Perkenalan Saya dengan Gereja

27/08/2013 at 16:00 (artikel)

Pertama-tama yang saya kenal sebagai gereja adalah sebuah bangunan yang megah dan menjulang setinggi 37 meter. Bangunan itu letaknya di pinggir jalan raya kira-kira satu kilometer dari rumah saya. Kalau saya memanjat pohon, menara gereja itu pun akan kelihatan. Ketika belum bisa memanjat, saya sering menyaksikan kakak maupun paman saya buru-buru memanjat pohon sekadar untuk melihat jam di menara gereja itu. Di rumah nenek saya, tidak ada jam. Kalau pas jam tertentu, misalnya jam lima, lonceng di sana pun berdentang lima kali. Setiap setengah jam lonceng itu berbunyi tetapi hanya satu kali. Malam hari nenek saya sering bingung. Mula-mula dia mendengar dentang satu kali. Mungkin jam satu kemudian terdengar lagi dentang sekali. O, setengah dua, pikir nenek saya. Ketika setengah jam kemudian kedengaran dentang sekali lagi, nenek saya jadi bingung. Kadang-kadang kami salah dengar. Sebenarnya pukul sepuluh tapi dentang lonceng jam gereja itu hanya kedengaran sembilan kali. Untuk mencocokkannya, kami pun harus mendengar bunyi kentongan dari berbagai gardu ronda. Gereja bagi saya adalah bangunan megah yang ada jamnya.

Tiap pukul 6 pagi, pukul 12 siang, dan pukul 6 sore, selain bunyi dentang 6 dan 12 kali, lonceng panjang pun dikumandangkan. Mula-mula berbunyi teng-teng-teng (tiga kali) lalu istirahat kemudian tiga kali lagi dan istirahat lagi, begitu sampai tiga kali. Selanjutnya, dentang lonceng itu berkelenengan selama barang satu menit. Pada hari Sabtu sore atau Minggu pagi, lonceng yang suaranya lebih berat dan lebih nyaring dibunyikan langsung berkepanjangan. Ini tanda panggilan untuk misa atau kebaktian lainnya. Kalau misa istimewa, misalnya Paskah atau Natal, atau kalau ada pastor/bruder/suster meninggal, dua lonceng itu dibunyikan serentak dan dalam jangka waktu lebih lama. Lonceng-lonceng itu merupakan tanda waktu dan tanda-tanda panggilan lainnya. Orang-orang yang sedang bekerja di sawah atau di ladang, pedomannya juga jam yang ada di menara gereja itu. Dari jauh, jam itu memang kelihatan jelas dan menjadi pedoman bagi kegiatan apa pun. Waktu itu, tahun 50-an, jarang sekali orang mengenakan arloji, yang di kampung saya disebut jam tangan. Orang yang mempunyai “jam bandul” itu pun jumlahnya sangat sedikit. Itulah sebabnya jam gereja itu lalu menjadi sangat penting, baik siang maupun malam.

Bangunan gereja itu beratap sirap. Ini menambah nilai kesakralannya, sebab di Ambarawa, bangunan lain beratapkan genteng atau seng. Kayu untuk atap adalah sesuatu yang aneh bagi saya. Ketika atap sirap itu diganti karena sudah tua, peristiwa ini menjadi sebuah atraksi yang menarik selama berbulan-bulan. Di sekeliling bangunan gereja itu didirikan kerangka bambu sebagai tangga. Lalu sedikit demi sedikit atap sirap itu dibongkar, dikerek turun lalu sirap baru dinaikkan dan dipasang. Semua itu sangat spektakuler bagi saya dan teman-teman. Bangunan gereja itu terletak di tempat yang agak ketinggian. Dari arah jalan raya, ada undak-undakan untuk sampai ke pintu gereja. Pintu itu sendiri berbentuk melengkung bagian atasnya dan terbelah dua. Tebalnya bukan main. Seluruhnya terbuat dari kayu jati dan dijepit dengan plat besar. Ini adalah pintu terhebat yang pernah saya kenal di Ambarawa. Begitu melewati pintu, kita akan menjumpai ruang yang lapang, pilar-pilar besar, dan di kiri kanan lorong masuk itu ada tempat berisi air suci. Pengunjung diwajibkan mencelupkan ujung jarinya di air itu lalu membuat tanda salib.

Ruang dalam gereja itu bagi saya juga sangat spektakuler. Yang pertama kali menarik perhatian saya adalah bangku-bangku kayu jati, dengan tempat duduk anyaman rotan. Bangku-bangku itu bagus dan dipelitur mengkilap. Lalu di atas, di tengah ruangan itu, bergelantungan lampu-lampu antik. Di lorong kiri kanan ruang gereja itu, ada empat ruang khusus untuk mengaku dosa. Di dinding terpajang relief dari semen berwarna oker yang melukiskan kisah penangkapan, pengadilan, sengsara, dan wafat Yesus. Altar di gereja ini ada tiga. Altar utama di tengah, tampak antik dan angker. Altar itu diapit oleh dua altar kecil di kiri kanannya. Siang hari, walaupun lampu antik itu tidak menyala, ruang gereja tetap terang benderang, sebab ada jendela-jendela besar yang ditutup kaca warna-warni. Di balkon di atas pintu masuk gereja ada sebuah orgel dan di situlah rombongan kor menyanyi. Di sisi kiri ada sebuah mimbar yang tempatnya agak meninggi. Di situlah pastor memberi khotbah.

Kalau saya ikut ke gereja, perhatian utama saya selalu beralih dari objek yang satu ke objek yang lain. Semuanya bagus dan enak ditonton. Tempat lilin dan vas bunga mengkilap. Lantai ubin berwarna-warni. Jubah para pastor yang anggun dan masih banyak lagi. Semua itu menjadi makin mengesankan setelah ada bunyi orgel dan nyanyian kor. Itulah gereja Katolik yang saya kenal. Sebuah bangunan megah yang didatangi orang tiap Minggu dan tiap hari raya Katolik. Pada awal tahun 50-an, waktu saya belum bersekolah, pergi ke gereja adalah hal paling menyenangkan. Di sana, saya dapat melihat ruangan yang bagus, lampu yang antik, bangku-bangku mahal, tempat lilin, dan vas bunga kuningan yang mengkilap. Selain itu, seluruh upacara misa itu adalah sebuah pentas. Pastor dan para misdinar itu adalah aktornya. Ada musik dan orgel, doa dan nyanyian. Semua itu merupakan sebuah tontonan yang sangat memikat. Pada waktu itulah bangunan fisik gereja dan upacara misa merupakan hal yang paling menarik.

Bangunan fisik gereja itu dikelilingi oleh bangunan-bangunan lain. Ada pastoran, tempat tinggal pastor. Ada susteran, tempat tinggal suster. Ada sekolah-sekolah. Ada SD, SMP, SGB. Sekolah untuk putri sendiri, dan untuk putra sendiri. Sejak umur 3 tahun, saya selalu minta untuk disekolahkan di sekolah yang WC dan gentengnya bagus. WC bagus ini sangat penting bagi saya, sebab sehari-hari saya buang air besar di selokan dan buang air kecil di mana saja terasa. Di bawah pohon, di rumputan, di belakang rumah, di pinggir jalan, semua tak pernah ada masalah. Jadi, saya ingin sekali merasakan buang air besar/kecil di sebuah tempat yang bernama WC.

Tak jauh dari gereja itu, ada sebuah kuburan Belanda (kerkop) dan pojok selatan ada sebuah makam khusus untuk para pastor, bruder, dan suster. Makam ini unik dan praktis. Makam itu merupakan bangunan persegi dari beton lalu dipetak-petak menjadi seperti laci-laci. Di situlah, jenazah para pastor, bruder, dan suster yang sudah ditaruh dalam peti itu dimasukkan dan pintunya disemen.

Lama-kelamaan saya tahu bahwa gereja ternyata tidak hanya sekadar bangunan itu. Seluruh komunitas itu diikat dalam sebuah wadah, namanya paroki. Paroki ini dibagi dalam wilayah (lingkungan) yang disebut kring. Seluruh paroki itu dilayani oleh empat orang pastor yang rata-rata sudah cukup tua. Salah satu pastor itu menjadi “rektor”. Orang-orang selalu memanggilnya “Romo rektor” dan bukan memanggil dengan sebutan namanya. Organisasi yang mendukung Gereja itu ada macam-macam. Pertama tentu Partai Katolik. Lambangnya rosario yang dibentuk mirip gambar jantung. Waktu pemilu tahun 1955, ayah/ibu saya menusuk Partai Katolik. Nenek saya memilih PNI. Ibu saya menjadi anggota WK (Wanita Katolik). Paman/kakek saya menjadi anggota Pemuda Katolik. Selain itu, masih ada kelompok misdinar dan anggota kor.

Di kampung saya, waktu itu hanya ada 9 keluarga Katolik. Itu pun yang benar-benar ayah, ibu, dan anak-anaknya Katolik hanya ada 4 keluarga. Yang 5 keluarga, hanya anak-anaknya saja yang Katolik. Ini sudah cukup banyak, sebab yang benar-benar beragama Islam dalam arti aktif menjalankan ibadah sholat di langgar, hanya 7 keluarga. Lainnya orang-orang “abangan”. Jadi keluarga Katolik di kampung saya adalah minoritas (bersama-sama dengan Islam) di tengah-tengah keluarga “abangan” yang paham animisme masih sangat kuat. Kegiatan sembahyangan atau kegiatan lain di keluarga-keluarga Katolik tidak pernah ada. Semua terpusat di pastoran dan di gereja.

Pada masa kecil saya, Gereja Katolik hanyalah berupa bangunan fisik, institusi, pastor, bruder, dan suster. Saya belum mengenal Tuhan, Yesus, Maria, dan Nabi-nabi dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Tokoh yang saya kenal justru Mbah Derpo, roh penunggu sendang di kampung saya. Yang juga akrab bagi saya adalah nama-nama wayang Raden Gatotkaca, Rahwana, Hanoman, Semar, Gareng, Petruk, Bagong, dan lain-lain itu saya kenal lewat tontonan wayang maupun gambar mainan yang dipotong kecil-kecil. Tokoh-tokoh wayang itu jauh lebih awal merasuki jiwa saya dibanding dengan Nabi Musa, Nuh, Yusuf, dan lain-lain. Bahkan tokoh Samson yang sebenarnya merupakan salah satu “Hakim” pada Kitab Suci Perjanjian Lama, saya kenal pertama kali lewat “gambar umbul” dan bukan lewat institusi gereja.

Bahkan saya pun sama sekali tidak tahu bahwa saya pernah dibaptis. Saya baru tahu kalau sudah dibaptis dan punya nama baptis ketika sudah kelas III SD. Waktu itu, saya mau menerima komuni pertama lalu diumumkan nama-nama baptisnya. Ternyata oleh Pak Guru nama saya ikut disebut. Ketika teman-teman tahu nama baptis saya, maka berhari-hari mereka pun mempermainkan dan mengolok-olok saya dengan nama baptis itu. Saya bukannya merasa bangga tapi malu sekali. Keadaan baru berubah setelah bruder menjelaskan bahwa orang yang sudah dibaptis, dosa asalnya akan hilang. Maka gantilah teman-teman yang belum dibaptis yang menjadi was-was karena merasa dosa asalnya masih melekat padanya. ***(Buku Menggugat Tuhan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: