, semakin kaya, semakin berkedudukan bisa menjadi semakin jauh dengan hakikat Pancasila? Apakah hal ini disebabkan karena di kota Jakarta ini lebih banyak godaan daripada di kampungnya paman saya sana?

***

DI berbagai forum resmi, kita seringkali membanggakan Pancasila. Sekalipun terbersit pula ketakutan kalau-kalau ada yang berniat untuk mengganti ideologi bangsa itu dengan Komunis atau Demokrasi Liberal misalnya. Bahaya itu memang ada. Komunis pernah terbukti tiga kali bikin makar. Demokrasi Liberal pernah beberapa lama kita terapkan di negeri ini. Tetapi, ketakutan itu sebenarnya tidak terlalu beralasan. Pancasila adalah cerminan dari kepribadian bangsa kita. Ini bukan sekadar teori atau retorika atau utopia. Apa yang masih terjadi di kampung-kampung nan udik dari pedalaman Aceh sana sampai ke pedalaman Irian Jaya adalah praktek hidup ber-Pancasila secara murni dan konsekuen. Dan itu memang cukup tangguh untuk menanggulangi “niat jahat” mengganti Pancasila dengan ideologi lain.

Pancasila sering kita sebut sebagai ideologi terbuka. Itu benar. Aslinya, bangsa kita ini Animisme. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, memang benar menunjukkan sikap keterbukaan bangsa kita. Kita mengakui dan menganut lima agama besar yang juga diakui oleh dunia internasional secara universal. Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, semua bukan agama “asli” Indonesia. Tetapi lima-limanya kita terima sekaligus. Ini menunjukkan sikap keterbukaan kita. Berkat azas musyawarah untuk mufakat, yang “minoritas” pun diberi tempat untuk bermusyawarah. Bukannya voting atau menang-menangan.

Seandainya prinsip demikian kita terapkan secara benar dalam seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari, betapa nyamannya hidup di metropolitan Jakarta ini, bahkan juga di seluruh negeri. Namun karena kenyataan yang ada di jalan raya, di kantor polisi, di kelurahan, di gedung DPR/MPR, seringkali sangat berbeda dengan yang ideal-ideal dalam Pancasila itu, maka orang pun sering nyeletuk dengan kesal: Amerika, Jepang, dan Belanda itu tidak Pancasilais tetapi kok dapat adil makmur dan beradab. Ya tetapi mereka itu kan penjajah, kapitalis dan liberal. Bagaimana dengan Swis, negara ini tidak Pancasilais tidak pula penjajah, tetapi di sana hampir tidak ada kriminalitas, negeri ini juga tidak pernah mau perang. Swis tidak punya angkatan bersenjata tetapi stabilitas politik dan keamanan justru merupakan yang terbaik di dunia.

Tampaknya kita memang harus banyak belajar dari masyarakat “tertinggal” di desa-desa tertinggal dalam hal hidup ber-Pancasila. Selain itu kita juga harus cukup rendah hati untuk mau menerima yang baik-baik meskipun itu berasal dari Amerika atau Eropa. Sebab meskipun dalam pidato-pidato serta sambutan kita selalu bilang bahwa demokrasi liberal itu tidak cocok dengan bumi Indonesia, namun setiap hari anak-anak kita dicekoki dengan film Amerika, Jepang, Cina dan India. Di pasar swalayan kita juga dipameri barang-barang Jepang dan Amerika. Ini pasti akan lebih mujarab untuk membentuk karakter seseorang daripada indoktrinasi, penataran, pemantapan, petunjuk dan lain-lain yang membuat mata mengantuk terus.

***

ADA memang ideologi yang sama sekali tidak cocok dengan bangsa manapun di bumi ini. Komunisme modern adalah salah satunya. Tetapi juga ada Nazi, rasialisme dan masih banyak lagi isme-isme lain yang lebih banyak menyengsarakan hidup manusia daripada menyejahterakannya. Hindu adalah agama besar yang sudah sangat tua dan diterima oleh dunia internasional. Dalam kepercayaan Hindu ada tiga Dewa Utama yakni Brahma Sang Pencipta, Wisnu Sang Pemelihara alam semesta dan Syiwa Sang Perusak. Syiwa memang harus merusak agar kehidupan dapat berlanjut terus. Kalau makhluk hidup ciptaan Hyang Brahma yang dipelihara oleh Hyang Wisnu tidak dirusak dan dimatikan oleh Hyang Syiwa. Kehidupan justru akan macet karena dunia penuh sesak.

Namun kita tidak dapat hanya memuja Hyang Syiwa dan mengabaikan Dewa lainnya, sekadar untuk dapat terus merusak, membunuh, memperkosa, minum minuman keras dan lain-lain. Syiwaisme di sini sudah menyeleweng dari Idealisme Hindu. Kristen maupun Islam pun juga sama. Ketika sekte-sekte Kristen di Amerika bermunculan dengan aneh-aneh semacam Children of God, maka itu sebenarnya sudah bukan Kristen lagi. Islam-islam “sempalan” yang juga banyak lahir di bumi Nusantara ini pun pasti sudah bukan Islam lagi hingga keberadaanya terpaksa dilarang oleh pemerintah. Isme-isme semacam itu, meskipun berasal dari agama besar yang universal, namun tetap tidak dapat diterima oleh masyarakat luas karena prinsip-prinsip dasarnya memang sudah tidak cocok dengan akal sehat manusia.

Pancasila adalah sebuah ideologi yang secara nasional sudah kita sepakati bersama. Di sana terwadahi prinsip hidup bermasyarakat dengan rukun dan baik meski berbeda-beda warna kulit, adat istiadat, agama dan juga status sosial, politik serta ekonomi. Ini berarti sama modernnya dengan yang terjadi di Amerika Serikat sana. Di sana juga ada negro, kulit putih, indian, asia dan hispanik dan mereka dapat hidup bersama karena dilindungi hukum dan undang-undang, yang diterapkan dalam hidup sehari-hari dengan baik. Memang, kadang-kadang kita masih menyaksikan pula bahwa ada perlakuan yang tidak adil dan diskriminatif. Dalam ideologi apapun di dunia ini, pasti selalu ada jarak antara hal-hal yang “ideal” dengan praktek hidup sehari-hari. Ini memang sangat manusiawi. Inilah justru seni kehidupan.

Lalu bagaimana upaya kita untuk mendekatkan jarak antara ide dengan praktek hidup sehari-hari? Ini tidak mudah. Semua orang setuju bahwa agar dapat hidup sehat kita harus makan dengan menu berimbang, istirahat cukup dan berolahraga secara teratur. Namun apa yang terjadi sehari-hari? Di kota-kota besar, makan lebih banyak karbohidrat dan protein hewani. Istirahat, olahraga? Teramat sulit! Hidup di kota besar yang sangat keras dan sibuk, olahraga dan rekreasi ternyata sudah menjadi sesuatu yang mahal dan susah.

Pancasila sebagai ideologi bangsa jelas sudah kita terima dengan baik. Pelaksanaannya dalam praktek hidup sehari-hari memang tidak mungkin sempurna. Jangankan Indonesia yang katagorinya masih negara berkembang. Amerika Serikat pun tidak bisa menerapkan prinsip-prinsip ideal mereka dalam praktek hidup sehari-hari.

Namun ada satu hal yang mesti kita jaga dengan sangat ketat. Jangan sampai tingkah laku budaya, politik, sosial, dan ekonomi kita sehari-hari, justru bertolakbelakang dengan butir-butir sila dalam Pancasila. Kalau ini sangat sering terjadi, berarti dalam kehidupan sehari-hari masyarakat modern Indonesia di kota-kota besar, Pancasila hanyalah sekadar utopia dan retorika belaka.

* F.  Rahardi, penyair/wartawan, tinggal di Jakarta.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: