DARI BUDAYA MESOPOTAMIA KE KRISIS PANGAN MODERN

17/04/2013 at 14:34 (artikel)

Dari Majalah Basis No. 05-06, Tahun ke-57, Mei/Juni 2008, hal 64
 
Budaya Pangan & Perbudakan Modern:
Oleh F. Rahardi

Homo sapiens purba hidup nomaden, berburu, dan meramu. Pada era neolitikum, mereka mulai menetap, bertani, dan memelihara hewan, untuk kebutuhan keluarga. Kultur metropolis pada jaman Mesir Kuno, telah menciptakan perbudakan, dan pola perdagangan pangan modern. Bahaya kelaparan pun pernah mengancam.

Manusia purba yang omnifora, makan pucuk daun, buah, biji-bijian, umbi-umbian, dan serangga, semuanya mentah. Setelah mengenal api, homo sapiens tahu bahwa daging ikan, unggas, dan mamalia bakar itu enak. Domestikasi ternak, dan budi daya tanaman lalu dimulai. Kultur pertanian pertama yang tercatat jejaknya, terjadi di Mesopotamia (sekarang Irak), sekitar tahun 10.000 SM. Di kawasan ini, manusia purba mulai menanam gandum (serealia), anggur (buah), dan sawi (sayuran). Mereka juga menggiring domba liar, dari padang yang sudah tak ada rumputnya, ke padang lain  yang masih subur. Mereka memberi makan ayam, dan burung liar, memfermentasi air buah anggur, dan tepung gandum, dengan kapang Saccaromyces cerevisiae.

Sejak itu manusia lalu bisa hidup lebih enak, sebab tidak harus selalu berburu, mencari biji-bijian, buah, dan pucuk daun. Mereka lalu menetap di satu tempat, dan kultur pertanian subsisten dimulai. Manusia memelihara ternak, menanam gandum, anggur, dan sawi untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Mereka menjadi makmur, dan sifat jahat manusia datang. Keluarga yang kuat merampok keluarga yang lemah. Laki-laki dari keluarga lemah itu dibunuh, perempuan, anak-anak, ternak, dan harta benda dirampas. Lama-lama timbul gagasan, daripada dibunuh, laki-laki dari keluarga yang dirampok tadi, lebih baik dijadikan budak. Mulailah era perbudakan. Metropolis Mesir, Asiria, Sumeria, dan Babilonia dibangun di atas derita para budak.

Pada jaman metropolis awal di Timur Tengah, sebenarnya pola agribisnis modern sudah mulai menggantikan pola pertanian subsisten. Orang menanam gandum, anggur, apel, sawi, memelihara ayam, domba, dan sapi, untuk diperdagangkan. Agar agribisnis modern di metropolis Timur Tengah itu bisa efisien, maka budak harus selalu ditangkap, dipekerjakan di ladang gandum, kebun anggur, dan padang penggembalaan ternak. Pola eksploitasi manusia oleh manusia lain, yang telah terjadi sejak 5.000 tahun silam ini, sampai detik ini masih terus terjadi. Secara formal, catatan tertua tentang perbudakan, kita ketahui dari  Code of Hammurabi di Mesopotamia, tahun 1.800 SM. Secara formal pula, perbudakan baru berhenti, setelah Thirteenth Amendment to the Constitution Amerika Serikat pada bulan Desember 1865.

Lalu kita juga bisa belajar dari teks kitab suci. Yusuf, budak Bani Israel yang tengah dipenjara itu, pernah mengartikan mimpi Firaun. Tujuh sapi gemuk-gemuk, dan tujuh bulir gandum bernas yang keluar dari Sungai Nil, habis dimakan oleh tujuh sapi kurus, dan tujuh bulir hampa. Artinya, pada jaman metropolis Mesir, pernah terjadi bahaya kelaparan. Kisah keluarnya Bani Israel dari Mesir di bawah pimpinan Musa, juga merupakan bentuk lain dari bebasnya manusia dari perbudakan. Keadaan pada awal milenium III sekarang ini memang lebih serius. Ada bahaya perusakan lingkungan, perubahan iklim global, dan perbudakan sudah terbungkus rapi oleh sistem kapitalisme global.

Sumber Karbohidrat

Sejak jaman neolitikum, karbohidrat telah menjadi bahan pangan utama manusia. Masing-masing etnis dengan kulturnya, punya andalan sumber karbohidrat. Gandum yang pertamakali dibudidayakan di Mesopotamia, tahun 5.000 SM menyebar ke seluruh Timur Tengah, Eropa Selatan, dan Asia. Dari Eropa Selatan, gandum kemudian menyebar rata ke seluruh daratan Eropa, Inggris, dan Irlandia. Setelah gandum,  menyusul budi daya padi di India, yang kemudian menyebar ke China, Jepang, dan Asia Tenggara. Pada saat bersamaan, etnis penghuni Benua Amerika juga membudidayakan jagung, dan kentang. Pada pertengahan milenium II, gandum, padi, jagung, dan kentang menyebar ke seluruh dunia.

Yang menarik, pada abad III sampai IV, ubi jalar, dan keladi secara estafet menyebar dari daratan Amerika, ke pulau-pulau Pasifik, sampai terhenti di Papua, Formosa (Taiwan), dan Jepang. Ketika Ferdinand Magellan (1480 –1521), berhasil mengarungi Atlantik, dan kemudian Pasifik; dia dan awak kapalnya tertolong oleh buah sukun, hingga tidak mati kelaparan. Maka sukun pun disebut breadfrut. Sebenarnya sumber karbohidrat demikian beragam, hingga umat manusia tidak perlu kelaparan. Tetapi kapitalisme global telah mengerucutkan pola (budaya) makan, hingga berujung pada mi dan roti, yang berarti gandum.

ASAL-USUL TANAMAN PENGHASIL KARBOHIDRAT

I.  Dari Daratan Asia

1.  Gandum
*Gandum Triticum: Common Wheat/Bread wheat (Triticum aestivum), Einkorn    (Triticum monococcum), Emmer (Triticum dicoccon), Durum (Triticum durum),  Kamut (QK-77, Triticum polonicum), Spelt (Triticum spelta) * Barley: six-row barley (Hordeum vulgare), four-row (Hordeum tetrastichum), two-row barley (Hordeum distichum) * Oat (Avena sativa) * Rye (Secale cereale) Varietas, dan hibrida gandum Triticum aestivum ada ratusan
2.  Padi
*Oryza sativa var. Indica *Oryza sativa var. Japonica *Oryza sativa var. Javanica (dari tiga varietas utama ini, dihasilkan ratusan varietas, dan hibrida Oryza sativa baru) *Oryza barthii *Oryza latifolia *Oryza longistaminata*Oryza punctata *Oryza rufipogon
3.  Jali  Job’s Tears (Coix lacryma-jobi var. ma-yuen)
4.  Amorphophallus
*Suweg (Amorphophallus paeoniifolius) *Iles-iles (Amorphophallus konjac)
5.  Uwi (Dioscorea Sp), dengan puluhan spesies, termasuk gadung, gembili, gembolo
6.  Sorghum (Sorghum sp), 32 spesies di seluruh dunia
7.  Buckwheat (Soba)
*Common buckwheat (Fagopyrum esculentum) *Tartary buckwheat (Fagopyrum tataricum) *Perennial buckwheat Fagopyrum cymosum *Wild Buckwheat (Fallopia convolvulus) *Tartary buckwheat (Fagopyrum tataricum ssp. potanini)
8.  Millet
*Pearl millet (Pennisetum glaucum) *Foxtail millet, jewawut (Setaria italica) *Proso millet, common millet, broom corn millet, hog millet, white millet (Panicum miliaceum) *Finger millet (Eleusine coracana) *Barnyard millet (Echinochloa spp) *Kodo millet (Paspalum scrobiculatum) *Little millet (Panicum sumatrense) *Guinea millet (Brachiaria deflexa = Urochloa deflexa) *Browntop millet (Urochloa ramosa = Brachiaria ramosa = Panicum ramosum)

II.  Dari Benua Amerika

1.  Jagung
*Flour corn (Zea mays var. amylacea) *Popcorn (Zea mays var. everta) *Dent corn (Zea mays var. indentata) * Flint corn (Zea mays var. indurata) *Sweetcorn (Zea mays var. saccharata, Zea mays var. rugosa) *Waxy corn (Zea mays var. ceratina) * Pod corn (Zea mays var. tunicata)* Striped maize (Zea mays var. japonica)
2.  Kentang (Solanum tuberosum), dengan ratusan varietas
3.  Singkong
*Manihot brasiliensis *Manihot esculenta *Manihot glaziovi *Manihot grahamii    
4.  Ubi Jalar (Ipomoea batatas), dengan ratusan varietas
5.  Keladi (Xanthosoma), dengan 50 spesies
6.  Ganyong
* Canna coccinae * Canna indica
7.  Garut  (Maranta arundinacea) dengan dua varietas
8.  Uwi (Yam, Dioscorea Sp), dengan puluhan spesies di seluruh dunia
9.  Biji Bayam (Grain Amaranth, Amaranthus sp), dengan 60 spesies
10.  Sorghum (Sorghum Sp), 32 spesies di seluruh dunia
11.  Quinoa (Chenopodium quinua)
12.  Wildrice (Zizania Sp),  24 spesies

III.  Dari Pasifik dan Kep. Nusantara

1.  Sagu
*Metroxylon amicarum *Metroxylon paulcoxii  *Metroxylon  sagu *Metroxylon salomonense *Metroxylon  vitiense *Metroxylon warburgii
2.  Aren (Arenga pinata)
3.  Talas
*Colocasia affinis *Colocasia bicolor *Colocasia coryli *Colocasia esculenta *Colocasia gigantea *Colocasia lihengiae *Colocasia macrorrhiza *Colocasia menglaensis
4.  Sukun (Artocarpus communis)
5.  Suweg (Amorphophallus paeoniifolius)
6.  Uwi (Dioscorea Sp), dengan puluhan spesies di seluruh dunia
7.  Sorghum (Sorghum sp), 32 spesies di seluruh dunia

IV.  Dari Benua Afrika

1.  Sorghum (Sorghum sp), 32 spesies di seluruh dunia
2.  Teff (Eragrostis taf)
3.  Uwi (Yam, Dioscorea Sp), dengan puluhan spesies di seluruh dunia
4.  Padi Afrika (Oryza glaberrima)

V.  Dari Benua Eropa

1.  Oat (Avena sativa)
2.  Rye (Secale cereale)

Dari data terlampir, tampak sebuah ironi. Tanaman sumber karbohidrat asal Benua Amerika misalnya, seluruhnya dari Amerika Tengah dan Latin, kecuali  wild rice Zizania Sp. Namun demikian, konsentrasi pangan saat ini justru menumpuk di Amerika Utara. Ini semua bisa terjadi karena faktor perbudakan. Afrika, sebenarnya tidak akan semiskin sekarang, kalau manusianya yang sehat, dan kuat-kuat tidak diangkut ke luar Afrika sebagai budak. Sampai sekarang di Afrika tidak diciptakan sistem untuk memroduksi pangan. Karena sistem tidak ada, maka kelembagaan petani lemah, alokasi modal tidak ada, jalur distribusi juga tak terurus. Hal seperti ini sebenarnya juga terjadi di Indonesia. Sebelum Belanda datang, Jawa, Sumatera, Bali, dan Sulawesi adalah pengekspor beras, yang dihancurkan oleh kapitalisme barat.

Kearifan tradisional, yang bisa bertahan dari penindasan kapitalisme, sekarang ini hanya tinggal sekelompok etnis yang sangat kecil. Misalnya masyarakat Badui Dalam, di Kabupaten Lebak, Banten. Mereka tetap menghasilkan pangan, yakni padi ladang, sama dengan nenek moyang mereka ratusan tahun silam. Di perbatasan India, Pakistan, dan Afganistan, sampai sekarang juga masih ada etnis yang membudidayakan gandum, sama dengan nenek moyang mereka sekitar 7.000 tahun yang lalu. Bajak mereka bajak kayu yang ditarik seekor sapi. Jenis gandum yang mereka tanam juga Eikorn yang berkromosom 2, lain dengan gandum modern Triticum yang berkromosom 6. Mereka masih menggiling biji gandum secara manual dengan batu, dan memanggang tepung di gerabah tanah dengan api kayu.

Penghormatan Kepada Pangan

Ketika masyarakat Mesopotamia mampu membudidayakan gandum, dan membuatnya menjadi roti, maka poduk pangan ini lalu sangat dihormati. Saking hormatnya, maka roti dianggap sebagai “daging Allah”. Pemakaian roti (hosti), dan anggur dalam ritual Agama Katolik (perayaan ekaristi), sebenarnya merupakan revitalisasi dari sebuah tradisi neolitikum. Dalam tradisi Hindu, padi dianggap sebagai penjelmaan Dewi Sri, yakni dewi padi. Karena merupakan penjelmaan seorang dewi, maka mulai dari pengolahan lahan, penyemaian, pencabutan semai, tanam, penyiangan, bunting, masak susu, sampai ke panen dan memasukkan ke dalam lumbung, semuanya perlu ritual sesaji, dan juga doa.

Tradisi seperti ini masih bisa dilihat pada perayaan Seren Tahun di Cigugur, Kabupaten Kuningan, dan di Kasepuhan Cipta Gelar di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Pada masyarakat tradisional seperti ini, termasuk di Bali, atau di pedalaman Kalimantan, ritual keagamaan, kreasi kesenian, dan produksi komoditas pangan (kegiatan ekonomi), menyatu dengan sangat kuatnya. Yang kemudian berujung pada kearifan menghadapi alam. Misalnya, menanam padi cukup satu kali dalam setahun. Sebab benihnya menggunakan benih dalam, yang baru akan bisa dipanen pada umur tujuh bulan setelah tanam. Tidak menggunakan pupuk serta pestisida, hingga keberadaan ekosistem tetap terjaga. Tikus, ular, wereng, burung, kodok, belut, semua bisa hidup berdampingan. tetapi populasi penduduk juga dibuat stabil.

Di Kepulauan Pasifik, khususnya di Hawaii, talas juga sangat dihormati. Di sini, talas dikupas, dikukus, lalu ditumbuk menjadi getuk yang sangat halus. Getuk talas ini disebut poe. Cara menyantap poe dengan mengencerkannya hingga menjadi bubur. Poe mutlak harus ada ketika makan malam. Sebab talas atau Taro, dianggap sebagai penjelmaan roh nenek moyang. Kalau poe tidak ada, maka roh nenek moyang tidak ikut hadir dalam makan malam keluarga tersebut. Di Hawaii, poe sudah diproduksi secara massal, dan dijajakan di pasar swalayan. Baik poe segar, maupun poe masam (seperti yoghurt). Dibanding dengan roti, nasi, dan mi, poe jauh lebih dihormati di negara bagian AS ini.

Tumbuhan sumber karbohidrat asli Amerika Latin, cukup banyak. Mulai dari jagung, singkong, ubi jalar, kentang, keladi, ganyong, garut, uwi, sorghum, quinoa, dan biji bayam (grain amaranth). Ternyata yang paling dihormati oleh masyarakat Maya dan Aztec bukan jagung atau kentang, melainkan biji bayam. Tepung biji tumbuhan ini mereka buat menjadi kue berbentuk boneka manusia, dan di bagian dalamnya diisi madu. Boneka kue ini kemudian diarak ke kuil, disembelih, lalu dibagi-bagikan ke umat untuk dimakan. Para Rahib Spanyol yang melihat adegan ini, menganggapnya sebagai pelecehan terhadap tradisi perayaan ekaristi. Maka ritual ini dilarang, budi daya grain amaranth juga tidak diijinkan.

Kerakusan Perdagangan

Yang terjadi sekarang ini, sebenarnya bukan soal kekurangan pangan seperti yang pernah dialami oleh Metropolis Mesir Kuno. Stok pangan dunia lebih dari cukup. Sama halnya dengan stok minyak dunia. Yang menjadi masalah, isu tentang kebutuhan minyak, juga kebutuhan pangan, telah menyulut sentimen pasar, hingga portofolio satu produk pangan bisa diperdagangkan sampai lebih dari 10 kali dalam future trading. Konsekuensinya, harga produk itu akan menjadi sangat tinggi. Krisis pangan belakangan ini juga bukan soal harus “kembali ke alam” yang kemudian diartikan sebagai pertanian organik. Pertanian organik adalah sebuah trend  kegenitan modern, yang justru telah ikut mempercepat krisis pangan dunia.

Sepuluh negara dengan populasi penduduk terbesar adalah RRC 1.323 milyar,  India 1.130 milyar, AS 303,6 juta, Indonesia 231,6 juta, Brazil 186 juta, Pakistan 162,6 juta, Bangladesh 158,6 juta, Nigeria 148 juta, Russia 141,9 juta, dan Jepang 127,7 juta jiwa.

Sepuluh negara penghasil padi terbesar adalah RRC 185,4 (juta ton) India 129,  Indonesia 53, Bangladesh 40, Vietnam 36, Thailand 27, Myanmar 24,5, Filipina14,8, Brasil 13, Jepang 10,9. Gandum: RRC 96,3 (juta ton), India 47,6, AS 96, Rusia 57, Perancis 36,9, Kanada 25,5, Australia 24, Jerman 23,5, Pakistan 21,5, Turki 21. Jagung: AS 280 (juta ton), RRC 132,6, Brasil 34,8, Meksiko 20,5, Argentina 19,5, India 14,5,  Perancis 13, Indonesia 12, Afrika Selatan 11,9, Italia 10,6. Kentang: RRC 73, (juta ton), Russia  36,4, India 25, Ukraina 19,4, AS 19, Jerman 11, Polandia 11, Belarus 8, Belanda, 6,8, Perancis 6,3. Ubi Jalar: RRC 107 (juta ton), Uganda 2,6, Nigeria 2,5, Indonesia 1,8, Viet Nam 1,5, Jepang 1,05, Tanzania  0,97, India 0,9, Rwanda 0,88, Burundi 0,83. Singkong: Nigeria 38,1 (juta ton), Brasil 26,6, Indonesia 19,4, Thailand 16,9, Kongo 14,9, Ghana 9,7, Angola 8,6, Tanzania 7, India 6,7, Mozambik 6.

Ini data FAO tiga tahun 2006. Tahun 2007, hasil gabah kita mencapai 54 juta ton, jagung 15 juta ton. Dari data tersebut tampak, bahwa negara dengan populasi penduduk besar, juga menghasilkan bahan pangan dalam volume besar pula. Data ini belum memperhitungkan sagu, talas, keladi, uwi, dan sukun.

Jadi yang sedang dialami oleh Homo sapiens kali ini, bukan kekurangan pangan, melainkan ada ketidakadilan perdagangan, dan distribusi pendapatan. Ibarat jaman perbudakan dulu, sekarang ini ada bangsa yang dirantai, dan dipaksa menjadi budak oleh bangsa lainnya. TKI kita yang kerja keluar negeri, sebenarnya sedang menjadi budak. Sementara kedelai, gandum, bungkil, tepung ikan, buah, gula, kita harus impor. Idealnya, Indonesia mengekspor produk pangan ke AS, lalu AS mengekspor produk berteknologi tinggi ke Indonesia. Yang terjadi, teknologi tinggi kita impor, dan pangan serta sandang juga kita impor dari AS.

Pola Perbudakan Modern

Masyarakat Badui Dalam, Kasepuhan Cipta Gelar, dan Cigugur di Kuningan, memang sebuah bentuk ideal dari penghargaan suatu komunitas terhadap pangan. Karena masyarakat adat tersebut menghargai pangan, maka mereka juga bisa mandiri dalam soal pangan. Dalam masyarakat modern sekarang ini, tidak mungkin masing-masing keluarga bisa mencukupi kebutuhan pangan sendiri. Penduduk di kota-kota besar di Jawa, tidak mungkin menanam padi, untuk keperluan keluarga masing-masing. Meskipun pola pengadaan pangan model Cipta Gelar tidak bisa diterapkan dalam masyarakat modern, namun semangat kerja, dan kemandirian mereka, bisa menjadi model bagi kemandirian pangan modern.

Yang terjadi di negeri kita sekarang ini, masyarakatnya bukan sekadar diperbudak oleh negara asing, melainkan juga oleh para penguasa kita sendiri. Meski sekarang ini harga pangan nasional maupun dunia melambung tinggi, petani tetap tidak ikut menikmati hasilnya. Petani produsen pangan tetap dibayar rendah, sebab yang selama ini menikmati hasil jerih payah petani adalah pedagang, pengusaha jasa angkutan, penyedia lokasi perdagangan, polisi lalu-lintas, dan preman. Di negeri jiran Malaysia, Thailand, dan Australia, hal seperti ini tidak terjadi, sebab petani mereka berada dalam wadah organisasi petani. Organisasi berupa kelompok, koperasi (berbadan hukum), dan asosiasi, inilah yang akan mengatur distribusi pangan, hingga petani tidak dirugikan, tetapi harga produk juga tetap terjangkau oleh konsumen.

Di Indonesia, organisasi petani adalah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), untuk tujuan politik praktis, dan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), untuk mewadahi kegiatan pemasaran pupuk, dan pestisida. Lembaga petani berupa kelompok, koperasi, dan asosiasi, sama sekali belum ada. Padahal lembaga seperti ini, berguna untuk menciptakan kemandirian petani. Dalam masyarakat adat Kasepuhan Cipta Gelar, kelembagaan adat itu demikian kuatnya, hingga pengaruh luar bisa diredam. Kelembagaan seperti inilah yang sama sekali tidak ada pada petani kita. Kalau pemerintah Malaysia, Thailand, Jepang, atau AS ingin bicara dengan petani, maka perwakilan petani itu konkrit, berupa kelompok, koperasi, dan asosiasi.

Perbudakan di negeri ini bersifat ganda. Pertama, petani disetarakan dengan budak, hingga harus memroduksi pangan dengan harga jual sangat rendah. Di lain pihak, konsumen juga dipaksa untuk membeli produk pangan dengan harga setinggi mungkin. Kalau harga gabah di tingkat produsen (petani) Rp1.500, kemudian konsumen harus membeli beras dengan harga Rp 4.500,- maka jumlah terbesar dari yang telah dibayarkan konsumen, akan jatuh ke tangan mereka yang “tidak ikut berkeringat”. Mereka itu bukan hanya tengkulak, penyedia jasa angkutan, tetapi juga aparat pemerintah. Mulai dari polisi lalu-lintas, sampai ke aparat keamanan di pasar. Semua ikut menjarah keringat petani, sambil memaksa konsumen membayar dengan harga tinggi. * * *

Cimanggis, Mei 2008 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: