PANTUN DAN SASTRA FACEBOOK

23/04/2013 at 15:32 (artikel)

Belum Pernah Dipublikasikan

Oleh F. Rahardi

Dalam acara berbalas pantun, ketika seseorang, atau sekelompok orang  melempar (menjual) sebait pantun, orang atau kelompok lain, akan segera menangkap (membeli), juga dengan sebait pantun. Terjadilah pertarungan, sportivitas, dan juga kreativitas.

Tiga hal itulah, yang tak ada dalam Sastra Facebook. Sebutan sastra facebook sendiri, dimaksudkan untuk menandai mereka yang menulis di jejaring sosial facebook. Bisanya yang mereka tulis puisi, cerpen dan penggalan novel, yang pernah terbit sebagai buku. Yang terakhir ini, sebenarnya  tidak tepat disebut sebagai sastra facebook. Sastra facebook, lebih ditujukan kepada mereka yang  menulis puisi, atau penggalan prosa, langsung di jejaring pertemanan tersebut. Tulisan itu akan segera mendapat  respon dari teman-temannya, dan hampir pasti berisi pujian: hebat, top, luarbiasa, dan lain-lain.

Ada juga kelompok kritis, yang dengan intensitas tinggi mencacimaki kelompok lain. Materi postingan jenis ini, bukan karya sastra, melainkan mirip dengan celetukan ibu-ibu rumah tangga yang sedang ngrumpi. Jadi ada dua titik ekstrim: kelompok yang lebih berorientasi ke dalam, yang saling memuji. Kemudian kelompok yang lebih berorientasi ke keluar, dengan postingan berisi caci maki. Di antara dua titik ekstrim ini,  ada juga yang moderat, misalnya akun Abdul Hadi WM. Meskipun materi postingannya, lebih banyak berhubungan dengan posisinya sebagai guru besar.

Kreativitas Hilang

Sebenarnya Facebook punya perangkat online, hingga aktivitas semacam berbalas pantun dimungkinkan. Dalam berbalas pantun tradisional, ada kerumitan tersendiri dalam menciptakan baris sampiran. Sebab sampiran harus bersuku kata, berakhiran bunyi vokal, dan konsonan, sama dengan baris isi. Namun demikian, isi selalu dianggap lebih penting dibanding sampiran. Esai Sutardji Calzoum Bachri berjudul Pantun, telah membalikkan anggapan ini. Esai Tardji ini dibacakannya dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara IX, 1997 di Kayutanam, Sumatera Barat, kemudian dimuat di Kompas, 14/21 Desember, 1997. Dalam esai itu, Tardji justru menganggap sampiran lebih penting dari isi.

Dalil Sutardji ini, didasarkan pada fakta bahwa baris: kalau ada umurku panjang; bolehlah kita bertemu lagi, tidak mungkin diutak-atik lagi. Beda dengan sampiran: kalau ada sumur di ladang; bolehlah beta menumpang mandi, yang masih bisa diganti dengan baris lain, asalkan suku kata dan akhir bunyi baris, masih cocok dengan baris isi. Kita bisa adu kreativitas justru dalam menciptakan sampiran. Maka kecepatan seseorang, dalam merespon “jualan” pihak lawan, menjadi sangat penting. Acara berbalas pantun bisa dilakukan oleh dua orang, dua kelompok, atau oleh individu dalam sebuah kelompok.

Dalam berbalas pantun, ada wahana untuk saling bersaing, dan saling mengalahkan secara terbuka, dengan unsur sportivitas dan kreativitas yang dominan. Pemenang bukan dinilai dari kecepatan menjual atau membeli, melainkan dari kualitas sampiran, dan isi pantun. Terlalu cepat membeli, dengan kualitas isi dan sampiran jelek, akan menjadi bahan tertawaan lawan, dan juga teman dalam kelompok. Materi yang dipantunkan biasanya hal-hal umum, dan jarang ada baris isi atau sampiran yang menyangkut individu si penjual, atau pembeli. Tak jarang kritik sosial disampaikan melalui isi maupun sampiran.

Perilaku Narsis

Beda dengan orientasi umum berbalas pantun, postingan dalam status facebook, cenderung  narsis. Narsis individu berorientasi ke saya, atau aku, dan berharap komentar berupa pujian, dari teman-temannya. Atau narsis kelompok yang menyerang kelompok lain, lalu seluruh anggota pertemanan mengamini. Sensitifitas para pesastra facebook sama tinggi, dengan yang ada di jejaring sosial lain, termasuk di milis dengan anggota spesifik. Sensitifitas ini, biasanya dibarengi dengan perilaku agresif, yang kadangkala disertai sikap kasar, termasuk memaki-maki.

Perilaku narsis, sensitif, dan agresif,  telah mengaburkan tujuan mereka beraktivitas. Keberatan terhadap sekelompok sasterawan tertentu misalnya, tidak didasari oleh pergulatan ideologi seperti pada zaman Polemik Kebudayaan (Pujangga Baru), dan Manifes Kebudayaan (awal 1960an). Meskipun beberapa kelompok penulis berupaya menampilkan kesan kekiri-kirian, kesan tersebut tanpa dilandasi ideologi sekuat seniman  Manifes Kebudayaan, dan LEKRA. Hingga yang tampak dominan hanyalah sekadar ekspresi kekenesan, bukan perjuangan yang benar-benar berlandaskan ideologi.

Kecenderungan narsis individu dan kolektif dalam sastra facebook, sebenarnya merupakan riak dari sisa gelombang yang sudah agak lama berlalu. Kecenderungan untuk merangkai kata-kata indah tanpa juntrungan, merupakan riak dari pola bersastra Afrizal Malna dalam puisi, dan Ayu Utami dalam menulis prosa. Baik Afrizal maupun Ayu, lebih mengutamakan pencapaian linguistik dibanding irama, matra, dan rima, dalam puisi; serta tokoh, seting, dan alur dalam prosa. Kecenderungan ini secara dangkal diadopsi habis. Hingga ada kesan, kalimat mendayu-dayu identik dengan sebuah puisi, yang harus segera mendapatkan respon berupa pujian dari teman-teman dekatnya.

Kambing Jantan

Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Calzoun Bachri, membuka akun di Facebook, dengan  harapan bisa menjangkau khalayak sastra lebih luas. Sebab mereka adalah penyair yang sudah jadi. Demikian pula halnya dengan Ayu Utami, Abdul Hadi WM, dan beberapa nama lain. Ada pula fenomena seperti yang dialami Raditya Dika, dengan Kambing Jantannya. Ia justru mulai menulis dalam sebuah blog, baru kemudian dibukukan, menjadi best seller, dan difilmkan. Bagi Raditya, blog hanyalah sarana, yang sama dengan media lain.

Dua latar belakang dan sikap yang sangat jelas ini, tidak pernah menjadi acuan para “sasterawan facebook”. Kebanyakan di antara mereka adalah sasterawan medioker, atau para ibu rumah tangga yang berhasrat besar untuk bersastraria. Dua kelompok ini kemudian bersimbiosismutualisma, hingga menghasilkan aktivitas yang hangat dan semarak. Menulis di facebook, dikumpulkan ramai-ramai, dibukukan, diluncurkan dengan mengundang pembahas, makan minum, saling memuji, berfotoria, dan foto serta ulasan itu kembali mèjèng di facebook. Pola ini lalu menjadi ritual rutin, dan steril dari kritik.

Padahal dalam olahraga apa pun, termasuk olahraga otak seperti catur dan bridge, diperlukan sparing. Dalam beladiri, sparing itu bahkan harus memukul, dan menjatuhkan, hingga badan terasa sakit. Akan tetapi itulah sparing. Dengan sakit dan capek, seorang olahragawan/wati bela diri, akan menjadi semakin kuat. Di facebook, sparing ternyata menjadi barang tabu. Ketika ada satu kelompok sasterawan menghajar kelompok lain, maka kelompok yang dihajar itu tak pernah mau menanggapi. Sebab yang dihajar bukan karya mereka, melainkan pribadi-pribadi itu. Dan itulah perikehidupan dunia maya, yang naif, yang absurd, namun dianggap trendi.

F. Rahardi, Sasterawan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: