Natal dan Pesta-pesta

07/10/2013 at 13:34 (artikel)

Bagi saya, Natal tak ada bedanya dengan hari-hari biasa. Yang agak lain hanyalah di gereja, siswa-siswa SGB, yang kami sebut sebagai Pak Guru Bantu atau Pak Guru Magang, sibuk membuat gua di altar kanan gereja. Gua itu terbuat dari kerangka kayu. Tingginya sekitar 4 meter dari lantai gereja. Kerangka kayu itu dikerudungi kertas semen yang telah diberi warna dengan cat air hingga mirip batu. Cara mengerudunginya juga dibuat gundukan-gundukan mirip batu benaran. Di sana-sini diberi tanaman hidup. Ada palem, puring dan paku-pakuan. Pot-pot tanaman itu juga dikerudungi kertas semen, yang sudah diwarnai hingga mirip batu pula. Di latar depan ada vas-vas bunga. Ada gladiol, krisan, aster, dahlia. Namun yang wanginya tajam dan semerbak adalah sedap malam.

Di depan gua itu, juga ditaruh rumput asli lalu patung-patung sapi, domba, keledai, para gembala, Maria, Yusuf, dan bayi Yesus yang ditaruh di palungan. Palungan itu diisi jerami padi beneran. Di atas gua itu ada patung malaikat yang membentangkan spanduk dengan tulisan berbahasa Latin. Yusuf, yang kami sebut Santo Yusup, membawa tongkat dan memegang lentera. Yang sangat mengesankan saya adalah di dekat palungan itu ada tumpukan kayu di perapian. Tampak baranya merah dari bohlam listrik yang dikerudungi kertas minyak warna merah. Bahkan mula-mula saya juga mengira gua itu terbuat dari batu beneran. Baru setelah saya dan teman-teman sepulang sekolah menyempatkan untuk menonton pembuatan gua itu, ternyata cuma kertas.

Keistimewaan Natal juga pada misanya. Ada misa malam hari, yakni tengah malam. Meskipun hujan turun dan jalanan jadi becek, saya tetap harus mengenakan baju dan celana putih, tanpa sepatu. Teman-teman saya pun tak ada yang mengenakan sepatu. Kecuali satu dua anak orang kaya yang sekolahnya di sekolahan “Cina”. Kadang-kadang, meskipun malam hari sudah ke gereja, paginya pun saya datang lagi, sekadar untuk melihat gua. Waktu itu, altar juga dihias semarak dengan bunga-bunga sampai penuh ke puncaknya. Di luar ini semua, suasana Natal tampak biasa-biasa saja. Tak ada pesta-pesta. Jangankan pesta, makan biasa pun kadang-kadang susah. Karena Natal memang bukan sesuatu yang penting di kampung saya. Lain dengan selamatan, atau Lebaran. Selamatan, selamatan apapun, jelas sangat istimewa. Lebaran jelas ada “kacang bawang”, onde-onde ceplis, jadah, jenang, wajik, dan ketupat serta opor ayam. Meskipun beragama Katolik, orang-orang di kampung saya tidak pernah menyediakan menu istimewa di hari Natal. Lain halnya dengan Lebaran.

Beberapa hari setelah Natal, gua di gereja itu menjadi sangat semarak. Kalau semula lampu-lampunya redup, sekarang menjadi terang sekali. Soalnya di atas gua itu ada sebuah bintang yang sangat terang. Di depan gua sekarang juga terpasang patung tiga orang “raja” yang datang dari gua itu. Seluruh “pentas” gua tadi, berikut cerita dari bruder, bu guru agama, maupun khotbah pastor, benar-benar merupakan rangkaian kisah yang memikat dan indah. Maria, ibu Yesus itu, naik keledai yang dituntun Yusuf, datang dari Nazaret ke Betlehem untuk melakukan sensus. Tiba di Betlehem sudah malam dan hujan (Desember di Indonesia adalah musim hujan). Mengetuk pintu rumah ditolak, penginapan juga sudah penuh, lalu mereka menginap di gua. Di situ bayi Yesus lahir. Tapi ada malaikat, ada gembala-gembala, malaikat itu membunyikan terompet dan ada yang menggelar spanduk, suasananya sangat meriah dan menyenangkan. Saya, kalau disuruh memilih menginap di rumah orang-orang Yahudi atau ikut tidur di gua, memilih tidur di gua. Di situ hangat, ada api, ada rumput, pohon, dan bunga-bunga.

Namun, pada usia remaja, pandangan saya itu berubah. Israel itu terletak di sebuah kawasan yang beriklim gurun. Di sana justru tidak banyak hujan. Namun, suhu udara gurun di malam hari bisa beberapa derajat celcius di bawah nol. Gua ternak yang ada ternyata sangat seram karena terletak di tempat yang sepi, berbatu-batu, terjal, dan tak ada pohon-pohonan atau bunga-bungaan seperti di gereja itu. Melahirkan bayi itu ternyata juga sakit, berdarah, perlu pertolongan orang lain. Mestinya Maria yang habis menempuh perjalanan jauh dan kemudian melahirkan itu sangat kecapaian dan kesakitan. Wajarnya, dia hanya berbaring di sudut gua. Mereka itu pasti juga miskin. Di gambar-gambar majalah, juga di film, baju orang miskin di Timur Tengah selalu kumal dan warnanya pudar. Semua kenyataan ini jauh sekali berbeda dengan yang tampil di gereja di setiap Natal. Selama ini, Maria yang barusan melahirkan itu dilukiskan anggun, segar dan rapi, serta cantik seperti baru saja keluar dari salon. Dia berlutut dan tangannya dalam posisi menyembah, menghadapi bayinya yang ada di palungan. Saat itulah saya baru sadar bahwa yang selama ini tampil di gua dalam gereja itu adalah imitasi.

Perkembangan perayaan Natal ternyata menuju ke titik yang makin jauh dari makna Natal itu sendiri. Akhirnya, Natal menyatu dengan tahun baru. Hingga muncullah kartu-kartu ucapan selamat Natal dan tahun baru. Muncul pulalah simbol baru. Bukan berupa gua melainkan pohon cemara yang dihias. Datang pula sinterklas yang membagi-bagi hadiah. Dulu, waktu masih kanak-kanak, pohon Natal dan Sinterklas hanya dapat saya temui di buku-buku bacaan Eropa/Amerika yang diterjemahkan dan terbit di Indonesia. Waktu itu sinterklas hanyalah dongeng yang jauh. Salju, Piet Hitam, pohon cemara yang dihias, hadiah yang dimasukkan lewat cerobong asap. Sekarang semua itu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, terutama di kota-kota besar.

Lalu, muncul pesta-pesta Natal, pesta tahun baru. Natal menjadi suasana bersuka cita. Sebab Yesus, sang penebus dosa manusia itu, telah datang. Jadi, kedatangannya haruslah kita sambut dengan suka cita, dengan pesta-pesta. Zaman sudah berubah. Hanya orang sableng yang mau merayakan Natal dengan datang ke kandang kambing atau kandang sapi. Biarlah hanya “keluarga kudus” itu saja yang merasakan pengapnya suasana gua kandang domba. Biarlah hanya tiga orang kudus itu, yang merasakan dinginnya udara gurun yang sekian derajat celcius di bawah nol. Natal lalu menjadi sesuatu yang harus dinikmati, disyukuri, makan enak, hiburan menarik, dan melupakan kerja keras setahun penuh itu. Juru Selamat sudah datang, buat apa susah payah mengenang kesederhanaan Putra Allah itu.

Yesus adalah tokoh besar, manusia Tuhan. Tuhan yang menjelma menjadi manusia. Itu kepercayaan pengikutnya. Wajar memang kalau kelahiran tokoh ini disertai munculnya sebuah komet. Wajar juga kalau tiga “raja”, tiga cerdik-cendekiawan dari timur datang dan menghormat “raja” yang baru lahir itu. Wajar pula kalau kemudian Raja Yahudi, yang menjadi “boneka” Kekaisaran Romawi di Israel lalu ngamuk dan membunuh seluruh bayi Yahudi yang lahir di sekitar Natal. Namun, keagungan dan kebesaran Yesus  itu bukan hanya akibat komet, bukan sekadar ditandai datangnya raja dari Timur dan ngamuknya Herodes. Lebih-lebih, kebesaran Yesus bukan pula ditandai munculnya malaikat yang datang dengan sorotan cahaya seperti sinar laser hingga para gembala keder.Tidak. Kebesaran Yesus justru muncul dari kesederhanaannya.

Sayangnya, kesederhanaan bukanlah sesuatu yang berharga untuk ditawarkan sebagai pujaan. Untuk sebuah pemujaan, sebuah pentas, diperlukan aktor, diperlukan bintang yang harus gemerlap, anggun, cantik, tidak tampak kedodoran, dan harus meyakinkan. Boneka bayi Yesus yang ditaruh di gua-gua Natal di gereja lalu lebih mirip dengan bayi montok yang sudah berumur lima bulan lebih. Keluarga kudus itu lalu menjadi tampak bak bintang sinetron yang necis, steril namun sekaligus sangat duniawi. Kebesaran Tuhan, berupa kesederhanaan Allah Putra dalam diri bayi Yesus itu lalu jadi jauh sekali. Bahkan hilang sama sekali. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: