Dia Tidak Mati

23/05/2013 at 11:05 (cerpen)

Gagahnya bukan main. Semangatnya meluap sampai ke ubun-ubun dan langkahnya seperti langkah tentara yang mau maju ke tempat gawat untuk menembak. Dia membawa tas berisi pakaian dan surat-surat. Dia membawa hati yang penuh dengan segala macam harapan. Dan yang jelas dia mengantungi duit limaribu pemberian istriku. Dengan tidak begitu rela ia kulepas di sebuah agen bis malam untuk bertolak ke Jakarta. Aku biasa-biasa saja, tapi nampaknya dia agak kesulitan untuk menahan agar matanya tidak berkaca-kaca. Aku pulang dengan masgul setelah bis malam itu hilang di ujung jalan sana. Parman, dialah anak sulungku yang baru saja tamat SMA, dia telah nekat ke Jakarta. Katanya untuk mengadu nasib.

Dari dulu aku memang tidak setuju kalau dia pergi. Bukan lantaran pikiranku yang ketinggalan jaman atau menurut si Parman “kolot” itu, tapi karena kepergian Parman itu hanyalah untuk untung-untungan saja. Padahal sedari kecil dulu aku telah terbiasa untuk mempercayai sesuatu yang pasti. Paling tidak, yang sudah tujuhpuluh lima persen kemungkinannya. Meskipun saya bukan tergolong ayah yang mampu untuk memasukkan anaknya ke perguruan tinggi atau menyediakan sejumlah uang untuk bagian personalia agar anakku diterima bekerja di perusahaannya, tapi di rumah tidak bisa dikatakan Parman menganggur seratus persen. Ada saja yang bisa dia kerjakan untuk mendapatkan uang. Bisa saja dia membuat batu bata di sawah yang baru kering kekurangan air. Sayapun masih memiliki beberapa ekor kambing yang bisa dia gembalakan. Tapi apa jawab dia kepadaku?

“Terlalu kamu ini pak. Masakan lulusan SMA disuruh menggembalakan kambing!”
“Bukan begitu maksudku. Ini hanyalah untuk sementaa saja sambil menunggu kalau-kalau nanti ada lowongan dan kaupun bisa ikut kursus ngetik atau tata buku kalau sore”.
“Tidak pak. Beri saja saya ongkos untuk pergi! Pokoknya saya pasti bisa hidup di tempat lain”.

Dia tentu saja menang karena masih muda, gagah dan terdidik pula. Ayah dan ibunya mengalah. Ketika ada sepupu isteriku yang telah sukses di Jakarta pulang mudik, semangat Parman makin menggelora. Tanpa pikir panjang dia menyiapkan pakaiannya dan mau berangkat bersama-sama dengan “Oomnya” itu. Ongkos dia yang mau tanggung dan sementara belum ada pekerjaan diapun sanggup untuk menampungnya. Betul-betul mulia hatinya tapi Parman kutahan.

Apa kau sudah punya surat-surat?” Parman hanya diam.
“Aku tidak akan menghalangi maksudmu yang sudah bulat itu, tapi kalau bisa tangguhkanlah barang sehari dua hari. Biarlah Oommu itu berangkat duluan nanti kau bisa nyusul”.
“Kalau memang ayah sanggup mengongkosi!”
“Tentu saja saya sanggup. Uruslah dulu surat-surat itu, terutama surat tidak terlibat G 30 S”.

Seminggu setelah kepergiannya, Parman kirim surat. Isinya menggembirakan. Dia belum dapat pekerjaan tapi sementara membantu Oomnya mengawasi sebuah proyek bangunan. Sebentar lagi dia mau disekolahkan, dan ternyata “keluarga Oom” baik sekali dengan dia. Baru saja datang saya terus langsung dibelikan baju, celana dan sepatu, begitu tutur Parman dalam suratnya. Nada surat itu memang merdu. Isteriku langsung menyebarkan warta berita kepada para tetagga. Aku tetap biasa-biasa saja dan menunggu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, tak kunjung datang suratnya. Apakah dia sudah disekolahkan sama Oomnya? Atau sudah dapat kerjaan di kantor? Begitu pikirku sambil menunggu sampai datanglah surat itu. Isinya singkat sekali  : Aku sudah tidak di tempat Oom. Segala macam pemberian dari dia saya tinggal di sana. Untuk sementara saya ikut seorang Arab yang baik hati, tapi kalau mau kirim surat jatuhkan saja di Grogol, sebab alamat saya yang sekarang sulit. Kalau Oom pulang dan cerita macam-macam di kampung, jangan percaya! Meskipun sulit tapi saat ini saya tak pernah kelaparan. Orang-orang di rumah tak usah prihatin.

Membaca surat itu isteriku menangis, entah karena anaknya tak jadi disekolahkan Oomnya atau karena sebab yang lain aku tak tahu. Aku sendiri pun lemes. Tak terbayangkan olehku nasib Parman sekarang. Betul dia cukup makan, tapi selama di rumah bukankah dia juga tak pernah kelaparan? Buat apa lari-lari ke kota besar kalau hanya sekedar untuk tidak kelaparan? Hampir saja isteriku menjual kalungnya untuk menyusul ke Jakarta, tapi aku segera melarangnya. Tunggu saja sampai dia kirim surat lagi. Tapi seperti tadi juga, lama sekali suratnya tak kunjung datang. Padahal adiknya, yakni anakku yang nomor dua boleh dikatakan hampir tiap minggu menulis surat padanya dan dialamatkan di Grogol. Apakah dia masih sering ke sana? Grogol itu tempat famili isteriku yang lain yang juga sukses di sana. Meskipun pikiranku tak menentu, tapi kutabahkan juga hatiku. E, siapa tahu dia tak kurang suatu apa dan malah sudah dapat pekerjaan yang lumayan, begitu selalu kuharapkan tiap hari.

Hari itu aku dinas sore, seperti biasanya sejak pagi-pagi benar aku ke ladang untuk mengambil batang-batang singkong yang masih berserakan sehabis dicabuti. Batang-batang singkong itu kalau tak dibawa pulang, pasti hilang dan nanti kalau hujan datang tak ada lagi yang bisa ditanam. Baru saja aku selesai menumpuk dan mengikatnya dengan tali pelepah pisang, datanglah isteriku dengan orang tak kukenal. Aku kaget sebab isteriku menangis terisak-isak. Dia diam saja dan orang itu mengajakku pulang. Segera kutinggal pekerjaanku dan di jalan orang itu menanyakan apakah betul aku ini ayahnya Parman? Kujawab, ya betul.

“Apakah bapak belum mendengar kabar?”
“Belum, kabar apa?”
“Tadi pagi kami mendengar berita keluarga bahwa Parman yang asalnya dari desa ini meninggal dunia di Jakarta”.

Aku tercenung. Seperti tak percaya pada berita yang disampaikan padaku. Tak kuusut siapa dia, mendengar dari radio mana dan bagaimana persisnya berita itu dan sebagainya. Dari desa-desa tetangga ada yang berdatagan mengatakan berita yang sama. Aku makin bingung dan isteriku sudah tak tentu lagi perangainya. Jelas dia sudah susah untuk diajak ngomong dengan baik. Para tetangga berdatangan dan suasana kian ribut. Tanpa pikir panjang aku segera mendatangi rumah Pak Parto yang memang dermawan dan banyak duitnya. Dengan singkat kuceritakan musibah yang menimpa keluargaku. Dia kaget dan tanpa kuminta telah masuk ruang dalam lalu setelah keluar menggenggam puluhan ribu. “Kamu harus segera ke Jakarta, begitu katanya dengan singkat sambil menyerahkan duit yang digenggamnya. Jangan pikir bagaimana mengembalikannya, pokoknya kamu pergi dulu!”

Dengan tambahan uangku sendiri sekitar Rp 5.000,00 akupun berangkat hari itu juga. Dia memang sudah beberapa bulan tak kirim surat serta memberi alamat. Jadi niatku, sesampai di Jakarta aku mau datang ke Grogol dulu. Baru nanti dari sana mencari kabar tentang si Parman. Dalam perjalanan pikiranku tidak keruan. Apakah Parman meninggal karena kecelakaan? Atau sakit? Tapi terasa air mataku menetes. Dulu telah kularang dia, tapi nekat. Oh, anak sulungku! Yang telah kusekolahkan, telah kudidik dan telah kucintai selama ini, akhirnya sia-sia. Tapi ada pula pikiranku yang lain. Dia tidak boleh mati! Barangkali dia hanya kecelakaan saja dan sedang dirawat di rumah sakit. Dan macam-macam lagilah pikiranku ketika itu, hingga semalam suntuk aku tak bisa sekejappun memicingkan mata. Sebelum subuh aku telah tiba di Pulogadung. Bis yang kutumpangi berhenti dan memuntahkan penumpangnya yang hampir semuanya masih mengantuk. Sesuai dengan anjuran tetanggaku, aku tetap duduk-duduk saja dalam terminal itu menunggu sampai hari agak terang. Belum ada sepuluh menit aku menunggu rasanya sudah tak tertahankan lagi. Aku segera keluar. Biarlah kalau mau dirampok toh aku tidak membawa apa-apa. Segera kudekati taksi dan sesuai dengan nasehat beberapa orang aku terus saja masuk sebab konon ongkosnya nanti meteran dan dibayar belakang. Tanpa tahu bahwa penumpangnya orang udik yang baru sekali ini menginjakkan kaki di bumi Jakarta, sopir taksi itu mengantarku ke Grogol. Sampai di sana masih sepi dan mereka kaget setelah kuberi tahu maksud kedatanganku. Meskipun diberondong dengan bermacam-macam pertanyaan tapi selalu kujawab entah. Sebab nyatanya aku memang hanya tahu kalau anakku meninggal di Jakarta. Tapi bagaimana dan dimana aku sama sekali belum tahu. Suami isteri yang memang masih famili itu segera memutuskan.

“Sudahlah Mas, begini saja. Pagi ini kita temui orang Arab yang diikutinya. Barangkali dia tahu tempatnya, tapi yang jelas dia sudah lama pergi dari sana”.
“Alamatnya?”
“Ada. Dia punya toko mas di Senen”.
“Baiklah”.

Karena memang masih kelewat pagi maka toko itu belum buka. Dengan diantar oleh famili tadi kami langsung ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Tapi di sana tak permah ada korban yang namanya Parman, baik yang sudah meninggal maupun yang masih dirawat. Karena merasa belum yakin kami diijinkan untuk masuk ke kamar mayat, tapi aku tak menjumpai Parman. Setelah agak siang kami kembali ke toko Emas milik orang Arab di Senen itu. Sayang dia sudah tidak ada di sana. Pemiliknya sudah ganti dan tak seorangpun yang tahu alamat rumahnya. Kami di sini hanya kerja kok! Itulah keterangan yang kami peroleh. Karena putus asa kami segera ke RRI. Siapa tahu di sana kami akan dapat keterangan yang jelas, sebab berita itu konon datangnya lewat radio. Dengan ramah para petugas di sana melayani kami, tapi ternyata dari sekian banyak berita keluarga yang telah disiarkan tak ada kujumpai nama Parman. Jadi jelas berita itu tidak disiarkan lewat RRI Jakarta. Kami kebingungan tapi dalam kebingungan itu aku ingat akan Mujimin. Dia jadi kuli di Priok. Mudah-mudahan anak yang selama di kampung sangat akrab dengan Parman ini tahu alamat anakku. Sambil menahan lapar dan haus kami langsung naik bis kota ke Priok. Setelah naik ojek dan tanya sini tanya situ akhirnya ketemulah tempat kontrakan si Mujimin. Dia tidak di rumah tapi isterinya menyambut kami dengan gembira. Alangkah kagetnya setelah mendengar keterangan kami mengenai diri si Parman.

“Dia memang sering ke sini pak. Tapi sejak ikut Pak Sukar belum pernah datang lagi”.
“Lalu tempat kerjanya?”
“Di Kota. Ada juga alamatnya kok. Tapi tidak satu dengan Mas Min”.

Yang namanya Pak Sukar orangnya gemuk. Ramahnya bukan main. Dia menyambut kami di warungnya sebab isterinya jualan nasi. Segala macam makanan dikeluarkan tapi tak begitu saya hiraukan. Setelah tuan rumah duduk buru-buru saya tanyakan diri Parmin.

“Ya,” jawab Pak Sukar tenang. “Dia memang ikut saya sudah hampir sebulan ini. Yah daripada luntang-lantunglah!”
“Lalu sekarang?” Tanyaku dengan tak sabar.
“Baru saja dia makan di sini, ambil rokok lalu pergi. Sudah ke tempat kerjanya mungkin”.

Bergegas saya diantar oleh Pak Sukar ke sebuah proyek bangunan. Dia ngoceh macam-macam tentang pekerjaannya, tentang keuntunga isterinya dan lain-lain tapi tak kuperhatikan. Sesampai di tempat pekerjaan kudapati Parman sedang kepal-kepul di antara teman-temannya, langsung dia kupeluk dan kutangisi. Orang banyak terbengong-bengong dan Parman sendiripun kaget dan tak mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Pelan-pelan segera dia kutuntun ke Warung. Di sana kuceritakan semua yang telah terjadi. Hampir dia tak percaya melihat ayahnya menyusul ke Jakarta. Hari itu juga dia kuajak pulang meskipun sebenarnya tak mau. Sesampai di rumah segera kusuruh isteriku belanja untuk selamatan. Dengan berbagai dalih kularang dia kembali ke Jakarta. Juga kularang dia mengusut siapa yang mula-mula iseng menyiarkan berita keluarga itu. Tapi makin keras aku melarang makin keras pula Parman bertekat. Pokoknya sebelum aku kembali ke Jakarta akan kuusut sampai ketemu biang keladi yang bikin sensasi ini. Begitu katanya sambil mengepalkan tinju. Aku tak bisa mencegahnya lagi. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: