Akulah Tuhan

25/09/2013 at 15:27 (artikel)

Ada seorang tokoh di kampung saya yang sangat disegani oleh warga masyarakat. Dia seorang Kepala Resor Polisi Hutan. Orang-orang menyebutnya dengan panggilan Pak Mantri Hutan. Dia berdinas di dukuh Gempol di lereng utara gunung Ungaran. Menjelang dia pensiun, selama dua bulan saya tinggal menumpang di rumah dinasnya itu, karena tempat mengajar saya di lingkungan kebun teh yang berdekatan dengan rumah dinasnya. Waktu itu, umur saya 17 tahun dan hubungan saya dengannya dekat sekali. Saya dianggapnya  sebagai keluarga sendiri. Saya memanggilnya dengan sebutan Pak De.  Ketika dia tahu saya sering naik turun gunung dan masuk hutan sendirian, dia lalu bertanya, apa sebenarnya yang saya cari. Saya berbohong dan mengatakan mencari rotan, mengambil kayu nagasari dan lain-lain. Tampaknya Pak De itu tahu kalau saya berbohong.

Pada suatu hari saya dipanggilnya. Dengan nada yang sangat serius, dia menanyakan, apakah benar saya sedang mencari “sesuatu”. Dia mengatakan kalau saya memang sedang mencari “kesejatian hidup”. Itu tidak terlalu sulit. Dia akan menunjukkan jalannya. Kesejatihan hidup adalah Tuhan. Dialah sangkan paraning dumadi. Asal-usul dan tujuan hidup. Terakhir, yang membuat saya kaget, dia mengatakan, Tuhan adalah kita-kita ini juga. Aku ini Tuhan, kamu itu juga Tuhan, tambahnya. Mula-mula saya menduga Pak De ini sedang bercanda. Namun dugaan saya ini kemudian saya bantah sendiri sebab setahu saya, selama ini dia selalu seius, bahkan sangat serius.

Beberapa hari kemudian, dia mengatakan bahwa mencari apapun, harta, tahta, wanita, ilmu bahkan juga Tuhan, tidak perlu jauh-jauh ke mana-mana. Cukup kita mencari ke dalam diri kita sendiri. Kalau kita mau bekerja, rezeki itu akan datang dengan sendirinya. Kalau kita mau belajar, kepandaian itu akan kita peroleh. Demikian pula dengan jodoh, bahkan Tuhan. Ketika kemudian saya meminta semacam resep atau kunci sukses untuk mencari semua itu, Pak De hanya tertawa. Kunci sukses semacam itu tidak pernah ada. Itu semua, katanya sudah ada tetapi harus saya cari dalam hati saya sendiri. Dia lalu mengajari saya cara bermeditasi, mengatur napas, dan mengosongkan pikiran.

Kebetulan lingkungan di dukuh Gempol itu sangat ideal untuk merenung, bermeditasi, mengatur napas dan mengolah pikiran. Rumah dinas “kemantren” itu berada di sisi utara dukuh Gempol, menghadap ke barat ke arah sawah dan jalan desa. Di tengah sawah itu, lintas jalan aspal menuju ke perkebunan teh Medini. Dukuh Gempol sendiri terletak di pinggiran hutan dan sekaligus pinggiran kebun teh di lereng gunung Ungaran. Nun di bawah sana, ada sawah dinas yang bertrap-trap yang dibelah parit dengan airnya yang sangat jernih. Di samping rumah ada jajaran pohon-pohon pinus. Dan jauh di utara sana tampak kota Semarang dan laut Jawa. Di bawah pohon-pohon itulah, saya belajar mengolah napas dan mengosongkan pikiran.

Setelah lama hal itu saya lakukan, mulailah saya sadar bahwa dalam agama Katolik dan Islam ada pula upaya untuk mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan dengan cara seperti ini. Di kampung saya, kalau ada kenduri kematian dan orang-orang membaca Tahlil, kepalanya sampai goyang-goyang. Mata mereka terpejam, irama suara mereka ritmis. Ada suasana khusyuk yang amat dalam yang dapat saya rasakan. Demikian pula halnya kalau umat Katolik membaca litani novena atau doa rosario. Pembacaan doa yang teratur dan diulang-ulang itu secara otomatis membuat napas kita jadi teratur. Pikiran pun jadi terkonsentrasi pada Tuhan atau Perawan Maria atau orang kudus lainnya. Namun dulu, sewaktu kanak-kanak, kami selalu bosan dengan doa-doa semacam ini. Ada yang kemudian mengantuk. Ada pula yang iseng dan menggoda teman-temannya. Pikiran kami waktu itu hanya terkonsentrasi pada pertanyaan, mengapa doa ini diulang-ulang hingga tak kunjung selesai? Kami sama sekali tidak tahu bahwa doa itu diulang-ulang dalam rangka  mengkonsentrasikan pikiran pada Tuhan.

Setelah secara rutin mengikuti ajaran Pak De ini, saya mulai dapat merasakan manfaatnya. Begitu olah napas ini sudah dapat berjalan kurang 10 menit, terasalah adanya sebuah aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Saya lalu berniat melakukan hal ini secara lebih intens lagi. Di luar dugaan Pak De itu justru melarangnya. Olah napas dan olah pikiran itu dilakukan secukupnya saja, katanya. Kecuali kalau mau menjadi semacam wali. Sebab olah napas dan olah pikiran menjadi semacam wah. Sebab olah napas dan olah pikiran itu, katanya seperti olahraga biasa. Kalau hanya untuk kesehatan, ya cukup dilakukan seperlunya saja. Kecuali kalau mau jadi juara nasional. Iseng-iseng lalu saya tanyakan pada Pak De, bagaimana kalau hal ini dilakukan secara intensif. Katanya, akan ada dua kemungkinan. Saya bisa menjadi semacam wali, bisa juga menjadi gendeng.

Pak De itu lalu memberi contoh. Orang yang bisa menyatukan diri dengan Tuhan, biasanya lalu bersikap acuh-tak-acuh terhadap lingkungannya. Kalau sikap masa bodohnya ini masih bisa ditolerir oleh lingkungannya, memang tidak menjadi masalah. Kalau masa bodohnya sudah dalam tahap yang tidak bisa ditolerir oleh masyarakat, dia pun akan dicap sebagai orang gila. Anjuran Pak De ini dapat saya mengerti. Olah batin seperti ini kalau dilakukan secara intens dan mencapai tahapan tertentu, dapat mendatangkan katarsis berupa kenikmatan yang luar biasa. Dalam olahraga dan seni, pencapaian tahap seperti ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas karena bisa dinikmati sebagai tontonan. Dalam olah batin, yang bisa menikmati hanya diri kita sendiri. Kecuali, kemampuan tersebut kemudian diarahkan untuk upaya penyembuhan penyakit misalnya. Di masyarakat, orang-orang semacam ini disebut sebagai dukun, orang pintar, orang tua, dan lain-lain.

Bisa juga kemampuan tadi lalu dikembangkan untuk diajarkan ke masyarakat banyak. Namun, untuk keperluan semacam ini diperlukan sebuah institusi. Bisa merupakan institusi keagamaan yang sudah ada, namun bisa pula membentuk institusi baru. Institusi baru itu bisa berupa aliran-aliran kebatinan, paguyuban-paguyuban atau merupakan sekte sempalan dari agama besar. Kalau seseorang mendalami olah batin ini secara intens dan berhasil mencapai tahap puncak, namun hanya memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri, biasanya dia lalu akan bersikap masa bodoh terhadap lingkungan sekitar. Lalu, masyarakat pun akan mencapnya sebagai orang yang tidak waras.

Iseng-iseng pernah saya tanyakan pada Pak De itu, apakah dia sudah berhasil menyatu dengan Tuhan? Jawabnya enteng saja : sudah! Dia pun lalu menyambung bahwa saya sebenarnya juga sudah lama dapat menemukan Tuhan itu dalam hati saya sendiri. Namun, menyatu dengan Tuhan tidak perlu dilakukan terus-menerus selama 24 jam sepanjang hidup. Orang tetap perlu makan, tidur, mandi, bekerja untuk mencari nafkah, membantu sesamanya dan melakukan macam-macam aktivitas lainnya. Menyatu dengan Tuhan itu dapat kita lakukan sehari lima kali, setiap kali 10 menit misalnya. Bisa sehari sekali selama 30 menit. Bisa seminggu sekali, sebulan sekali, setahun sekali tidak menjadi soal. Saya lalu menanyakan apakah agama Pak De itu. Secara formal di KTP agamanya Islam. Akan tetapi, dia menganut paham kejawen. Hanya saja dia tidak mengikuti aliran-aliran yang ada. Misalnya Subub (Susila Budi Dharma). Pangestu (Paguyuban Ngesti Tunggal), Paguyuban Sumarah, dan lain-lain. Dia memang pernah mempelajarinya tetapi tidak mengikuti aliran-aliran itu secara serius.

Ternyata, konsep-konsep tentang Tuhan yang pernah saya terima dalam komunitas Gereja Katolik memang tidak salah. Konsep itu pasti sangat berguna untuk mereka yang membiarkan pikirannya mengembara ke arah kemungkinan-kemungkinan baru. Namun bagi yang berniat melakukan perambahan-perambahan pikiran pun, konsep ketuhanan dalam komunitas Gereja Katolik itu tetap dapat dijadikan sebagai landasan berpijak. Paling tidak, dapat dimanfaatkan untuk langkah awal dalam persiapan melakukan pengembaraan spiritual. Mungkin salah saya adalah, sejak dini telah berkenalan dengan konsep-konsep Tuhan dalam animisme purba itu saya terima secara alamiah dan wajar, maka konsep-konsep ajaran Gereja itu saya dapatkan dalam suasana formal di lingkungan sekolah dan Gereja. Inilah antara lain yang membuat saya menjadi terlalu sulit untuk menerima konsep-konsep religi dalam ajaran Gereja Katolik. Padahal, dalam lingkungan Gereja Katolik pun ternyata banyak sekali tarekat-tarekat (ordo-ordo) biarawan  maupun biarawati, yang secara intens berupaya menyatukan diri mereka dengan Tuhan. Kegiatan sehari-hari mereka lebih banyak didominasi oleh kegiatan spiritual berupa doa maupun meditasi. Namun  di sela-sela kegiatan itu mereka masih tetap melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari seperti berkebun, beternak dan memproduksi barang-barang kebutuhan sehari-hari. Di pertapaan Rawaseneng. Temanggung misalnya, para rahib itu  masih bisa beternak sapi perah, menanam singkong dan hidup bermasyarakat seperti biasa. Namun, sisa waktu yang ada tidak pernah mereka manfaatkan untuk bersenang-senang seperti lazimnya dilakukan oleh kalangan awam. Sisa waktu itu mereka manfaatkan secara intens untuk berdoa, bermeditasi, mengolah pikiran mendekatkan diri kepada Tuhan.

Meraih Tuhan berupa sosok besar penguasa alam semesta ini hanya mungkin kita lakukan dengan penyerahan diri secara total. Upaya menggugat dan menaklukkannya pasti akan berakhir dengan sia-sia. Itulah sebabnya orang lalu berusaha untuk menukik ke dalam diri mereka sendiri. Ini merupakan salah satu upaya untuk menyingkap sebuah misteri yang memang mustahil untuk dijangkau oleh umat manusia. Upaya yang sangat berat ini hanya mungkin dilakukan secara serius dan intens secara selektif oleh sebagian kecil masyarakat. Masyarakat awam hampir tidak mungkin diajak masuk ke dalam pengembaraan spiritual ini. Itulah sebabnya ketika upaya untuk meraih Tuhan ini dicoba untuk dimasyarakatkan, mereka pun akan menolaknya. Ketika doa rosario atau novena dilakukan serentak oleh masyarakat yang heterogen, maka sebagian di antara mereka akan mengantuk. Anak-anak pasti akan gelisah lalu mengusili teman-teman lainnya. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

1 Komentar

  1. purwatiwidiastuti said,

    wechh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: