KETIKA ORANG MISKIN DIPERSALAHKAN

09/04/2013 at 10:10 (artikel)

Kompas, 20 September 2006

Oleh F. Rahardi

Di Indonesia, menjadi orang miskin serba repot. Predikat yang mereka terima adalah “sampah masyarakat”. Kemudian mereka mati karena tertimbun longsoran sampah.  Yang mereka terima dari orang kaya dan berkuasa, bukan ucapan dukacita, melainkan tuduhan bahwa mereka bersalah.

Sampah DKI adalah bisnis dengan omset milyaran rupiah per hari. Bisnis sampah bukan hanya melibatkan orang miskin, melainkan juga orang kaya, dan orang berkuasa. Hasil utama bisnis sampah adalah plastik, kardus dan logam, terutama besi, tembaga dan aluminium, serta kaca (beling). Semua itu akan didaurulang. Hingga meskipun pengelolaan sampah di Indonesia, khususnya di Jakarta masih amburadul, namun prosentase sampah yang didaurulang sudah sangat tinggi. Pemulung yang miskin itulah ujung tombak bisnis daurulang.

Pemulung beroperasi mulai dari tempat sampah di rumah tangga, stasiun, terminal, pasar, sampai ke Tempat Penampungan Akhir (TPA). Sampah berupa plastik, kertas, kardus, kayu, logam dan macam-macam limbah dari sebuah unit industri, sudah diurus oleh koperasi karyawan, penguasa setempat, aparat keamanan atau preman. Sampah seperti ini bukan jatahnya pemulung. Yang saya sebut beromset milyaran per hari, adalah sampah rumahtangga dan TPA. Omset sampah industri, lebih besar lagi.

Logikanya, sebuah bisnis dengan omset milyaran per hari, akan menarik minat aparat Pemprov. DKI. Resminya, TPA Bantar Gebang memang tertutup untuk umum, termasuk para pemulung. Kenyataannya, di Bantar Gebang ada ribuan pemulung yang beroperasi dengan sangat leluasa. Kalau Pemprov. DKI tegas, mestinya TPA itu dijaga aparat keamanan, agar siapa pun tidak boleh masuk. Kalau sebuah lokasi yang sebenarnya tertutup, ternyata dimasuki oleh ribuan orang, tentunya ada aparat yang sengaja tutup mata.

Miskin di Indonesia

Orang miskin, di mana-mana sama. Hidupnya susah, karena penghasilan sedikit atau tidak ada sama sekali, juga tidak punya aset. tetapi orang miskin di negara miskin di gurun Afrika, beda dengan orang miskin Amerika Serikat (AS), beda dengan orang miskin di Indonesia. Di negara gurun di Afrika, meskipun pemerintahnya sudah bekerja ekstra keras dan jujur, dibantu negara eks penjajah dan lembaga donor, tetap saja rakyatnya sangat miskin. Sebab alam di negeri gurun di Afrika, memang miskin. Kecuali di situ ada bahan tambang.

Di AS, tukang cuci piring atau pembersih WC pun, bisa hidup layak (tidak miskin), asal rajin menabung dan tidak boros. Di AS, asal mau kerja dan jujur, siapa pun tidak akan jadi miskin. Kalau ada orang miskin, biasanya orang itu memang bermasalah. Entah karena kecanduan narkoba, judi, atau hidupnya lebih besar pasak daripada tiang. Di AS, bisa pula orang menjadi miskin karena dikerjai pengacara. Tapi orang miskin di AS karena menganggur, akan disantuni pemerintah. Hingga rakyat AS tidak perlu menjadi pemulung, terlebih sampai mati tertimbun sampah. Terlebih lagi sampai dipersalahkan.

Sebenarnya, yang terjadi di AS, juga bisa kita lihat di Thailand, Malaysia bahkan juga Vietnam. Di tiga negeri jiran ini, orang tidak perlu miskin kalau mau kerja. Di Malaysia bahkan rakyatnya bisa hidup enak tanpa perlu kerja kasar. Baik menjadi kuli bangunan maupun buruh perkebunan. Sebab itu porsi TKI dari Indonesia dan Filipina. Di Malaysia, kerja bangunan dan perkebunan pun tidak dilakukan oleh rakyatnya. Apalagi menjadi pemulung. Itu semua terjadi, karena pemerintah Thailand, Malaysia dan Vietnam, bisa membuat negeri dan rakyat mereka produktiv.

Indonesia adalah negara yang jauh lebih kaya dari Thailand, Malaysia apalagi Vietnam. Memang penduduk Indonesia juga lebih banyak, tapi jelas tidak sebanyak RRC. Bedanya, pemerintah negeri kita, tidak bisa membuat rakyatnya produktiv, hingga menjadi makmur. Dalih bahwa penduduk Thailand, Malaysia dan Vietnam sedikit hingga mudah diurus, menjadi mentah karena RRC dengan penduduk 1,4 milyar jiwa, ternyata juga bisa mendorong rakyatnya produktiv dan makmur, hanya dalam dua dasa warsa.

Produktivitas Unggulan

Di negeri yang normal, pemerintah adalah pengelola negara, yang tugasnya antara lain membuat rakyatnya produktiv, hingga bisa sejahtera lahir batin. Singapura adalah negara pulau yang sama sekali tidak punya sumber alam. Bahkan air tawar pun, harus diimpor dari Malaysia. Kelebihan negeri ini adalah, lokasinya strategis sebagai bandar perdagangan. Untuk itu seluruh energi dialokasikan bagi pelayanan niaga. Syarat utama sebuah bandar perdagangan adalah, adanya kepercayaan dari semua pihak. Singapura benar-benar menjaga hal ini.

Swis juga negeri kecil yang tidak punya laut, tidak punya tentara. Mereka hanya punya keju alpina, arloji, pisau, dan industri cokelat. Kecuali keju, logam untuk pisau berasal dari Swedia dan biji kakaonya dari negeri kita. Tetapi Swis bisa makmur karena wisata dan jasa perbankan. Dua keunggulan ini benar-benar dioptimalkan oleh pemerintah Swis, hingga rakyat negeri ini bisa sangat produktiv. Hal yang sama juga terjadi di negara-negara Amerika Latin. Setelah Perang Dunia II mereka bangkrut. Sekarang Brasil, Argentina, Chile dan Peru sudah jauh lebih makmur dari kita. Contoh paling fenomenal adalah RRC dan Vietnam, yang kemajuannya luar biasa.

Unggulan Indonesia adalah pertanian/perkebunan dan hasil laut. Namun unggulan ini tidak diurus serius, malahan direcoki. Untuk membuka usaha di Malaysia atau Thailand, investor cukup datang ke Balaikota dan mendaftar dengan mudah dan murah. Di Indonesia, setelah delapan tahun reformasi, calon invstor masih harus datang ke belasan kantor dan meja dan dipersulit. Beras kita lebih mahal dari Thailand, Vietnam dan India, bukan karena petani kita kalah produktiv dan efisien, melainkan karena faktor off farm, berupa rong-rongan preman, aparat keamanan dan penguasa.

Pemprov. DKI, sebenarnya sangat paham, bagaimana mengelola sampah dengan baik, hingga menghasilkan energi listrik, kompos, bahan reklamasi dan lain-lain. Tapi kalau itu semua dilakukan, peluang untuk korupsi mengecil. Sebab sampah langsung dipadatkan hingga satu truk menjadi 1 m3, limbah cairnya dibersihkan, bahan padatnya untuk energi, reklamasi, kompos dan lain-lain. Bisnis pemulung yang omsetnya milyaran per hari, lalu tidak bisa ikut dinikmati. Kalau sampah dikelola secara profesional, selain tidak bisa korupsi, penguasa juga sulit menyalahkan orang miskin yang jadi pemulung. # # #

F. Rahardi, Penyair, Wartawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: