Membeli Tuhan

30/09/2013 at 13:44 (artikel)

Ayah saya seorang penjahit yang bekerja di bruderan. Dia miskin sekali. Gajinya hanya cukup untuk makan dan terlalu berat untuk dapat membiayai sekolah anak-anaknya. Saya sendiri akhirnya drop out SMA karena ketiadaan biaya. Namun yang mengherankan, setiap kali mengikuti misa, ayah saya selalu menyediakan uang untuk kolekte (semacam uang sumbangan untuk Gereja).

Acara mengumpulkan uang kolekte ini menjadi sebuah atraksi yang cukup menarik bagi saya. Waktu itu, ada dua alat yang digunakan untuk mengumpulkan uang kolekte. Yang pertama sebuah nampan besar yang diedarkan ke jemaat. Mereka yang kaya menaruh uangnya di sini. Ada lembaran ratusan, ada lima ratusan, bahkan tak jarang lembaran ribuan. Ayah saya yang hanya mampu menyumbangkan setengah rupiah (uang logam), tidak menaruh uangnya di nampan ini.

Untuk uang-uang receh ini tersedia sebuah kantung kain yang diberi tangkai panjang. Semacam seser untuk menangkap ikan di kolam. Ayah saya menaruh uangnya di situ. Saya pernah iseng-iseng menanyakan untuk apa uang itu, apakah untuk membeli Tuhan? Ayah saya tidak menjawab tapi justru menyentil telinga saya dengan jentikannya yang keras beberapa kali. Saya tak berani bertanya lagi.

Yang bertugas mengumpulkan uang kolekte ini ada empat orang. Dua di sayap kiri, dua lagi di sayap kanan. Seorang mengedarkan nampan dan seorang lagi menyodorkan galah panjang dengan sebuah kantung di ujungnya. Salah seorang yang bertugas mengumpulkan uang ini adalah seorang guru yang mengajar di sekolah saya. Setelah uang itu terkumpul semuanya dibawa ke sebuah sudut yang terlindung oleh tiang-tiang besar dari pandangan orang. Karena sangat tertarik melihat tumpukan uang itu, saya pun menyelinap untuk melihat, mau diapakan uang-uang itu.

Ambarawa adalah kota pertanian dan perdagangan yang makmur. Di sana banyak bermukim para priyayi dan pedagang keturunan Cina yang kaya dan beragama Katolik. Mereka selalu membayar uang kolekte dalam jumlah banyak. Jadi, tak mengherankan kalau tumpukan uang di nampan itu tampak menggunung. Sesampai di pojok gereja, tiga orang pengumpul kolekte itu pergi lalu kembali duduk di bangkunya dan berdoa. Tinggallah pak guru yang mengajar di sekolah saya itu. Tumpukan uang di nampan itu dia raup lalu dimasukkannya ke sebuah kotak kayu yang cukup besar. Ya cuma di gereja inilah saya dapat berkesempatan melihat tumpukan uang demikian banyak. Namun yang membuat saya kaget adalah, pak guru itu memungut segenggam yang kertas dari nampan lalu memasukkannya ke kantong celananya. Berkali-kali saya kedipkan mata saya, ini benar terjadi atau mata saya yang salah. Jangan-jangan justru terbalik, dia mengambil yang dari kantong celananya lalu ditaruh di nampan. Tidak, saya melihatnya dengan benar. Dia mengambil uang dari nampan dan dimasukkannya ke kantong celananya.

Setelah itu, dia seperti tadi, kembali meraup uang lalu dicemplungkan ke kotak kayu, setelah semuanya masuk, kotak kayu itu ditutup lalu dikunci. Pak guru itu kembali ke bangkunya lalu berdoa. Saya juga kembali ke bangku saya lalu mau berdoa. Tapi belum sempat duduk, kembali telinga saya dijentik keras-keras berulang-ulang oleh ayah saya karena berani meninggalkan bangku dan mengikuti petugas kolekte.

Setelah saya agak besar dan ikut jadi anggota kor dan misdinar (putra altar = pelayan  misa), barulah saya tahu bahwa uang kolekte itu digunakan untuk membeli anggur, hosti, lilin, dan bunga-bunga yang ditaruh di altar. Tapi ihwal pak guru yang mengantungi uang kolekte itu, saya tak pernah berani bercerita pada siapa pun. Lebih-lebih ketika kemudian saya diminta oleh ibu saya untuk menarik uang iuran Wanita Katolik dan antara lain harus datang ke rumah pak guru tadi. Ternyata pak guru itu juga miskin. Rumahnya memang bagus tapi sempit dan anaknya banyak sekali. Saya lalu menyesal sekali telah mengintipnya waktu memasukkan uang kolekte disudut gereja dulu.

Dalam hati saya lalu teringat Yudas. Samakah pak guru itu dengan Yudas yang telah mengkorup uang sumbangan bahkan akhirnya “berani” menjual Yesus? Tapi begitu ingat pada Yudas yang menjual Yesus yang menjual “Tuhan”, pertanyaan saya justru sampai ke pastor. Apakah bukan berarti ayah saya itu telah datang ke gereja untuk membeli Tuhan yang dijual oleh pastor. Pertanyaan lancang ini terpaksa saya ajukan, karena sebuah pengalaman lain yang tak terlupakan.

Para pastor di kota saya itu mempunyai kebiasaan warisan Belanda, yakni tidur siang, antara pukul dua sampai pukul empat. Waktu itu, ayah saya bekerja di pastoran. Karena habis mengikuti acara pameran di Kawedanan, saya sangat lapar dan haus. Terpaksalah saya datang ke ayah saya untuk minta minum atau pisang. Biasanya jatah pisang ayah saya tak pernah dimakan tapi disimpan dan dibawanya pulang untuk oleh-oleh. Waktu itu, ada sebuah aturan ketat bahwa wanita tidak boleh masuk ke ruang/halaman tempat tinggal pastor. Tapi siang itu, saya melihat seorang pastor Jawa membuka pintu kamarnya dan dari kamar itu keluarlah seorang wanita yang saya ketahui sebagai pegawai susteran. Saya kaget sekali. Untung wanita maupun pastor itu tidak melihat saya. Saya, karena masih anak-anak, tidak tahu arti pemandangan ini. Baru kemudian setelah saya agak besar pernah mendengar ayah saya bercerita pada ibu saya tentang seorang pastor yang membuat skandal dengan seorang pegawai susteran.

Sejak itu, pandangan saya terhadap para pastor berubah. Mungkin mereka itu seperti murid-murid Yesus. Ada yang naif seperti Petrus, yang pernah meragukan Yesus yang dapat jalan di air. Yang pernah menolak mengaku sebagai murid Yesus ketika di rumah Imam Agung dilihat oleh orang-orang yang baru saja menangkap Yesus. Mungkin ada juga yang semacam Thomas yang belum mau percaya bahwa Yesus telah bangkit dari kubur kalau belum memasukkan jarinya ke lubang bekas luka paku di kayu salib. Namun saya yakin, pasti ada pula pastor yang seperti Yudas, yang mengkorup uang kolekte bahkan tega “menjual” Yesus. Menjual Tuhan.

Ada yang kemudian saya tangkap dari serangkaian kejadian itu. Sejak dari Kitab Perjanjian Lama, upacara ritual keagamaan selalu memerlukan uang. Yesus hadir dengan ajaran berupa protes terhadap institusi agama Yahudi yang sudah terlalu mementingkan segi lahiriah dari sebuah ritual keagamaan. Tapi, nasib Yesus sungguh sangat tragis. Dia dibunuh justru setelah “dijual” oleh salah seorang murid-Nya. Akan lebih tragis lagi kalau sampai abad modern ini pun, penjualan dan pembelian “Tuhan” itu masih terus berlangsung dengan wajar, seakan tanpa masalah. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: