Tuhan dan Kebebasan

30/09/2013 at 13:38 (artikel)

Ketika masih berumur di bawah sepuluh tahun, diajak ke gereja adalah sesuatu yang sangat menyenangkan bagi saya. Seluruh acara ritual di gereja itu saya anggap sebagai tontonan yang sangat menarik, karena ketika itu saya tidak dituntut apa-apa. Tetapi semenjak menerima komuni pertama, banyak tuntutan yang harus saya penuhi. Banyak aturan main dari Gereja Katolik yang harus saya penuhi. Misalnya, untuk dapat menerima dan makan hosti, saya harus bersih dari dosa. Untuk itu, apabila dalam kurun waktu satu minggu itu saya telah berbuat dosa, saya pun wajib mengaku dosa kepada pastor dan membayar dendanya berupa doa. Baru setelah itu, saya boleh menerima komuni. Kecuali itu, beberapa jam sebelum menerima komuni, saya juga tidak boleh makan atau minum apa pun. Jadi, perut harus benar-benar kosong. Kalau dulu saya ke gereja secara sukarela, sekarang seluruh isi rumah, kecuali nenek saya, mewajibkannya, juga pak guru di sekolah, bruder, dan lebih-lebih pastor.

Mereka itu benar, sebab ke gereja untuk mengikuti misa adalah sesuai dengan sepuluh perintah Tuhan dan lima perintah Gereja. Dalam sepuluh perintah Tuhan tertulis bahwa kita harus memuliakan Tuhan. Caranya dengan pergi ke gereja dan mengikuti ritual keagamaan yang bernama misa setiap hari Minggu. Pada tahun 50-an, misa hari Minggu di kota Ambarawa hanya dilakukan tiga kali di pagi hari. Misa pukul lima pagi biasanya hanya diikuti oleh sedikit sekali jemaat. Antara lain para bruder, suster, pastor, anak-anak asrama (SMP dan SGB putra maupun putri). Masyarakat umum pun ada satu dua yang ikut misa pukul lima ini, terutama mereka yang memang rajin bangun pagi-pagi. Kemudian misa pukul enam pagi. Ini adalah misa yang paling banyak pengikutnya. Mulai dari para “priyayi”, pedagang Cina sampai ke siswa polisi dari  Banyubiru yang datang naik truk. Gereja pun penuh sesak. Banyak yang tidak mendapatkan tempat duduk hingga terpaksa hanya berdiri di lorong belakang atau samping kiri dan kanan ruang gereja.

Terakhir, misa pukul delapan. Misa ini biasa diikuti oleh orang-orang tua, anak-anak kecil, mereka yang bangun kesiangan atau di pagi harinya harus mengerjakan sesuatu. Ketika masih kecil, saya selalu ikut misa pukul delapan pagi ini dengan ayah saya. Tapi setelah menerima komuni pertama, saya harus ikut misa pukul enam pagi. Ini agak berat sebab berarti saya harus bangun pukul lima pagi lalu mandi dan tidak boleh makan atau minum dalam rangka menerima komuni. Tetapi yang paling membuat saya stres adalah suasana misa pukul enam itu tidak nyaman. Penuh sesak dengan orang yang semuanya rapi dan necis. Beda dengan misa pukul delapan. Jemaatnya sedikit dan terdiri dari orang-orang tua yang kedodoran, anak-anak kecil dan mereka yang berpenampilan kumuh. Namun, saya tidak mungkin kembali mengikuti misa pukul delapan, karena hal itu menyalahi kelaziman. Inilah yang membuat pergi ke gereja bagi saya lalu merupakan siksaan.

Akan tetapi, saya tidak pernah berani berterus terang untuk tidak ke gereja. Itulah sebabnya setiap Minggu pagi saya tetap bangun pukul lima, mandi, ganti baju, mengambil buku Padupan Kencana lalu pergi. Rumah saya cukup terpencil. Jalan dari rumah itu ke jalan kampung yang agak besar melewati tempat-tempat rimbun dan gelap. Setelah yakin tidak ada melihat, saya menyelinap lalu mengambil jalan pintas ke jurang di sebelah barat rumah. Di sana ada cekungan di sebuah lereng yang dinaungi rumpun bambu. Di sini saya bersembunyi. Kadang-kadang saya membaca komik, kadang-kadang membawa buku bacaan yang saya pinjam dari perpustakaan Ganesya. Di tempat persembunyian ini, saya bersantai meskipun nyamuknya banyak sekali. Saya takut menyalakan api untuk mengusir nyamuk sebab pasti akan ketahuan. Meskipun hujan turun dengan sangat lebat, cekungan itu tetap kering karena terlindung rumpun-rumpun bambu yang sangat rimbun dan gelap. Setelah lonceng tanda misa berikutnya kedengaran, barulah pelan-pelan saya keluar dari tempat persembunyian dan pulang.

Baru pada waktu itulah saya dapat merasakan arti sebuah kebebasan. Mirip dengan Adam dan Hawa yang juga diberi kebebasan untuk memakan atau tidak memakan buah kuldi. Adam dan Hawa memilih melanggar larangan. Mereka memakan buah itu dan ketika itulah mereka merasakan arti kebebasan dan sekaligus juga keterbatasan. Karena setelah melanggar aturan dari Tuhan itu, mereka diusir dari firdaus yang nyaman. Saya pun baru tahu arti kebebasan setelah melanggar sepuluh perintah Allah dan lima perintah Gereja. Waktu itu, saya menduga Tuhan juga akan segera marah dan mengirim kesialan atau malapetaka kepada saya. Ternyata tidak. Yang marah ternyata justru pastor.  Ketika saya diwajibkan ikut kor dan misdinar, saya pun terpaksa harus ke Gereja lagi dan harus pula mengaku dosa. Pastor pun lalu tahu kalau saya sudah berbulan-bulan tidak ke gereja. Dia tampak terkejut dan gusar lalu mendenda saya dengan doa-doa panjang yang jumlahnya sampai puluhan.

Serangkaian kewajiban dan sanksi-sanksi itu membuat saya yang pemalas menjadi semakin tidak suka ke gereja. Saya lalu mulai berpikir untuk menjatuhkan pilihan. Apakah mau menerima seluruh sistem komunitas Gereja Katolik itu berikut konsep-konsep religiusnya, aturan-aturan main dan juga sanksinya, atau mempertanyakan bahkan menolaknya. Kalau saya memilih yang pertama, saya wajib konsekuen menjalani seluruh sistem berikut aturan mainnya yang sudah baku dan harus pula menerima sanksi kalau melakukan pelanggaran. Kalau pilihan kedua yang saya pilih, masih ada dua kemungkinan pula. Saya hanya sekadar mempertanyakan dan meragukan tetapi tetap berada dalam sistem tersebut, atau keluar dari sistem itu dan melakukan pengembaraan atau masuk ke sistem yang lain. Saya mengambil jalan kompromi. Saya memutuskan tetap berada dalam sistem, namun mencoba mempertanyakan seluruh konsep yang ada dan melakukan pengembaraan batin. Meskipun pada akhirnya berulangkali saya terbentur pada kenyataan yang mengecewakan. Ternyata, jalan mana pun yang saya pilih, termasuk yang paling tidak lazim sekalipun, ternyata sudah pernah dilewati oleh orang lain. Tetapi, hal ini lebih membuat saya merasa aman dan kerasan dalam sistem tersebut daripada saya tetap patuh seratus persen atau keluar secara formal dan mencari atau masuk ke sistem lain yang belum tentu bisa lebih memberikan kelonggaran.

Yang saya gugat hanyalah kungkungan sistem tadi terhadap pikiran saya. Atau sebenarnya sistem tersebut tidak pernah mengungkung siapa-siapa. Tetapi, justru pikiran saya sendirilah yang menjadikan sistem tersebut menjadi sebuah kungkungan. Ternyata saya tetap dapat berpikir bebas meskipun masih berada dalam konsep-konsep dan sistem Gereja Katolik. Saya tetap bebas merekayasa konsep-konsep sendiri, terutama konsep religius untuk kepentingan batin saya sendiri. Mungkin hasil rekayasa saya itu bukan hal baru. Bisa jadi hal itu pernah pula dilakukan oleh banyak orang di zaman Babilonia, Mesir, Yunani, India, atau Cina kuno. Tetapi tidak apa-apa, sebab tujuan saya memang bukan menggagas sebuah konsep baru tetapi mencari sebuah konsep yang bisa lebih pas untuk diri saya. Tuhan adalah keheningan. Tuhan adalah keseharian. Tuhan adalah diri kita sendiri. Tuhan adalah alam semesta dan jagat raya. Semua itu bisa lebih membuat diri saya merasa tenteram daripada patuh secara harfiah pada konsep-konsep baku yang tertulis di Kitab Suci.

Salah seorang bruder memberikan komentar bahwa Yesus pun (sebagai manusia) sebenarnya berpikiran bebas bahkan sangat revolusioner. Menurut bruder itu, Yesus jauh lebih revolusioner daripada Lennin atau Stalin. Waktu itu saya sangat heran mendengar komentar bruder ini. Bukankah Yesus itu hanya mengajarkan cinta kasih dan tidak pernah mengangkat senjata melawan penjajah (kekaisaran Romawi)? Bahkan dia justru dianiaya dan dibunuh oleh bangsanya sendiri? Kata bruder itu, Yesus revolusioner karena dapat membebaskan masyarakat (terutama lapis bawah), dari kungkungan sistem yang sangat represif dan kuat. Secara fisik, yakni politik, militer, ekonomi mereka dikuasai kekaisaran Romawi, sementara secara spiritual dikekang oleh adat dan agama Yahudi. Ketika akhirnya Yesus disalibkan, tampak bahwa upaya ini gagal. Baru beberapa abad kemudian tampak keberhasilannya. Para murid serta pengikut-Nya kemudian mampu membangun bukan hanya konsep-konsep berpikir baru, melainkan secara fisik juga sebuah kerajaan baru yang justru tetap eksis sampai sekarang. Sementara itu, kemaharajaan Romawi sudah lama hancur.

Namun, sistem dan konsep spiritual yang ditentang Yesus itu yakni adat dan agama Yahudi, ternyata tidak goyah dan sampai sekarang juga tetap eksis. Justru sistem dan konsep baru yang diciptakan para murid serta pengikut-Nya itu, pada akhirnya di abad pertengahan menjadi sama represifnya dengan sistem yang dulu pernah ditentang oleh Yesus sendiri. Lalu untuk apakah sebenarnya kebebasan itu? Sekadar untuk mengacaukan sistem lama yang telah kehilangan energinya, dan menggantinya dengan yang lebih baru? Dalam konsep tata surya yang sampai sekarang banyak dianut, konsep demikian memang berlaku. Chaos atau kekacaubalauan memang mengawali terciptanya sistem bintang baru. Ini juga disebut dalam Kitab Kejadian Sebelum Tuhan menciptakan langit dan bumi, yang ada adalah chaos. Dalam sistem tata surya, bintang yang telah kehabisan energinya akan meledak menjadi supernova lalu padam dan menjadi lubang hitam. Lubang hitam ini akan menyerap energi dan menumpuknya untuk suatu saat nanti diledakkan lagi hingga tercipta sistem yang baru

Namun bagi saya, kebebasan bukan sekadar alat untuk menolak apalagi menghancurkan sebuah sistem dengan konsep-konsepnya. Kebebasan adalah khas milik manusia yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Dalam sebuah sistem yang sedang berada di puncak kemapanannya pun, kebebasan tetap bisa hidup tanpa harus merongrong kemapanan itu sendiri. Justru di sinilah kebebasan itu menjadi punya nilai. Dia bisa membuat satu individu menjadi tidak hanyut dalam orbit sebuah sistem besar tetapi tetap memiliki daya untuk setiap saat mempertanyakan kebenaran sistem besar itu.

Tuhan, dalam ajaran agama apa pun di dunia ini, tetap memberikan kebebasan mutlak kepada umat-Nya untuk meraih kebenaran. Namun, konsep-konsep yang kemudian diciptakan untuk memahami kebebasan, bukannya membuat manusia menjadi bebas, melainkan justru malah terkungkung dalam konsep tersebut. Tuhan lalu tinggal menjadi sebuah konsep yang terus-menerus terpaksa dipertahankan mati-matian, terpaksa dimasyarakatkan terus-menerus demi eksistensi sebuah sistem dan institusi. Hingga dalam pelaksanaan hidup beragama sehari-hari, manusia lalu menjadi sangat tidak bebas untuk menciptakan konsep sendiri yang pasti akan lebih pas untuk dirinya. Kalaupun ada yang berani melakukannya, dia pasti takut mengemukakannya secara terang-terangan sebab pasti akan berbenturan dengan para pendukung konsep serta institusi yang ada. Cap yang akan diterimanya adalah : penghujat Tuhan, penghina umat beragama, ateis, dan lain-lain. Untuk itu sejak zaman Nabi-nabi dulu, orang semacam ini sah untuk dibunuh. Akibatnya, semakin banyak orang yang takut secara bebas melakukan penjelajahan batin untuk menghasilkan konsep baru yang mungkin bisa lebih mendekati kebenaran.

Kebebasan yang diperoleh manusia dari Tuhan, telah melahirkan teori evolusi melalui seorang Darwin, teori gravitasi melalui Newton, teori-teori astronomi melalui Copernicus dan Galileo Galilei. Semua itu tidak serta-merta membuat ayat-ayat Kitab Suci dilecehkan. Mereka yang melecehkan Kitab Suci dengan membanding-bandingkannya dengan teori evolusi misalnya, justru berpikiran picik karena menganggap kebenaran Kitab Suci hanyalah kebenaran harfiah. Padahal kebenaran Kitab Suci adalah kebenaran yang sifatnya lebih Ilahi. Kenyataan ini kurang ditangkap oleh para penguasa formal institusi agama. Mereka terlalu takut melihat kebebasan berpikir yang sebenarnya merupakan karunia yang tak ternilai yang berasal dari Tuhan. Bahkan, para penguasa institusi agama itu juga lupa, bahwa kebebasan bukanlah tujuan. Kebebasan itu sendiri hanyalah sekadar alat, sekadar perangkat untuk meraih yang disebut sebagai kebenaran. Dalam kondisi yang satu merasa lebih punya otoritas daripada yang lain, maka kebebasan itu menjadi tidak ada. Dalam kondisi seperti ini, kebenaran yang diklaim oleh pihak yang lebih berkuasa bisa jadi sebuah kebohongan. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: