Mogok

17/05/2013 at 14:06 (novel)

Kurangajar! Sebagai seorang peternak yang baik aku betul-betul merasa tersinggung. Setelah meninggalkan pesan-pesan penting pada istriku aku segera nyelonong ke kandang untuk mengadakan pengecekan. Sebab sebenarnya dalam hati kecil aku agak menyangsikan laporan Mandolo pembantuku yang kurangajar itu. Masak ada ayam sampai berani mogok nggak mau nelor? Begitu pikirku sepanjang perjalanan dari dapur menuju kandang. Tapi begitu kepala kulongokkan ke dalam kandang, betapa rasa terkejutku menyergap begitu saja. Ternyata tak ada sebutir telur pun yang tergeletak dalam kandang itu. Padahal biasanya apabila iseng-iseng kulongokkan kepalaku di pagi hari senantiasa akan kutemui puluhan telur yang bergelindingan menyenangkan sekali. Ah. Tapi jangan-jangan ini sekedar akal Mandolo yang tadi telah mengkorup telur-telur itu? Mandolo segera kupanggil.

“Ya Pak” teriak Mandolo sambil lari-lari kecil.
“Apakah bukan kau yang telah mengkorup telur-telur ini tadi? Tuduhku dengan mata yang kupelototkan. Mandolo keder.
“Tidak Pak! Sungguh mati tidak. Tadi ibu juga melihat sendiri kok. Dan kalau Bapak toh tetap tak mempercayai keteranganku, bisa saja memanggil dan mengintrogasi ayam-ayam itu sendiri. Begitu kan, Pak?”
“Ya, kalau memang begitu sekarang juga panggil semua ayam terutama yang betina!”
“Baik Pak”.

Salah seekor ayam itu, yang selama ini terkenal dengan telur-telurnya yang besar serta punya warna bulu kurik telah mengangkat dirinya menjadi “juru bicara” teman-teman mereka. Baik kurik, sekarang ngomonglah. Jangan takut atau menyembunyikan sesuatu. Keluarkan semua ganjalan hati yang selama ini menyumbat dada. Si Kurik itu maju, berkotek-kotek sebentar seperti lazimnya seekor ayam lalu ngomong dengan suara yang lantang dan menggetarkan hati orang. Katanya :

“Begini Pak, sebenarnya kami tidak bermaksud untuk mogok, kami hanya melancarkan protes sebab selama ini ransum kami selalu kurang”.
“Oke berapa kali kalian makan selama ini?”
“Cuma satu kali di pagi hari, itu pun hanya berupa dedak kasar. Apakah menu yang cuma segitu itu mampu mendukung produksi telur kami bisa lancar?”
“Ya tapi itu kan bisa dimusyawarahkan tanpa harus mogok-mogok segala?” Lihatlah akibat ulah kalian saat ini ada beberapa tukang roti yang terhambat kerjanya; hitung juga ada beberapa tukang martabak yang bangkrut tiba-tiba? Nah, apa itu bukan berarti kalian telah mengakibatkan goncangnya stabilitas ayam kampung? Saya sungguh tak habis ngerti!”

“Yah, selama ini kami kan juga selalu menuntut agar masalah ransum ini Bapak perhatikan. Tapi bagaimana hasilnya? Kami tetap diberi dedak kasar dan itu pun hanya setiap pagi”.
“Lalu maksud kalian? Mau minta beras? Kami yang manusia saja belum tentu mampu makan beras!”
“Tidak Pak. Kami tak pernah menuntut sejauh itu”.
“Lalu apa?”

“Kami hanya minta supaya ransum dedak diberikan tiga kali sehari dan sering diselang-seling dengan jagung. Dengan begitu kami akan lebih meningkatkan produksi telur kami dan itu tentu keuntungan bagi bapak kan?”

“Sudahlah begini saja. Kalian musti nelor dulu seperti biasa. Nanti sambil jalan masalah ini kia selesaikan secara musyawarah dengan baik-baik. Ayo sekarang bubaran!”

Kelompok ayam piaraanku itu bubar. Siang itu mereka mengais-ngais rayap di kebun. Sebenarnya kasihan juga mereka, tapi apa boleh buat. Memang sudah begitukan takdirnya? Sebagai ayam kampung mereka harus berterimakasih tiap pagi diransum dedak. Lihat tuh ayam-ayam tetangga! Apakah mereka itu juga mendapat ransum dengan begitu teratur? Pagi-pagi benar Mandolo orang kepercayaanku itu kupanggil.

“Bagaimana Man?”
“Sudah pada nelor lagi Pak. Tapi belum semua. Dan nampaknya mereka mau mengadakan aksi lagi”.
“Oh ya? Kalau begitu tangkap sekarang juga si kurik”. Dan dengan sigap Mandolo bertindak. Si kurik yang sering lancang mulut itu ditenteng Mandolo untuk menghadapku. Dengan jari telunjuk Mandolo kukasih isyarat agar ayam keparat itu langsung dikurung saja di belakang sana. Mandolo menurut dan si kurik pun dikurung di belakang dengan aman. Sekarang kuharapkan keadaan ternak saya menjadi tenang dan produksi telur pun kembali normal seperti semula. Tapi ternyata dugaanku meleset. Paginya mereka kembali mogok tak mau nelor. Mandolo segera kupanggil.
“Apa perlu kita potong saja Pak si kurik?” tanya Mandolo dengan geram.
“Jangan! Itu akan memperuncing keadaan saja. Justru sekarang lebih baik kita lepaskan dulu untuk sementara”.
“Tapi kalau mereka lalu berkomplot untuk mengadaka aksi lebih lanjut?”
“Kita lihat saja nanti perkembangannya”.

Dan selepas si kurik dari kerangkengnya, ayam-ayam itu pun segera mengadakan rapat. Intel ayamku yang hadir dalam rapat tersebut segera melapor  bahwa ternyata mereka besok pagi mau menghadap ke DPR yakni Dinas Peternakan Rakyat yang memang tugasnya mengurus masalah ternak termasuk ayam. Ah. Kenapa sejauh itu? Kalau sampai Kepala Dinas Peternakan tahu bahwa ternakku hanya kukasih ransum dedak kan sungguh sangat memalukan jadinya? Mandolo segera kupanggil dan kuperintahkan untuk mencegah kejadian ini.
“Ingat Man, kali ini kehormatan kita sedang jadi taruhan!”
“Tapi Pak mereka sudah sampai kantor DPR”.
“Jadi mereka sudah menghadap ke Dinas Peternakan Rakyat?”
“Betul Pak. Dan Pimpinannya sudah menerima mereka!”
“Wah cilaka! Kalau begitu kini kita ganti taktik lain. Berapa ekor yang datang ke Dinas itu?”
“Ada sepuluh ekor Pak. Tapi mereka mengatasnamakan seluruh ayam yang Bapak piara”.
“Umumkan segera bahwa mereka mulai detik ini juga kita keluarkan dari kandang. Suruh mereka tidur di kebun saja”.
“Baik Pak”.
“Dan suruh ayam-ayam yang lain kembali nelor seperti biasa”.
“Lalu tuntutan mereka Pak?”
“Tuntutan apa? Bukankah dalam keadaan seperti ini justru sayalah sebagai peternak yang musti menuntut ayam-ayam kurangajar itu lantaran mereka telah berani mogok dan merugikan majikan?”
“Maaf Pak, jadi kita tetap pada pendirian kita kan?”
“Tentu Man. Kehormatan musti kita pertahankan berapapun taruhannya!”

Sepuluh ayam telah keluar dari kandang. Tapi ayam-ayam itu tetap resah. Pagi memang tetap nelor tapi sambil berkotek-kotek ribut sekali memekakkan telinga. Ada protes dari tetangga lantaran telinga mereka yang terganggu. Tapi begitu Mandolo datang mengantar beberapa butir telur kontan mereka memuji : Pantesan bising bukan main! Segini gede sih telurnya. Makasih banyak ya Man! Dan keadaan pun jadi aman. Tapi beberapa hari kemudian seluruh ayam mogok nelor. Bahkan ayam-ayam jantan pun mogok berkokok sehingga anak-anakku pada bangun kesiangan lantaran mengira bahwa fajar masih sangat jauh. Wah ini kurang ajarlagi. Aku segera lapor pada Bapak Ketua RT. Masalah yang sudah segawat ini mustahil untuk kuatasi sendiri. Dan memang kenyataannya pak RT menaruh respon yang besar sekali demi mendengar keluh kesahku.
“Ini memang gawat Mas! Telur merupakan lauk yang bergizi!

Kalau ayam pada mogok nelor bukankah itu berarti keselamatan seluruh warga RT ini jadi terancam? Yah aku sebagai ketua RT akan bantu sekuat tenaga. Besok akan kukumpulkan seluruh ayam kampung ini”.

Paginya seluruh warga ayam di kampung itu kumpul. Pak RT kasih wejangan banyak-banyak. Para ayam pada manggut-manggut mengiyakan. Memang lain. Begitu berhadapan dengan ketua RT ayam-ayam piaraanku itu pada keder dan ketakutan. Lain kalau menghadapi aku yang memeliharanya, apalagi menghadapi Mandolo pembantuku. Sialan betul! Singkat cerita, ayam-ayam seluruh kampung pada seiya sekata untuk kembali nelor demi kesejahteraan kampung. Tentu, bahwa apa yang selama ini mereka tuntut belum bisa saya laksanakan mengingat  bahwa proses mengganti menu dari dedak ke jagung memanglah tak sesederhana seperti mereka tuntut. Semuanya harus diproses secara teliti dan mendetail. Sikap gegabah dalam hal seperti ini perlu sekali dihindarkan. Tapi betapa jengkelnya hati tatkala pada suatu pagi ayam seluruh kampung kompak tak mau bertelur dan yang jantan mogok berkokok. Tukang roti yang biasa bangun pagi-pagi jadi kelabakan gara-gara tak mendengar kokok ayam, padahal di rumahnya tak ada jam. Tukang kopi yang biasa jual kopi panas, air jeruk, dan telor setengah matang lantas tutup untuk beberapa hari lantaran stok telur ayam kampung lenyap dari pasaran. Pak Ketua RT jadi naik pitam dan segera mengadakan rapat darurat di seluruh kampung.

“Anda-anda semua saya kumpulkan lantaran suasana perteluran di kampung ini dalam keadaan gawat. Sebagaimana anda semua ketahui, ayam-ayam kita telah ditunggangi oleh pihak ketiga yang tak bertanggungjawab dan sengaja mau menggoncangkan kestabilan Pertahanan Keamanan Kampung kita nan tercinta ini. Segelintir ayam-ayam kita ternyata telah terbujuk untuk bertindak A’ayam. Maksudku mereka itu sudah tak bermoral ayam lagi. Supaya keadaan menu kita tak goncang saya selaku ketua RT segera akan membentuk Penanggulangan  Krisis Telur. Untuk sementara ini akan kami kerahkan burung merpati, itik dan angsa untuk ramai-ramai nelor. Jadi untuk sementara anda-anda semua tak perlu khawatir mengenai telur!”
“Akur,” teriak seluruh warga kampung.
“Nah untuk selanjutrnya kami serukan pada warga ayam. Bila mereka masih mau mengabdi pada kita yang menernakkannya, kami minta untuk segera pulang kandang dan kembali nelor. Yang tak mau ya silahkan tidur di kebun sana biar diterkam musang”.

Tindakan Pak Ketua RT yang bijak itu mendapat sambutan hangat dari seluruh warga kampung. Kini tukang kopi menjual telur merpati setegah matang dan larisnya bukan main. Tukang jualan jamu gendong banting stir dengan telur itik dan angsa hingga langganannya pada muntah seketika. Dan supaya saat terbitnya fajar tak kelewat sepi, orang-orang pada memutar kaset ayam jantan berkokok. Tapi sampai sejauh ini belum ada seekorpun ayam yang mau kembali nelor atau berkokok. Supaya keadaan ini tak berlarut dan demi menjaga nama baik serta kewibawaan Pak RT serta saya sendiri sebagai peternak ulung, tindakan tegas segera kuambil. Mandolo kupanggil menghadap.

“Man, hari ini juga tangkapi ayam-ayam kampung itu dan potong!”
“Lho kenapa sampai begini sadis Pak!”
“Lho, kenapa kaget? Kan sudah sepantasnya kalau ayam kita potong?”
“Eh maksud saya lalu bagaimana kita bisa mendapatkan telur saban hari?”
“Hari ini juga siapkan kandang yang baik. Kita mau mendatangkan ayam ras dari luar negeri yang telurnya segede bola tenis”.
“Wah?”
“Jangan banyak bergumam. Dengan begini produksi kita akan naik dengan pesat dan ini berarti akan makin banyak lagi manusia kampung ini yang bisa mengecap lezatnya telur!”
“Tapi, Pak, bagaimana dengan menu mereka? Bukankah mereka enggan untuk makan cacing atau dedak kasar?”
“Goblok! Buat mereka kan telah tersedia banyak sekali ‘poultry shop’ yang menyediakan makanan jadi bergizi tinggi?”
“Tapi harganya Pak”.
“Diam kau! Keluar duit banyak tak apa. Toh kita juga akan dapat hasil yang setimpal dengan pengeluaran kita! Dan lagi, demi menyelamatkan muka kan tak mengapa. Bukankah begitu Mandolo?”
“Siap Pak. Hari ini juga akan kupermak kandang supaya cocok untuk ayam negeri. Dan anak istri saya sudah siap untuk menjagal ayam-ayam kampung yang pantas untuk masuk kuali itu!”

Dan Mandolo pun pergi. Barangkali dia menemui Pak RT. Barangkali menangkapi ayam-ayam kampung itu, atau barangkali telah menghubungi poultry shop untuk pesan bibit ayam negeri!. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: