PARA KAMPRET DITOLAK LBH

22/07/2013 at 16:37 (puisi)

Siapakah yang dapat membantu
para kampret
Tuhan!
Apakah Tuhan itu juga
Tuhan para kampret?
Tuhan! Apakah you itu juga
menangani kampret-kampret yang kapiran?
yah,
tapi Tuhan di abad ini
sudah sangat rapi
paling kalau kita berdoa,
jawabnya seragam.
Semua sudah terprogram rapi
dalam komputer.
Terserah Anda semua!
semua tergantung dari upaya Anda!
dari upaya Anda!
tugas Tuhan
sudah banyak yang dilimpahkan ke manusia,
komputer
dan alat-alat canggih lain.
Tuhan hanya tinggal menangani
yang penting-penting.
Yang vital-vital.
Yang ajaib-ajaib.
Mukjizat
Tapi sekarang ini
mukjizat sudah jadi
komoditas langka.
Kita hanya kebagian yang biasa-biasa
yang rutin.
“Tuhan,
tolonglah kami
para kampret yang tergusur ini.”

Tuhan hanya diam.
Di langit hanya ada satu dua awan
sedikit bintang-bintang.
Angin juga lemah sekali.
Kampret-kampret itu gundah.
Mereka mengepak-ngepakkan sayap.
Mencicit-cicit.
“Punten”
“Permisi”
“Kulonuwum”
“Asalamualaikum”
“Apakah Tuhan masih nongkrong
di atas situ?”
Tetap saja sepi.
Kampret-kampret itu lesu.
“Kita minta bantuan ke LBH saja.
Biar merekalah yang mengurus hal ini.
Mereka sudah biasa dengan hal ihwal
menggugat seperti ini.”
Memang seperti itulah profesi mereka.
Kalau mereka berhenti menggugat,
tak ada dana masuk
kalau mereka membela wong gede
tak ada simpati publik.
Jadi, kadang mereka adalah
kaum tergusur
sawah mereka adalah manusia gembel
barang dagangan mereka adalah
pedagang asongan
yang diuber-uber petugas Kamtib
tanpa penindasan,
dapur mereka tak mengepul
tanpa kesewenang-wenangan
dompet mereka lecet
bisnis adalah bisnis
pengabdian adalah pengabdian
hukum adalah hukum
bantuan adalah bantuan
“Bolehkah, kami para kampret
minta bantuan Oom!”

Para pembela LBH itu bengong
mereka memang mahir
ngomong Inggris,
ngomong Belanda
sedikit-sedikit Okem
kadang-kadang bicara Batak
kadang-kadang bahasa Jawa
tapi bahasa kampret
mereka tak paham.

“Bantulah kami Oom,
buldoser itu sudah makin dekat
batu-batu stalaktit
bongkahan-bongkahan stalakmit
bergelimpangan
dikeruk lengan-lengan hidrolik
dan diboyong truk gandengan
ke pabrik semen
tolonglah Oom,
selamatkan bukit-bukit kapur itu
gua-gua itu
nyawa para kampret ini.”

Para pembela LBH itu bengong
“Kampret-kampret ini ngapain sih
nyelonong masuk kemari.
Apa pintunya ada yang kebukak!
Wong ruang AC rapet begini
kok bisa kemasukan kampret.
Bah!
Bikin brisik saja.
Mana anak-anak klining servis
Hajar aja itu kampret!”

Petugas klining servis
lalu sigap bertindak
jendela dibuka
sapu diayun-ayunkan
tapi ratusan kampret yang
dari tadi nunggu di luar
serentak menyerbu masuk
tanpa permisi
tanpa asalamualaikum
ruang kerja LBH itu jadi
penuh dengan ribuan kampret.

“Buset!
apa-apaan ini?
Kok malah makin banyak.
Apa kampret-kampret ini
juga mau minta bantuan
lantaran kaplingnya digusur
Real Estate!”

“Iya Oom, kami ini tergusur!
Kami ini juga korban
nafsu konglomerat.
Kami perlu bantuan Oom!
Cepat, buldoser itu makin dekat!”

Para pembela LBH itu puyeng
kok ruang kerjanya jadi
sarang kampret.
Dia lalu menengok ke luar
dan halaman kantor itu
juga penuh dengan kepakan
sayap kampret.

“Wah, wah, wah
mbok ambil tindakan cepat!
Gangguan para kampret ini
sudah kelewatan
pakai obat apa begitu kek
atau pakai jaring atau apa!”

Selama dua hari dua malam
kantor LBH itu lumpuh
ribuan kampret mengurung dan
menguasai kantor itu
beol kampret berceceran
kencing kampret
mengucur membasahi berkas-berkas
mengotori map-map.

Foto para kampret itu muncul
di halaman depan koran
dan televisi memberitakannya
dengan siaran pandangan mata.

“Saudara-saudara pirsawan
reporter Anda kali ini berada
di halaman kantor LBH untuk
melaporkan serbuan ribuan kampret
yang sampai saat ini masih
menduduki kantor itu.
Fenomena alam ini sungguh sangat menarik
juga sangat misterius
para ahli biologi sedang
meneliti perilaku para kampret ini,
tampak beberapa orang Satpam
dan polisi terus-terusan berjaga
sebagaimana Anda lihat
di layar televisi Anda
berulangkali kamera yang digunakan
untuk meliput peristiwa ini
disambar kawanan kampret.

Kalau sampai dengan besuk pagi
kawanan kampret ini
belum juga pergi
Dinas Pemadam Kebakaran
akan mengerahkan aparatnya
dengan peralatan lengkap
untuk membebaskan gedung LBH
dari serbuan para kampret
greng, greng, greng
dengan iringan musik horor
tayangan langsung ini dilanjutkan
kamera menyorot ke dalam gedung
sekitar toilet
garasi
dan pos Satpam
greng-greng-greng
siaran langsung berhenti
dan diganti dengan tayangan
Pengguntingan pita dan
pemukulan gong
oleh seorang pejabat.

Karena merasa dicuekin
para kampret itu lalu pergi
dari gedung LBH
tampaknya para pendekar hukum itu
memang hanya bertugas untuk
membela sesama manusia
dan bukan membela kampret
deru buldoser makin santer
debu berhamburan
batu-batu bergelindingan
bukit kapur itu terkelupas
dan terbelah
seperti buah durian
yang masak pohon
siap untuk disantap
dan banyak dijajakan
di jalan Raya
Citeureup-Bekasi.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: