Nasib, Takdir, dan Kematian

17/09/2013 at 13:34 (artikel)

Nenek teman saya sudah lama sakit. Sudah dicarikan dukun, tetapi itu tidak juga sembuh. Waktu itu yang sering pergi ke dukun adalah ibu saya. Setiap kali datang ke dukun itu, obatnya selalu sama, disuruh makan daging anak itik. Setiap kali saya bilang dukun itu aneh, ibu saya selalu marah. Bu Jono itu bukan dukun. Dia itu prewangan. Prewangan artinya medium. Dia akan intrance, lalu suaranya berubah lantaran kemasukan roh. Selain diobati oleh dukun, nenek teman saya itu juga disuntik dan diberi pil. Soalnya, ayah teman saya itu bekerja di rumah sakit. Akhirnya, nenek teman saya itu meninggal. Pada waktu itu, saya disuruh mengabari sanak famili. Kalau sehari-hari saya pakai celana pendek, khusus untuk mendatangi sanak famili ini harus pakai kain sarung.

Selang beberapa hari setelah nenek teman saya ini meninggal, sore-sore saya tertidur karena capek. Saya tidur di balai-balai bambu kecil beralaskan tikar. Pada malam hari, tiba-tiba ada yang membangunkan diri saya. Pipi saya disentuh oleh tangan yang dingin sekali. Ketika saya membuka mata tampaklah sosok nenek teman saya. Saya langsung menelungkupkan muka saya ke tikar dan menutupnya dengan bantal. Saya takut sekali. Itu pasti arwah nenek teman saya. Soalnya kata orang-orang, roh orang meninggal itu sebelum 40 hari akan bergentayangan terutama di sekitar rumahnya. Rumah nenek saya dan nenek teman saya, kebetulan berhadap-hadapan.

Karena takut, jantung saya berdegup keras. Napas saya memburu. Saya tetap membenamkan muka di bawah bantal. Namun tak lama kemudian terdengar suara nenek saya. “Orang belum makan, dibangunkan kok malah tutupan bantal”. Saya tahu pasti, itu suara nenek saya. Bantal pun saya buka. Memang benar. Di dekat meja, kena  sorot lampu sentir (lampu minyak kecil) tampak sosok nenek saya. Dia mengenakan baju nenek teman saya. Ternyata yang menyentuh pipi saya tadi dia. Tangannya dingin karena habis mencuci piring. Dia memang mengenakan baju nenek teman saya. Karena setelah meninggal, semua baju, selendang, kain, dan lain-lain miliknya segera dibagi-bagi. Nenek saya dapat jatah kain dan baju. Ketika ketakutan saya ini saya kemukakan, nenek saya tertawa. Orang mati itu sudah tidak bisa lagi menakut-nakuti orang hidup. Orang mati itu rohnya sudah diambil oleh yang memberi hidup. Begitu kata nenek saya. Kematian itu takdir.

Penjelasan nenek saya itu tidak dapat saya terima. Bagi saya, kematian bukan melulu takdir. Menurut ibu saya, nenek teman saya itu sakit-sakitan lantaran memikirkan anak bungsunya yang hilang pada zaman Jepang. Katanya, nenek teman saya itu sering kedapatan menangis sendirian. Dia yakin anak bungsunya itu sudah meninggal dan dia ingin menyusulnya. Jadi, menurut ibu saya, nenek teman saya itu meninggalnya memang karena keinginannya sendiri.

Setelah menginjak dewasa, saya memang sering mendengar ihwal kelahiran atau kematian yang disebut sebagai takdir. Kemudian keberuntungan atau kesengsaraan dinamakan nasib. Semua itu berada di tangan Tuhan. Saya tidak percaya. Orang-orang bilang, kalau memang derajat kere mau diapakan pun ya tetap saja kere. Ayah saya pun sering bilang begitu. Kalau Tuhan belum menghendaki, meskipun jatuh dari pohon kelapa, ya tetap saja hidup. Saya tidak setuju. Memanjat pohon kelapa ya harus hati-hati. Kalau pohon itu licin karena habis hujan, ya jangan dipanjat. Kalau badan lagi kurang sehat ya jangan melakukan pekerjaan yang berbahaya. Melempar nasib dan takdir kepada kehendak Tuhan adalah sikap tidak bertanggung jawab.

Ketika adik ipar kakak saya meninggal tertabrak mobil, orang-orang pun bilang itu sudah takdir. Saya mengatakan itu sebuah kelalaian dan kekurang hati-hatian. Ketika ayah mertua kakak saya juga meninggal dalam kecelakaan lalu lintas, orang-orang juga bilang itu sudah suratan nasib. Kembali saya mengatakan bahwa itu bagian dari mental masyarakat kita yang tidak mau tertib berlalu lintas di jalan raya. Sebaliknya ketika orang-orang mengatakan bahwa nenek saya yang meninggal dalam usia yang sangat lanjut (lebih 90 tahun) dan menyebut-nyebut bahwa itu lantaran rahmat Tuhan, maka saya mengatakan bahwa itu berkat sikap hidup dan upaya si nenek agar panjang umur.

Saya memang percaya adanya nasib dan takdir, tapi tidak senaif yang diajarkan oleh masyarakat. Kelahiran, misalnya, adalah takdir yang katanya tidak mungkin ditolak. Saya lahir sebagai anak seorang penjahit miskin di kota kecil Ambarawa, katanya tidak bisa saya tolak. Tahu-tahu sudah begitu. Coba disuruh memilih, mungkin saya memilih lahir sebagai anak Ratu Elizabeth di Inggris sana. Itu kata orang banyak yang sangat tidak saya setujui. Kelahiran bukan takdir yang tidak bisa ditolak.

Kalau saya kecewa lahir sebagai orang Jawa, bisa saja saya pindah ke Amerika dan menjadi orang Amerika. Ada teman saya yang meskipun Jawa, cara berpikir dan berperilaku sudah seratus persen Amerika. Kalaupun saya juga kecewa karena berkulit sawo matang, berhidung pesek dan berambut hitam, semua toh bisa saya ubah. Bisa saja kulit ini dilumuri jelaga biar hitam atau bedak tebal biar putih. Hidung dan bibir bisa dioperasi, mata bisa pakai lensa kontak. Rambut mudah disemir. Kalau semua itu tetap mengecewakan, saya tetap bisa menolak kelahiran ini dengan cara bunuh diri pada usia anak-anak. Tuhan tidak pernah melarang itu semua.

Kalau orang bisa menentukan kapan dia mati, sekarang, besok, lusa, atau minggu depan dengan cara bunuh diri, maka sebenarnya dia pun bisa menentukan, misalnya, akan mati pada umur di atas 90 tahun lantaran “tua”. Nenek saya, sewaktu masih muda selalu bilang, baru mau mati kalau cucunya yang paling kecil (anak dia satu, cucu empat) sudah bekerja dan berumah tangga. Benar. Dia meninggal setelah adik saya yang terkecil bekerja, menikah, dan punya anak. Dia juga mengatakan tidak mau meninggal dengan cara sakit berkepanjangan atau menjadi jompo. Benar, dia tetap gagah dan sehat dan hanya sakit beberapa hari sebelum meninggal.

Mungkin akibat pengaruh agama-agama besar di dunia masyarakat selalu mendewa-dewakan nasib dan takdir. Begitu ada situasi yang tak terjangkau oleh akal sehatnya, langsung saja disebut takdir atau nasib. Penyakit yang mematikan, rumah tangga atau karir yang berantakan, bencana alam, semua disebut sebagai nasib dan takdir. Padahal, penyakit kanker yang tak terobati, misalnya, tetap bisa kita cegah kedatangannya dengan cara hidup sehat, menjaga lingkungan dengan baik, dan mengatur makanan dengan baik sesuai dengan kehendak alam. Kalau ini semua dilanggar, kanker mungkin akan datang. Penyakit AIDS misalnya, jelas akan terhindarkan kalau kita menjaga perilaku seks dan bersikap hati-hati dan disiplin. Untuk menjaga agar tidak mati konyol ditransfusi dengan darah penderita AIDS, kita bisa mendapatkan darah dari orang yang nyata-nyata belum tertular AIDS.

Bencana alam seperti gunung meletus dan gempa juga bukan sebuah takdir ilahi yang harus membunuh ribuan orang. Abad modern sudah punya “indera” baru berupa teknologi untuk membuat peta kawasan gempa maupun alat untuk memonitor perangai gunung api. Kalau mau, kita bisa menghindarinya dengan membuat rumah tahan gempa atau pindah ke lokasi lain. Di zaman purba, saat teknologi canggih belum ada, Tuhan menyodorkan banyak tanda alam. Kalau mau ada gempa dan gunung meletus, satwa semacam semut, macan, babi hutan, dan lain-lain berbondong-bondong keluar sarang dan mengungsi. Kalau sampai terjadi malapetaka yang membunuh banyak orang, yang salah ya manusia itu sendiri dan bukan Tuhan. Paling idak “manusia” secara kolektif.

Tuhan sebagai sebuah atau sesuatu atau zat yag tak terjangkau oleh pikiran manusia, memberikan “kebebasan mutlak” pada makhluk ciptaannya itu. Nasib dan takdir adalah istilah ciptaan manusia sendiri untuk mengelakkan tanggung jawab. Untuk menimpakan tanggung jawab itu ke luar dari mereka sendiri. Dalam praktek kehidupan sehari-hari, sikap demikian terasa sangat menjengkelkan, karena tanggung jawab atau kesalahan lalu selalu harus ditimpakan ke pihak lain, ke orang lain. Padahal, pangkal dari ketidakberesan itu sebenarnya ada di tangan manusia atau individu itu sendiri.

Kalau yang dituduh menjadi “kambing hitam” suatu keadaan atau kejadian adalah “orang lain” mungkin masih masuk akal. Akan tetapi, agama-agama formal justru mengajarkan bahwa “kambing hitam” yang paling sering bikin ulah mengotak-atik nasib dan takdir manusia adalah Tuhan. Dalam hati saya berkata, sungguh tidak rela kalau zat yang mahatinggi itu, sang pencipta, sesuatu yang tak terjangkau akal manusia itu, lalu dikait-kaitkan dengan kejadian, suasana, atau ketidakberesan dunia yang remeh-remeh, yang sepele, yang semuanya sebenarnya merupakan tanggung jawab manusia sendiri. Pemeo rejeki, jodoh, dan kematian ada di tangan Tuhan secara tersamar sebenarnya telah melecehkan Tuhan. Sebutan manusia boleh berusaha tapi Tuhan akan menentukan harus diubah. Manusia harus berusaha sebaik mungkin. Kalau gagal, berarti usaha itu belum maksimal atau usaha itu keliru dan untuk menutupi kekecewaan seyogianya Tuhan tak usah dibawa-bawa.***

Pernah dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

3 Komentar

  1. diena said,

    masuk akal pak,dan terima kasih tulisannya

  2. Zee said,

    Lalu wktu suami sy meninggal di kmr mandi itu slh sya

  3. bulumunyuk said,

    lha njenengan kok dadi sastrawan, kenapa ra milih dadi pengusaha sukses utawa panguwasa sing adil lan disayangi rakyate …?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: