Batu

07/05/2013 at 13:10 (cerpen)

Batu itu keras. Tuhan sengaja membikinnya begitu agar tukang batu ikut kecipratan rejeki proyek. Sudah lama aku menaruh hati pada benda padat ini. Batu itu! Kalau ditumpuk-tumpuk dan diukir-ukir dia akan menjelma jadi candi yang bagus dan awet. Batu itu! Kalau digiling dia akan jadi pasir lalu dicampur aspal dan diserakkan di jalanan dan becak pun akan menggelinding dengan nyaman. Kata pak guru, batu itu kerak bumi. Muntahan gunung api. Tapi bagiku sendiri, batu artinya “akik” yang sudah tergosok rapi dan terpasang di jari tangan. Aku memang sungguh mengagumi  batu, benda favorit itu.

Tapi kalau pukul dua malam batu itu menimpuk tiang listrik di jalan tepat di depan rumah dengan sekeras-kerasnya, hatiku menjadi mencelos. Rasa kagum itu hilang dan berbalik jadi rasa kesal campur jengkel. Ingin rasanya ganti menimpuk kepala manusia yang menimpukkan batu itu ke tiang listrik. Bayangkan! Kalau sekiranya pukul dua itu aku baru nyenyak-nyenyaknya tidur melepaskan syaraf, lalu tiba-tiba saja teng, teng, teng! Telinga ini rasanya seperti mau koyak dan dada berdegup keras. Siapa yang tak kaget. Soalnya sejak ada pelebaran jalan yang sudah berlangsung dua kali, tiang listrik itu lalu jadi dekat sekali dengan telingaku. Dan peristiwa teng, teng, teng, teng ini ternyata rutin. Barangkali lantaran menjelang kampanye pemilihan. Maklum sebentar lagi ada pilihan lurah, jadi pantas kalau orang ronda jadi kian galak.

Semula aku protes pada Tuhan. Kenapa dulu batu itu tak dibikin lembek saja? Seperti kue bolu misalnya. Jadi kalau ditimpukkan ke tiang listrik akan pest, pest, pest begitu. Telingaku aman dan dengkurku bisa kulestarikan sampai fajar pagi. Tapi protes pada Tuhan jelas mustahil kan? Lagi kalau sampai tersiar di kalangan kaum yang taat beribadah, aku pasti akan diseret ramai-ramai lalu disemprot di muka khalayak. Ini jelas tidak enak. Aku lalu protes pada manusia bangsat yang mengangkat batu lalu menimpukkannya ke tiang listrik itu.

“Sampeyan sungguh tidak sopan! Apa maunya teng, teng, teng tiap jam dua malam? Bilang coba apa motifnya! Atau ada yang mendalangi kali?”
“Tidak mas. Kami kan sekedar menjalani tugas. Teng, teng, teng maksudnya memang sengaja membangunkan “mas” agar tidak kelelapan. E, siapa tahu ada maling ngintip”.
“Bangsat! Jadi memang disengaja ya?”
“Ya, kan kami ini orang ronda. Kalau tidak teng, teng, teng nanti dikira mangkir dan cuma molor di rumah”.
“Tapi yang teng, teng, teng jangan persis di muka rumah. Sana yang dekat sawah atau kuburan sana kalau mau teng, teng, teng!”
Tapi kan tak ada yang dengar kan mas? Maksud kami kan membangunkan orang hidup bukan orang mati”.
“Persetan. Aku tak mau tahu. Pokoknya teng, teng, teng itu mesti berhenti sejak malam ini. Besuk harus sudah tak ada teng, teng, teng. Ada maling ngintip biar”.

Manusia bangsat yang suka menimpakan batu ke tiang listrik itu nampak ketakutan lalu pergi. Aman sekarang. Nanti malam aku akan bisa tidur dengan nyaman. Aku akan mendengkur sekeras mungkin sampai matahari sudah naik ke pohon nangka itu. Aku lalu bersiul-siul sambil mengawasi jalan lewat kaca riben yang setengahnya terlindung gorden. Kaca itu baru. Dulunya kaca biasa, jendelanya juga biasa dengan model kuno yang kalau dibuka dan ditutup suka berbunyi cuat-cuit. Sekarang kaca riben itu terpasang mati dan lumayan lebar. Aku leluasa mengamati jalan dan halaman, tapi orang yang di luar mesti mengernyitkan alis kalau mau mengincar ke dalam.

Malam berikutnya batu-batu itu tidak hanya menotok-notok tiang listrik tapi juga mengemplang pagar halaman bahkan ada yang sengaja dilemparkan ke dalam halaman. Astaga! Apa ini bukan berarti terang-terangan menantangku? Suara batu yang tak karuan itu masih ditambah lagi dengan teriakan-teriakan cabul yang memalukan. Bangsat-bangsat itu mengejekku dengan mengatakan tak loyal pada pak Lurah. Tidak loyal bagaimana? Ada rapat RT aku senantiasa datang. Orang lain menyumbang seratus perak untuk upacara tujuhbelasan aku lima ratus perak. Orang lain mengantar singkong rebus untuk orang kerja bakti, aku datang dengan tas plastik penuh kue pukis. Kusambar batu sekenanya dan kutimpukkan sekuat tenaga kearah mereka. Gedebuk! Rupanya ada yang kena. Aku memang tidak mendengar ada suara mengaduh, tapi aku yakin mereka ada yang mengucur darahnya. Minimal benjol-benjol kepalanya. Aku puas sudah.

Apakah ini yang namanya risiko pembangunan aku kurang begitu tahu. Malam berikutnya kaca riben kesayangan yang baru saja kupasang itu pecah berantakan tertimpuk batu. Batu keparat! Mau merong-rong jalannya roda pembangunan ya? Kaca riben seharga duapuluh ribu. Baru kupasang seminggu yang lalu. Aku ada rencana bulan depan mau pasang lagi di sebelah sana, e, tahu-tahu ditimpuk batu. Batu bangsat. Kuambil batu itu. Kutatap tajam-tajam dengan mata melotot. Kecil saja batu itu. Kira-kira hanya segede telur ayam. Apakah batu ini mesti kuseret ke pengadilan? Atau kuremuk saja sendirian pakai palu godam? Karena tak bisa membendung emosi batu itu kulempar keluar sekuat tenaga.

Aku tak bisa protes pada Tuhan yang telah bikin batu sekeras itu. Aku juga tak bisa mendamprat batu itu yang telah nyata-nyata terbukti memecahkan kaca riben yang baru dipasang itu. Tapi aku juga tak bisa menuntut manusia bangsat yang telah melemparkan batu itu dari jalanan sana. Seandainya malam itu aku sedikit lebih gesit, pasti bisa kudekap si bangsat itu dengan sekali ringkus. Sayang. Malam naas itu sarungku agak sedikit kedodoran hingga agak susah kalau dipakai buat lari. Biarlah kalau begitu aku mau lapor sama Pak Lurah. Kan dia penguasa tunggal di desa ini.

“Pak Lurah, kaca riben saya pecah berantakan dihantam batu”.
“Siapa yang menghantamnya?”
“Kurang begitu tahu. Siapa yang jaga kemarin sore?”
“O, anak-anak ronda. Aku memang sudah menerima laporannya. Ya, aku tahu memang. Tapi aku tak bisa mengatasi anak-anak muda itu. Yang bisa sebenarnya ya sampeyan sendiri. Kalau sampeyan ikut mereka, peristiwa itu pasti tidak akan terjadi. Tahu maksudku?”
“Ikut mereka?”
“Ya aku dengar sampeyan tak setuju kalau aku dicalonkan jadi lurah lagi. Benar begitu?”
“Pak Lurah! Siapa yang bilang begitu? Bangsat itu pasti. Bukankah Pak Lurah masih ingat waktu pemilihan yang dulu. Apakah aku tidak mendukung pak Lurah?
“Ya, tapi sekarang?”
“Aku tetap mendukung Pak Lurah”.
“Tapi kenapa masih juga sungkan-sungkan atau malu-malu ikut anak muda yang pada berteriak-teriak itu?”
“Pak Lurah! Mendukung kan tidak mesti dengan teriak-teriak gemuruh saban malam begitu kan?”
“Nah, kalau begitu terserah. Aku tak bisa lagi membendung anak-anak muda itu. Mereka bisa jadi liar kalau sampeyan melawannya. Bagaimana?”
“Permisi dulu Pak?”
“Silakan!”

Lubang kaca yang ambrol itu buru-buru kutambal papan triplek. Kekagumanku pada batu sirna sekarang. Sedikit pun tak berbekas lagi hobi yang dulu kutekuni. Sekotak akik yang kusimpan rapi di lemari itu kubongkar dan kulempar ke lubang WC. Setiap kalau teve ada acara warta berita dan memunculkan gambar candi dengan batu-batunya, segera kumatikan dengan rasa mual yang memuncak. Aku lalu sering pusing kalau berjalan di atas ubin batu atau jalanan yang berbatu lantaran aspalnya copot. Konon kata dokter inpres sebelah rumah, aku telah terkena alergi batu. Istriku juga ikut jadi korban. Baru saja dia meracik sambal di atas cowek batu dan mau segera diulegnya, tanganku telah datang lebih cepat. Cowek berikut calon sambal itu kusambar dan kubanting di tempat sampah. Istriku meraung keras dan tetangga pada berdatangan. Sementara itu teng-teng-teng di tiang listrik tiap pukul dua malam itu lancar. Aku makin pusing. Suatu malam para anak muda itu menggedor pintu. “Ayo keluar! Kalau tidak mau ikut mendukung Pak Lurah ayo kita duel saja di luar sini”. Aku mendehem tapi tak menjawab. “Lempari saja pakai batu gentengnya. Lempari saja”. Dan malam itu rumahku kehujanan batu. Batu-batu besar kecil pada jatuh dari atap. Genteng super yang konon anti pecah itu rontok. Semua jatuh ke langit-langit eternit yang kemudian ambrol ke lantai jatuh tak karuan. Istriku menggigil. Aku batuk-batuk. Dari luar teriakan makin gencar. “Minggat aja dari desa ini kalau tidak mau mendukung Pak Lurah”. Istriku tambah pucat.

Batu itu memang keras. Pasti bukan hanya kebetulan saja Tuhan membikinnya begitu. Dulu maksudnya agar nenek moyang bisa bikin patung serta candi. Dan bukankah kata Pak Guru, nenek moyang kita dulu membelah kayu pakai pisau batu? Bagaimana jadinya kalau batu itu lembek saja seperti tahu? Pasti nenek moyang kita jadi kelabakan dibuatnya. Batu memang keras. Kalau tidak keras kaca riben itu takkan ambrol dibuatnya. Kalau batu lunak seperti tahu pasti takkan rontok genteng super di atas itu. Sementara aku kehilangan akal tapi juga segan unuk ikut teriak, sementara itu entah siapa yang menyuruhnya tiba-tiba saja istriku berteriak lantang : Hidup Pak Lurah! Kami seisi rumah ikut mendukung Pak Lurah! Hore! Hidup Pak Lurah!

Aku terlongong-longong. Istriku mengguncang-guncang pundakku sembari menyuruhku untuk ikut teriak. Rasanya seperti susah amat bibir ini dibuka. Tenggorokan juga kering. Aku tetap tak bisa berteriak. Tapi yang sampai kiamat pun aku tak bakalan kunjung mengerti ialah, detik itu juga, tepat pada saat teriakan lantang istriku menggeletar di udara, mendadak hujan batu itu berhenti. Suara di luar kedengarannya juga menjadi agak ramah. Paginya utusan Pak Lurah datang. Kaca riben diganti. Atap ambrol dibetulkan. Dan sejak itu kalau teng-teng-teng itu tak datang, akulah yang justru keluar, mengambil batu lalu menimpakannya keras-keras ke tiang listrik teng-teng-teng-teng-teng-teng, jauh lebih keras dan lebih panjang dari para peronda dulu. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: