Sahabatku Supriyanto

15/05/2013 at 17:48 (cerpen)

Memang sudah beberapa hari ini aku bermaksud untuk menengoknya karena dia mendapat beberapa pucuk surat dari Jawa Tengah. Satu dari Ayahnya, dua dari pacarnya sedang ada lagi sepucuk dari kenalannya yang lain. Baru saja saya berpikir-pikir untuk menentukan waktu yang tepat guna berangkat, datanglah berita dari Pak Dasim bahwa dia sakit. Sudah hampir seminggu ini dia tak bisa bangun, bahkan menurut pak Dasim makanpun dia enggan. Bisa segera kubayangkan  betapa sulitnya hidup di pelosok jauh dari saudara dan sakit pula. Aku segera menghubungi Pak Raji yang banyak punya kenalan orang perahu. “O, ada dik. Tapi sekira jam sembilan pagi kita harus sudah siap”.

“Biasanya ongkosnya berapa, Mas?”
“Wah, tak ada ongkosnya. Asal kita tahu saja di jalan membantu-bantu memompa air. Biasanya kalau musim-musim begini perahu banyak yang kosong hingga sewaktu-waktu bisa ditumpangi”.

Sekiranya tak mendapat tumpangan perahu motor, saya bertekad untuk mengayuh sendiri sampai Balairiam. Untung perahu motor yang dikatakan Pak Raji itu betul-betul ada, dan kebetulan kosong. Hanya dua orang awaknya, dua pedagang tembakau dan Pak Camat Balairiam yang mau pulang. Hingga ketika kuutarakan maksudku, pemilik perahu itupun dengan senang hati menerimaku untuk menumpang. Tapi ini hanya sampai Balairiam, katanya menenangkan. Tak apalah, dari Balairiam saya toh bisa jalan kaki sampai ke Semantun. Saya memang baru sekali ini memudiki sungai Jelai yang membatasi Propinsi Kalimantan Tengah dan Propinsi Kalimantan Barat. Semenjak tinggal di Sukamara saya memang hanya pergi-pergi ke sekitar kota yang dekat-dekat saja, tapi saya yakin dengan bertanya-tanya saya akan sampai juga ke desa Semantun tempat mengajar sahabat saya itu.

Saya tak tahu dengan pasti berapa kilometer jarak antaa Sukamara ke Balairiam. Tapi perahu motor yang saya tumpangi ini konon akan sampai Balairiam setelah magrib. Tak ayal lagi terpaksalah saya harus bermalam di Balairiam.

Pak Camat yang seperjalanan dengan saya itu ternyata sangat ramah. Setelah mengetahui maksud perjalanan saya segeralah ia menawarkan untuk bemalam di rumahnya. Tentu saja tawaran ini kuterima dengan senang hati. Sebab kalau tidak terpaksalah mencari-cari tempat penginapan. Siang itu kami hanya makan roti dan makanan-makanan kecil lainnya sebab di perahu itu tak ada tempat untuk memasak. Entah karena apa kami baru masuk Balairiam sekitar jam sembilan malam.

Saya kaget sekali demi melihat rumah Pak Camat. Ternyata bukan sebuah bangunan yang megah dengan segala perabotannya, tapi hanya sebuah rumah panggung biasa yang kecil. Tak ada meja kursi ataupun dipan. Karena begitu capainya malam itu saya tak begitu bernafsu untuk makan. Tapi sekedar untuk menyenangkan hati Pak Camat, terpaksalah saya makan sedikit lalu tidur. Pak Camat yang baik hati itu memberi saya kelambu tapi tak saya pakai. Baru setelah malamnya saya diserbu ribuan nyamuk kelambu itu saya pasang, dan seluruh tubuhku pun kubungkus dengan kain sarung.

Dari Pak Camat saya mendapat petunjuk bahwa jalan yang harus saya lalui adalah “jalan raya” yakni jalan setapak dengan hutan lebat di kiri kanannya. Sepanjang jalan tak habis-habisnya saya mengumpat sambil terheran-heran. Jalan seperti ini masih ada juga yang menyebutnya sebagai “jalan raya”. Sepatu saya lepas dan celana saya gulung ke atas agar sewaktu-waktu saya dapat mengusir pacat yang nempel mau mengisap darah. Jalan yang saya lewati kadang-kadang putus dan terpaksalah saya mencari-cari lanjutannya di sela-sela belukar atau rumpun rotan. Kadang-kadang pula saya ketemu dengan gerombolan wau-wau yakni sejenis kera hitam yang bergelantungan di dahan sambil menjerit-jerit. Setelah istirahat sejenak sambil mengambil beberapa buah mentimun di ladang yang tak ada orangnya, sayapun sampailah di desa Ajang. Waktu itu sekitar pukul lima sore. Karena masih ada sedikit waktu maka saya mencari rumah seorang guru yang asalnya dari Muntilan. Dia kedapatan lagi duduk-duduk di serambi rumahnya. Kaki serta tangannya penuh dengan koreng dan borok, katanya bekas gigitan pacat. Hal ini tidak mengherankan sebab kalau pagi dia menyadap getah karet sedang mengajarnya sore hari. Meskipun baru kali ini saya ketemu dan berkenalan, tapi dia menyambutku dengan baik. Saya diberi minum air dingin yang ditaruh dalam buah labu yang telah kering dan dibersihkan isinya. Dia juga menawari saya untuk makan. Karena perut sangat lapar, tawaran itu langsung saya terima.

“Apa lauknya dik?” Begitu saya bertanya.
“Tak ada. Cuma ada srundeng”.
“Srundeng apa?”
“Kelapa sama ikan teri. Tapi sorry” katanya melanjutkan.
“Srundeng ini hanya dimasak oleh matahari”.

Yang dia namakan srundeng ternyata hanyalah ampas kelapa yang sedikit dicampur dengan ikan teri lalu dijemur begitu saja. Tapi karena lapar sayapun makan dengan biasa. Dia malah terus ngobrol : Itu nasinya juga nasi kemarin. Saya baru saja sakit soalnya. Jadi tak ada yang bisa masak. Dan masih banyak lagi yang dia celotehkan. Sehabis makan saya terus minta diri sambil menanyakan jalan yang harus saya tempuh. Setelah dia tunjukkan sayapun melanjutkan perjalanan, kali ini jalannya tak sesulit tadi. Di kiri kanan sudah banyak ladang-ladang, sedang beberapa kali saya juga ketemu dengan penduduk setempat.

Ketika saya masuk ke rumahnya Priyanto sedang berbaring ditunggui seorang gadis kecil. Di sebelahnya nampak keranjang yang penuh dengan segala macam buah-buahan. Dia kaget melihat saya datang lalu duduk. Badannya kurus dan mukanya pucat, pasti malaria dia. Surat-surat untuknya kuserahkan dan dia pun menangis, entah karena menerima surat-surat itu atau karena kedatanganku aku tak begitu tahu. Setelah segala macam surat itu dibacanya dan tangisnya agak reda, mulaila dia cerita macam-macam tentang keadaannya.

“Lalu ini rumah siapa?”
“Bapaknya Dium itu!” jawabnya sambil menunjuk ke gadis kecil di sampingku.
“Orangnya?”
“Di ladang semua. Rumah ini memang tak pernah ditempati, lebih-lebih ini musim panen. Hanya Dium itu saja yang sering ke sini selama saya sakit”.
“Masih punya kina? Ini saya juga membawa”.
“Saya hanya berani minum sehari sekali, supaya telinga tidak berdengung”.
“Lalu makanmu selama ini?”

Saya dapat gaji beras dari penduduk! Tentang lauk tak pernah ada kesulitan. Tapi selama sakit ini sesuap pun saya tak pernah makan. Kau di sinilah dulu selama saya sakit, kan masih lama di Sukamara?

Saya memang masih punya waktu longgar sehingga selama beberapa hari tinggallah saya di Semantun sambil menemani Priyanto. Barangkali karena pengaruh kedatanganku maka dia sudah bisa bangun di pagi harinya. Rumah yang dia tempati itu rumah panggung dengan ukuran 3 x 4 meter. Bagian belakangnya ada pula bangunan kecil untuk dapur. Betul juga kata Priyanto. Di desa itu saya tak pernah kekurangan makanan. Saya masak daun pakis dan daun singkong. Lauknya kadang-kadang telur, kadang-kadang ada yang mengirim babi dari ladang kalau kebetulan ada yang berhasil menangkapnya. Dulu di Semantun memang pernah dibuka sebuah sekolah. Tapi beberapa bulan saja sebab gurunya merasa tak sanggup karena tak mendapatkan gaji. Kami mengajar hanya dengan kapur dan papan tulis, kata Priyanto. Buku-buku tak ada. Malah di Balairiam sana seorang guru merangkap sampai enam kelas. Tapi dia sudah diangkat hingga gajinya menumpuk sebab mengambilnya setahun sekali.

Sebenarnya saya menganjurkan agar Priyanto pulang saja. Biarlah nanti cari pekerjaan yang lain di kota. Kalau misalnya dia bisa selamat dari malaria paling-paling nanti juga akan mati karena kesulitan yang lain. Kapan dia bisa diangkat jadi pegawai negeri juga tidak tahu karena memang dia sendiri tidak pernah memberitahu PS. Dia mengajar hanya karena masyarakat memerlukan dengan imbalan berupa beras sedikit serta duit. Tapi ketika maksud itu kuutarakan Priyanto menjawab.

“Biarlah saya bertahan saja di sini”.
“Tapi nanti kalau kau mati saya kehilangan teman dan bagaimana dengan orang tua serta pacarmu?’
“Saya yakin tahun depan akan ada perbaikan. Pak Herman yang merangkap mengajar di kelas enam itu telah laporan dengan surat ke PS. Saya segera membuat permohonan dan lain-lain agar sewaktu-waktu saya bisa diangkat jadi pegawai negeri. Kapan kau pulang?”
“Barangkali bulan ini”.
“Jangan lupa kirimilah saya buku dan obat sebanyak-banyaknya!”

Pada suatu pagi yang cerah dia kutinggalkan. Dia memberikan beberapa pucuk surat untuk dikirimkan lewat pos, tapi kalau saya bisa cepat-cepat pulang surat itu akan saya serahkan sendiri ke alamatnya. Dia dengan beberapa orang muridnya mengantarku sampai ujung desa. Dengan ransel yang padat dengan buah-buahan aku kembali berjalan lewat jalan yang beberapa hari yang lalu saya lewati. Setelah kembali bermalam di Balairiam esok harinya aku tiba dengan selamat di Sukamara. Dan setelah aku kembali ke Jakarta masih sering kami berkirim-kiriman surat. Suratnya yang terakhir mengatakan bahwa dia sudah pindah ke Sukamara dan mengajar di sana. Kalau tak ada halangan sebentar lagi dia mau diangkat jadi pegawai negeri. Saya tetap hidup, begitu tambahnya. Saya tetap tidak mau mati hanya karena malaria atau tidak bisa membaca-baca. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: