Tuhan dan Keheningan

25/09/2013 at 15:23 (artikel)

Meskipun bu guru agama, bruder, dan pastor senantiasa mengatakan bahwa Tuhan itu tak dapat terlihat oleh mata manusia, saya tetap ingin sekali melihatnya. Saya ingin membuktikan apakah benar wajah dan sosoknya seperti yang terlihat dalam gambar-gambar itu? Lalu, seberapakah besarnya? Apakah sebesar manusia atau seperti raksasa? Keinginan untuk melihat wajah dan sosok Tuhan ini demikian menggoda saya. Karena “rumah” Tuhan adalah gereja, saya pun lalu sering datang ke sana di saat-saat gereja itu sedang kosong. Meskipun saat itu pintu gereja tertutup dan terkunci, saya dapat dengan mudah masuk melalui pintu dari pastoran yang tidak pernah terkunci. Untuk masuk ke pastoran sangat mudah karena ayah saya menjadi penjahit di sana.

Di dalam gereja yang kosong, sepi dan hening itu saya dapat berdoa sepuasnya. Saya berdoa seperti lazimnya orang berdoa, yakni sambil menunduk dan memejamkan mata. Tetapi sekali-sekali saya mendongakkan kepala dan melek. Maksudnya untuk melihat, siapa tahu Tuhan tiba-tiba telah muncul di altar gereja. Berulangkali hal ini saya lakukan namun Tuhan tetap tidak dapat saya lihat. Saya menduga bahwa doa saya kurang khusyuk. Saya lalu mencoba berdoa lagi dengan lebih khusyuk tanpa mendongak-dongakkan kepala. Harapan saya, Tuhan lalu mau menepuk pundak atau kepala saya. Upaya ini pun juga gagal. Yang datang justru koster (petugas gereja) yang membawa kain-kain lap. Kosentrasi saya pun buyar. Esoknya saya datang ke gereja lagi dan berdoa lagi, tetapi juga tidak pernah berhasil melihat wajah Tuhan. Saya lalu mulai mempercayai bu guru agama bahwa Tuhan itu memang benar-benar tidak dapat dilihat.

Namun demikian saya tetap tidak berputus asa dalam berupaya untuk dapat melihat wajah Tuhan. Dalam ibadah misa, pada saat-saat yang paling khusyuk, semua orang berlutut dan menunduk serta memejamkan mata. Pada saat itu pastor akan mengangkat hosti tinggi-tinggi dan misdinar akan membunyikan bel. Saat itu, saya justru melotot melihat ke altar. Sebab dugaan saya, pada detik-detik semacam itulan Roh Kudus dapat turun dari langit berupa burung merpati yang bersinar sangat terang. Kadang pada saat-saat seperti ini, saya juga mengedarkan mata ke mana-mana untuk mencari-cari sosok Tuhan. Akan tetapi, yang tampak justru berkelebatnya tangan ayah saya yang kemudian dengan sangat cekatan menyentil telinga saya berulangkali. Saya pun terpaksa kembali menunduk sambil menahan sakit.

Waktu itu, sebelum Konsili Vatikan II, cara menerima komuni lain dengan sekarang ini. Ketika itu umat harus berlutut, tangan ditengadahkan, kepala didongakkan, mata terpejam, mulut dibuka dan lidah dijulurkan. Saat itulah pastor akan menaruh hosti di lidah kita, lalu kita harus segera menunduk dan menelannya. Hosti adalah daging Kristus. Kristus adalah Tuhan. Mungkin di hosti yang dibagi-bagikan pastor itu, saya dapat melihat wajah Tuhan. Atas dasar itulah, saya kadang-kadang sedikit membuka mata atau malahan melek sama sekali. Kini yang nampak bukannya wajah Tuhan melainkan mata pastor yang memelototi saya sambil menahan hosti yang berada di tangannya. Setelah saya memejamkan mata lagi, barulah pastor itu menaruh hosti di lidah saya.

Karena gagal menemukan Tuhan di dalam gereja muncullah gagasan untuk mencarinya di gunung. Sebab dulu Nabi Musa menerima sepuluh perintah Allah juga di atas puncak gunung. Dalam cerita wayang, Arjuna yang ingin meminta kesaktian dari dewa juga pergi ke gunung dan bertapa. Mestinya, saya juga berpeluang untuk melihat Tuhan di atas puncak gunung, sebab gunung itu dekat dengan langit. Di langit itulah terdapat surga tempat bertakhtanya Tuhan. Gunung pertama yang saya naiki adalah sebuah bukit kecil yang penuh dengan ladang singkong dan jagung. Orang-orang memang menamakannya sebagai gunung Gombak.

Waktu itu, saya baru berumur 9 tahun. Berempat dengan tiga teman, saya menuju gunung Gombak yang jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari kampung. Untuk itu kami harus berjalan kaki memutar. Kemudian setelah menyeberangi kali Babon, kami melalui jalan setapak yang mulai menanjak. Bukit ini memang dilingkari dua buah kali. Kali Babon dan kali Panjang yang ombak itu ternyata terdapat sebuah makam yang dinaungi sebatang pohon beringin besar. Selain itu, kami tidak menemukan apa-apa. Ketika itu, hujan juga turun dengan sangat derasnya hingga kami pun pulang dengan baju basah kuyup.

Berikutnya kami mencoba naik ke bukit yang lebih tinggi, namanya gunung Kendalisodo. Ceritanya, di gunung inilah tokoh wayang Hanoman bertapa sepanjang masa untuk menjaga arwah Rahwana yang bermukim di gunung Ungaran. Letak gunung Kendalisodo ini di sebelah timur laut kampung saya. Jaraknya sekitar lima kilometer. Di puncak gunung Kendalisodo ini, saya dan teman-teman menemukan banyak tanaman jambu mete yang sarat buah. Saya lalu lupa pada Tuhan dan sibuk berebutan jambu mete dengan teman-teman. Menjelang sore, kami turun dari bukit itu dan langsung mandi di sebuah kedung di kali Panjang.

Sejak itulah, saya lalu punya target. Gunung berikutnya adalah gunung Jambu. Di sini saya hanya pergi berdua dengan seorang teman. Di sini pulalah, saya tahu yang namanya kabut. Waktu itu, kami berdua lari ketakutan dikejar kabut yang kelabu dan menyeramkan itu. Tentu saja kabut itu berhasil mengejar dan “menelan” kami. Ternyata kabut itu dingin dan tidak apa-apa. Setelah itu, saya manargetkan gunung Telomoyo. Di sinilah, saya baru benar-benar merasakan yang namanya gunung. Dinginnya bukan main dan gigi saya tiba-tiba sakit. Karena tidak membawa bekal apa-apa, kami pun kelaparan dan kehausan.

Setelah gunung demi gunung saya naiki, Tuhan tetap tidak pernah saya temukan. Di puncak gunung itu, yang ada hanya udara yang sangat dingin, badan yang capek, rasa lapar, haus dan ngantuk. Suasana di puncak gunung juga sangat sepi. Istilah yang lebih tepat adalah hening. Yang kedengaran hanyalah derasnya tiupan angin yang membawa aroma bunga-bunga liar. Kalau tidak ada angin, yang kedengaran hanya desah napas, suara burung, dan dengung lebah. Dalam suasana yang sangat hening, sambil duduk di atas rerumputan, saya mulai berpikir. Mungkin Tuhan adalah keheningan itu sendiri.

Di sinilah saya menemukan sebuah katarsis. Tuhan itu sudah saya temukan. Tuhan adalah keheningan. Suasana sangat senyap, jauh dari hiruk-pikuk. Di sinilah, saya dapat berpikir dengan lebih tenang, dengan lebih nyaman dan dengan waktu yang tidak terburu-buru. Seandainya Tuhan bukan keheningan itu sendiri, minimal dengan naik gunung, merambah hutan, menyusuri kali dan masuk gua, saya dapat lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Ini sangat jauh dengan yang bisa saya temukan di dalam gereja. Di gereja, yang saya temukan hanyalah formalitas. Semua sudah diatur dengan sangat rapi dan tegas. Dalam kondisi seperti itu, yang dapat saya temukan hanyalah kebosanan dan kekikukan. Semua itu justru saya rasakan semakin menjauhkan saya dari Tuhan.

Di alam bebas ini, saya sebagai individu bebas untuk mengatur gunung mana yang harus saya daki, berapa lama saya mau duduk, berjalan atau merenung. Tuhan yang saya temukan adalah Tuhan yang tidak dibentengi oleh aturan protokoler ritual keagamaan. Tuhan yang saya temukan di sini adalah Tuhan yang mengatur alam semesta dengan harmoni, dengan keakraban Namun, Tuhan semacam ini juga menjadi seperti candu. Setiap kali, saya memerlukan tingkat keheningan yang lebih tinggi lagi. Kalau semula saya naik gunung dan masuk hutan pada siang hari, kini saya berniat untuk mencobanya malam hari. Tingkat keheningan pada malam hari pasti lebih tinggi dari siang hari.

Ketika fajar mulai merekah, suasana hening itu pelan-pelan berubah. Langit yang semula hitam berangsur terang dengan paduan warna-warni silih berganti. Suara burung, deru kendaraan bermotor di bawah sana, semua itu benar-benar saya rasakan sebagai gerakan tangan Tuhan. Saya benar-benar dapat merasakan kedekatan saya dengan-Nya. Tiupan angin kencang, udara yang sangat dingin, semua justru saya rasakan sebagai aliran hangat yang menyusup ke dalam badan. Upaya saya mencari Tuhan ternyata tidak sia-sia. Kenikmatan dekat dengan Tuhan ini benar-benar luar biasa hingga harus selalu rutin dilakukan dan dengan kadar yang lebih tinggi lagi.

Saya lalu bisa sangat memahami, mengapa para penganut kejawen itu setiap tanggal satu Suro selalu menyempatkan diri mendaki puncak gunung pada malam hari. Saya juga mulai dapat memahami mengapa para penganut kejawen itu gemar sekali menyepi di tempat-tempat yang jauh dari keramaian untuk nglakoni. Bahkan kemudian saya dapat membayangkan, betapa dulu, nenek moyang kita beriring-iringan melakukan ibadah mereka di candi-candi yang mereka bangun di pegunungan Dieng, di Gedongsongo, dan lain-lain. Di tempat-tempat seperti inilah, dulu para nenek moyang dapat menemukan atau minimal mendekatkan diri dengan para Dewa mereka. Keagungan, kebesaran, dan keheningan purba itu sekarang sulit sekali saya jumpai dalam ritual keagamaan di gereja yang rutin, dalam ruang yang sangat sempit dan tergesa-gesa.

Namun, kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam  diri saya. Jangan-jangan “keheningan” yang saya jumpai di puncak gunung ini sebenarnya hanyalah sebuah kenikmatan sesaat. Apabila kenikmatan ini dapat saya temukan setiap hari, mungkin juga akan menjadi sebuah kerutinan yang membosankan. Pesona keheningan pun akan hilang. Dalam kondisi semacam ini, mungkin suasana sibuk, pengap, berdesak-desakan, dan tergesa-gesa akan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Sebab bagi penduduk setempat, kabut, lereng yang terjal, pohon-pohon, semua itu adalah hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang mengesankan mereka. Yang justru tampak aneh adalah kami-kami yang jauh-jauh datang dari kota hanya untuk menikmati sesuatu yang bagi mereka biasa-biasa saja bahkan membosankan.

Ternyata dugaan saya ini benar. Tahun 1967, saya keluar dari kelas dua SMA lalu menjadi guru SD. Tempat mengajar saya adalah sekolah di lingkungan perkebunan teh di lereng gunung Ungaran yang dikitari hutan lebat. Ketika baru sebulan, dua bulan, saya masih dapat me nikmati pesona alam pegunungan ini. Tetapi setelah setahun dua tahun, alam pegunungan yang dulu sangat saya kagumi dan mampu mendekatkan saya dengan Tuhan itu lalu menjadi sangat membosankan. Suasana sibuk, ramai, berdesak-desakan, dan tergesa-gesa lalu menjadi sebuah dambaan. Kalau dulu naik gunung adalah sebuah peristiwa penting yang ditunggu-tunggu kedatangannya, sekarang jadi terbalik. Datang ke kota adalah sebuah peristiwa penting yang menarik.

Waktu liburan yang hanya satu hari, yakni hari minggu, lalu saya manfaatkan benar-benar untuk datang ke Ambarawa, paling tidak ke kota kecamatan, yakni Sumowono dan Limbangan. Di sanalah saya dapat bertemu dengan keramaian. Di sanalah saya dapat memperoleh sebuah katarsis. Ngobrol dengan teman-teman di warung, berdesak-desakan di pasar, masuk toko, mengikuti misa, semua lalu menjadi sangat menyenangkan. Tetapi, apakah lalu bisa disebutkan bahwa Tuhan juga berarti sebuah keramaian? Tuhan adalah hiruk-pikuk dan ketergesa-gesaan? Saya tidak berani menjawab pertanyaan saya ini dengan terburu-buru. Agak sulit bagi saya untuk mencari pembenaran, bahwa Tuhan adalah pasar, bahwa Tuhan adalah warung dan toko, bahwa saya dapat dekat dengan Tuhan dalam kondisi hiruk-pikuk dan sibuk semacam itu. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: