Berhala Baru

17/09/2013 at 12:47 (artikel)

Menyembah berhala dikutuk dan dilarang oleh semua agama modern di dunia. Di Indonesia, hingga saat ini yang diakui eksistensinya oleh pemerintah hanyalah lima agama resmi, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha. Konsep religi maupun teologi di luar lima agama resmi itu dianggap cuma “kebudayaan”. Hingga penanganan dan pembinaannya pun pada masa Orba diserahkan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Status mereka hanyalah sebagai “warisan budaya” atau barang kesenian yang hanya pantas dikagumi di museum. Pemerintah dan lima agama besar itu memang bisa sangat efektif membunuh atau mengekang berhala purba. Namun di lain pihak, mereka sama sekali tak berdaya dalam menghadapi berhala-berhala baru, yang hadir di sekitar kita secara sangat konkret.

Padahal, berhala-berhala purba itu bisa jadi tidak “berdosa”. Penumpasan dan penindasan terhadap mereka, menurut hemat saya, hanyalah sekadar persaingan antar institusi dalam memperebutkan pengaruh dan pengikut. Beda halnya dengan berhala-berhala baru seperti rokok, narkotika, tempat perjudian, tempat pelacuran, dan lain-lain. Semua itu nyata-nyata merusak kehidupan manusia. Bahkan kadang-kadang berhala baru itu hadir dalam bentuk sederhana, misalnya pesawat TV itu hanya kita gunakan sekadarnya untuk mendapatkan informasi dan hiburan di waktu senggang, memang tidak jadi masalah. Namun, banyak orang yang kemudian menjadi “pemuja” bahkan “budak” televisi.

Yang saya maksud dengan “berhala baru” di sini adalah apabila seseorang memuja, memperhatikan, meluangkan waktu secara berlebihan terhadap suatu objek. Objek berhala baru itu bisa berupa televisi, perkutut, mobil balap, dan lain-lain. Lalu, apa bedanya “berhala baru” ini dengan hobi atau profesi? Hobi atau profesi mengandung unsur aktivitas. Orang yang berhobi memancing atau berprofesi naik kuda misalnya dituntut untuk aktif dan mempunyai target berupa sebuah prestasi tertentu. Pemujaan terhadap “berhala” baru ini tidak mengandung unsur aktivitas maupun target tertentu. Yang ada hanya sebuah “penyerahan total” dan pemujaan.

“Ciri khas sebuah penyerahan diri secara total terhadap sesuatu yang dipuja adalah hilangnya sifat kritis dan objektif. Kalau ada seorang figur “bintang” yang dipuja masyarakat melakukan tindak pidana, masyarakat yang memujanya tetap akan mengagumi dan membelanya. Sifat objektif itu sudah hilang. Ini memang sebuah ciri budaya massal. Agama-agama besar di dunia pun, sebenarnya telah menggunakan “metode” perekrutan untuk melakukan pemujaan dan penyerahan diri secara formal.

Lalu bagaimana halnya dengan seorang Katolik yang gila perkutut misalnya? Saya yakin kekatolikannya sebenarnya hanya sebuah formalitas. Sekadar menjadi Katolik karena dituntut oleh pemerintah untuk beragama. Juga supaya mudah kalau mau menikah dan tidak repot menguburnya kalau mati. Ini semua bisa terjadi karena seluruh dirinya telah diserahkan secara total pada perkutut. Apabila pemujaan terhadap berhala batu ini sudah kronis, maka bukan hanya agama yang akan dia tinggalkan, namun juga keluarga dan pekerjaannya.

Saya melihat, semakin lama jumlah berhala baru ini semakin banyak. Pemerintah maupun agama-agama besar di dunia tidak pernah memperdulikannya. Dugaan saya ketidakpedulian pemerintah maupun agama-agama besar terhadap berhala baru ini adalah karena fenomena itu toh tidak pernah mengusik ketenangan institusi mereka. Beda halnya dengan berhala-berhala lama yang dibantai habis karena dikhawatirkan potensial menjadi pesaing institusi agama-agama modern maupun pemerintah.

Jadilah kemudian hubungan individu dengan institusi keagamaan hanya sebatas formalitas, untuk menikah, mengubur, dan lain-lain. Akibatnya, kebutuhan manusia untuk hal-hal yang bersifat rohaniah menjadi terbengkalai. Celah ini telah membuka peluang hadirnya kelompok-kelompok sempalan yang militan semacam Children of God dan lain-lain. Ini sebenarnya juga merupakan penyembahan terhadap berhala baru, berupa figur yang dominan yang menjadi penggerak sempalan tadi. Fenomena ini secara langsung mengancam eksistensi lembaga keagamaan formal. Itulah sebabnya apabila kelompok ini menguat, institusi keagamaan maupun pemerintah segera “menertibkannya”.

Berhala baru ini, apa pun sosoknya, semakin hari semakin bertambah dan memuas pemujanya. Penyebarluasan berhala baru ini dilakukan secara intensif dan terencana berkat dukungan industri dan sarana komunikasi yang canggih. Dukungan itu terutama datang dari industri elektronik, seperti pabrik televisi, video kaset, laser disc, dan lain-lain. Penyebarluasan berhala baru ini juga dipermudah dengan adanya arus globalisasi berkat sarana transportasi dan komunikasi yang sudah dapat “menyatukan” dunia. Muncullah kemudian figur dewa-dewa baru, seperti juara dunia tinju kelas berat, maha bintang politikus kenamaan, pengusaha karya, dan lain-lain yang seluruh sepak terjangnya diikuti dengan intensif dan saksama oleh para pemujanya lewat media massa.

Perkembangan kuantitas maupun kualitas berhala modern ini tampaknya sama sekali tidak mendapatkan reaksi dari institusi keagamaan. Berbeda dengan reaksi institusi keagamaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di abad pertengahan. Dugaan saya, institusi keagamaan dewasa ini sudah terlalu “mapan” hingga reaksi berlebihan terhadap berhala modern justru akan mengusik kemapanan mereka. Institusi keagamaan, khususnya Gereja Katolik lalu menjadi mirip dengan seorang tua yang kaya raya dan mempunyai keluarga besar. Gerak Gereja Katolik dalam menghadapi berhala baru menjadi lamban. Bahkan terkesan bersikap cuek.

Reaksi berlebihan berupa penolakan seperti telah dilakukan oleh institusi Gereja abad pertengahan terhadap ilmu pengetahuan, memang tidak kita harapkan. Namun menutup mata terhadap sebuah gejala yang negatif, menunjukkan bahwa institusi itu sudah semakin loyo. Celakanya, reaksi-reaksi keras terhadap bermunculannya berhala baru ini justru datang dari kelompok-kelompok militan yang radikal. Kalau keadaan ini dibiarkan, lambat laun yang akan mendapatkan tempat di  masyarakat justru ajaran-ajaran moral yang disebarluaskan oleh kelompok-kelompok militan dan radikal itu.

Apabila institusi keagamaan formal tidak mampu mengakomodasi perkembangan ini, maka desakan itu akan datang dari dua arah. Pertama, dari berhala-berhala modern yang tumbuh sangat pesat dan menguasai masyarakat. Yang kedua, rongrongan itu datang dari dalam institusi itu sendiri, berupa radikalisme.

Agama, bagaimanapun punya sisi sebagai budaya massal. Dalam budaya massa diperlukan unsur-unsur dramatis unsur-unsur spektakuler dan dibutuhkan pula figur-figur yang populer. Tanpa itu semua, agama formal yang selama ini ada akan terdesak minggir, sebab unsur-unsur yang dibutuhkan masyarakat itu justru dapat dipenuhi dengan mudah oleh “berhala-berhala” baru tadi. Lebih-lebih karena unsur-unsur dramatis dan spektakuler berhala modern itu ditunjang penyebarluasannya oleh media masa. Ini yang saya lihat belum banyak dilakukan oleh institusi agama formal. ***

Pernah dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

1 Komentar

  1. joheun chingu said,

    Memang memprihatinkan namun Allah tidak membutuhkan figur-figur manusia jika hanya ditujukan untuk memurnikan organisasi keagamaan. Karena seluruh organisasi keagamaan yang tidak perduli terhadap kebenaran akan segera dibinasakan secara serentak dan telah dinubuatkan di dalam tulisan-tulisan kudus.

    Meski pertanggung jawaban kepada Allah masing-masing, namun organisasi agama memiliki peranan dan tanggung jawab penting sebagai sarana yang dianggap sebagai wakil bagi Allah.

    Maka organisasi agama yang tidak perduli tersebut dapat dikatakan organisasi agama yang bukan menyembah Allah yang benar. Namun menyembah Ilah dunia ini.

    Dan ciri agama yang benar-benar melayani Allah tidak dapat dipalsukan yaitu organisasi agama yang mengajarkan bahkan mewajibkan umatnya untuk memberitakan kabar baik dan peringatan kepada orang-orang disekitar tinggalnya agar saat Penghukuman Allah datang nanti tidak akan ada yang dapat berdalih. (QS. 26:208,209; Matius 24:14)

    Pasti organisasi agama tersebut akan sangat perduli terhadap permasalahan penyembahan berhala yang lama maupun yang baru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: