Dosa dan Tuhan

10/09/2013 at 15:34 (artikel)

Dosa menurut konsep agama Katolik adalah melanggar sepuluh perintah Allah dan lima perintah Geraja. Namun, di luar itu masih ada sebuah dosa lagi yang sudah menempel pada manusia sejak lahir ke dunia. Dosa istimewa ini namanya dosa asal dan merupakan warisan dari Adam dan Hawa. Pendek kata, semua turunan Adam dan Hawa begitu lahir di dunia sudah memikul beban dosa di pundaknya. Kalau dosa ini tidak dihapus, meskipun orang tadi seumur hidupnya tak pernah berbuat dosa, tetap saja akan dijebloskan ke dalam neraka.

Yesus adalah Allah Putra, yang oleh Bapa-Nya, disuruh turun ke dunia dan dikorbankan di kayu salib untuk “menebus” dosa umat manusia. Untuk tanda bahwa dosa asalnya sudah dihapus, seorang pengikut Yesus harus dibaptis. Kepalanya diguyur air oleh Pastor sambil dibacakan doa-doa. Namanya kemudian diembel-embeli dengan nama baptis, yakni nama-nama Eropa yang kadang susah diucapkan. Ini sebenarnya merupakan nama orang-orang suci yang sudah meninggal dan diharapkan jadi pelindung bagi mereka yang sudah dibaptis dan menggunakan namanya.

Waktu bruder menjelaskan ihwal dosa asal ini, saya menjadi tenteram dan bangga sekali, sebab beberapa hari setelah lahir saya langsung dibaptis. Jadi, dosa asal saya sudah hilang. Tetapi teman-teman yang belum dibaptis banyak yang gelisah karena merasa masih ditempeli dosa warisan Adam. Teman-teman yang sudah dididik secara Islam terheran-heran. Kok ada dosa bisa ditebus seperti barang gadaian? Saya justru mempertanyakan, lalu bagaimana nasib jutaan manusia yang lahir sebelum Yesus namun berbuat baik. Misalnya, Nabi Nuh, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, dan lain-lain. O, itu semua tetap masuk surga, kata bruder. Namun untuk sementara, sambil menunggu dibukanya surga, mereka ditampung di api pencucian.

Meskipun sudah diancam dengan hukuman bara api neraka, saya dan teman-teman tetap saja berbuat dosa. Hampir tiap hari kami berbohong, mengintip wanita mandi, mencuri, mengganggu anak-anak sekolah putri, dan lain-lain. Kami dengan enteng berbuat dosa sebab dalam agama Katolik ada sebuah sakramen, namanya sakramen pengakuan dosa. Pada waktu-waktu tertentu, pastor akan stand by di sebuah bilik khusus di gereja. Kaum pendosa itu akan datang satu per satu lalu menyebutkan dosa-dosanya dan menyatakan menyesal serta bertobat. Pastor lalu akan memberikan hukuman denda berupa dosa. Denda ini bisa berat bisa ringan tergantung pada berat ringannya dosa. Pernah saya dihukum dosa rosario yang “super panjang” itu dua kali. Tapi ada juga seorang pastor yang sudah sangat tua dan selalu mendengarkan pengakuan dosa kami dengan terkantuk-kantuk. Dendanya cuma doa Salam Maria yang pendek tiga kali. Dosa apa pun, berat, ringan, banyak, sedikit, dendanya ya itu-itu juga. Pastor ini laris sekali.

Bruder yang mengajar agama pernah berkata bahwa sebenarnya, dosa itu sudah terhapus secara otomatis semenjak kita berniat untuk mengaku dosa. Jadi, kalau demikian kita tidak perlu datang ke pastor lagi? Ternyata tidak. Meskipun Tuhan itu sudah tahu kalau kita mau bertobat, formalitasnya tetap harus dilakukan. Pernah pada suatu ketika ada pendosa berat. Ini masih cerita bruder. Pendosa itu pernah membunuh, pernah merampok, mencuri, memperkosa, dan lain-lain. Dia bertobat lalu datang ke pastor mengaku dosa. Karena dosanya sudah demikian berat, pastor mendendanya dengan doa rosario 20 kali. Pendosa tadi mengatakan itu belum cukup dan minta denda dosa rosario tiap hari sekali selama setahun penuh. Anehnya sang pastor justru mengurangi dendanya menjadi doa rosario cuma 10 kali. Demikian seterusnya, si pendosa tetap ngotot, pastornya juga terus-menerus mengkorting dendanya hingga tinggal dosa Tanda Salib.

Akhirnya pendosa itu menuruti kehendak pastor. Dendanya memang hanya Tanda Salib, tapi dia mau berdoa rosario tiap hari selama setahun penuh. Bukan sebagai denda dosa tapi lebih untuk pernyataan suka cita sebab sekarang dosanya sudah dihapus. Pastor itu mengizinkannya. Teman saya yang beragama Islam mengatakan, betapa enaknya jadi orang Katolik. Bisa berbuat dosa semaunya sebanyak mungkin lalu mengaku dosa dan dosa itu akan terhapus secara otomatis. Sebab, katanya, menurut ajaran agama Islam, dosa itu tidak dapat dihapus. Dosa itu akan terkumpul secara akumulatif dan dicatat. Perbuatan baik juga demikian. Nah pada saat mati, dosa dan kebaikan itu akan ditimbang. Kalau berat dosanya dia akan masuk neraka, kalau berat baiknya, dia akan masuk surga. Jadi, katanya, dosa itu tidak dapat seenaknya diperbuat sebanyak mungkin lalu minggu depannya dihapus begitu saja.

Yang paling mengherankan adalah yang terjadi pada seorang karyawan tata usaha SGB (sekolah Guru B = setingkat SMTP) di pastoran. Dia diketahui telah berbuat dosa karena menggelapkan uang sekolah, mempunyai pacar gelap (dia sudah beristri/beranak), dan masih banyak lagi. Saya dan teman-teman tidak pernah melihat dia mengaku dosa. Namun, tiap kali ada penerimaan Komuni, dia maju dan menerima Komuni. Padahal, ada aturan main bahwa orang berdosa tidak boleh menerima tubuh Kristus sebelum dosa-dosanya terampuni lewat sakramen pengakuan dosa. Karena pikiran ini selalu mengganggu, kami pun lalu memberanikan diri bertanya kepada pastor. Semula kami menduga pastor akan marah. Ternyata tidak. Pastor itu menjawab dengan santai, dia sudah mengaku dosa, katanya. Bukan di gereja tapi langsung di kamar pastor, karena, menurut pastor dosanya memang sangat berat.

Lalu apakah definisi dosa? Apakah sekadar melanggar sepuluh perintah Tuhan dan lima perintah Gereja? Lalu bagaimana sanksi hukumnya? Dari sepuluh perintah Tuhan, sebenarnya ada satu yang saya selalu bertanya-tanya. Jangan menyebut nama Tuhanmu tanpa perlu. Mengapa tak boleh disebut? Kalau menyebut nama Tuhan tanpa perlu sudah dianggap dosa dan melanggar sepuluh perintah Tuhan hukumannya neraka, kasihan sekali nenek saya. Sebab dalam sehari, entah berapa puluh kali dia mengatakan, O Allah! Begitu dia menyalakan api dan api itu mati dia teriak, O Allah, mati lagi. Begitu menuang air dan air itu tumpah dia teriak lagi, O Allah, tumpah. Kini tiap hari kita bisa menyaksikan di televisi, orang-orang Amerika selalu memberi contoh berteriak dalam film seri Oh my God!

Apakah membunuh orang selalu berdosa? Bagaimana dengan polisi yang menembak perampok? Bagaimana dengan algojo yang bertugas mengeksekusi terhukum mati? Bagaimana dengan pelacur? Bukankah Yesus malah menyelamatkan pelacur dengan menantang massa yang mau melempari pelacur itu dengan batu? Kata Yesus, barang siapa tidak pernah berbuat dosa, silakan melakukan lemparan pertama. Ternyata tak ada yang berani melakukan lemparan pertama. Orang-orang itu pergi satu per satu. Tinggal Yesus dan pelacur itu berdua.

Ada juga teman saya yang mengatakan dosa adalah perbuatan yang melawan dan melukai hati nurani sendiri. Tapi, bagaimana kalau nurani itu sudah kebal? Membunuh  orang untuk pertama kali tentu mencemaskan, deg-degan, takut. Namun, membunuh untuk keseratus kalinya, mungkin bisa dilakukan sambil bersiul-siul dan mengisap rokok. Apakah kalau nurani sudah kebal lalu tidak lagi berdosa? Mungkin dosa hanyalah sebuah perasaan bersalah, stres, dan depresi. Semua itu akan terhapus dengan pengakuan dosa, dengan perbuatan baik, dengan tidak lagi mengulang perbuatan itu, dan terciptalah katarsis. Tapi, bagaimana dengan perbuatan yang dianggap baik, tapi ternyata membuat sengsara orang lain? Bagaimana dengan orang tua yang berniat baik, menyenang-nyenangkan anaknya, memanjakannya tapi anak itu lalu jadi tidak mandiri?

Pertanyaan-pertanyaan tadi tentu sangat menggoda. Namun, ada sebuah pertanyaan yang pasti lebih mendasar. Mengapa manusia berbuat dosa? Menurut Bu Guru agama, penyebabnya adalah setan. Makhluk yang tidak kelihatan itu selalu secara intensif membujuk manusia untuk berbuat dosa. Namun Bu Guru itu juga bilang agar kami tidak usah takut. Masing-masing manusia sudah diberi oleh Tuhan seorang malaikat yang disebut malaikat pelindung. Sebagai ilustrasi, Bu Guru itu menunjukkan sebuah gambar. Ada anak kecil di taman mengejar kupu-kupu. Di belakangnya ada malaikat pelindung yang cantik pakai rok dan bersayap burung merpati. Di depan anak kecil itu, menganga sebuah jurang terjal. Di dasar jurang ada api neraka menyala-nyala dan setan tampak menyeringai di sana.

Baik setan maupun malaikat pelindung tadi lalu jadi tidak ada gunanya. Pada akhirnya, manusia sendirilah yang harus melakukan pilihan, mau ikut setan atau ikut malaikat. Namun, dewasa ini, dimensi dosa jadi bertambah lagi. Media massa, baik media pers maupun elektronik, selalu mengatakan bahwa peperangan itu telah mengakibatkan puluhan bahkan ratusan korban di kalangan penduduk yang tak berdosa. Benarkah wartawan itu tahu bahwa penduduk korban perang itu tak berdosa? Mungkin yang dimaksudkannya adalah dosa perang itu sendiri, bukan dosa secara harfiah. Lebih-lebih, pasti bukan dosa asal peninggalan Adam dan Hama. ***

Sumber : Buku Menggugat Tuhan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: