Selamatan

27/08/2013 at 15:55 (artikel)

Selamatan atau kenduri adalah acara makan bersama. Ada dua macam selamatan. Yang pertama dilakukan secara kolektif di rumah Pak Bekel, di sendang atau di kuburan. Yang kedua dilakukan secara perorangan di rumah masing-masing. Selamatan kolektif di rumah pak Bekel (kepala dukuh) dilaksanakan dalam rangka perayaan hari raya Islam, seperti 1 Muharam dan lain-lain. Meskipun untuk merayakan hari raya Islam, selamatan ini diikuti oleh seluruh penduduk di pedukuhan itu, tak peduli agamanya Islam atau bukan. Selamatan di sendang dilaksanakan dalam rangka meminta berkah pada Mbah Derpo, penunggu sendang. Selamatan ini dilakukan pada saat sendang itu dibedah/dibersihkan. Kemudian selamatan di kuburan atau nyadran dilaksanakan dalam rangka memberikan sesaji/makanan pada arwah leluhur. Sementara selamatan di rumah-rumah penduduk dilakukan untuk persyaratan pernikahan, kelahiran, tingkeban (7 bulanan), sunatan, dan kalau ada kematian, mulai saat kematian, 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, setahun, 2 tahun, dan ngentek (penghabisan = 3 tahun).

Acara selamatan adalah saat yang sangat ditunggu-tunggu oleh seluruh penduduk, terutama oleh anak-anak. Karena pada saat itu kami dapat makan sekenyangnya dengan lauk yang sangat istimewa. Hanya itu. Hal-hal lain yang berhubungan dengan keagamaan maupun roh-roh (paham animisme) sama sekali menjadi tidak begitu penting. Kira-kira seminggu sebelum hari selamatan, Pak Bekel atau Pak Bayan, akan berkeliling dari rumah ke rumah untuk memberitahu hari selamatan tersebut. Betapapun miskinnya seseorang, pasti akan tetap berusaha untuk mencari uang, berbelanja, dan memasak untuk selamatan. Yang dimasak adalah nasi, sayur (bisa 2 atau 3 macam), dan lauk pauknya yang lebih dari lima macam.

Meskipun jenis lauknya banyak, tak ada seorang warga pun yang menyajikan lauk berupa ikan, daging, atau telur, kecuali untuk selamatan di sendang yang menggunakan sebutir telur rebus dan selamatan di kuburan yang menggunakan telur dadar dan daging (bisa ayam atau sapi). Setelah selesai memasak, yang dibuat bucu (meruncing) ditaruh di bakul, dan sayur serta lauk pauknya ditaruh di takir (kotak persegi terbuat dari daun pisang).

Kira-kira pukul 4 sore akan terdengar bunyi kentongan dari rumah Pak Bekel dan orang-orang pun berangkat, mengenakan kain sarung, berkemeja, berpeci, dan memeluk bakul berisi “nasi tumpeng” tadi. Di rumah Pak Bekel sudah digelar tikar. Orang-orang duduk melingkar menjadi beberapa kelompok. Setelah semua berdatangan, mulailah Pak Bekel memberikan sambutan dan pengumuman singkat. Selesai sambutan, daun-daun pisang yang tadi digunakan untuk menutupi bakul digelar di tengah tikar. Lalu, nasi tumpeng ditumpahkan di sana dan diratakan. Sayuran dan lauk pauk dilempar-lemparkan di atas nasi itu agar membaur. Setelah acara menumpahkan nasi ini selesai, Pak Modin (lebai) membacakan doa secara Islam. Orang-orang itu makan bersama sampai kenyang.

Setelah itu, sisa nasi yang sudah bercampur sayur dan lauk-pauk tadi dijadikan rebutan dan ditaruh lagi di bakul untuk dibawa pulang. Orang-orang yang tergolong terpandang sebagai priyayi biasanya hanya mengambil sedikit sebagai syarat. Tapi kebanyakan orang berebut untuk sebanyak mungkin memenuhi bakulnya. Sesampai di rumah, nasi tadi dituang di tampah dan kembali dijadikan rebutan seluruh anggota keluarga. Nasi ini disebut nasi berkat. Jadi, yang ikut memakannya akan mendapat berkat dan keselamatan.

Pada selamatan 1 Muharam yang disebut Suran, selain memasak nasi dan lauk-pauknya, orang-orang diwajibkan untuk membuat “bubur suro”. Ini adalah bubur beras biasa namun sudah sekalian diberi lauk termasuk kedelai hitam yang digoreng. Bubur suro ini di rumah Pak Bekel tidak dituang dan dicampur nasi, tapi tetap dibiarkan di takir masing-masing. Biasanya 1 keluarga membuat 4 sampai 5 takir bubur suro. Yang dimakan di rumah Pak Bekel hanya 1 takir. Setelah dibawa pulang lagi, bubur suro tadi sebagian dimakan oleh anggota keluarga dan sebagian lagi dioleskan di pohon-pohon. Maksudnya, agar pohon-pohon itu mau berbuah lebat dan terhindar dari serangan hama/penyakit.

Selamatan di sendang dilakukan pada tengah hari, yakni sehabis orang-orang bergotong-royong membersihkan sendang itu. Khusus untuk selamatan di sendang ini, menunya adalah nasi, urap (sayur direbus + toge dan sambal kelapa), lauknya tempe goreng, ikan asin, peyek kacang, dan telur rebus sebutir. Yang paling istimewa adalah selamatan nyadran di kuburan. Istimewa karena pesertanya juga dari lain-lain dukuh/desa yang punya leluhur dimakamkan di sana. Kemudian menunya pun tergolong luks lengkap dengan telur dadar dan daging ayam/sapi.

Selamatan kolektif ini ada pula yang dilakukan insidental. Pada tahun 1965, ketika muncul komet Ikeya Seki, sesepuh dukuh saya memberi saran agar seluruh penduduk mengadakan selamatan tolak bala di perempatan jalan. Menunya nasi liwet dan ikan emas yang disambal goreng. Tak lama kemudian memang terjadi peristiwa G 30 S dan terjadi serangkaian pembunuhan. Di kota Ambarawa pun terjadi banyak pembunuhan. Kampung saya selamat. Tak ada seorang pun yang terbunuh. Bukan karena adanya selamatan tadi, tapi karena memang tidak ada PKI-nya.

Selamatan-selamatan yang dilakukan oleh perorangan untuk keperluan kelahiran, sunat, nikah, kematian, dan lain-lain, menunya juga berbeda-beda. Tapi kebanyakan juga sama dengan selamatan kolektif di rumah Pak Bekel. Mula-mula, selamatan ini dilakukan dengan cara mirip selamatan kolektif. Beberapa daun pisang utuh (berikut pelepahnya) ditaruh di tengah tikar. Nasi, sayur, dan lauk dihamparkan, doa dibacakan, dan orang-orang makan. Selesai makan, sisa nasi, lauk dan sayurnya digunduk-gundukkan, daun-daun pisang itu dipenggal-penggal, lalu ditangkupkan dan diikat untuk dibawa pulang sebagai “berkat”. Mungkin karena cara ini dianggap tidak higienis, cara selamatan ini kemudian diubah. Yang dimakan nasi yang ditaruh di piring dan yang dibawa pulang sudah disipkan dalam katokan yakni anyaman daun kelapa. Dalam selamatan 7 bulanan, yang disajikan hanya nasi urap. Dalam selamatan pemberian nama bayi menunya bubur merah putih.

Anak-anak pun dilibatkan untuk mulai ikut selamatan. Pada waktu hari nepton (hari kelahiran/pasaran) pada bulan kelahiran (bulan Jawa) seorang anak, diadakanlah bancakan. Menunya nasi kuning dengan urap dan lauk macam-macam ditaruh di tampah. Anak-anak pun dipanggil lalu ibu rumah tangga mengumumkan bahwa ini adalah bancakan-nya si A atau si B biar cepat besar dan dijauhkan dari sambekolo. Lalu tanpa didahului doa, anak-anak pun makan mengelilingi tampah yang ditaruh di atas tenggok di serambi rumah. Kalau tersisa, nasi itu dibungkus daun dan dibawa pulang. Biasanya tidak ada yang tersisa. Malah sering kurang hingga perlu ditambah nasi atau lauk dari dalam rumah.

Selamatan yang dilakukan perorangan ini tidak hanya dilakukan oleh penganut agama Islam, tapi juga yang Katolik. Anehnya, meskipun agamanya Katolik, selamatannya tetap saja memanggil Pak Modin dan doanya juga doa Islam. Tak pernah ada yang meributkan adat yang aneh ini. Yang justru saya rasakan lebih aneh adalah adat selamatan yang dilakukan di desa Boro (Kulon Progo), ketika saya tinggal di sana, selamatan kolektif ini dilakukan untuk merayakan hari raya Islam, tapi doanya justru doa Katolik. Misalnya hari raya 1 Muharam orang-orang selamatan di rumah Pak Kepala Dukuh, namun doanya dipimpin oleh ketua lingkungan Katolik dengan doa-doa Katolik. Di sini pun tak ada yang menganggap adat ini aneh.

Pada bulan puasa, ketika di surau satu-satunya di dekat sendang di kampung saya diadakan sholat tarawih, orang-orang pun secara bergilir diminta jaburan, yakni kue-kue untuk dimakan sehabis sholat tarawih. Yang menyetor jaburan ini bukan hanya yang beragama Islam tapi juga yang Katolik. Yang ikut tarawih pun tidak hanya anak-anak yang beragama Islam tetapi juga yang Katolik karena ingin mendapat jatah jaburan. Ketika Idul Fitri datang, orang-orang datang ke Surau. Saat ini yang datang memang hanya yang secara formal beragama Islam. Mereka ke surau bukan untuk Sholat Ied melainkan untuk selamatan. Mereka membawa ketupat yang sebagian sudah dipotong-poong, sambal goreng, opor ayam, dan lauk-pauk lainnya.

Dugaan saya, keakraban antara Islam dan Katolik di kampung saya tadi bukan hanya disebabkan karena faktor kekerabatan melainkan juga oleh masih tebalnya paham animesme. Selamatan di kuburan misalnya adanya nyata-nyata paham animisme karena untuk memuliakan roh nenek-moyang. Lebih-lebih selamatan di sendang yang memang jelas untuk menghormati Mbah Derpo, roh penunggu sendang, “dewanya” orang-orang sekampung. Jadi, meskipun kemudian Islam dan Katolik masuk, ikatan animisme tadi masih tetap kuat hingga perbedaan akibat agama “baru” itu menjadi tak begitu tampak.

Selamatan-selamatan yang saya ceritakan ini dugaan saya adalah warisan adat animisme. Ketika Islam masuk, selamatan tadi lalu dikait-kaitkan dengan hari raya Islam. Itulah sebabnya ketika Belanda datang dan orang-orang memeluk agama Katolik, selamatan untuk “merayakan” hari raya Islam itu tetap mereka lakukan juga. Masalahnya bukan cuma “solidaritas” antar kerabat, malainkan selamatan itu sendiri masih sangat diperlukan untuk mendapatkan suatu katarsois sesuai dengan adat animisme. Jadi, kaitan dengan hari raya Islam itu lalu menjadi tidak begitu penting lagi. Sebab selamatan dengan menghadirkan aneka makanan itu, pada hakikatnya adalah upaya untuk mendapatkan keselamatan dari “Tuhan”. Jadi tetap wajib untuk mereka lakukan. *** (Buku Menggugat Tuhan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: