Dunia Roh

07/10/2013 at 13:41 (artikel)

Sejak usia balita, saya sudah sering diajak nonton wayang oleh nenek saya. Biasanya dalam cerita-cerita Mahabarata atau Ramayana itu ada tokoh penting yang mati. Pada saat itulah, ki dalang melukiskan adanya roh atau sukma dari tokoh wayang itu yang meninggalkan badannya lalu terbang ke atas. Dalam pelajaran agama, bruder atau bu guru juga menceritakan hal ini. Menurut bruder, kalau orang berdosa mati, roh atau sukmanya akan dijemput setan dan dibawa ke neraka. Kalau orangnya suci, roh itu akan naik ke surga. Kalau berdosa tapi dosanya tidak berat roh itu untuk sementara harus menghuni “api pencucian”. Menurut bruder, yang punya roh hanya manusia. Binatang dan tumbuhan tidak. Tapi menurut nenek saya, binatang itu juga punya nyawa. Nyawa itu berbeda dengan sukma. Selain ada roh manusia, saya juga diajari adanya roh baik, yakni malaikat dan roh jahat, yakni setan. Tuhan adalah roh yang Mahatinggi.

Selain sering diajak nonton wayang, saya juga beberapa kali ikut nonton reog. Reog atau kuda kepang/kuda lumping adalah tarian tradisional di Jawa. Setelah bende, kendang, dan angklung dipukul bertalu-talu, mulailah para pemain reog itu menari-nari, menunjukkan adegan perang, lalu mereka pun “kemasukan” roh. Larinya makin kencang lalu menabrak-nabrak dan jatuh. Dukun reog itu lalu menyembuhkannya. Adegan itu bagi saya sudah tampak sangat menyeramkan. Desa di dekat kampung saya yang punya perkumpulan reog adalah desa Ngampin. Pernah suatu hari rombongan reog desa Kalibening beraksi. Pada waktu kesurupan, atraksinya lebih serem. Pemain reog itu makan pecahan kaca, gabah, dan minum air bunga satu ember penuh. Kadang-kadang pemain yang kesurupan itu dapat “terbang” ke atas atap dan berlarian di sana tanpa memecahkan gentengnya. Saya tidak pernah mendapat penjelasan yang memadai, apakah “roh” yang menyusup masuk ke pemain reog itu roh orang yang sudah meninggal, setan, atau malaikat? Beberapa kali hal ini saya tanyakan ke paman saya, jawabannya selalu sama. Yang masuk ke tubuh pemain reog itu roh kuda lumping. Jadi para pemain tadi lalu menjadi seperti kuda beneran.

Ketika sudah agak besar, saya juga sering mendengar, ibu saya mengantar orang-orang yang mau berobat ke dukun “prewangan”. Dukun ini setelah merokok dan membaca mantera lalu “kesurupan”, kemasukan roh. Konon, ini roh orang yang sudah meninggal dan tidak dapat masuk ke surga, namun juga tidak kecemplung di neraka. Ketika sudah duduk di bangku SMP, saya dan teman-teman mencoba main jaelangkung untuk memanggil roh orang yang sudah meninggal. Mula-mula kami menyiapkan bahan-bahannya. Keranjang bambu, gayung dan tempurung kelapa, palangan kayu, baju, sesaji berupa makanan dan minuman, kunci, hio, sabak (batu tulis), dam kapur. Setelah semua lengkap, mulailah mencari rumah kosong yang sunyi, sebab katanya, roh itu baru mau datang kalau tempat pembuatan jaelangkung itu sepi. “Tubuh” jaelangkung lalu dirakit, diberi baju, diberi sesaji dan dimanterai. Setelah “roh” itu datang, keranjang yang dipegangi dua teman itu jadi berat. Mulailah jaelangkung itu bisa diajak berkomunikasi.

Roh yang pertama kali datang adalah anak muda yang meninggalnya bunuh diri. Rupanya dia buta huruf hingga tidak bisa menuliskan namanya. Umurnya 17 tahun sebab ketika ditanya umurnya dia membuat garis-garis sebanyak 17. Ketika ditanya kenapa meninggal, dia menggambar tali gantungan. Roh kedua bisa menulis bagus. Dia seorang perempuan yang mati dibunuh. Mulailah kami iseng memanggil roh teman kami yang mati bunuh diri dan dia benar-benar datang hingga kami semua ketakutan lalu keranjang itu dibuang. Kami terus iseng. Pernah kami memanggil roh Diponegoro dan datang. Hanya kami kecewa dia hanya bisa menulis huruf Jawa dan Arab yang tidak kami ketahui. Acara membuat jaelangkung ini lalu berjalan rutin selama beberapa hari. Sampai suatu ketika pak guru di sekolah marah-marah. Rupanya, ada salah seorang teman kami yang melapor kepadanya.

Kata pak guru, membuat jaelangkung iu dosa, karena mempermainkan roh orang yang sudah meninggal dan meninggalnya tidak wajar. Bisa juga, kata pak guru, yang datang itu justru setan. Sejak itu, kami tak mau lagi membuat jaelangkung. Tapi, saya tetap penasaran. Mungkinkah arwah orang yang sudah meninggal dapat dipanggil kembali lewat jaelangkung atau medium “manusia” yang disebut prewangan? Benarkah yang datang itu sebenarnya setan? Atau pikiran kami secara kolektif itu lalu membentuk sebuah kekuatan baru yang gaib lalu mampu menggerakkan jaelangkung? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah dapat terjawab dengan tuntas.

Pola pikir saya tentang roh adalah pola pikir yang sudah terbentuk selama ribuan tahun dan sangat mapan. Ada Allah Bapa, Allah Putra, dan Allah Roh Kudus. Kemudian ada malaikat, setan, dan sukma manusia. Itu semua adalah individu-individu. Semuanya saya bayangkan bersosok seperti manusia, berperilaku seperti manusia. Konsep reinkarnasi yang kemudian saya kenal pun, tetap saya bayangkan sebagai roh individu yang pernah hidup, “menitis” pada individu “baru” yang lahir di kemudian hari. Padahal kenyataan yang sebenarnya, bisa jadi tidak seperti itu. Fenomena roh sudah ketahuan (dan dimanfaatkan) sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam Injil pun disebut-sebut Yesus mengusir roh jahat dari seseorang. Namun, pengetahuan tentang fenomena itu sampai dengan saat ini tidak juga mengalami perkembangan. Sebutan gaib, irasional, paranormal, parapsikologi, klenik, takhayul, dan lain-lain sebenarnya merupakan hambatan. Dugaan saya, roh adalah sebuah kekuatan, sebuah energi yang belum sepenuhnya kita ketahui. Pemahaman tentangnya, harus didasari dengan sikap rasional dan bukan emosional.

Dugaan saya yang pertama, roh itu bukan merupakan individu-individu. Roh juga tidak bersifat jahat atau baik. Individu, kejahatan, kebaikan, dan sifat-sifat lain, sebenarnya hanyalah sesuatu yang sangat duniawi. Memang, manusia memberi nilai tambah pada sifat tersebut, ketika akan ditujukan untuk Tuhan. Mahabaik, Mahakuasa, Mahabenar, dan lain-lain itu tetap duniawi sifatnya. Ini hanyalah sekadar upaya untuk menjangkau zat atau sesuatu yang masih belum diketahui itu. Namun, upaya-upaya itu sifatnya lebih berdasar pada emosional bahkan cenderung “spiritual” dan bukan rasional. Begitu ada upaya-upaya untuk mempertanyakan masalah “roh” , dengan sikap lebih rasional, maka segeralah muncul reaksi yang berlebihan dari penganut agama-agama modern. Cap yang biasa mereka berikan terhadap orang-orang yang bersikap kritis semacam ini adalah “ateis”, anti agama, menghujat Tuhan, dan lain-lain. Tuhan tetap dianggap sebagai sesuatu yang individual dan sekaligus sangat sakral. Akibatnya, pengetahuan manusia tentang roh, sejak ribuan tahun yang lalu, tetap saja sama. Sejak zaman Orakel Delphi sampai Voodo, tetap saja sama, tak ada perubahan.

Saya lalu mulai meyakini bahwa “roh” adalah energi. Lebih-lebih dalam ajaran agama Katolik juga disebutkan bahwa pada masa Pantekosta, Roh Kudus turun dan memberi “kekuatan” kepada para rasul. Jadi kalau benar roh adalah energi, kita harus bisa mempelajari dan memanfaatkannya. Namun, upaya untuk dapat mempelajari dan memanfaatkannya pasti akan mendapatkan tantangan, bukan hanya dari penganut agama-agama besar melainkan juga dari ilmu pengetahuan sendiri. Keberatan agama-agama besar sangat beralasan, sebab upaya untuk lebih lanjut memahami energi roh bisa jadi akan membuyarkan konsep “roh” yang selama ini mereka yakini. Tuhan adalah Roh yang Mahatinggi, lalu ada roh baik yakni malaikat dan ada roh jahat yakni setan. Masih ada pula roh manusia. Kalau misteri roh dapat kita pecahkan, konsep tersebut akan tidak berlaku lagi.

Namun sebenarnya, keberatan agama-agama modern itu tidak beralasan. Sebab, banyak sudah penemuan ilmu pengetahuan yang justru bertolak belakang dengan konsep penciptaan misalnya, namun toh tidak serta merta mematikan institusi agama. Bahkan teori gravitasi yang pernah ditolak oleh agama Katolik pun, ternyata akhirnya diterima dan tetap tidak menghancurkan institusi Gereja. Hingga, seandainya nantinya konsep tentang roh ini pun dapat direvisi, dugaan saya juga tidak akan membunuh institusi agama. Justru saya menduga manusia akan menjadi lebih arif dalam menghadapi institusi keagamaan.

Namun upaya untuk mempelajari roh, mau tidak mau juga harus melibatkan disiplin ilmu lain, dan resikonya juga akan berhadapan dengan institusi keagamaan sebagai “benteng moral”. Misalnya saja, bagaimanakah kalau kita “menciptakan” manusia lewat metode kloning? Bagaimanakah kalau individu yang lahir lewat kloning itu kita pelihara seperti binatang? Apakah dia juga akan bisa berpikir? Apakah dia juga punya roh seperti kita? Mungkinkah “duplikat” diri kita yang lahir lewat kloning tadi dapat disusupi oleh roh kita? Kalau bisa, berarti sedikit banyak misteri kematian mulai dapat kita atasi. Bahkan, kalau “roh” itu dapat kita susupkan ke peralatan canggih semacam robot atau komputer, maka kita pun akan dapat lebih leluasa menuju ke pergaulan antar makhluk cerdas dari galaksi lain. Lebih-lebih kalau kendala “kecepatan cahaya” dapat kita lampaui. Artinya, dengan “energi roh” itu kita dapat melaju melebihi kecepatan cahaya.

Agama sebenarnya mengajar manusia untuk “arif”, termasuk arif dalam menghadapi pembaruan yang sifatnya bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Namun sayangnya, agama-agama itu telah terlanjur menjadi “institusi” yang sangat kuat hingga mampu menolak dan menghambat kemajuan berpikir yang selama ini ada, termasuk upaya memecahkan misteri roh. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: