Menaklukkan Diri Sendiri

17/09/2013 at 13:30 (artikel)

Sewaktu kecil saya sering mendengar ada seorang Pak De yang berpuasa Senen-Kemis, mutih, atau “ngebleng”. Menurut Pak De, puasa penting untuk menahan hawa nafsu, untuk menaklukkan diri sendiri. Perang menaklukkan orang lain itu mudah. Menaklukkan diri sendiri, itu yang susah. Karena Pak De ini pintar sekali ngomong soal puasa, saya pun terpikat. Lebih-lebih setelah teman sebaya saya ada yang mulai belajar puasa mutih. Saya pun lalu bilang pada nenek saya untuk berpuasa. Di luar dugaan, nenek saya melarang. Dia mengatakan bahwa saya tidak perlu berpuasa karena sudah sering menderita lapar akibat tidak ada makanan.

Nenek lalu melanjutkan omelannya. Orang berpuasa, bagaimanapun tetap lebih enak daripada orang kelaparan, karena orang berpuasa itu sebenarnya punya makanan. Sedangkan orang kelaparan tidak punya makanan. Bagaimanapun orang yang punya makanan lebih enak daripada yang tidak punya makanan. Meskipun saya tidak setuju dan tidak begitu mengerti dengan omelan nenek, dalam hati senang juga karena tidak perlu puasa.

Setelah menginjak usia remaja, saya pun mulai bertanya-tanya. Untuk apa sebenarnya orang berpuasa, bahkan ada yang sampai bertapa. Ada yang menjawab supaya sakti. Ada yang mengatakan supaya tidak bisa mati. Artinya, setelah tua langsung masuk surga. Ada pula yang bilang untuk mengendalikan hawa nafsu, menahan hawa nafsu. Bahkan ada yang mengulangi omongan Pak De, yakni untuk berperang melawan diri sendiri, untuk menaklukkan diri sendiri.

Lalu saya pun mengenal ada bertapa ngidang, yakni masuk ke dalam hutan dan berbuat seperti kijang. Artinya, hanya boleh makan daun-daunan yang langsung dicaplok dengan mulut. Ada lagi bertapa “kungkum”. Artinya, bermalam-malam merendam diri di sebuah lubuk. Saya menganggap ini semua berlebihan, sebab mereka mau melakukan hal yang aneh-aneh itu demi sebuah target, mungkin supaya sakti, awet muda, jadi kaya, dan lain-lain.

Berpuasa, bertapa, menyiksa, dan menyakiti diri sendiri, pada titik tertentu akhirnya sama saja dengan menuruti nafsu itu. Kalau segala perbuatan itu dilakukan demi sebuah target, maka upaya untuk mencapai target itu bisa menjadi nafsu tersendiri. Bahkan kalau segala perbuatan itu dilakukan sekadar untuk menaklukkan diri sendiri pun, hal ini perlu dipertanyakan. Mengapa diri sendiri itu perlu ditaklukkan? Diri yang mana?

Kalau jawabannya adalah “diri” yang berupa “hawa nafsu”, maka saya hanya setuju kalau hal itu cukup dikendalikan dan bukan dikalahkan. Kalau nafsu itu dikalahkan, maka kemungkinan yang akan timbul adalah suatu ketika nafsu itu akan bangkit lagi dengan kekuatan yang lebih besar lalu ganti mengalahkan kita. Namun kalau nafsu yang dikalahkan itu kemudian benar-benar “mati”, maka kelangsungan kehidupan akan jadi terancam, sebab nafsu itu, bagaimanapun sangat diperlukan dalam rangka mempertahankan kehidupan.

Dalam ajaran Katolik, ada juga kewajiban untuk berpuasa. Menjelang Hari Raya Paskah (Hari kebangkitan Yesus), umat Katolik harus mengurangi makan dan tiap hari Jumat “pantang” makan daging. Itulah yang selalu ditekankan oleh bruder yang mengajar agama. Pada suatu hari Jumat, kebetulan nenek saya mendapat kiriman “berkat”. Berkat adalah nasi dan lauk-pauknya yang disajikan pada waktu ada kenduri. Karena nenek saya itu seorang janda, dia tidak diundang kenduri, tapi dikirimi nasi “berkat”. Dalam nasi itu ada potongan atau lebih tepat disebut “serpihan” daging ayam. Disebut serpihan sebab seekor ayam ukuran sedang itu, harus dibagi ke puluhan orang.

Ketika saya mengatakan pada nenek bahwa saya sedang pantang daging, si nenek marah. Ayo dimakan, katanya memerintah. Sebab belum tentu sebulan sekali saya bakal ketemu daging. Mungkin agama Katolik memang diciptakan untuk orang-orang kaya. Minimal untuk orang Timur Tengah dan Eropa yang menu utamanya memang daging. Tapi untuk saya? Mungkin nenek saya betul. Puasa bagi saya mungkin justru harus berupa makan kenyang. Soalnya sehari-hari saya selalu kelaparan dan kurang gizi. Kalau sehari-hari, sepanjang tahun, sudah kelaparan dan kurang gizi, lalu untuk apa anjuran puasa dan pantang segala macam itu? Mungkin agama Katolik memang dibuat khusus untuk orang-orang yang minimal tidak pernah kelaparan.

Tapi, bukankah Yesus adalah orang miskin, anak tukang kayu di sebuah desa kecil? Toh dia juga disebut-sebut dalam Injil berpuasa 40 hari 40 malam, digoda setan dan tetap tahan? Dan bukankah semua agama mengajarkan puasa? Bahkan agama Budha menekankan ajaran vegetarian? Bahkan, ajaran puasa yang paling berat justru terdapat dalam paham kejawen yang diduga masih merupakan kelanjutan dari paham animisme purba? Mungkin justru kemiskinan itu sendiri yang salah. Mungkin, manusia sebenarnya tidak boleh miskin, tidak boleh kelaparan, supaya dapat berpuasa dan berpantang, supaya dapat mengendalikan nafsu yang jahat itu.

Larangan berpuasa dari nenek saya itu pada suatu hari saya langgar. Saya memutuskan untuk tidak makan apa-apa dan hanya minum air putih. Saya kuat bertahan sampai tiga hari. Niat saya ingin melanjutkan sampai tujuh hari agar dapat melihat setan. Namun di hari keempat, entah dapat duit dari mana, nenek saya berbelanja dan masak yang enak-enak. Dia pun membujuk saya untuk berhenti puasa dan makan. Saya mengalah.

Menaklukkan diri sendiri ternyata memang tidak perlu. Menaklukkan diri sendiri sebenarnya sama jeleknya dengan menuruti kemauan diri sendiri. Yang benar adalah kita harus selalu tepat menentukan, kapan harus menuruti kata hati, dan kapan harus menolaknya. Ini ternyata jauh lebih sulit dilakukan daripada sekadar menahan lapar dan haus. Menahan lapar dan haus, mungkin merupakan sesuatu yang berat bagi orang yang sehari-hari biasa makan kenyang. Kalau puasa ini sukses, katarsis pun akan datang, ibarat sebuah orgasme rohani. Namun bagi orang yang sehari-hari lapar dan kurang gizi, makan kenyang dengan gizi baik adalah sebuah dambaan. Sesuatu yang sulit untuk dicapai. Kalau upaya makan kenyang ini tercapai, ketika tumpukan jagung menggunung di lantai, ketika batang-batang singkong tegak di kebun dan siap dicabut, katarsis itu muncul. Rasa cemas dan was-was itu hilang.

Menaklukkan diri sendiri, melawan hawa nafsu dengan niat besar untuk memenangkannya, pada akhirnya juga akan menjadi hawa nafsu itu sendiri. Lebih-lebih kalau niat untuk menaklukkan diri sendiri itu disertai dengan sebuah target. Misalnya untuk mendapatkan kesaktian, untuk dapat berhubungan dengan roh, dan untuk tujuan-tujuan lain. Upaya itu lalu menjadi sama saja dengan upaya olahragawan atau ilmuwan yang mengejar prestasi. Sama pula dengan upaya pedagang yang mendambakan keuntungan berlipat ganda. Lebih-lebih kalau aturan untuk menaklukkan diri sendiri itu menjadi seragam dan baku, misalnya seperti yang diajarkan oleh agama-agama besar. Betapa lucunya kalau saya, seorang anak desa yang miskin dan kurang gizi lalu diminta berpantang makan daging atau apa pun, sebab belum tentu sehari-hari bisa memakan sesuatu. ***

Pernah dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

1 Komentar

  1. Larno Ndeso said,

    analisanya sekilas benar boss, tapi manfaat dan esensi puasa hanyalah orang yg telah terbebas dari tekanan nafsu yang mampu melihat hakikatnya….Yang pasti manfaatnya sangat besar buat jiwa kita.
    Semoga suatu saat Anda difahamkan apa perlunya puasa buat manusia.

    salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: