Tuhan dan Kekuasaan

30/09/2013 at 13:41 (artikel)

Tuhan adalah simbol kekuasaan dari Gereja Katolik di tempat tinggal saya. Ini merupakan kelanjutan dari “kekuasaan” Tuhan yang luar biasa kasat mata pada zaman Nabi Musa. Gereja pada masa kecil saya di kota Ambarawa memang sangat berkuasa. Gereja menentukan pembentukan watak anak-anak karena menguasai sekolah mulai dari TK sampai SGB. Gereja juga kaya karena didukung oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Komunitas Gereja di kota saya adalah perpanjangan hierarki Gereja Katolik yang bersifat kerucut dan sangat mengandalkan kekuasaan. Kekuasaan itu selalu berlindung di balik “Tuhan”. Para penguasa itu selalu berdalih bahwa “kekuasaan” mereka adalah perpanjangan tangan Tuhan. Kekuasaan Gereja di kota kecil saya di kurun waktu tahun 50-an, malahan bukan hanya perpanjangan kekuasaan zaman Israel kuno. Zaman Musa, zaman nabi-nabi mengatasnamakan Tuhan.

Konsep tentang Tuhan lalu dikaitkan sangat erat dengan konsep kekuasaan, terutama kekuasaan raja. Dalam kekuasaan yang mutlak itu, demokrasi ditekan. Kebebasan berpikir disumbat. Tuhan dan kekuasaan adalah mutlak. Arus pikiran demokratis dan bebas yang sudah mulai dirintis dan berkembang di zaman Yunani kuno lewat para filsufnya itu tergilas oleh kekuasaan Zeus dan juga dewa-dewa kemaharajaan Romawi yang berkembang lebih kemudian. “Tuhan”, sejak zaman Mesir kuno, Assiria, Babilonia, Persia, Yunani, dan Romawi adalah alat untuk legitimasi kekuasaan. Konsep ketuhanan dalam agama Yahudi kuno, mau tidak mau terkena pula pengaruh dewa-dewa kemaharajaan tersebut. Konsep Tuhan dalam ajaran agama Katolik pun, tak lebih dari duplikat atau penyempurnaan dari konsep Tuhan dalam agama Yahudi kuno itu. Sampai kini pun, Tuhan juga lebih banyak digunakan untuk melestarikan “kemaharajaan” Gereja Katolik dengan penguasanya Paus, para Kardinal, dan Uskup.

Dalam kekuasaan, yang dominan adalah kekuatan. Penguasa harus otoriter, kuat, ditakuti, kaya, dan harus mau dengan kejam membasmi para penentang sampai ke akar-akarnya. Hanya dengan cara itulah sang penguasa dapat menjaga keutuhan institusi yang menaunginya. Untuk itulah kemudian “Tuhan” dibuat menjadi sangat berkuasa, ditakuti, otoriter, dan juga kejam. Tuhan adalah sesuatu yang mutlak. Itulah Tuhan yang saya kenal dalam institusi Gereja Katolik pada masa kecil saya. Ini berbeda sekali dengan konsep “Tuhan” di kampung saya. Bagi nenek saya, Gusti Allah  dengan tangan panjangnya berupa “Roh” Mbah Derpo adalah “pemberi hidup” bagi seluruh warga kampung baik yang kaya maupun yang miskin. Semua diberi hak untuk hidup, hak untuk berbeda-beda dalam membayangkan wajah dan sosok Mbah Derpo.

Pak Bekel, tokoh yang paling berkuasa di kampung saya, tidak pernah berani mengatakan bahwa Mbah Derpo itu berbaju hitam dan berjenggot dan semua orang harus menganggapnya begitu. Ketika ibu saya mengatakan pernah bertemu Mbah Derpo dan dia tidak berjenggot dan berbaju putih, Pak Bekel tidak marah. Nenek saya justru selalu mengatakan bahwa Mbah Derpo itu berjubah abu-abu  dan bersorban. Semua boleh membayangkan sosok Mbah Derpo berbeda-beda. Tak ada yang mutlak di sini. Mbah Derpo bukanlah alat untuk melegitimasi kekuasaan. Mbah Derpo lain dengan Nyai Roro Kidul yang tiba-tiba muncul dan melegenda untuk mendukung kekuasaan Panembahan Senopati. Nyai Roro Kidul harus kuat. Ia harus berkuasa untuk mengimbangi kekuatan kerajaan-kerajaan maritim yang pernah berjaya sebelumnya, yakni Demak dan Majapahit. Itulah sebabnya sosok Nyai Roro Kidul pun dilukiskan dengan sangat pasti dan baku. Dia cantik, muda, sensual, dan selalu berkain batik parang dan berkebaya hijau pupus. Mbah Derpo di kampung saya bebas dilukiskan berbeda-beda oleh seluruh penduduk kampung.

Dalam diri manusia, sebenarnya memang tersembunyi sifat untuk senang dikuasai, untuk dijajah, untuk diperlakukan sewenang-wenang. Itulah sebabnya konsep “Tuhan” yang Mahakuasa jauh lebih diterima oleh masyarakat banyak. Meskipun konsep itu nyata-nyata sudah menjadi klasik karena berasal dari zaman puluhan abad sebelum Masehi, tak jadi soal. Karena bagi masyarakat banyak, penguasa hanyalah sekadar simbol dan sesuatu yang harus dipuja secara total dan boleh berbuat otoriter dan kejam. Penguasa itu harus ditakuti, sebab kalau ada sesuatu yang menyenangkan dan lucu, dia lebih pas dijadikan badut.

Mengapa masyarakat banyak rela dikuasai dengan cara otoriter dan sewenang-wenang? Karena, mereka mengharapkan imbalan berupa perlindungan. Untuk mengatasi permasalahan yang sifatnya sangat pribadi, manusia tidak cukup hanya datang dan minta perlindungan pada sesamanya, betapapun berkuasanya sesamanya itu. Untuk itu, diperlukan sebuah kekuasaan yang berada di luar jangkauan otaknya. Kalau nenek saya tidak punya beras, cukuplah dia mengeluh dan minta beras pada “Ndoro Tjo” atau tokoh lainnya. Tapi kalau dia mendapat kabar musibah atau berita duka lainnya, dia pun akan berteriak-teriak : Gusti Allah, nyuwun ngapuro! Nenek saya memerlukan “Gusti Allah” tempat mengadu. Untuk itu dia rela dikuasai, diatur dan ditentukan nasibnya. Dia cukup puas dengan status dan keadaannya, karena semua itu sudah ditentukan oleh Gusti Allah. Kekuasaan itu diterimanya tanpa kompromi. Kalau ayamnya mati atau pohon kelapanya tidak berbuah, maka itu memang sudah kehendak Gusti Allah. Nenek saya tidak mengeluh, karena dia pun dapat minta apa pun dari yang Mahakuasa itu.

Namun, bentuk “kekuasaan” Tuhan yang diyakini oleh nenek saya adalah bentuk kekuasaan yang sangat personal. Berbeda dengan bentuk “kekuasaan” Tuhan yang sudah dibakukan oleh agama-agama besar yang sifatnya massal. Kekuasaan Tuhan terhadap nenek saya tidak pernah dibakukan dalam bentuk aturan main yang ketat dan sangat duniawi. Bahkan nenek saya dengan santai berani mengatakan Tuhan sudah gila. Ketika dia baru saja mengeluarkan gabah (padi) untuk dijemur namun mendadak tak lama kemudian turun hujan, nenek itu akan bilang. O, Allah, edan tenan, baru saja saya keluarkan jemuran kok hujannya sudah diturunkan. Nenek saya berani mengatakan Tuhan gila karena dia tidak mengenal hierarkhi kekuasaan yang mengaturnya dengan mengatasnamakan Tuhan. Seluruh perjalanan hidupnya telah diatur oleh Tuhan lewat tradisi orang kampung yang miskin secara turun-temurun. Tak ada hierarki kekuasaan keagamaan, baik itu Hindu, Budha, Islam, maupun Kisten/Katolik yang telah menyentuhnya. Aturan-aturan yang konkret selalu berasal dari Pak Bekel. Sedangkan yang agak bersifat ideal selain berasal dari tradisi juga datang dari sisa-sisa animisme purba berbentuk roh. Mbah Derpo dan berbagai hantu yang menghuni pohon, gunung, dan batu besar.

Terus terang, saya merasa lebih akrab dengan konsep Tuhan yang diajarkan oleh nenek saya. Sebab, Tuhan nenek saya itu tidak mengatur saya agar berdoa setiap hari. Tidak menyuruh saya ke gereja. Bahkan nenek saya juga mengajar untuk berani melawan ibu saya kalau dia salah. Ini berlawanan sekali dengan sepuluh perintah Tuhan yang saya terima dalam pelajaran agama di sekolah maupun di lingkungan Gereja. Tuhan di Gereja dan sekolah adalah “kekuasaan” yang sangat mutlak dan mengatur kehidupan saya dari bangun tidur sampai tidur lagi. Bahkan Tuhan juga mengatur mimpi-mimpi saya. Untuk itu, dia mengirim seorang malaikat guna menjaga dari saya selama 24 jam nonstop sepanjang kehidupan. Betapa detilnya Tuhan mengurus diri saya.

Mungkin itulah yang diperlukan oleh masyarakat. Tuhan yang “berkuasa”, pasti dan punya sederet rencana, peraturan, pengawasan dan sanksi-sanksi. Massa akan menolak Tuhan yang demokratis, yang memberi keleluasaan bergerak dan berpikir semau manusia sendiri. Massa memang membutuhkan Tuhan dalam sosok yang tidak meragukan, yang kuat, dan demikian ketat mengawasi gerak-gerik alam semesta berikut seluruh penghuninya. Untuk itu, massa rela untuk diperlakukan kejam, ditindas, dan ditentukan nasibnya. Tuhan yang cocok untuk ini semua adalah Tuhan yang “menguasai” bumi dan langit. Tuhan yang mengatur seluruh alam semesta. Tuhan yang hening dan akrab yang dapat dijumpai sehari-hari dalam hati, menjadi tidak begitu laku pada agama-agama besar yang  bersifat massal.

Dalam keadaan semacam ini betapa ironisnya. “Tuhan” Sang Penguasa itu. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, betapa enaknya para “Hakim” itu membunuh musuh, merampok harta dan wanita, serta menghancurkan berhala mereka, atas nama Tuhan. Ini mungkin masih wajar sebab “kaum kafir” yang menyembah berhala itu memang sah untuk dihancurkan. Namun bagaimanakah dengan Perang Salib antara penganut Islam dan Nasrani? Bukankah dua belah pihak membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan? Bahkan yang lebih ironis lagi, bagaimanakah halnya dengan peperangan antar pemeluk Kristen maupun antar pemeluk Islam sendiri? Kedua belah pihak mengaku lebih benar untuk membunuh daripada pihak yang lain demi Tuhan.

Tuhan telah menjadi alat kekuasaan yang sangat efektif. Tuhan telah menjadi alat untuk mengesahkan sebuah pembunuhan. Namun yang agak mengherankan, dalam sejarah Nusantara, Tuhan tidak tercatat dominan sebagai alat untuk mengesahkan penaklukan pihak lain. Hindu, Budha, Islam, dan Kristen, semua masuk Nusantara dengan damai bukan dengan penaklukan. Semua dapat hidup dan berkembang berdampingan. Penaklukan Majapahit oleh Demak misalnya juga tidak disertai dengan fanatisme Agama. Bahkan penaklukan Pajang oleh Mataram yang sama-sama Islam pun juga tanpa disertai embel-embel bahwa yang satu lebih benar ke-Islamannya dibanding yang lain. Ini semua membesarkan hati saya. Ternyata ada juga masyarakat yang kalau ingin membunuh dan merebut kekuasaan tidak perlu membawa-bawa nama Tuhan. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: