Eyang Kian Santang

23/05/2013 at 11:41 (cerpen)

Dupa itu jatuh di atas bara. Asap harum yang misterius mekar mengisi kamar. Orang tua itu mencabut sebilah keris dari sarungnya, menempelkannya di telapak tanganku yang sedari tadi terbuka dan kutengadahkan. Dalam suasana yang hening dan khidmad orang tua itu berucap. “Maaf Pak, bisakah kali ini saya mengatakan sesuatu yang sebenarnya?”

Kutatap mata orang tua itu. Nampak jauh dan kelam. Saya ragu-ragu sejenak. Tapi akhirnya kujawab juga.

“Silahkan!”
“Tapi tidakkah Bapak akan memarahi saya?”
“Tidak”.
“Sungguh?”
“Ya!”
“Baiklah”.

Orang tua itu lalu kembali memasukkan kerisnya. Sehabis menghela napas panjang dia nampak manggut-manggut dan tersenyum, tapi hanya sejenak. Selanjutnya wajah itu menjadi nampak sangat bersungguh-sungguh hingga menakutkan hatiku. Katanya dengan datar dan berat:

“Begini Pak! Beda dengan tahun-tahun yang sudah, Bintang Bapak nampak redup di tahun mendatang ini. Sangat suram hingga saya pribadi takut untuk menjelaskannya secara terperinci.
“Tidak apa-apa. Eyang teruskan sajalah!” kataku dengan penuh wibawa. Tapi diam-diam rasa takut itu makin kuat di sini.
“Tahun depan ini Bapak bakal turun dari pentas!”
“Maksud Eyang?”
“Bapak tidak lagi akan menjabat kedudukan seperti sekarang ini”.
“Sebabnya Eyang?”
“Maaf, itu jauh di luar jangkauan pengetahuan saya”.
“Jadi saya akan dipensiunkan?”
“Sesuai dengan garis nasib Bapak, lebih jauh dari itu”.
“Jadi akan dipecat? Difitnah barangkali?”
“Bapak akan ditahan, diadili dan dipenjarakan. Lalu lebih jauh lagi puteri sulung Bapak akan terjerumus jadi gadis panggilan. Dan bisakah saya lebih jauh lagi?”
“Ya?”
“Ibu, maksud saya isteri Bapak, akan jatuh sakit dan perlu perawatan cukup lama sebelum akhirnya meninggal dunia”.

Terus terang meskipun Eyang Kian Santang ini merupakan penasehat spiritualku yang utama dan selama ini sangat bisa dipercaya” kali ini hati jadi sangsi juga dibuatnya. Apa lantaran isi amplop yang biasa kubawa ini mesti lebih disesuaikan lagi?

“Apakah Eyang tidak sedang bercanda kali ini?” tanyaku dengan muka yang agak berseri sedikit. Orang tua itu menggelengkan tubuhnya dan mendehem.
“Tidak! Saya bicara sesungguhnya”.
“Lalu bagaimana menurut pendapat Eyang jalan yang paling baik untuk mengatasi masalah ini”
“Sebaiknya Bapak mengundurkan diri di akhir tahun ini, dan memberikan kesempatan kepada yang jauh lebih muda”.
“Mengundurkan diri?”
“Ya!”
“Itu jalan satu-satunya?”
“Betul!”
“Lalu bagaimana nasib keluargaku? yang, anakku delapan orang, seluruh keluarga yang kutanggung ada empat belas jiwa. Mau makan apa mereka kalau aku mengundurkan diri”.

Peluh dingin merembes di kemeja. Setiba di rumah isteriku marah-marah. Dia bahkan sampai mengumpat dan menuduh dukun itu telah kena suap. Saya tentu saja menjawabnya tidak mungkin. Mustahil. Tiap akhir tahun saya selalu mendatanginya untuk minta gambaran tentang  keadaan tahun depan. Ramalan orang tua itu selalu bagus dan tak pernah melenceng sedikitpun. Saya akan dikaryakan sudah lama terbukti. Akan diangkat jadi Kepala Daerah di kawasan yang basah, juga sudah terjadi. Bakal mendapatkan rejeki besar juga ada benarnya meskipun dalam bentuk lain; ada mahasiswi yang lagi ber-KKN gandrung padaku dan sempat kuinapkan di hotel sekian malam. Nah! Tapi sekarang?

Kalau isteriku yang diramal akan sakit dan mati lebih banyak memakai emosinya persis seperti putri sulungku yang diramal akan jadi lonte, maka dalam hal ini saya lebih banyak menggunakan pikiran. Apa barangkali ada lawan politikku yang telah merancang suatu perangkap? Atau akan datang fitnah? Atau (dan ini mungkin lebih masuk akal), permainanku selama ini sudah tercium dari atas sana? Dan barangkali orang tua itu juga sudah tahu liku-liku permainanku? Atau jangan-jangan dia yang telah membocorkan rahasia ini ke atas untuk mendapat imbalan yang jauh lebih besar dari yang selama ini kuberikan? Itu mungkin saja lho! Tapi dari siapa orang tua itu tahu rahasiaku? Aku lalu memutar otak. Ada kemungkinan sekretarisku yang juga sering ke sana itu yang telah ngomong sama dia. Wah!

“Bu”, kataku pada isteriku. “Apakah mungkin si sekretaris itu telah membocorkan rahasia ke Eyang Kian Santang?”
“Mungkin saja, makanya sedari dulu saya ini selalu bilang berilah mereka itu peranan dan bagian yang cukup. Kalau sampean tidak kok! Sekarang kalau begini ini bagaimana coba. Masak dukun bisa bikin ramalan sampai begitu gamblang. Itu sudah jelas dia sudah tahu masalahnya”.
“Jadi sebaiknya bagaimana bu?”
“Panggil saja itu dukun. Suruh ngaku! Nanti kalau dia sudah mau terus terang, kita juga ikut terus terang dia mau minta apa.

Yang penting rahasia kita tidak tersebar”. Dua oknum berseragam saya minta menjemput Eyang Kian Santang. Jip berplat merah itu kembali meluncur ke gunung lewat jalan becek. Orang tua itu ternyata tak mau datang. Jawabnya singkat saja! Siapakah dalam hal ini yang berkepentingan, kalau saya yang perlu tentu akan sowan Bapak. Tapi kalau beliau yang ada kepentingan saya mohon dengan sangat sudi untuk kembali datang kemari. Bangsat betul orang tua ini. Tapi toh saya terpaksa datang juga ke padepokannya.

“Eyang, terus terang apakah Eyang sudah tahu permainanku selama ini?’
“Permainan yang Bapak maksudkan?”
“Jadi Eyang belum tahu?”
“Saya sama sekali tak tahu apa-apa Pak!”
“Betul?”
“Ya, betul!”
“Oke, soalnya terus terang saya jadi curiga dengan ramalan yang Eyang berikan tempo hari. Sepertinya Eyang telah tahu liku-liku permainan saya dengan sangat jelas hingga bisa meramal begitu”.
“O, jadi itu masalahnya. Begini Bapak, kalau hanya soal itu, saya bisa tanggung!”
“Maksud Eyang?”

“Misalnya ya, sekali lagi misalnya! Andaikata Bapak itu ada kesulitan sehubungan dengan hal-hal seperti yang bapak maksudkan tadi, Eyang akan dengan senang hati membantu tanpa pamrih apapun! Jadi kalau masalahnya itu percayalah tak bakalan Bapak sampai kehilangan kedudukan”.

“Lalu kembali ke ramalan Eyang tempo hari, bisakah kiranya Eyang memberikan penjelasan mengenai sebab-musababnya?”
“O, maaf Pak; kalau hal itu saya sebutkan, berarti saya telah mendahului kehendak yang Maha Pencipta!”
“Lalu?”
“Saya pribadi tetap menyarankan Bapak iklas untuk  mengundurkan diri secara terhormat. Turun sendiri dari kursi pelan-pelan jauh lebih enak daripada diseret orang!”

Merah telinga saya mendengar kata orang tua itu. Saya segera minta diri. Dan sejak itulah saya selalu dirundung kecemasan. Bagaimanapun kata-kata dukun itu ada bekasnya di hatiku. Saya lalu mulai curiga pada siapa saja. Seluruh orang kantor saya selidiki. Hansip petugas jaga malam di rumah kucurigai. Bahkan termasuk isteri dan anak-anakku pun ikut juga tak kupercayai lagi. Padahal sebenarnya tak ada sesuatu yang tak beres. Tentang aku korupsi misalnya, toh sulit untuk dibuktikan secara hukum. Sebab saya memang terkenal paling rapi di antara teman-teman dalam soal yang satu ini. Mengenai saya mempunyai simpanan seorang mahasiswi, toh juga tak pernah tercium sampai kantor atau rumah. Lalu apa?”

Tatkala saya menghadap “boss” untuk konsultasi rutin, beliau nampak kaget melihat kekurusan badanku.
“Lho, you malah bisa langsing begini? Rajin ke lapangan ya?”
‘Saya sakit pak!”
“Sakit? Sakit apa?”
“Tekanan darah saya naik pak, pikiran!”
“O, jangan terlalu banyak pikiran! Yang santai saja, tidak ada apa-apa. Nanti kalau masa jabatan yang ini habis, sudah dua kali kan? Dan tidak bisa diperpanjang lagi, sudah ada tempat yang bagus. Asal diingat saja pesan-pesan saya dulu. Tidak ada apa-apa!”

Tapi tekanan darah kian meninggi. Jangan-jangan boss itu hanya basa-basi saja bilang begitu itu? Yah, saya makin tak bisa percaya lagi pada siapapun termasuk pada diri sendiri. Dan kemudian ada kabar selentingan bahwa beberapa anak buahku mulai ada yang berani mengutak-atik permainanku. Mereka memang tak kuajak berperan selama ini. Bayangan Eyang Kian Santang nampak lagi. Saya bakal dipecat, diadili dan dipenjarakan. Isteriku akan sakit lama dan mati. Anak gadisku akan jadi “P”! Dan barangkali ini sudah bukan ramalan tapi lebih merupakan permainan kotor entah antara siapa saja untuk mencelakakan diriku. Sebelum semua terjadi, sumber malapetaka itu harus dilenyapkan. Eyang Kian Santang saya minta untuk dijemput dengan paksa. Dia datang ke kantor sebagai pesakitan, tapi matanya tetap nampak tajam, dan mulutnya selalu saja senyum-senyum.

“Eyang, maukah Eyang sekali lagi menjelaskan ramalan Eyang tempo hari?”
“Apakah itu belum cukup jelas Pak?”
“Sudah, tapi maukah Eyang memberikan penjelasan terperinci mengenai sebab-musababnya?”
“Wah, dari dulu kan sudah saya sebutkan bahwa itu di luar pengetahuan saya. Apakah Bapak belum juga memahaminya?”
“Tapi bisakah Eyang mencabut kembali ramalan itu?”
“Maksudnya?”
“Eyang harus membuat pernyataan bahwa ramalan itu hanyalah bohong-bohongan saja!”
“Aduh, saya malah jadi tidak mengerti kehendak Bapak ini”.
“Silahkan tidak mengerti tapi Eyang harus membatalkan ramalan itu”.

“Maaf, begini Bapak : Apakah artinya omongan orang seperti saya ini? Bapak sebagai umat beragama mestinya tahu bahwa nasib orang ada di tangan yang Maha Pencipta! Saya ngomong begini tapi kalau Dia menghendaki begitu, hasilnya juga tetap di Tangan Yang Kuasa”.
“Jadi Eyang tetap menolak untuk membatalkan ramalan itu?”

“Sudah saya sebutkan Pak, yang menentukan Sang Pencipta?”
“Tapi yang meramalkan hal itu kan Eyang sendiri?”
“Saya hanyalah sekedar perantara”.
“Tapi saya bisa menuduh Eyang membuat fitnah dan menganut kepercayaan yang bertentangan dengan Pancasila, dan yang sendirilah yang justru bisa diadili”.
“Itu terserah Bapak saja”.
“Jadi Eyang tetap meramalkan bahwa saya akan dipecat?”
“Ya!”
“Isteri saya akan sakit-sakitan lalu mati?”
“Ya!”
“Dan anak saya lalu jadi lonte?”
“Ya, seperti kata Bapak sendiri!”

Darah naik ke ubun-ubun. Pandang mataku seperti berkabut. Tangan kananku erat menggenggam pestol. Benda itu kuacungkan ke pelipis Eyang Kian Santang. Tapi orang tua itu nampak tenang sekali bahkan tersenyum.
“Eyang tahu ini apa?”
“Ya!”
“Eyang harus membatalkan ramalan itu”.
“Yang bisa membatalkan justru Bapak sendiri. Silahkan mundur, kembalikan harta hasil korup itu pada rakyat dan …

Pestol itu meledak. Orang tua di depan saya itu roboh dengan kening berlubang dan mengucurkan darah. Orang berbondong-bondong. Isteri saya menjerit dan seluruh tubuhku jadi seperti lunglai. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: