Di Sekitar Re Generasi Alias Menciptakan Generasi Kere : Pelestarian Nilai-Nilai Geli

31/07/2013 at 16:07 (artikel)

Majalah Humor No. 011

Sengaja kami gunakan istilah “pelestarian” (bukan pewarisan) sebab sesungguhnyalah nilai-nilai “geli” yang lagi jadi topik nasional ini sama sekali tidak sama dengan kapling atau rekening bank atau istri muda yang bisa begitu saja diambil oper. Masalahnya cukup serius, tapi sekaligus juga masih bisa bikin perut jadi terpingkal-pingkal. Ini jelas sebab bagaimana pun seriusnya, persoalan pokoknya tetap di sekitar yang “geli-geli” juga. Semula kami memang cenderung untuk menggunakan saja istilah “pewarisan”. Tapi setelah melewati perdebatan panjang yang juga menggelikan, dengan disertai voting dan angket segala macam, kami pun akhirnya sepakat (meskipun tetap tidak bulat) untuk menggunakan saja istilah “pelestarian”. Adapun alasan utama kami begini : Pertama istilah lestari itu sesuai betul dengan program yang dewasa ini lagi galak-galaknya di “pop” kan oleh Menteri Negara PPSG (Pengawasan Pembangunan Sarana Geli). Dan kemudian yang kedua, kata Lestari sangatlah sesuai sebab bisa selalu mengingatkan saya pribadi kepada Mbak Lestari yang jualan gado-gado di sebelah rumah. Masalahnya bukan apa-apa, tapi yang jelas tiap pagi saya boleh ngutang! Kemudian yang ketiga (terakhir) istilah pelestarian itu bisa mendatangkan kesan bahwasanya nilai geli berikut seluruh aparatnya haruslah tetap ambil bagian dalam rangka mensukseskan Pelita (Pembangunan Lima Tarikan) demi segera tercapainya masyarakat yang geli dan banyak tawa. Bukankah tawa memang sangat sehat terutama untuk menghadapi penyakit “boke”? Nah, tapi agar anda-anda semua tak lantas jadi kebingungan dan makin tambah puyeng lagi lantaran di kantong tak tersimpan “paramemex Saru”, berikut ini kami tampilkan sedikit cuplikan wawancara kami (maksud kami “komentar”) dari para tokoh masyarakat mengenai betapa hebatnya nilai-nilai geli yang harus kita jaga siang malam kelestariannya. Ini semua penting sekali sehubungan dengan proyek Re Generasi alias pencetakan Generasi Kere.

Abdul Ngawur (Menteri Tua Urusan Orang-orang Tua/Pensiunan)

Lantaran saya ini “politikus” sebagaimana telah anda saksikan sendiri atau bersama cewek anda, maka saya jelas hanya bisa bicara soal pelestarian nilai-nilai geli/regenerasi lewat kacamata politik. Jadi jangan mengharapkan saya bicara mengenai soal ini dengan kacamata yang lain-lain. Masalahnya karena kacamata saya memang hanya satu (yang saya pakai ini), dan selain itu bicara dengan kacamata memang tidak lazim. Kacamata gunanya untuk mengincar dan bukan untuk ngomong ya toh? Jadi kembali ke soal re-generasi serta pelestarian nilai-nilai geli, terus-terang saya cenderung untuk tetap lestari menjadi menteri tinimbang dipensiun. Anda barangkali akan merasa geli tapi apa boleh buat? Ini politik soalnya. Kalau masalahnya menyangkut daging sapi barangkali akan menjadi lain lagi.

Selanjutnya mengenai re-generasi, menurut hemat saya masalahnya tergantung pada sikon. Itu tadi menurut hemat saya sebab selama ini saya memang terkenal sebagai menteri yang tergolong hemat malah kadang boleh dibilang pelit. Kalau kebetulan anda termasuk manusia yang tak bisa menghemat alias pemboros ya tersilah! Jadi sekali lagi saya tekankan di sini (di perut), bahwa kalau rasa geli itu bisa lestari, maka kita pasti akan tergelitik dan senantiasa terpingkal-pingkal dan akibatnya jelas sudah! Perut kita pasti akan jadi “mulas”!***

Goenawan Menghambat (Pengacir/Juru Konci Proyek Senen Blok II Lantai XIII)

Anda tanya pendapat saya tentang pelestarian nilai-nilai geli? Untuk dimuat di Majalah Humor? Ck, ck, ck, luar binasa! (Kemudian sambil berbisik : mau kau kasih bagian honor berapa saya?). Tapi baiklah, nanti kalau Humor tidak mau muat hasil pemikiran saya yang sedari dulu kesohor brilyant ini, berikan saja pada Zaman Edan! Dengan catatan nanti honornya dibagi dua sama gua! Jadi baiknya sekarang begini saja. Saya bersedia untuk saudara wawancarai atau sebaliknya karena saya juga wartawan kelas satu, tapi tempat wawancaranya jangan di sini. Biasanya saya melakukan wawancara di Vics Peking atau minimal di Mie Baso Kramat Boender. Jadi bagaimana kalau kita ke sana saja sambil menyocrop es campur asal you yang traktir? Nah, soalnya dengan begini tenggorokan tak akan kering dan seret hingga keterangan yang mau you korek bisa lancar keluarnya. Tapi maaf saya jangan dipotret sebab meskipun wajah saya begini ngganteng biasanya tukang potret sekarang pada ngawur dan kameranya juga murahan hingga wajah saya selalu jadi jelek setelah dicetak. O, ya! Kembali ke inti persoalan : sebetule saya agak kurang sreg dengan soal-soal pewarisan eh pelestarian nilai-nilai geli dalam hubungannya dengan pencetakan generasi kere di kampung kita ini. Tapi baiklah lantaran es campur ini sebagian sudah tertelan maka saya akan barter dengan sedikit uraian yang pasti akan jauh lebih bernilai dari es yang barusan saya telan.

Oke, saya akan mulai dengan soal seniman, tolong ini di catat tebal ya! Seniman, khususnya seniman di Kampung kita Jakarta ini sedikit pun tak pernah merasa cemas dengan pelestarian nilai-nilai geli. Ingat kan kejadian yang menggemparkan tempo hari? Bukankah rame-rame soal Akademi Cikini/Dewa Kesintingan beberapa waktu yang lalu juga dalam rangka memperebutkan seraya melestarikan nilai-nilai geli yang terkandung dalam karya seni? Dan bukankah itu super menggelikan atau kalau anak saya bilang ‘top” begitu? Nah, nilai-nilai beginilah yang akan senantiasa kami kembangkan serta kami jaga kelestariannya. Tentang re-generasi? Sory aja ya! Itu sama saja dengan mau menjadikan generasi saya yang tua-tua ini kembali jadi kere seperti dulu sewaktu belum mewarisi nilai-nilai geli dari pendahulu kami. Jadi itu tadi keterangan serta uraian saya yang tentu akan sangat dihargai oleh Redaksi Humor. Tapi awas, jangan sampai salah kutip!

Arwah Sialan (Dayang Lembaga Horor Indonesia) Penjaga Titian Bambu

Ini baru jempol! Bertahun-tahun lamanya saya menggauli “horor” dengan teramat sangat setia, jauh lebih setia dari menggauli bini resmi/tak resmi saya sendiri. Tapi selama ini belum pernah saya menjumpai permasalahan yang begini merangsang. Maksud saya merangsang tawa! Betapa tidak? Pelestarian nilai-nilai geli dewasa ini sudah betul-betul sangat mendesak. Bahkan saya sendiri sudah beberapa kali menerima desakan dari Pak RT untuk ngurus KTP saya. Tapi terus-terang saya sangat tidak antusias dengan istilah “pelestarian”. Saya pribadi lebih condong untuk memakai istilah pewarisan sebab hal itu secara langsung bisa mengingatkan saya pada bapak di kampung yang sudah jompo tapi punya sawah ratusan hektar dan kerbau puluhan ekor! Nah, jadi soal warisan kan memang tidak bisa dibikin main-main. Tapi karena dalam musyawarah para pemilik nilai-nilai geli tempo hari sudah ada konsensus nasional untuk menggunakan istilah pelestarian yah, saya tentu tak lagi bisa berkutik! Bagi saya yang penting, soal itu tak akan mengganggu atau menghambat jatuhnya warisan bapak saya ke kantong saya tentunya!

Dan sekarang masalahnya tinggal tergantung pada pundak kita. Maksud saya apakah nilai-nilai geli yang saat ini kita kangkangi ini akan begitu saja kita operkan pada para gelandangan itu, atau akan kita gadaikan dulu, atau bisa juga kita mencoba tawarkan untuk tukar tambah. Misalnya kalau generasi kere itu memang sudah teramat sangat ngebetnya, tentu mereka mau saja membayarnya dengan harga berapa pun. Bahkan saya yakin generasi kere ini pasti mau sekali untuk melakukan sistem Komoditi Penyerahan nanti. Jadi mereka membayar sekarang tapi barangnya kita berikan nanti kalau kita memang sudah sama sekali tak memerlukan. Ini tadi pendapat saya pribadi. Jadi bukan selaku Ketua Lembaga Horor atau Penjaga Titian Bambu. Jadi jangan sampai keliru. Dan Astaga!!! Ini majalah Humor nampaknya mampu juga bikin saya yang seari-arinya ngurus “horor” bisa jadi kaget setengah mati. Sampai-sampai ini tadi saya bilang “Astaga!!!”

Hasyi King (Suami dari Hasyi Queen/Penguasa Ekonomi Segala Golongan)

Ngomong-ngomong soal nilai geli dalam kaitannya dengan aspek ekonomi ya? Well; terus-terang selama ini saya memang selalu tinggal di tempat yang terang-benderang karena listrik sudah 220 voltasenya. Dan selama ini saya juga sudah teramat sukses dalam segi ekonomi dengan cara yang tidak menggelikan. Tapi sebaliknya, anda pun juga bisa sukses dalam bidang ekonomi dengan cara mengkomersiilkan nilai-nilai geli. Yoe inget kan sama Cherlai Ceplon? Nah, dia menjadi milyardor kan juga lantaran menjual nilai-nilai geli itu tadi. Jadi masalahnya sudah nampak sangat jelas. Soalnya meskipun mata saya sudah agak rabun, semuanya tetap nampak jelas karena saya tak pernah lepas kacamata bingkai emas ini. Soal nilai-nilai geli memang erat kaitannya dengan segi ekonomi. Ekonomi negara, paling tidak ekonomi anda sendiri pasti akan goncang kalau-kalau nilai geli jadi betul-betul punah. Yang jelas sampeyan tak akan bisa dapat penghasilan dari Majalah Humor kalau nilai-nilai geli tak ada lagi! Bagi penguasa Ekonomi Segala Golongan seperti samua ini, duit honor dari majalah begituan sama sekali tak ada nilainya. Soalnya saya memang tak pernah memberi nilai pada duit. Selain karena saya bukan guru sekolah atau Yuri, setahu saya duit juga tak boleh diorek-orek dengan bolpen untuk diberi nilai. Nah, sebenarnya masalahnya juga tak hanya berhenti sampai di sini sebab di bawah ini masih ada lanjutannya sedikit.

Bagi saya ekonomi adalah segala-galanya. Jadi nilai-nilai geli di mata saya juga berupa rupiah atau dolar. Dan kalau nilai geli ini sampai punah, wah! Ekonomi awak akan hancur. Yang jelas TPRI akan bangkrut. Sebab akan kehilangan mata pencahariannya lewat “Sialan Niaga” yang rata-rata menggelikan lantaran paling banyak menampilkan badut. Nah, dan selanjutnya saya kasih tahu ya! Ekonomi negeri kita ini pada hakekatnya dikuasai oleh nilai-nilai geli. Tak percaya? Coba anda datang ke Kantong Bendahalal Negara atau Beha Cukak sana! Nilai-nilai geli itu sudah bisa terpateri dengan kokoh di sana. Buktinya begitu terima amplop para pegawai di sana pada senyum-senyum. Apa pula yang mereka tertawakan kalau bukan nilai-nilai geli yang terkandung dalam amplop itu?

CATATAN : Komentar dari Sabam Selangit (Anggota Dewa Penggemar Rapat/DPR dari seksi Geli), Umar Ghawat (Ex Ketua Dewa Kesintingan Cikini), Rosihan Ambyar (Ketua Dewa Kehormatan PWI/Persatuan Wadam Indah), Rudy Hartonjok (Pemain Bulu Entog/Penjaja Susu Indo), Roy Martil (Bintang Pejantan Spesial untuk adegan Keranjang) dan Ir. Ciputat (Penguasa Ekonomi Kuat dari Ciputat), karena satu dan lain hal terpaksa tidak bisa kami tampilkan. Ini semua kami lakukan karena adanya paksaan yang tak bisa kami elakkan, demi stabilitas Hankamli (Pertahanan & Keamanan Gali). Mohon seribu maaf karena pas/dekat lebaran dan harap anda semua tak bisa maklum adanya! *** (Pewawancara : F. Rahardi/Wartawan Gadungan)
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: