Perkenalan Saya dengan Tuhan

27/08/2013 at 16:05 (artikel)

Saya mengenal istilah Tuhan (dalam bahasa Jawa sebagai bahasa ibu) dari nenek saya. Setiap hari entah berapa kali dia menyebut-nyebut Gusti Allah nyuwun ngapuro (Tuhan, minta ampun) atau O Allah, (Oh Tuhan). Lama-lama saya pun bertanya, Gusti Allah itu siapa Mbah? Nenek saya pun menjawab bahwa Gusti Allah itu Sing nggawe urip (yang menciptakan kehidupan). Saya pun tidak tahu harus bertanya apa lagi, padahal sebenarnya jawaban itu saya nilai tidak memadai. Sementara nenek pun tidak dapat menjelaskan lebih lanjut. Bagi nenek saya, penjelasan itu dinilainya cukup.

Lain halnya kalau saya minta penjelasan tentang Mbah Derpo, roh nenek moyang penunggu sendang. Dia akan bercerita panjang lebar dan sulit untuk diputus. Kalau selama dia bercerita ada yang menyela, maka setelah memberikan jawaban pada si penyela, dia pun akan melanjutkan ceritanya lagi. Padahal cerita tentang Mbah Derpo ini entah sudah berapa ratus kali diceritakannya. Dan saya pun senantiasa setia untuk mendengarkannya. Di KTP, nenek saya ini tercatat beragama Islam. Namun dia tidak tahu apa-apa tentang Islam dan tidak pernah bersembahyang secara Islam. Kalau ada orang bertanya apa agamanya, nenek saya selalu menjawab dia beragama Slamet (selamat).

Baru pada menjelang usia sekolah, saya mendapatkan pelajaran agama Katolik. Saya ikut dua pelajaran agama. Yang pertama di rumah seorang tetangga pada malam hari. Yang mengajar seorang bruder (biarawan Katolik). Di situ, saya hanya diajari berdoa dan menyanyi. Kadang-kadag bruder itu bercerita tentang Tuhan Yesus yang bisa bikin mukjizat yang aneh-aneh. Yang paling menyenangkan, bruder itu selalu membawa gulungan gambar untuk dipakai sebagai ilustrasi cerita. Gambar-gambar itu sangat menakjubkan bagi saya dan teman-teman karena bagusnya. Pelajaran agama ini sifatnya sukarela.

Pelajaran agama saya yang kedua bersifat “harus”. Tempatnya di SMP putri di dekat susteran. Yang mengajar seorang ibu guru yang cantik dan baik sekali karena suka membagi-bagi permen dan biskuit. Bu Guru ini selain mengajar berdoa, juga untuk pertama kalinya memperkenalkan konsep Teologi Katolik pada saya. Dia bercerita bahwa Tuhan itu satu tapi terdiri dari tiga fitur. Istilah Tri Tunggal. Bu Guru ini pun menunjukkan gambar-gambar sebagai ilustrasi. Ada Allah Bapa yang berjubah dan brewok berambut ikal berwarna putih. Allah Bapa ini tampak seram dan angker. Ada Allah Putra. Ini lebih muda, tetapi wajahnya tetap wajah “Belanda”. Kemudian Allah Roh Kudus yang di dalam gambar hanya tampak berupa sinar dan burung merpati. Sebenarnya saya heran juga, Tuhan kok berupa burung merpati? Namun saya tak berani mempertanyakan hal ini pada bu guru.

Itulah konsep Tuhan yang saya terima secara formal lewat pelajaran agama. Selain seram dan angker, sosok Tuhan itu juga tampak sangat berwibawa, berkuasa dan penuh keagungan. Tuhan itu tinggal di surga. Surga itu tempatnya di langit berupa istana bagus. Tuhan sendiri bertakhta di atas gumpalan awan yang tampak gemerlapan karena disorot sinar oleh Allah Roh Kudus. Semua itu sangat mempesona dan mengagumkan. Suasana mempesona dan mengagumkan itu terutama juga didukung oleh kontrasnya tempat saya belajar agama dengan tempat tinggal saya di rumah. Kelas tempat belajar agama itu adalah sekolah Eropis, sekolah yang dikelola oleh suster dan dulunya, di zaman Belanda, hanya diperuntukkan bagi anak-anak keturunan Eropa dan Cina. Kalau toh ada pribumi sekolah di situ, dia pasti anak seorang priyayi.

Ini telah membuat saya terkenal cultural shock. Saya harus duduk di bangku kayu jati, berdiri di lantai ubin, melihat taman-taman indah. Kelas itu pun diterangi lampu listrik. Sementara sehari-hari saya tinggal di sebuah gubuk dalam arti sebenarnya, berdinding gedek, berlantai tanah dan berpenerangan lampu sentir. Perabotan yang ada di rumah hanyalah amben bambu dan pogo tempat kuali-kuali ditaruh. Dalam situasi seperti ini, saya diperkenalkan dengan sebuah konsep tentang keagungan, keanggunan, dan kemahakuasaan. Bu Guru yang mengajar agama itu pun cantik dan anggun. Saya dicampur dengan anak-anak para priyayi dan anak-anak keturunan Cina yang tampak mulus-mulus, putih, dan bajunya bagus-bagus. Saya lalu merasa menjadi sosok yang asing, kecil, dan membuat kelas itu menjadi kotor. Untungnya, Bu Guru itu lembut sekali dan baik hati hingga saya bisa tetap bertahan dan mendengarkan cerita-ceritanya.

Menurut Bu Guru itu, Tuhan lalu menciptakan malaikat. Sosok malaikat itu sempurna. Cantik namun perkasa dan bersayap seperti burung. Malaikat itu dapat terbang. Jadi, pikir saya waktu itu, malaikat itu seperti Raden Gatutkaca. Para malaikat itu tinggal di surga dan berbahagia memuliakan Tuhan. Namun pada suatu hari, kata Bu Guru, ada sekelompok malaikat yang berniat memberontak dan merebut takhta Tuhan. Malaikat yang mau memberontak itu dipimpin oleh Lucifer. Namun sebelum niat mbalelo itu terlaksana, mereka telah berhadapan dengan malaikat yang loyal pada Tuhan di bawah pimpinan Mikael. Para malaikat itu pun berperang. Lucifer dan kawan-kawannya kalah lalu diusir dari surga dan dihukum dengan cara dibakar. Para malaikat pimpinan Lusifer itu selanjutnya disebut setan dan tempatnya menjalani hukuman itu disebut neraka.

Kemudian Tuhan menciptakan alam semesta dan manusia. Manusia pertama itu berdosa dan Tuhan mengusirnya dari Taman Firdaus. Setiap kali ada orang berdoa, Tuhan turun tangan dengan mengutus nabi-nabi dan ketika orang-orang itu tetap berdosa, Tuhan menurunkan api, mengirim air bah, dan malapetaka lain. Tuhan itu sangat kuat dan berkuasa. Tuhan itu Mahakuasa. Mendengar uraian Bu Guru itu, saya menjadi takut sekali. Lebih-lebih Bu Guru itu bercerita bahwa Tuhan itu Maha Melihat dan Mahatahu. Apa pun yang diperbuat manusia, Dia mengetahuinya. Namun, Tuhan itu tidak dapat dilihat. Saya lalu berhati-hati sekali dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak berbuat dosa dan selalu minta perlindungan-Nya.

Pernah pada suatu hari sewaktu pulang sekolah sendirian melewati sawah, tiba-tiba turunlah hujan lebat dengan petir dan kilat menyambar-nyambar, saya lari dan berteduh di sebuah barak tempat pembakaran batu bata. Di situ, saya berdoa dan meminta ampun pada Tuhan agar petir itu tidak menyambar saya. Ketika hujan itu tidak kunjung reda, saya pun mengambil daun pisang sebagai tudung. Pelepah pisang itu saya putus dengan menggigitnya berulang kali. Meskipun sudah bertudung daun pisang, tak urung baju dan celana saya basah kuyup. Saya merasa bahwa itu semua Tuhan yang mengatur. Saya dibiarkannya basah kuyup dan kedinginan karena sering berbohong. Namun itu masih untung, karena di barak tempat membakar batu bata saya sudah berdoa dan memohon ampun hingga Tuhan tidak mengirimkan petir atau air bah.

Pernah pula suatu ketika saya jatuh dari pohon kemulwo. Biasanya kalau terjatuh dari pohon saya selalu cekatan meraih dahan hingga kalau toh jatuh pasti tidak terlalu keras dan selalu kaki terlebih dahulu menjejak tanah. Ketika itu, saya justru sedang mau memanjat. Ketika saya melompat dan meraih sebuah dahan yang miring di atas kepala saya, dahan itu terlepas karena licin. Saya terjatuh dengan punggung dan kepala membentur tanah terlebih dahulu. Untuk beberapa detik saya tak dapat bernapas namun tetap sadar. Saya pun dengan segera membuat tanda salib dan berdoa memohon belas kasihan Tuhan. Beberapa saat kemudian napas saya normal kembali. Saya tidak jadi memanjat pohon. Saya pulang lalu berbaring di lincak bambu. Kepala saya pusing sekali dan punggung terasa sangat sakit. Saya tidak tahu salah saya apa, tapi yang jelas Tuhan telah menghukum saya dengan cara terjatuh dari pohon.

Tuhan, dalam sosok seorang Raja yang sangat berkuasa, Mahakuasa, dengan segala kedahsyatan-Nya itu terpatri cukup kuat di otak saya dalam waktu yang relatif lama. Saya takut sekali dan sekaligus juga tidak begitu suka pada-Nya, namun apa boleh buat. Saya tidak dapat berkutik di hadapan-Nya. Saya menyerah total dan harus patuh pada kehendak-Nya. *** (Buku Menggugat Tuhan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: