Burung dan Kucing

07/05/2013 at 13:04 (cerpen)

Burung dara itu satu berwarna cokelat dan satunya lagi hitam. Aku kurang begitu tahu apakah burung itu bagus atau jelek, sebab yang penting anak-anak senang dan tak merengek-rengek lagi seperti biasanya. Entah tahu dari mana tiba-tiba saja anak-anak itu pada merengek-rengek minta agar dibelikan burung dara. Karena rengekan itu kurasakan sudah sangat  kelewatan, terpaksalah pada hari Minggu aku membuat kandang dari triplek serta kayu-kayu bekas. Kandang itu kutempelkan di dinding belakang rumah menghadap ke sumur. Siangnya setelah kandang itu selesai, aku buru-buru ke pasar burung. Semula kupikir burung dara itu sangat mahal. Ternyata si tukang burung hanya menawarkan dagangannya dua ribu rupiah sepasangnya. Iseng-iseng kutawar seribu. Ternyata diberikan. Bukan main senangnya anak-anak tatkala melihat bapaknya pulang membawa burung. Mereka berjingkrakan dan berebutan melihat.

Menurut Mas Parman yang sudah puluhan tahun piara burung, burung baru tidak boleh dilepas begitu saja. Mesti dikurung di tempat gelap di kandangnya sampai dua hari dua malam, baru kemudian dilepaskan. Hal tersebut tentu saja kulakukan juga. Burung baru itu segera kumasukkan ke kandang, kuberi makan dan minum seperlunya lalu pintu masuk kututup rapat dari luar. Dua hari kemudian pintu kandang itu kubuka. Bagai anak panah, burung itu melesat ke bubungan rumah. Mereka nampak mengibas-ngibaskan bulunya, melongok-longokkan kepalanya ke segala arah, dan tak lama kemudian mereka melesat lagi entah kemana. Burung baru itu pun hilanglah sudah. Anak-anakku bagai kesurupan. Mereka menangis berteriak-teriak meratapi si burung yang telah pergi. Mereka kuhibur dan kuberitahu bahwa besuk akan dibelikan burung baru yang tidak suka pergi-pergi.

Kisah larinya burung baru tadi kuceritakan pada teman-temanku di tempat kerja. Mereka pada tertawa. Burung itu kata mereka, mesti disekap di kandang barunya barang semingguan baru kemudian dilepas. Dan lagi, sebelum dilepas, sayapnya mesti dijahit dulu. Maksudnya agar si burung baru tadi tak bisa terbang jauh-jauh begitu dilepaskan. Baru setelah nampak mereka enggan pergi-pergi,  jahitan itu dibuka. Hari itu juga aku kembali ke pasar burung dan kubeli lagi sepasang. Kusekap lagi seperti burung terdahulu, dan setelah seminggu, pintu kandang kubuka, burung jantan kuambil dan sayapnya kujahit. Selesai si jantan, ganti si betina. Setelah selesai semua, dua burung tadi kumandikan lalu kulepas. Betul saja. Mereka tak mau terbang jauh-jauh karena sayapnya terjahit. Tak sampai tiga hari kemudian burung-burung itu kulepas jahitan sayapnya. Mula-mula kulepas sebelah sayap dulu. Setelah ketahuan mereka jinak, barulah kulepas seluruhnya. Dan tak berapa lama kemudian burung itu sudah nampak mulai mengambili daun serta ranting-ranting kering dan diangkut ke kandangnya. Ini isyarat kalau si burung sudah mau bertelur. Begitu kuberitahu kalau si burung sudah mau nelur, anak-anak pada berbinar-binar matanya. Mereka nampak senang sekali dan mau ikut melihat ke dalam sarang. Tentu saja mereka segera kuberitahu kalau si burung baru mau bertelur, jadi telurnya belum ada.

Setelah dua hari berturut-turut pasangan burung itu mengangkut ranting serta daun kering, di hari ketiganya tatkala sore-sore kutengok sudah ada sebutir telur kecil berwarna sangat putih. Burung itu sudah bertelur. Sore esoknya, kutengok lagi sarang itu, dengan harapan telurnya sudah menjadi dua, ternyata belum. Tiap hari kutengok, tetap saja masih satu. Apakah memang hanya satu telurnya? Padahal biasanya burung dara bertelur dua butir yang nantinya kalau menetas akan menjadi burung jantan dan betina. Entah setelah berapa hari barulah telur itu bertambah lagi sebutir, dan burung itu pun lalu mengerami telurnya bergantian. Kalau si betina mengeram, jantannya keluar untuk makan dan minum. Kalau betinanya capek mengeram, ganti dia keluar dan si jantan masuk menggantikan mendekami telur mereka.

Entah sudah berapa hari pasangan burung itu mengerami telur mereka, aku tidak begitu ingat lagi. Sampai pada suatu hari aku melihat ada pecahan kulit telur di bawah kandang. Aduh, teriakku sendirian tanpa kusadari. Kupikir, pasti pecah telur burung itu. Entah dimakan apa. Barangkali tikus atau oleh cakar-cakar burung itu sendiri. Segera kutengok ke dalam. Ternyata sudah ada dua ekor anak burung yang mulai tumbuh bulunya. Segera kupanggil anak-anak dan secara bergantian mereka kulongokkan ke pintu kandang. Karena pintu kandang itu sempit dan hanya pas untuk jalan seekor burung maka anak-anak susah untuk melihat ke dalam. Lagi pula di dalam kandang pemandangan lebih gelap daripada di luar. Anak-anak itu ribut karena belum melihat si anak burung. Terpaksalah aku mengalah mengambil anak burung itu dan kutunjukkan pada anak-anak. Maunya mereka ingin pula ikut memegang, tapi tentu saja kularang dengan keras.

Berita gembira menetasnya anak burung ini tentu saja kulaporkan pada teman-teman sekerja, juga pada Mas Parman tetanggaku. Mereka bilang burung dara memang cepat sekali berkembangbiaknya. Dalam setahun, menurut Mas Parman sudah bisa jadi sepuluh lebih. Aku tentu saja gembira sekali. Istriku yang selama ini nampak kurang begitu memperhatikan perkembangan burung piaraan kami, segera ikut pula kulapori. Bu, burungnya sudah menetas lo! Kukira semula dia akan ikut senang. Tak tahunya malah memaki-maki. Ya, biar jadi banyak sana. Nanti biar mengotori sumur, biar merusak genteng tetangga, biar berak di jemuran den ayu sebelah yang galak, dan sebagainya. Segera berita itu kutarik kembali. Aku lalu diam saja dan pura-pura sibuk membaca koran.

Sore itu seperti biasanya sehabis pulang kerja kulihat perkembangan si burung. Matanya sekarang sudah pada terbuka. Bulu sayap serta ekornya juga sudah mulai numbuh. Mereka juga sudah mulai berbunyi, cit, cit, cit, kalau induk serta bapaknya terlambat menyuapinya. Biasanya sore-sore begini si induk dan si jantan sudah pada nongkrong di muka pintu kandang. Tumben kali ini belum. Kulongokkan kepalaku ke bubungan rumah. Ternyata juga tak nampak. Segeralah aku lari ke belakang rumah. Siapa tahu burung-burung itu masih asyik mengais-ngais di parit belakang itu. Ternyata di sana juga tidak ada. Segera hal ini kuinformasikan pada istri serta anakku. Mereka bilang, baru saja burung-burung itu nampak berseliweran di sekitar kandang. Tapi nyatanya sekarang sudah tak ada. Mustahil kalau mereka itu minggat. Masa ada burung yang baru menyuapi anaknya minggat.

Yang pertama kucurigai adalah si Rudi, anak tetangga yang sedari dulu nampak melongok-longokkan kepalanya melihat si burung. Lebih-lebih setelah istriku memberi informasi bahwasanya si Rudi pernah ketahuan mau menangkap burung-burung kami, dulu sewaktu baru saja dibeli. Segera saja kudatangi rumahnya. Kutanyakan pada bapaknya, dimana Rudi berada. Dia menunjuk ke samping rumah. Betul saja. Si Rudi nampak baru sibuk di muka kandang burung. Kudekati anak itu. Kutanyai dia seperti pesakitan : mana burung kami yang hilang Rud? Anak itu nampak mau mungkir. Dia menjawab tidak tahu. Kucek langsung ke dalam kandang. Memang ada dua burung baru. Tapi bukan burung yang lagi kucari-cari.

Sekarang kecurigaanku kutumpahkan pada Mas Parman. Siapa tahu burung-burung itu sudah disekapnya di salah satu kandangnya? Tapi ternyata usaha ini juga sia-sia. Dia memang punya burung yang warnanya persis dengan burung yang kucari-cari, tapi saya tahu pasti bahwa itu memang burungnya sendiri dan bukannya yang lagi kucari-cari. Aku putus asa lalu pulang. Maksud hati, anak-anak burung itu mau segera kuambil dari kandangnya, kutaruh di bawah agar aku dapat menyuapinya tiap hari dengan mudah. Tapi tatkala kulongokkan kepalaku ke dalam kandang, nampak si jantan sudah berada di dalam sambil sibuk menyuapi anaknya. Kucari-cari betinanya tapi ternyata memang tak ada. Yang jantan pulang tapi betinanya tetap hilang. Sang bapak itu saban hari menyuapi anak-anaknya dengan setia. Istriku bilang : itulah! Kalau aku mati, kau juga akan menyuapi anak-anakmu seperti itu. Aku diam saja dia bercanda begitu.

Lama-kelamaan anak burung nampak makin menjadi besar juga. Warna bulunya yang jantan seperti si induk yang hilang, sedang yang betinanya persis sekali dengan bapaknya yang masih ada. Kadang-kadang aku merasa kasihan dengan burung jantan itu, hingga kubantu menyuapi anaknya dengan beras atau jagung yang telah direndam dengan air sampai lunak. Setelah bulu anak-anaknya mulai lengkap, nampak burung jantan tersebut mulai sering mematuki anaknya. Kupikir, pasti mulai disuruh makan sendiri anak-anak burung tersebut. Tapi lama-lama setelah kuperhatikan betul-betul, yang dipatuki oleh sang bapak hanyalah anaknya yang jantan, sementara anaknya yang betina masih tetap dengan setia disuapinya. Kadang-kadang malah anak betinanya ini mulai dirayunya. Yah, dasar burung. Karena betinanya hilang, anak sendiri juga dirayunya. Terpaksalah suatu hari kubelikan betina baru berwarna putih. Burung baru itu nampak kotor dan kurus. Pasti si pemilik sebelumnya tidak pernah memperhatikannya. Segera kubelikan kapsul ayam. Maksudku, kalau burung tersebut cacingan biar lekas sembuh dan tidak menular pada burung yang sehat.

Betul juga dugaanku. Tak berapa lama kemudian burung itu mulai gemuk dan kelimis bulunya. Si jantan mulai memperhatikannya. Anak-anaknya mulai makan serta minum sendiri, sampai pada suatu ketika salah satu anak burung itu hilang. Ternyata yang jantan. Kecurigaanku pada Mas Parman kambuh lagi. Kuteliti seluruh isi kandangnya. Memang banyak sekali burung yang warnanya mirip sekali dengan anak burung yang hilang, tapi jelas bukan burung yang lagi kucari-cari. Hatiku betul-betul mendongkol. Bukan masalah harga burungnya. Toh Cuma limaratus perak. Tapi anak-anakku itulah yang kemudian pada ribut kalau burung kami hilang. Lagi pula toh aku telah susah payah merawatnya selama ini. Supaya kedongkolan ini hilang, segera kubikin kandang baru untuk dua pasang burung sekaligus. Istriku terbengong-bengong. Dia lalu ngomel panjang pendek tapi kubiarkan saja. Sore itu juga langsung kubeli dua pasang burung baru. Maksudku, kalau jumlah burung yang kami piara cukup banyak, seandainya hilang satu tak akan kelewat mendongkol. Tapi belum sampai burung-burung baru tadi kulepas dari sekapannya, si betina putih yang nampak sudah mulai mau bertelur itu tak nampak lagi pada sore hari. Aku jadi semakin senewen. Siapa gerangan si tangan jahil pencuri burung ini? Apakah Pak Kusri tetangga di depan itu yang mencmbaknya. Aku tahu dia punya senapan angin dan suka dipakai buat menembaki tikus yang banyak berkeliaran di sekitar rumahnya. Ah, tapi tak baik menuduh-nuduh orang begitu. Paginya segera kubelikan betina baru buat si jantan yang sudah dua kali kehilangan bininya itu.

Kini jumlah seluruh burung yang kupiara ada tujuh. Dua pasang burung baru yang nampaknya sudah mulai jinak, satu anak burung, satu bapaknya dan satu lagi betina baru. Siang itu karena hari minggu aku berada di rumah seharian. Ternyata tak ada seekor pun burung di kandang mereka. Kutengok di bubungan rumah juga tidak ada. Apakah kali ini semua burung hilang? Kurangajar betul kalau begini jadinya. Istriku kupanggil. Juga anak-anak. Semua kuberi informasi bahwa semua burung telah hilang. Anak-anakku pada ikut senewen. Ada yang memberitahu bahwa burungnya ditembak orang. Ada yang bilang dimakan tikus. Ada pula yang bilang kalau burung-burung itu semuanya berada di rumah Mas Parman lagi makan jagung. Segera aku mengeceknya ke sana. Astaga, betul juga nampaknya. Setengah gembira setengah mendongkol kuhalau burung-burung itu agar mau pulang. Menurut Mas Parman, memang biasa burung-burung itu datang ke rumahnya dan ikut makan jagung. Aku bilang di rumah juga kusediakan jagung. Mas Parman tak percaya. Kuajak dia ke rumah dan kutunjukkan. Ini lo mas, bukankah ini juga jagung? Ah tapi itu jagung sudah dipecah, kata Mas Parman pelan. Burung dara sukanya jagung yang masih utuh. Hari itu juga istriku kukomando agar pergi ke warung mencari jagung gelondongan. Dia berangkat juga meskipun sembari mengomel kalang kabut.

Sekarang para burung itu sudah jarang keluyuran lagi. Tapi pada suatu malam aku mendengar ada bunyi gaduh di arah kandang. Segera kuamil lampu senter. Sayang batu baterainya sudah lama tak diganti, hingga sorotnya sudah tak terang lagi. Kusorotkan lampu buram itu ke arah kandang. Burung-burung itu pada tak ada. Mereka pada termangu-mangu di pinggiran atap rumah, dan nun di atas kotak kandang nampak seekor kucing berwarna merah. Bangsat betul kucing ini. Segera kuambil kayu sekenanya untuk pengusir kucing itu. Dia segera menyingkir dengan memeong-meong keras sekali. Apakah yang mencuri burung-burung yang hilang tempo hari itu juga kucing? Sebab di kota metropolitan Jakarta ini memang banyak sekali berkeliaran kucing-kucing liar yang tak dipelihara orang. Istriku bangun mendengar ada ribut-ribut di kandang. Ketika kuberitahu kalau ada kucing di kandang burung, dia ikut pula memberi tambahan informasi. Katanya, dua hari yang lalu dia juga melihat kucing itu mengejar-ngejar burung di bubungan rumah, tapi tak kena. Jadi betul juga dugaanku.

Segera berita ini kusampaikan ke Mas Parman. Dia bilang, burung dimakan kucing itu biasa. Itulah sebabnya kita mesti hati-hati. Kandang diberi pintu dan ditutup kalau malam hari. Apakah kandangnya ditutup kalau malam? Tanya Mas Parman padaku. Kujawab, tidak. Dia tertawa. Ya, jelas. Pasti kucing akan suka datang ke sana. Hari itu juga sebenarnya aku segera mau membuatkan pintu untuk semua kandang. Kuambil potongan triplek, gergaji dan peralatan lainnya. Istriku melotot. Sudah maghrib begini mau bikin apalagi? Terpaksa niat itu kubatalkan. Biarlah, besuk kan hari minggu. Malam itu acara film akhir pekan di tivi katanya bagus hingga aku ikut nonton. Habis nonton tentunya ngantuk sekali hingga langsung tidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur, tatkala tiba-tiba saja istriku membangunkan. Itu burungnya diserbu kucing lagi. Seketika kantukku hilang. Lampu senter kuambil. Batunya baru saja kuganti. Segera kusorotkan ke seluruh kandang. Seperti tempo hari, burung-burung itu pada tak berada di kandang. Mereka nampak termangu-mangu ketakutan di tepian atap rumah. Kuhitung hanya ada lima. Aku hafal betul, yang tidak ada adalah betina baru, dan si anak. Padahal tadi sore aku melihat betina baru itu nampak sudah sangat mesra dengan jantannya. Berarti jantan itu telah kehilangan betinanya untuk yang ketiga kalinya. Kosorotkan lampu senter itu ke mana-mana. Si kucing sudah tak nampak lagi, demikian halnya dengan dua burung yang hilang. Sungguh aku geregetan dengan si kucing. Sekarang tuduhanku sudah bulat. Kalau dulu aku menuduh Rudi, lalu Mas Parman, lalu Pak Kusri yang punya senapan angin, maka kini mereka itu sudah kubebaskan. Dalam benakku kini hanya ada satu nama. Kucing!

Kucing merah itu memang suka mengendap-endap di atap kalau malam, sementara kadang-kadang siang hari dia muncul di tempat sampah. Baiklah, kalau siang-siang itu nampak lagi di tempat sampah, segera kusergap lalu kubuang entah kemana. Yang penting ke tempat yang cukup jauh agar dia tak bisa pulang lagi. Sebab terus terang saja, aku memang tak sampai hati kalau mesti membunuhnya. Dan betul. Pagi-pagi sekali pada saat aku bangun tidur nampak kucing itu lagi berjalan dengan santai sekali di dekat tempat sampah. Dia sama sekali tak curiga tatkala aku mendekatinya. Setelah dekat sekali, segera kusambar ekornya lalu kuangkat kucing keparat itu. Maksudku segera kumasukkan ke dalam karung atau keranjang agar siangnya nanti bisa kubuang. Tapi dasar kucing bangsat. Dia mengeong keras sekali lalu mengayunkan cakarnya. Tanganku dicakarnya. Kutangkap cakar itu. Tapi kini ganti dia menggigit jariku. Sungguh kurangajar. Tanganku digigitnya. Tanpa sadar dia kulepaskan dan berlari entah kemana. Aku lupa mengecek jumlah burung yang ada karena sibuk mengurus luka tanganku. Akibat cakaran serta gigitan kucing itu darah mengucur. Anakku yang sudah bangun pada ketakutan. Istriku menyarankan agar dibawa ke Puskesmas saja. Tentu saja aku tertawa meskipun sambil menahan sakit. Masak hanya digigit kucing begini saja mesti ke Puskesmas. Bukankah kamu menyimpan obat merah, plester, pembalut dan lain-lain? Buat apa ke Puskesmas? Tapi istriku bilang, bagaimana kalau kucing itu ada rabiesnya? Bisa mampus aku. Lantaran desakan istriku akhirnya pagi itu juga aku ke Puskesmas. Kupikir cukuplah kalau hanya membawa uang limaribu rupiah saja. Tapi apa jadinya? Setelah disuntik segala macam ternyata aku mesti membayar delapan ribu rupiah lebih. Celaka, padahal di rumah sudah tak ada uang lagi. Aku lalu buru-buru menelpon majikanku. Ternyata dia belum datang. Tapi pada teman yang menerima telepon itu kuceritakan keadaanku. Dia menyanggupi untuk mengambilkan yang di kasir dan mencari teman yang bisa mengantarkannya ke Puskesmas secepat mungkin.

Sejak hari itu, si kucing merah lalu kunobatkan menjadi musuh utamaku. Seekor burung lagi dimakannya malam kemarin itu. Dengan tangan yang sakit aku lalu membuatkan pintu-pintu kandang, sebab burung-burung tersebut sekarang sudah mulai bertelur lagi. Kalau malam pintu kandang itu kututup, dan paginya kubuka lagi. Pernah pada suatu pagi lantaran terburu-buru mau pergi kerja pintu-pintu kandang itu lupa kubuka. Akibatnya burung-burung itu pada kelaparan dan kehausan di kandangnya masing-masing. Untung mereka tak pada mati. Sejak itu aku tak berani sembrono lagi. Tiap pagi semua kandang kuteliti sampai dua kali sebelum aku berangkat kerja.

Begitulah setiap hari. Bangun tidur kandang kubuka. Jagung kusebarkan dan burung-burung itu berebutan makan. Kecuali tentu saja yang lagi mengeram. Setelah mandi, ganti pakaian dan sarapan, biasanya sebelum berangkat kucek sekali lagi. Apakah semua pintu sudah kubuka atau masih ada yang kelupaan. Maksudnya agar jangan sampai seperti dulu lagi ada burung yang tersekap di dalam lantaran pintu lupa dibuka. Seperti biasanya hari ini pintu juga kubuka pagi hari, jagung kuberikan dan tatkala mau berangkat kerja kutengok lagi. Tapi lagi-lagi kucing merah itu sudah nongkrong dengan kalemnya di muka salah satu pintu kandang. Semua burung tak terkecuali yang lagi mengerami telurnya pada termangu di kejauhan sana sambil mengawasi sang kucing. Segera aku naik. Ekor kucing keparat itu lagi-lagi kusambar. Sesuai dengan pengalaman tempo hari, kucing itu langsung kubanting. Mampus kau. Aku lalu melompat turun dan kucing jahat itu sekali lagi kuinjak dengan sepatu. Meok, bunyinya tertahan. Tapi dengan sigap dia bangkit lagi. Kali ini kukerahkan semua tenaga yang ada. Dengan keras kucing itu kutendang. Ah, tendanganku meleset. Si kucing telah keburu amblas dan sepatuku yang mengenai pot bunga. Pot itu ambruk. Tanahnya berantakan dan tanamannya patah-patah. Sepatuku yang sudah tua itu jebol ujungnya. Kakiku sendiri entah terkilir entah bagaimana, yang jelas sakitnya bukan main. Hari itu aku terpaksa berangkat kerja terpincang-pincang dengan memakai sepatu azimat. Maksudnya, sepatu yang kupakai pada saat menikah dan selanjutnya hanya kupakai pada saat-saat tertentu saja, misalnya kalau ada undangan penting atau pertemuan yang keramat.

Sepatu yang jebol itu pada suatu kesempatan kupanggilkan tukang sol keliling untuk direparasi. Demikian pula halnya dengan kakiku yang terkilir itu, pada suatu kesempatan kubawa pula ke tukang pijit untuk dibetulkan uratnya. Tapi yang sulit untuk kupermak atau kutambal adalah rasa mendongkolku yang kini mengganjal batang tenggorokan. Kalau dipakai buat menelan makanan yang agak besar rasanya nyeri. Kalau napas yang lewat rasanya pegal. Sudah wajar kalau kucing suka makan burung. Kalau dimakan lagi ya beli lagi. Biasanya kalau burungnya sudah banyak, dimakan kucing seekor atau dua ekor toh tidak apa-apa. Barangkali kemendongkolanku yang parah ini adalah akibat jumlah burung yang kupiara baru beberapa ekor saja. Begitulah analisa Mas Parman yang sudah puluhan tahun bergelimang dengan burung. Istriku menimbrung. Dia bilang kalau yang namanya burung dara itu janganlah terlalu diurus dengan serius. Tentu saja aku tak setuju. Lalu burung apa yang mesti kuurus dengan serius?

Tapi nasehat dari Mas Parman itu kuperhatikan juga. Aku lalu berniat untuk membuat kandang-kandang baru lagi dan kalau sudah selesai segera membeli beberapa pasang burung sekaligus. Tapi Mas Parman tak setuju. Lain! Begitu katanya dengan tandas. Burung hasil beli itu lain dengan burungnya sendiri. Burung hasil tetasan sendiri itu bisa memberikan kepuasan batin yang dalam. Dan nasehat ini ada betulnya juga. Tatkala ada telur yang menetas lagi, senangnya bukan main anak-anakku. Sayang yang menetas cuma satu. Barangkali telur satunya lagi itu tak sempat menetas lantaran si induk suka kaget diserbu kucing. Bangsat kucing merah itu. Maka ketika pada suatu sore aku melihatnya lagi mengendap-endap di dekat sumur, segera saja kuambil air panas lalu kusiramkan ke tubuhnya. Meoowk! Kucing itu mengaduh terputus lalu lari terbirit-birit. Beberapa hari kemudian si kucing nampak mengelupas dan luka kulitnya. Kasihan juga sebenarnya. Tapi apa boleh buat. Sejak terguyur air panas itu si kucing agak lama tak nongol-nongol lagi. Kupikir mati, tapi tak berapa lama aku melihat lukanya sudah sembuh dan dia sudah bisa lari-lari di gang di depan rumah.

Aku lalu mencari-cari akal, bagaimana caranya menyingkirkan si kucing keparat itu. Diracun, dijerat, atau kedua-duanya dilakukan? Baiklah. Hari itu juga aku membeli apotas dan tali plastik kecil. Aku pernah mendengar bahwasannya apotas bisa digunakan untuk meracun anjing. Kupikir kucing juga bisa. Jerat kubikin dan kupasang di tempat-tempat yang biasa dilewati kucing. Apotas kuoleskan di ikan asin lalu kusimpan. Maksudnya mau kupasang nanti malam. Sebab kalau siang-siang dipasang, salah-salah malah dimakan oleh burung hingga lebih repot lagi. Jerat itu ternyata tidak mujarab untuk kucing, tapi sangat manjur untuk kaki anakku. Tatkala lari-lari, kakinya tersandung jerat itu dan terjatuh. Kepalanya sedkit bocor dan istriku murka besar. Dia mengancam seluruh kandang burung mau diobrak-abrik, sebab konon semua ini gara-gara burung jua adanya. Aku bilang jangan. Sebab kalau kandang burung yang diobrak-abrik, anak-anak jugalah yang akan tertimpa akibatnya. Mereka pasti akan lebih ribut lagi. Kemarahan istriku tambah besar karena dia diprotes pula oleh tetangga. Yang makan ikan asin berapotas ternyata anjingnya. Anjing itu mampus seketika. Aku membela diri dan kukatakan mana bisa anjing itu makan ikan asin berapotas. Bukankah anjing itu tak pernah keluar dari pekarangan rumahnya yang berpagar rapat? Dan bukankah apotas itu kutaruh di atap rumah serta di tempat-tempat tertentu saja? Tidak mungkin kalau anjing itu matinya lantaran apotas. Barangkali lantaran masuk angin ah! Tapi baik tetangga maupun istri saya tetap ngotot kalau anjing itu mati lantaran ikan asin berapotas. Malahan tetangga itu menantang untuk mengotopsi bangkai anjingnya dan memperkaranya. Aku stop tentu saja. Aku buru-buru menyodorkan permintaan maaf seraya menanyakan berapa gerangan mesti bayar ganti rugi. Tetangga itu, lantaran dia cukup kaya dan terpandang tentu malu mendengar istilah ganti rugi. Asal aku sudah mau menyesal seraya menyembah minta maaf, itu sudah dinilainya lebih dari cukup. Syukur. Tapi kucing keparat itu siang harinya masih juga melintas di gang depan dengan kalem.

Aku kian pusing. Tapi kucing itu mesti mati, bagaimana pun caranya. Apotas dan jerat tak manjur tak apalah. Dan kesempatan itu tibalah. Pada suatu maghrib, tatkala aku mau mandi, nampak kucing itu mengendap. Heran sekali. Dia nampak tak takut sedikit pun melihat kedatanganku. Atau memang dia tak melihat. Ah, setidaknya kan pasti bisa mencium kan? Entahlah. Yang penting sekarang ini dia mesti mampus. Kebetulan di dekat situ ada pipa besi bekas palang tempat tidur. Pelan-pelan besi itu kuraih. Aku menahan napas. Kucing itu masih saja mengendap dan berjalan pelan sekali. Besi kuayunkan sekuat tenaga. Mampus kau. Hantamanku tepat sekali mengenai tubuhnya. Kucing keparat itu roboh dan mengeong parau. Sekali lagi kuhantam, tapi sayang kali ini tak bisa sekeras tadi. Tiba-tiba tatkala kembali palang besi itu mau kuayunkan, kucing itu bangkit lalu mengayunkan cakarnya sambil meraung. Aku jadi ragu-ragu mengayunkan besi ketiga kalinya, dan tahu-tahu si kucing itu sudah lolos. Dengan kecepatan tinggi dia lari ke arah belakang rumah. Sia-sia saja aku mengejarnya.

Meskipun tidak mati, kupikir kucing itu pasti terluka bagian dalamnya. Kalau tidak mati sekarang pasti kapan-kapan. Tapi dugaanku ternyata keliru. Esok malamnya aku melihat dia melompat-lompat di bubungan atap lalu mendekam di sana. Kusorotkan lampu senter itu. Nah kini nampak jelas sekali. Mata kucing itu nampak kemilau hijau dan memantulkan sorot lampu senter dengan sempurna. Nampak dia sama sekali tak beranjak dari bubungan. Barangkali tahu kalau aku toh tidak bisa berbuat apa-apa kini. Mau diapakan? Dilempar pakai batu? Genteng rumah bakal hancur, padahal ini rumah kontrakan dan bukan rumah sendiri. Mau dipukul? Jelas tidak mungkin. Wah seandainya ada senapan angin. Pasti mampuslah itu kucing. Sayang aku tak punya senapan angin. Seandainya peristiwa seperti ini terjadi siang hari, pasti segera aku lari ke rumah Pak Kusri untuk meminjam senapan anginnya. Atau kalau masih sore sedikit, misalnya pada saat teve belum selesai tadi, Pak  Kusri pasti masih belum tidur. Tapi kini? Sungguh tidak lucu kalau malam-malam begini membangunkan orang tidur hanya sekedar untuk pinjam bedil angin untuk membunuh kucing. Malam itu aku menyerah. Silahkan cing, kalau mau santai. Toh kau tak bakalan bisa mencuri burungku. Silahkan santai semalaman di atap. Aku lalu kencing, masuk rumah dan tidur.

Paginya aku bangun agak siang. Seperti biasa aku lalu menengok kandang dan membuka pintunya. Alangkah kagetku tatkala ada satu pintu kandang terbuka. Pintu kandang burung tertua lagi. Kutengok ke dalam, kosong. Anak burung yang baru menetas juga tak ada. Kutengok ke atap, nampak si burung jantan termangu. Kutengok ke bawah, banyak ceceran bulu dan darah. Yah si betina dimakan lagi. Burung jantan itu. Apakah dia memang burung sial. Sudah berapa kali si jantan ini kehilangan bininya. Tapi mungkin juga bukan lantaran burung itu sial. Kandang yang paling dulu kubuat ini memang yang paling mudah dijangkau oleh si kucing keparat. Lain dengan kandang-kandang yang kubuat lebih kemudian. Baiklah, rung, nanti kubelikan istri lagi. Meskipun lama menjodohkannya, pada akhirnya nanti toh akan bisa jodoh juga. Hari itu aku lalu pinjam senapan angin pada Pak Kusri. Tak lupa tentu saja aku tanya tetangga kiri kanan. E, siapa tahu sebenarnya kucing itu ada yang punya. Ternyata memang kucing liar. Pak Kusri sendiri katanya sudah pernah membuangnya sampai ke dekat pasar gara-gara anak ayamnya sepuluh ekor dilalap semuanya oleh si kucing yang berwarna merah itu. Bedil lalu kupinjam dengan beberapa butir peluru timahnya. Malam itu aku sulit tidur. Ada bunyi krek sedikit saja aku buru-buru menyambar bedil dan lampu senter.

Sekitar pukul sepuluh malam, kembali kucing itu datang. Tapi hanya sebentar saja dan pergi lagi sebelum aku sempat membidikkan senapan angin. Entah pukul berapa ketika itu, yang jelas aku baru saja terlelap sebentar, tatkala terdengar lagi bunyi gaduh dari arah kandang. Aku segera menyambar lampu senter dan bedil. Kusorotkan lampu senter, kubidikkan senapan. Setelah kurasa tepat, pret! Picu kutarik dan pelurupun melesat tapi tak kena sasarannya. Kucing merah itu dengan kalem menyingkir. Paginya aku laporkan pada Pak Kusri. Pak Kusri tertawa karena katanya, menembak memang memerlukan keahlian juga. Paling tidak aku mesti latihan berhari-hari. Dan hari itu aku lalu membeli sampai beberapa dos peluru senapan angin. Aku lalu belajar memegang tangkai berikut larasnya. Aku belajar membidik serta menarik picu. Selama berhari-hari aku hanya terlibat dengan urusan belajar menembak melulu. Pagi hari sebelum kerja, senapan kucoba, sore setelah pulang kerja senapan juga kucoba.

Pada suatu sore, tatkala aku baru saja mengambil bedil serta pelurunya, kucing keparat itu muncul dengan kalem di ujung gang. Pelan dia berjalan lalu masuk ke pekarangan rumah yang kukontrak ini. Dia nampak mengendus-endus. Dan setelah si kucing gila itu sampai di dekat sumur, senapan pun kubidikkan dengan jarak yang dekat sekali. Setelah menahan napas, picu segera kutarik dengan sebuah sentakan yang mantap. Bedil itu meletup. Kucing itu terguling lalu lari. Aku yakin dia kena. Kukejar dia, tapi sudah tak nampak. Tapi aku toh masih bisa mengikuti ceceran darah di gang ini. Kutelusur terus sambil tetap dengan menenteng senapan pinjaman. Akhirnya ceceran darah itu masuk ke sebuah gang sempit yang buntu. Di sana memang banyak tumpukan papan serta macam-macam barang bekas. Di sinilah kucing keparat itu nampak tergeletak. Enam ekor anaknya yang masih kecil-kecil pada berebutan menyusu. Yang tak kebagian puting pada menjerit-jerit ramai sekali. Mereka menyusu terus. Ada pula seekor yang menjilat-jilat darah induknya yang telah mati itu. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: