Perkenalan Saya dengan Hantu

20/08/2013 at 11:32 (artikel)

Saya mengenal hantu sejak usia balita. Ketika itu, saya memang sering ditakut-takuti oleh orang-orang tua di sekitar saya. Pada suatu hari di rumah saya sedang ada hajatan menyunat paman saya. Banyak sanak famili yang datang membantu memasak dan menyiapkan macam-macam. Kebanyakan mereka itu wanita. Waktu itu hari sudah agak malam. Saya berada di sebuah ruang yang dipisahkan dengan ruang sebelahnya oleh sebuah sekat terbuat dari gedek bambu. Tiba-tiba saya melihat ada benda hitam seperti ekor kuda muncul dari atas sekat itu. Saya langsung menelungkupkan muka ke atas bantal dan menutup seluruh badan dengan selimut. Jantung saya berdegup keras. Saya benar-benar takut, dalam hati saya berpikir, inilah hantu yang sering diceritakan oleh para orang tua itu.

Setelah beberapa menit saya memberanikan diri mengintip dari celah selimut. Benda itu masih ada di sana. Saya tambah ketakutan. Setelah nenek datang, baru ketakutan itu mereda. Ternyata benda itu adalah ikatan rambut untuk konde (cemara), milik salah seorang famili. Karena gerah, konde itu dia lepas lalu ikatan rambut untuk memperbesar konde itu digantungkan di sekat ruangan. Ia menggantungkannya dari ruang sebelah, hingga dari ruang tempat saya tidur, yang tampak hanya untaian rambut yang nyelonong begitu saja. Meskipun sudah nyata-nyata tahu bahwa yang terlihat itu bukan hantu, namun ketakutan itu masih terus ada. Bayangan benda hitam yang tiba-tiba datang lalu bertengger di gedek itu masih saja ada dan sulit untuk dihapus. Bayangan seperti itu sungguh sangat menakutkan.

Untuk kedua kalinya, saya melihat hantu di belakang rumah tetangga. Ujudnya sebuah benda bulat agak memanjang berwarna merah dan cukup besar tergantung di pohon lengkeng. Begitu melihat hantu itu, saya langsung kaget dan ketakutan. Dengan histeris, saya berlari pulang sambil terus berteriak-teriak dan menangis. Sejak itu, saya menderita sakit panas dan mengigau. Dalam igauan itu saya selalu berteriak-teriak ketakutan karena dikejar oleh momok plendhung (hantu yang menggelembung). Setelah sakitnya agak sembuh, saya mulai berani duduk-duduk di depan rumah. Namun setiap hari sekitar pukul 9 atau 10 pagi, pada saat rumah sepi telinga saya selalu mendengar suara wek-wek-wek yang datang dari njagang (jurang) di sebelah barat rumah. Lama setelah sembuh pun saya tetap tidak berani datang ke rumah tetangga tempat hantu itu, lebih-lebih ke jurang di sebelah barat rumah.

Baru kemudian setelah saya menjadi remaja, ketahuan bahwa hantu merah yang menggantung di pohon lengkeng itu adalah sangkar perkutut. Karena perkutut itu masih baru, oleh si pemilik, sangkarnya dikerudungi kain merah. Mungkin waktu itu saya sudah mulai panas (demam) akibat terkena infeksi radang tenggorokan. Hingga penglihatan pun menjadi agak mengabur. Sedang suara yang kedengaran dari arah jurang itu adalah suara bebek milik Mbah Amat yang tiap pagi memang dilepas untuk mencari cacing di jurang sebelah. Ketakutan saya terhadap hal-hal yang sepele itu muncul karena hampir tiap hari saya selalu mendengar cerita-cerita tentang hantu. Pada waktu itu bercerita melihat hantu adalah hal yang membanggakan bagi siapa pun di kampung saya.

Hantu berikutnya yang saya lihat, ujudnya manusia yang botak, agak gemuk, besar sekali, dan berwarna abu-abu. Waktu itu, saya sudah berumur sembilan tahunan. Dengan beberapa orang teman, saya pergi ke ladang untuk mencari kayu bakar. Kami semua membawa sabit dan berjalan sambil bercanda. Tiba-tiba saja saya melihat sosok hantu itu menyembul dari sebuah tebing jurang, lalu surut lagi. Karena sudah besar, saya dan teman-teman tidak ketakutan. Karena tidak percaya pada penglihatan saya, saya dan teman-teman pun menyempatkan diri menengok ke balik tebing jurang itu. Ternyata tidak ada apa-apa. Ketika pengalaman saya ini saya ceritakan ke teman-teman yang lain dan orang-oran tua, mereka antusias sekali.

Konon, lokasi tempat saya dan teman-teman melihat hantu itu memang pernah digunakan oleh seorang dukun untuk membuang setan. Ceritanya begini, ada anak perempuan seusia saya yang sakit keras berkepanjangan. Sakitnya panas dan mengigau-ngigau. Ia sudah dibawa ke dokter namun tidak juga sembuh. Orang tuanya lalu mencari dukun. Menurut si dukun, anak perempuan itu sakit karena ditempeli setan. Jadi kalau mau sembuh, setannya harus dibuang. Caranya dengan selamatan, membuat sesaji, dan setan itu memang harus secara fisik benar-benar dibuang. Dukun itu lalu sibuk. Setan yang konon mengganggu anak perempuan itu lalu digendong satu per satu dan dibuang ke sebuah jurang. Orang tua anak perempuan itu lalu mengadakan selamatan dan membuat sesaji. Nama anak perempuan juga diganti hingga kemudian dia sembuh. Orang-orang di kampung saya percaya bahwa makhluk abu-abu yang saya lihat adalah salah satu dari setan-setan itu.

Saya sendiri, meskipun agak takut juga, tetap tidak percaya pada cerita orang-orang iu. Untuk membuktikannya saya mengajak dua orang teman saya yang tergolong pemberani, menuruni jurang itu. Tebingnya cukup terjal dan ditumbuhi rumput, paku-pakuan, bambu, dan gerumbulan liar lain. Di dasar jurang itu, ada sebatang pohon awar-awar yang tumbuh melintang di atas sebuah lubuk. Ada air terjun kecil yang mengucur ke lubuk itu. Dengan susah payah, akhirnya kami sampai di dasar jurang. Tempat yang diapit oleh jurang sempit dan dipenuhi belukar itu memang gelap, lembap dan menyeramkan. Namun, di lubuk itu banyak sekali ikannya. Karena kondisi ekonomi tahun enam puluhan itu sangat susah, yang muncul di pikiran kami waktu itu bukannya soal hantu melainkan bagaimana upaya mengeringkan lubuk itu untuk mendapatkan ikannya.

Beberapa hari kemudian, kami pun kembali menuruni jurang itu. Dengan cangkul, sabit, ember dan bakul. Air yang mengalir ke lubuk itu kami bendung, lalu alirannya dibelokkan. Dengan ember, air di lubuk itu kami ciduk dan kami lemparkan ke bawah. Seharian kami berhasil mengosongkan air di lubuk kecil itu. Kami mendapatkan lele, gabus, wader, dan udang. Ikan-ikan itu kami bagi tiga untuk dibawa pulang. Namun dua teman saya membawa ikan-ikan itu kembali ke rumah saya. Ternyata ibu mereka tidak berani menggoreng ikan yang berasal dari lubuk tempat membuang setan itu. Nenek saya karena tidak tahu asal-usul ikan itu, mau saja menggorengnya.

Untuk lebih membuktikan bahwa lubuk itu tidak angker, kami pun lalu membuat sebuah gua di atasnya. Tanah padas hasil galian gua itu kami gunakan untuk menimbun lubuk. Berbulan-bulan kami bekerja secara rahasia sampai gua itu tergali cukup dalam. Seluruh lubuk itu akhirnya tertimbun. Air terjun di atasnya hilang. Di gua itu kami dapat duduk-duduk atau berbaring. Persis pada malam Jumat Kliwon kami memutuskan untuk bermalam di gua itu. Karena hanya seorang teman saya yang berani ikut, maka kami pun hanya berdua menginap di sana. Kami hanya tahan sampai jam 11 malam. Bukan karena ketakutan tapi nyamuknya banyak sekali dan besar-besar. Seluruh badan kami bentol-bentol.

Malam berikutnya kami kembali bermalam di sana. Sebelumnya, seluruh badan kami lumuri minyak tanah. Kami pun membawa sabut kelapa dan kayu bakar untuk membuat api. Kami dapat bertahan sampai subuh, namun setan itu tidak juga mau datang. Sampai sekarang saya tidak tahu, apakah yang saya lihat itu benar-benar hantu atau sekadar halusinasi. Yang jelas kami sehat-sehat saja. Yang kasihan justru pemilik ladang di sebelah lubuk angker itu. entah siapa yang membocorkan, akhirnya ada juga yang tahu bahwa di jurang itu ada sebuah gua. Sehabis G 30 S, pemilik ladang itu didatangi polisi dan pak lurah. Dia dituduh menggali gua untuk membunuh dan menyembunyikan mayat korban. Terpaksalah kami menjelaskan duduk persoalannya.

Selanjutnya, saya menjadi tidak begitu percaya pada hantu. Kalau ada orang tua atau teman yang dengan antusias menceritakan pengalamannya melihat hantu, saya pun segera mengambil kesimpulan bahwa mereka itu pembual. Akan tetapi, ketika di pelabuhan (sungai) di Sukamara (Kalteng) tujuh teman saya mengaku semalaman diganggu hantu, saya menjadi agak bingung. Salah seorang teman itu malah tidurnya dipindah ke ujung dermaga hingga nyaris kecemplung kali. Kemudian berkali-kali teman-teman saya mengalami kejadian aneh-aneh lantaran diganggu hantu, sementara saya tidak apa-apa.

Rumah yang saat ini saya tinggali pun konon juga ada hantunya. Namun saya, istri, dan anak-anak serta tamu-tamu yang menginap tidak pernah merasa terganggu hantu. Justru rumah tetangga di depan yang ada masalah. Setiap kali ada tamu datang, selalu mendapat gangguan. Akhirnya, dia mendatangkan seorang Pastor yang ahli paranormal. Hantu itu pun lalu diusir dengan doa-doa dan ritual lainnya. Di sudut-sudut rumah itu juga dikuburkan ayam sebagai penangkalnya. Sejak itu, katanya hantu-hantu itu tidak pernah mengganggu lagi. Saya lalu yakin bahwa hantu itu memang benar-benar ada. Namun, hanya orang-orang tertentu saja yang dapat melihat sosoknya atau mendengar suaranya. Sementara saya, mungkin karena “gelombangnya” tidak cocok, sama sekali tidak pernah mendapatkan gangguan apa pun dari si hantu, sampai saat ini. *** (Buku Menggugat Tuhan Bab II)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: