Perkenalan Saya dengan Animisme Purba

20/08/2013 at 11:17 (artikel)

Saya dibesarkan di Dukuh (dusun/kampung) Sumber, Kelurahan Panjang, Ambarawa (Jawa Tengah). Kampung halaman saya itu disebut “Sumber” karena memang ada sebuah sumber air yang cukup besar. Air dari sumber itu ditampung dalam sebuah “sendang”, yakni kolam yang kemudian diberi pancuran. Ada lima buah pancuran yang mengucurkan air cukup deras. Di sendang itulah, dahulu orang-orang sekampung mandi, mencuci, dan mengambil air minum. Di musim kemarau yang paling panjang sekali pun, sumber air ini tetap mengalir. Orang-orang dari kampung tetangga, bahkan dari desa tetangga banyak yang datang untuk mandi, mencuci, dan mengambil air di sini. Dahulu ibu-ibu dan juga anak-anak perempuan mengambil air dengan jun atau klenthing. Klenting adalah tempayan bulat terbuat dari gerabah, dengan leher kecil dan lubang yang sedikit melebar. Klenting ini dibawa dengan cara ditaruh di pinggang, lalu leher klenthing ditahan dengan lengan. Laki-laki biasanya mengambil air dengan cara memikul klenthing yang ditaruh dalam keranjang. Ada pula yang menggunakan kaleng minyak tanah ukuran 20 liter.

Di sekeliling sendang itu ada pohon-pohon raksasa, di antaranya, pohon leri, karet hutan, bulu, beringin, gayam, dan waru ketek. Pohon-pohon itu menjulang tinggi sampai 30 meter, rimbun dan akar-akarnya menjalar ke mana-mana. Kesannya seram. Kami, seluruh warga kampung, percaya bahwa di pohon-pohon besar itulah bermukim “roh” nenek moyang. Nama roh penjaga sendang itu Mbah (kakek) Derpo. Dia tinggal di sendang itu bersama istri, anak-anak, cucu-cucu, dan cicit-cicitnya. Ceritanya, dulu Mbah Derpo ini juga warga kampung biasa. Tetapi sehari-harinya dia senang sekali berada di sendang tersebut. Sesepuh kampung yang bernama Mbah Baurekso menegurnya. Katanya, apakah dia itu mau jadi penunggu sendang untuk selamanya? Kok sehari-hari kerjanya hanya ke sendang melulu. Kata-kata sesepuh desa itu rupanya menjadi kenyataan hingga roh Mbah Derpo pun akhirnya menjadi penghuni sendang tersebut.

Semua orang kampung hormat pada Mbah Derpo. Banyak yang mengaku pernah melihat atau bertemu dengan roh penjaga sendang itu. Sewaktu kecil, saya juga percaya pada Mbah Derpo hingga setiap kali lewat sendang itu sendirian selalu merasa takut. Setahun sekali setiap hari Sabtu Pon, sendang itu dikuras, airnya dibuang. Tanggul yang memisahkan sendang itu dengan sawah-sawah di bawahnya, dibedah. Saat itu adalah saat yang sangat menyenangkan. Orang seluruh kampung berebut menangkap lele, gabus, dan belut. Siangnya lalu diadakan selamatan bertempat di pinggir sendang itu. Malam sebelum sendang itu dibedah di bawah pohon beringin di atas mata airnya, sudah dipasang sesaji untuk Mbah Derpo. Kemenyan juga dibakar. Di dekat sendang itu ada sebuah surau berupa rumah panggung terbuat dari bambu, termasuk lantainya juga terbuat dari “galar” (bambu utuh yang dicacah lalu dibelah dan dibentangkan melebar). Konon Mbah Derpo suka sholat di surau itu.

Waktu itu, awal tahun 50-an, di kampung saya, bahkan di kota Ambarawa, memang masih banyak pohon-pohon besar yang kebanyakan tumbuh di pinggir jalan sebagai naungan. Terutama asam, trembesi, beringin, dan kenari. Bangunan-bangunan kuno peninggalan Belanda pun, halamannya juga masih banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon raksasa. Pohon-pohon itu tumbuh tinggi. Percabangannya rindang. Batangnya rata-rata dua pelukan orang dewasa. Di jalan masuk ke kampung saya juga ada pohon jati besar. Semua pohon itu katanya ada hantunya. Ada roh yang menunggunya. Bahkan ketika di halaman rumah saya tumbuh pohon asam, orang-orang menyarankan agar pohon itu segera ditebang agar tidak keburu dihuni oleh hantu. Yang pasti, pohon-pohon besar itu banyak sekali dihuni oleh burung, tokek, dan bajing.

Kira-kira 3 kilometer di sebelah utara kampung saya ada pula sebuah batu keramat bernama “Watu Salang”. Batu itu terletak di pinggir jalan di lereng bukit yang sangat terjal. Jalan di bawah batu itu diapit lereng dan jurang kali Babon. Dari jalan, batu keramat itu memang tampak angker. Kata orang-orang, batu itu sebenarnya akan runtuh ke bawah kalau tidak disangga oleh pohon beringin kecil yang tumbuh di situ. Saya tidak pernah sadar bahwa batu itu telah lebih dulu ada daripada pohonnya. Cerita tentang kehebatan watu salang itu selalu saya dengar dari siapa pun. Hingga kalau kebetulan lewat di bawahnya, saya tidak berani menengadah, takut kalau-kalau batu itu tiba-tiba runtuh. Persis di bawah watu salang itu ada beberapa gua Jepang. Disebut gua Jepang karena dibuat oleh para romusha di zaman Jepang untuk keperluan pertahanan perang melawan sekutu.

Masa balita saya memang dikepung oleh roh, hantu, dan tokoh-tokoh gaib. Rawa pening yang jaraknya hanya  kilometer dari kampung saya, jelas dihuni oleh Baruklinting. Di dekat “Watu Salang”, batu yang keramat tadi, ada sebuah bukit tempat tinggal Kiai Gombak. Tak jauh dari situ ada Bukit Kendalisodo yang dihuni oleh Hanoman. Agak ke utara lagi, ada Gunung Ungaran yang dihuni oleh Rahwana alias Dasamuka. Waktu itu saya tak pernah berpikir, mengapa tokoh-tokoh fiktif ciptaan Valmiki dari India itu bisa tinggal di dekat kampung halaman saya. Bahkan saya sangat percaya bahwa Hanoman maupun Dasamuka itu benar-benar ada dan tinggalnya di gunung-gunung itu. Kata orang-orang tua, kalau Hanoman sampai pergi dari gunung Kendalisodo, Rahwana akan keluar dan mengamuk. Artinya, gunung Ungaran itu akan meletus.

Kampung halaman saya terletak di kaki bukit. Di lereng bukit itu terdapat sebuah kuburan besar bernama “Dangkel”. Kuburan itu digunakan oleh beberapa desa tetangga. Namun yang paling top, di kuburan itu ada makam Kiai Tunggul Wulung yang dikeramatkan. Orang-orang biasa berziarah dan menyepi di makam itu. Yang menarik bagi saya, orang-orang yang berziarah itu pasti menaruh rokok dan uang receh sebagai sesaji. Ketika masih kecil, lewat di kuburan kiai itu takutnya bukan main. Itulah makam yang paling angker dari seluruh makam di kuburan itu. Namun setelah menjelang remaja, sesaji di makam kiai itu menjadi incaran saya dan teman-teman. Terutama rokok dan uang recehnya. Secara rutin pada hari Selasa dan Jumat Kliwon kami memeriksa sesaji di makam itu untuk mencari uang dan rokoknya.

Kuburan di atas bukit itu bagi saya sangat indah. Ada banyak sekali pohon kemiren dan kamboja. Dari atas bukit itu, kami dapat melihat kota Ambarawa, Rawa Pening, Gunung Telomoyo, dan Merbabu. Waktu itu, burung puyuh dan ayam hutan masih banyak berkeliaran. Namun nenek dan ibu saya selalu memberitahu bahwa di kuburan itulah paling banyak bergentayangan hantu pocong dan glundhung pringis (tengkorak manusia). Itulah sebabnya, kalau sendirian harus lewat di kuburan itu, selalu saya lakukan dengan berlari. Kecuali kalau kelihatan ada orang sedang mencari rumput atau menggembalakan kambing. Namun setelah agak besar, saya dan teman-teman paling senang membakar singkong di kuburan itu dengan kayu bakar dari nisan yang sudah lapuk dan dibuang karena telah diganti baru.

Saya dan teman-teman memang benar-benar dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang masih sangat mempercayai adanya roh, hantu, dan makhluk halus penghuni tempat-tempat angker. Meskipun banyak orang kampung yang bercerita pernah bertemu dengan tokoh-tokoh gaib itu, saya dan teman-teman tak pernah sekali pun bisa bertemu atau melihat atau mendengar suaranya. Namun demikian, kami tetap merasa sangat ketakutan berada di tempat-tempat yang dikeramatkan tersebut. Baru kemudian, setelah keberanian kami mulai ada, tempat-tempat angker itu justru menjadi lingkungan yang paling kami senangi. Di situlah saya dan teman-teman bisa dengan sangat leluasa bersembunyi untuk memakan buah-buahan hasil curian, juga untuk tempat bersembunyi apabila membolos dari sekolah.

Meskipun belum pernah berteman dengan roh Mbah Derpo, saya dan teman-teman tetap sangat mempercayai berbagai cerita tentangnya. Misalnya, dahulu mata air yang digali oleh Mbah Derpo itu makin lama menjadi semakin besar. Orang-orang menjadi sangat takut, sebab kalau air itu dibiarkan terus, seluruh kampung akan tenggelam dan menjadi satu dengan rawa Pening. Upaya untuk menyumbat mata air itu segera dilakukan, dengan timbunan tanah, pasir, kayu dan kayu-kayu yang cukup besar. Namun semuanya hanyut terbawa aliran air yang semakin besar yang menyembul dari tanah. Akhirnya Mbah Baurekso, sesepuh kampung memerintahkan agar mata air itu disumbat dengan sebuah gong yang cukup besar. Benar, setelah disumbat dengan gong, air itu pun mengecil lalu mengalir seperti biasa. Semua orang kampung percaya bahwa sampai sekarang gong itu masih berada di dasar sendang dan tak ada seorang pun yang berani mengambilnya.

Sampai menjelang remaja, kepercayaan akan roh nenek moyang itu masih tetap terpatri dengan sangat kuatnya di benak saya dan teman-teman. Kami yakin bahwa roh-roh nenek-moyang itu akan memberi keselamatan apabila kami mematuhi adat, kebiasaan dan kepatutan yang telah digariskan. Apabila hal itu dilanggar, pasti akan datang malapetaka. Keyakinan kami itu demikian kuatnya karena hampir setiap hari kami diberitahu tentang hal tersebut. Misalnya, tidak boleh ke sendang tepat pukul 12 siang karena saat itulah Mbah Derpo sedang mengambil air wudlu untuk sholat lohor. Setelah maghrib pun kami tidak boleh ke sendang sebab bisa diganggu oleh cucu-cucu Mbah Derpo yang nakal-nakal. Setelah kami remaja, pantangan-pantangan itu mulai kami langgar. Bahkan kemudian malam-malam kami sering berada di sendang itu untuk memancing ikan gabus. Kadang-kadang, berada di bawah naungan pohon raksasa di malam yang gelap gulita memang muncul juga rasa takut kami. Jangan-jangan Mbah Derpo itu benar-benar datang lalu membawa kami pergi. Tetapi lama-kelamaan ketakutan itu tidak ada lagi.

Baru kemudian di bangku sekolah, Pak Guru pun mengajarkan bahwa kepercayaan terhadap roh-roh nenek moyang yang menghuni pohon atau batu itu, namanya animisme. Jadi, ternyata saya dibesarkan dalam lingkungan yang paham animismenya masih sangat kental. Secara formal sebenarnya saya lahir dan dibesarkan dalam keluarga Katolik di tengah-tengah mayoritas warga kampung yang (secara formal) beragama Islam. Namun, baik yang Islam maupun yang Katolik, semuanya tetap mengakui adanya Mbah Derpo yang menunggu sendang. Semuanya hormat pada roh yang gaib itu. Semuanya harus menaruh sesaji dan ikut selamatan kalau sendang itu dibersihkan tiap Sabtu Pon, setahun sekali. Meskipun kepercayaan terhadap roh Mbah Derpo itu makin lama semakin surut, tradisi bedah kali dan selamatan ini ternyata tetap berlangsung sampai sekarang. Gang di dekat sumber air itu pun sekarang disebut sebagai Jalan Derpo. *** (Buku Menggugat Tuhan Bab I)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: