Perkenalan Saya dengan Santet

20/08/2013 at 11:49 (artikel)

Santet atau tenung alias teluh alias guna-guna adalah sebuah gejala alam yang sudah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, namun sampai sekarang ini tetap tak kunjung dipahami. Ujud dari gejala itu adalah seseorang menjadi sakit dan penyakitnya itu dipercayai oleh masyarakat, didatangkan atau dibuat oleh orang lain dengan menggunakan kekuatan magic atau mistik atau paranormal. Sejak kecil, saya sudah mendengar ihwal santet ini dari ibu saya maupun famili-famili. Lingkungan saya kebetulan tidak mempercayai fenomena santet. Lingkungan rumah, sekolah, maupun gereja menganggap bahwa gejala santet hanyalah sekadar bohong-bohongan. Orang sakit ya harus dibawa ke dokter atau diobati. Sakit karena santet adalah sesuatu yang sangat tidak masuk akal bagi saya.

Misalnya saja, saya pernah mendengar cerita bahwa salah seorang Pak De menderita sakit dan kemudian keluarlah paku dan jarum dari badannya. Ibu saya mengatakan bahwa semua itu hanyalah sulapan. Saya juga ikut tidak percaya. Ketidakpercayaan saya pada yang gaib-gaib ini diperkuat oleh fakta-fakta sebagai berikut. Kalau ada anak tetangga atau famili yang sakit dan oleh dukun dicap sebagai kena santet, ternyata setelah dibawa ke dokter, penyakitnya cukup jelas. Ada yang cuma cacingan. Ada yang radang tenggorokan, ada yang tetanus, dan lain-lain. Setelah Pak Mantri Suntik atau dokter memberi obat dan merawatnya, penyakit itu pun bisa sembuh. Yang cacingan dari perutnya keluar cacing. Yang radang tenggorokan panasnya turun dan doyan makan lagi.

Pernah pada suatu ketika ada anak salah seorang paman saya yang sakit. Sudah berbulan-bulan, anak itu tergeletak di tempat tidur dan badannya kurus kering. Menurut paman saya dia diguna-gunai oleh orang yang tidak suka dengan paman saya. Katanya sudah banyak dukun yang dia hubungi, hasilnya tidak ada. Oleh ibu saya, anak tadi lalu dibawa ke dokter. Menurut dokter, anak tadi sakit lever. Pengobatannya akan makan waktu lama. Seminggu sekali anak itu harus dibawa ke dokter untuk diperiksa. Ini berjalan selama beberapa bulan. Dan ternyata anak itu memang dapat sembuh. Saya pun makin yakin bahwa yang namanya santet itu hanya bohong-bohongan. Hanya akal-akalannya para dukun untuk membohongi pasien dalam rangka mencari uang.

Setelah drop out kelas II SMA, saya pun jadi guru di sebuah desa di kawasan Kabupaten Kendal. Di sini isu mengenai santet, setan, hantu, guna-guna, dan lain-lain makin banyak saya dengar. Tentunya, saya tetap tidak percaya. Puncak ketidakpercayaan saya ini terjadi pada tahun 1970. Waktu itu teman saya, juga seorang guru, menderita sakit. Pak Lurah setempat memperlihatkan kepada saya potongan bambu kecil-kecil dan paku yang diikat dengan rambut. Menurut Pak Lurah tadi, barang-barang itu keluar dari tubuh teman saya. Pak Lurah itu yakin bahwa seseorang telah mengguna-gunai teman saya. Saya manggut-manggut dan pura-pura memperhatikan, namun dalam hati tidak percaya. Tidak mungkin ada bambu dan paku bisa keluar dari tubuh seseorang.

Paginya, saya dan teman yang sakit itu sama-sama berangkat ke kota kecamatan untuk mengambil gaji. Teman itu bercerita bahwa dia sakit karena disantet orang dan dari tubuhnya keluar benda macam-macam. Saya kembali manggut-manggut dan masih tetap tidak percaya. Di tengah perjalanan teman tadi batuk-batuk dan muntah darah. Wah, Anda ini pasti kena TBC, kata saya waktu itu. Akan tetapi, dalam darahnya tadi ternyata ada pakunya. Kemudian, teman tadi batuk-batuk lagi dan ada sebuah paku yang menyangkut di tenggorokannya. Paku diambilnya dengan agak susah payah. Ketika sudah berhasil keluar, paku itu benar-benar paku. Ketika saya pegang juga keras dan tajam. Ketika saya buang ke jalan yang berbatu-batu juga berbunyi “ting” seperti halnya paku biasa.

Menghadapi kenyataan itu, saya syok berat dan bingung; juga sangat takut. Berhari-hari saya tidak enak makan dan sulit tidur. Bagaimana mungkin ada paku keluar dari tubuh teman saya, dan ini semua saya lihat dengan mata kepala sendiri. Masuknya bagaimana? Sekarang saya tidak berani menuduh teman saya tadi berbohong. Apa mungkin teman saya tadi pura-pura batuk, lalu pura-pura mengeluarkan paku dari dalam mulutnya? Lalu untuk apa? Lebih-lebih dia juga tampak kesakitan dan juga ketakutan. Teman saya tadi baru sembuh setelah diobati oleh “seorang pintar”.

Keheranan saya ini berlanjut karena beberapa kali saya melihat fenomena aneh tersebut. Saya menyaksikan nenek teman saya memasukkan batangan emas (susuk) ke leher dan pipi seorang wanita. Biasanya, yang datang ke nenek teman saya tadi adalah para WTS. Mereka minta dipasangi susuk emas supaya kelihatan cantik hingga pelanggannya banyak. Kemudian saya juga melihat, dari lengan teman yang lain keluar paku dan pecahan kaca. Tampak bekas luka yang biru kemerahan yang setelah dilap dengan daun sirih dan minyak kelapa lalu pulih lagi. Anehnya, teman saya yang satu ini oleh “orang pintar” yang menyembuhkannya bukan hanya sekadar diobati tetapi juga diajari mengobati penyakit-penyakit semacam itu. Ternyata teman saya itu mampu.

Sejak itulah, saya lalu percaya bahwa santet memang betul ada. Tapi sekaligus saya sangat penasaran dan ingin sekali tahu duduk persoalannya. Saya pun mulai banyak bertanya pada mereka yang tahu. Saya juga mencoba banyak membaca tulisan-tulisan tentang santet. Pertanyaan saya adalah apakah paku dan emas tadi benar-benar masuk ke tubuh manusia? Kalau ya, mestinya akan tampak kalau dirontgsen. Tetapi, kenalan saya yang memakai susuk dan dirontgsen, hasilnya dalam gambar rontgsen itu tidak tampak ada emasnya. Apakah dukun itu menipu? Emasnya dikantungi dan dengan keterampilan tangannya dia bikin atraksi seolah-olah emas itu telah dimasukkan ke pipi si pemesan? Tapi lalu bagaimana dengan teman saya yang tiba-tiba muntah mengeluarkan paku tadi?

Kesimpulan saya, memang ada sebuah atau suatu kekuatan yang sampai saat ini belum dipahami benar oleh manusia. Kekuatan tersebut ternyata dapat digunakan untuk membuat tubuh menjadi kebal, dicintai perempuan, dan lain-lain. Ternyata, kekuatan itu netral. Sebelumnya, saya sering mendengar ada istilah black magic dan white magic. Ternyata ini tidak betul. Dengan ilmu yang sama seseorang bisa menyakiti namun bisa pula menyembuhkan orang lain.

Istilah white magic dan black magic sebenarnya saya ketahui dari buku-buku cerita silat Cina dan silat Jawa. Dalam cerita-cerita itu memang jelas-jelas disebutkan adanya golongan hitam dan golongan putih. Jauh sebelum berkenalan dengan cerita silat, saya sudah lebih dulu mengenal Kitab Suci. Di Kitab Perjanjian Lama, maupun Baru (Injil) memang disebutkan adanya kekuatan gaib yang disebut sebagai “mukjizat”. Misalnya saja mukjizat Nabi Musa yang dengan tongkat saktinya berhasil menangkal pengaruh sihir jahat dari Firaun. Yesus sendiri juga tak terhitung jumlahnya berbuat mukjizat.

Dari pengetahuan dan bacaan tadi, saya diberi teori adanya kekuatan gaib yang berasal dari Tuhan dan kekuatan gaib dari setan. Pendapat semacam ini sangat kokoh di masyarakat dan justru hal inilah yang menyebabkan pengetahuan masyarakat terhadap fenomena ini menjadi sangat minim dan sulit sekali untuk berkembang sejak ribuan tahun yang lalu.

Hambatan untuk menyingkap misteri santet, sebenarnya bukan hanya datang dari agama melainkan juga dari ilmu pengetahuan. Dulu ilmu pengetahuan sendiri, misalnya ilmu astronomi, biologi, antropologi, dan lain-lain pernah mengalami hambatan bahkan berkonfrontasi secara frontal dengan agama. Ketakutan agama (dalam hal ini Gereja Katolik) terhadap teori gravitasi dan teori Darwin misalnya, demikian hebatnya. Meskipun akhirnya juga mencapai antiklimaks. Ilmu pengetahuan itu terbukti kebenarannya, namun pembenahan terhadapnya toh tidak berakibat apa-apa terhadap institusi Gereja.

Nasib yang dialami santet dan kekuatan paranormal lain, jauh lebih tragis. Fenomena ini sudah dikenal sejak ribuan tahun silam dan diaplikasikan untuk keperluan praktis (misalnya Orakel Delphi). Namun, misterinya sampai sekarang tak kunjung tersingkap karena tantangan dari dua institusi yang “super tangguh” yakni institusi agama dan institusi ilmu pengetahuan.

Padahal kalau misteri “kesurupan” atau intrance terpecahkan misalnya, bisa saja terjadi sebuah revolusi. Manusia (pribadinya, rohnya) bisa saja hidup terus dengan cara berganti-ganti badan. Transfer pikiran itu bisa dilakukan tanpa perlu pembedahan atau tindakan medis lain. Demikian pula halnya dengan istilah “belajar” yang akan menjadi kuno. Sebab ilmu pengetahuan atau bahasa atau keterampilan juga bisa dengan mudah ditransfer ke orang lain semacam kita mengopi kaset atau disket. Kapan itu semua bisa terjadi, tentunya masih harus menunggu sampai ada perubahan sikap dari ilmu pengetahuan/institusi agama. Mereka harus mau lebih arif dalam menghadapi fenomena yang satu ini. Bukan sekadar bersikap apriori. Atau sebaliknya membabi buta menjalankannya tanpa sikap kritis/ilmiah.

Meskipun selama ini kekuatan gaib atau mukjizat itu sangat lekat dengan dunia keagamaan, saya cenderung berpendapat bahwa tak ada hubungan antar keduanya. Banyak terjadi mukjizat di sekitar tokoh-tokoh agama, tapi itu hanya kebetulan. Banyak tokoh agama yang “biasa-biasa” saja dan banyak pula tokoh bukan agama yang menguasai keterampilan/pengetahuan paranormal ini. Jadi, saya berpendapat bahwa hal-hal yang gaib itu memang tak punya korelasi sama sekali dengan dunia keagamaan. *** (Buku Menggugat Tuhan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: