Surga dan Neraka

10/09/2013 at 15:39 (artikel)

Seperti apakah surga dan neraka itu? Menurut Bu Guru agama yang pertama kali memperkenalkan surga dan neraka pada saya, surga adalah tempat yang indah dan neraka adalah api yang menyala-nyala. Surga adalah sebuah taman yang asri, ada pohon, bunga-bunga, mata air, burung, dan matahari. Ada bangunan semacam istana. Disitulah Tuhan bertakhta, dikawal oleh para malaikat dan disitu pulalah roh-roh (atau sukma) manusia yang baik dimukimkan. Di surga tidak ada waktu, tidak ada kematian. Adanya cuma kebahagiaan yang abadi. Betapa menyenangkan masuk ke dalam surga. Itulah sebabnya tempat ini lalu menjadi dambaan orang hidup. Masuk surga adalah target. Surga pulalah yang sering dijadikan iming-iming oleh guru agama atau pastor kepada umatnya agar mau berbuat baik.

Neraka adalah kebalikan dari surga. Di sana hanya ada api abadi. Seluruh siksaan dan penderitaan ada di sana. Disitulah bermukim setan yang pekerjaannya menggoda manusia. Manusia-manusia yang tergoda dan mau berbuat dosa, setelah mati, rohnya, arwahnya, sukmanya akan dicemplungkan ke dalam neraka dan menjadi penghuni abadi. Segala macam siksaan dan penderitaan akan dialaminya tanpa bisa diringankan apalagi ditolak. Yang akan dijebloskan ke dalam neraka tentunya roh dari orang-orang yang selama hidupnya telah berbuat dosa berat dan tidak melakukan penyesalan sebelum mati. Kalau pendosa tadi sebelum mati menyesali dosa-dosanya, dia bisa saja masuk surga. Contohnya adalah salah seorang dari dua perampok yang disalib bersama Yesus. Perampok yang satu malah mengejek Yesus. Dia jelas masuk neraka. Perampok yang satunya lagi menyesali perbuatannya lalu Yesus menjanjikannya masuk surga.

Bagaimana dengan orang-orang yang dosanya ringan-ringan saja atau pernah berdosa berat, sudah menyesal namun penyesalannya belum penuh? Untuk mereka ini, surga jelas tertutup. Tetapi, neraka juga tidak menerima. Masuklah kemudian roh orang-orang semacam ini ke dalam “api pencucian”. Ini memang mirip neraka, namun dengan menghuni tempat ini dalam jangka waktu tertentu, seseorang nantinya akan dapat masuk surga. Pada waktu mendengar penjelasan ini dari Bu Guru agama, saya langsung menargetkan diri saya untuk masuk ke “api pencucian” setelah mati nanti. Toh sengsara sebentar tidak apa-apa sebab nantinya setelah selesai menjalani “hukuman” akhirnya akan masuk surga yang abadi. Itulah prinsip saya pada waktu itu, sebab saya sadar sering berbuat dosa.

Pak Guru yang mengajar saya di kelas satu SD juga sangat menekankan hal ini. Anak-anak tidak boleh berbuat dosa sebab hukumannya neraka. Kalau berbuat baik, nanti akan dapat ganjaran surga. Pak Guru saya ini jelas memilih berbuat baik. Kebetulan dia pintar sekali bercerita. Dia menggambarkan surga itu penuh dengan pohon apel dan siapa pun boleh memetik dan makan sepuasnya. Kami, anak-anak satu kelas ini tak ada seorang pun yang pernah makan apel. Bahkan melihat langsung sosok buahnya pun belum pernah. Itulah sebabnya begitu pak guru menyebut apel, bayangan kami adalah buah kepel (burahol) yang memang ada di halaman belakang pastoran di dekat sekolahan. Kami memang biasa mencuri kepel itu, hingga betapa menyenangkannya kalau di surga kepel itu bisa dipetik sepuasnya tanpa harus mencuri.

Namun, adik kandung Pak Guru itu justru dengan sangat santai mengutarakan niatnya untuk masuk neraka. Sebenarnya, dia mengatakan hal itu kepada ayah dan ibu saya, tapi saya sempat mendengarnya. Menurut dia, di surga itu tidak enak. Di sana oangnya suci-suci, alim-alim, tiap hari kerjanya berdoa melulu. Lagi pula, di sana ada Tuhan dan para malaikat yang akan senantiasa menjaga ketertiban. Adik Pak Guru itu lebih senang masuk neraka. Soalnya di neraka bisa ketemu bintang film cantik, pemabuk, penjudi, dan lain-lain. Suasananya, kata dia, pasti semarak dan bebas. Lagi pula, katanya, setan itu mudah disogok hingga panasnya api neraka bisa diatur agar jangan terlalu menyengat. Cukup asal hangat saja. Jadi lain halnya dengan surga yang dingin itu. Adik Pak Guru itu mengatakan bahwa karena surga itu letaknya di langit, jadi pasti dingin. Nenek saya waktu itu protes, makin dekat matahari kok dingin? Adik Pak Guru itu lalu memberi contoh, puncak gunung itu meskipun dekat matahari justru dingin, apalagi langit. Lain dengan neraka yang letaknya di perut bumi.

Mendengar cerita adik Pak Guru itu, saya merasa betapa beraninya dia berkata-kata seperti itu. Tapi mungkin saja dia itu hanya bercanda. Sebab saya tahu pasti, dia rajin sekali ke gereja, mengaku dosa, mendatangi orang sakit, menolong yang kesusahan, dan juga aktif di organisasi Gereja seperti kor, lingkungan dan lain-lain. Namun ternyata kemudian, banyak orang yang bersikap seperti dia, yakni lebih memilih neraka daripada surga. Bahkan ada seorang teman yang sangat ateis, anggota IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) yakni organisasi pelajar di bawah PKI, yang mengatakan bahwa neraka sekarang sudah dingin. Soalnya para insinyur Rusia (yang ateis) dan masuk neraka, sudah berhasil memasang mesin pendingin. Lelucon mengenai surga maupun neraka ini lalu makin banyak versinya. Ada yang saya dengar secara lisan, ada pula yang saya baca dari buku-buku dan majalah.

Namun, entah di kelas berapa (SD) saya mendapat informasi yang bagi saya sangat mengejutkan. Waktu itu ada orang meninggal dan saya ikut membantu menggali lubang makam di kuburan. Orang-orang yang menggali itu semuanya dewasa. Hanya ada dua anak yang ikut membantu di sana. Kedatangan saya pun sebenarnya hanya karena disuruh mengantar minuman dan makanan untuk para penggali itu, tapi kemudian kami pun ikut pula membantu menggali. Orang-orang itu mengatakan bahwa surga dan neraka itu bohong saja. Orang itu kalau sudah mati ya jadi tanah. Roh itu kalau orangnya sudah mati ya gentayangan jadi hantu. Waktu itu, saya agak shock mendengar cerita begitu. Akan tetapi, mengapa mereka itu rajin juga datang ke langgar (surau) untuk sholat? Menurut mereka, sholat itu wajib. Berbuat baik juga wajib. Tapi neraka dan surga seperti dijanjikan agama itu sebenarnya bohong. Waktu itu, saya protes keras. Mereka itu kan belum mati, kok bisa mengatakan bahwa neraka dan surga tidak ada? Jawaban mereka sederhana, katanya di antara mereka pernah ada yang mati (koma) dan ternyata tidak ada malaikat yang datang menjemput. Semua tampak gelap sampai kemudian dia hidup (sadar) kembali.

Cerita yang saya terima dari kuburan ini telah membuat konsep tentang surga dan neraka yang selama ini saya terima dari Bu Guru agama menjadi buyar dan berantakan. Namun demikian, saya tetap tidak berani protes kepada Bu Guru agama. Di sekolahan maupun di lingkungan Gereja, saya tetap berpura-pura menerima konsep yang sudah mereka ajarkan. Namun, ketika saya sudah menjadi guru SD pada usia 17 tahun, dan kepala sekolah saya mengajarkan konsep surga dunia dalam bentuk seks bebas, saya juga takut untuk menerimanya. Seks bebas, judi, dan minuman keras bagi saya jelas bukan surga. Teman-teman guru saya memang banyak yang tergoda melakukan skandal seksual yang akhirnya menjadi sesuatu yang menghebohkan. Memang tidak sampai terjadi pembunuhan, namun pihak-pihak yang terlibat tetap mendapatkan masalah di lingkungan keluarga, pekerjaan, maupun masyarakat. Judi dalam bentuk lotre waktu itu juga merajalela dan membuat masyarakat di lingkungan saya berantakan ekonominya.

Namun, ada hal yang lebih mengejutkn dari ajakan kepala sekolah saya itu. Di desa itu saya ketemu dengan orang (tokoh) yang mengamalkan ajaran surga dunia. Dia menjalankan praktek Mo-limo (lima M) yakni mencuri, main judi, main perempuan, minum minuman keras, dan madat (narkotika dalam hal ini mengisap candu). Dari lima M tadi, yang paling dia tekuni adalah main perempuan. Dia memang termasuk ahli merayu dan katanya punya ilmu pelet. Niatnya adalah memerawani 40 gadis. Semula saya anggap dia hanya bercanda, ternyata ini serius. Dugaan saya, dia sedang mengamalkan sisa-sisa ajaran Syiwa Budha. Orang-orang bilang dia menekuni ajaran setan. Terakhir saya mendengar dia tewas di tangan petugas keamanan.

Konsep surga dan neraka versi agama resmi, mungkin memang hanya ditujukan untuk khalayak ramai umat kebanyakan atau rakyat. Untuk kalangan yang lebih tinggi ilmunya ajarannya pasti lain. Namun saya justru melihat, rakyat yang paling bodoh pun sebenarnya tahu bahwa itu bohong. Saya sering mendengar ibu-ibu ngerumpi begini, bagaimana ya rasanya kalau kita mati? Apa seperti mimpi, apa lalu gelap begitu saja. Atau memang benar nanti ada malaikat atau setan yang akan menjemput? Ini sebuah pertanda bahwa rakyat yang paling bodoh pun sebenarnya meragukan konsep surga dan neraka versi agama resmi. Namun, tak seorang pun berani mengemukakan hal ini secara formal di sebuah forum karena takut melukai hati mereka yang masih percaya.

Saya sendiri semenjak peristiwa di kuburan itu, lalu ikut menolak konsep surga dan neraka versi agama resmi. Namun, saya tetap percaya bahwa perbuatan baik wajib dilakukan. Bukan untuk menerima imbalan surga tapi memang sudah seharusnya. Namun demikian, saya juga tidak terlalu bernafsu untuk membantah atau mencemooh konsep yang masih diyakini oleh banyak orang itu. Bukan karena saya takut berhadapan dengan massa tapi karena saya sangat menghagai keyakinan orang lain. Saya tidak mau membuat orang lain terganggu dengan keyakinan saya ini. ***

Sumber : Buku Menggugat Tuhan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: