Tuhan dan Pemujaan Kemaksiatan

07/10/2013 at 13:29 (artikel)

Di kelas IV SD, saya mendapatkan dua pelajaran yang sangat menarik. Yang pertama adalah pelajaran sejarah yang menjelaskan masuknya agama Hindu ke wilayah Nusantara. Yang kedua pelajaran agama yang menjelaskan tentang sifat-sifat Tuhan. Dalam pelajaran sejarah, pak guru menceritakan tentang “agama” nenek moyang kita yaitu animisme dan dinamisme. Animisme memuja roh nenek moyang, dinamisme memuja benda-benda karena dianggap bernyawa/punya kekuatan. Agama Hindu yang kemudian masuk ke Indonesia, kata pak guru, mengajarkan adanya tiga dewa tertinggi. Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Syiwa sang perusak alam semesta. Di India sana, kata pak guru, yang paling dipuja adalah Brahma. Tapi di sini, berubah jadi Wisnu. Pak guru itu memberi contoh gambar patung Raja Airlangga yang dilukiskan sebagai Wisnu yang naik garuda.

Kemudian, kata pak guru tadi, di zaman Singosari, yang paling dipuja justru Syiwa, sang dewa perusak. Mengapa? Konon, kata pak guru itu, Syiwa perlu dipuja melebihi Wisnu maupun Brahma, justru karena dia itu dewa perusak. Kalau sudah dipuja melebihi dewa lain, Sang Syiwa diharapkan menjadi tidak begitu merusak lagi. Bahkan kemudian, ketika agama Budha masuk kemari, agama itu pun “dikawinkan” dengan agama Syiwa. Jadilah kemudian agama Budha Syiwa. Pak guru itu lalu menunjukkan gambar patung Budha Bhairawa yang tinggi besar, bertaring memegang pisau, dan berdiri di atas tumpukan tengkorak. Padahal, lazimnya Budha itu lembut dan duduk di atas bunga teratai untuk bersemedi. Saya mendengarkan cerita pak guru itu dengan rasa takjub. Tak lupa dia menghubungkan kisah Hyang Syiwa ini dengan tokoh wayang Batara Guru. Batara Kala, dan dewa pencabut nyawa Yamadipati.

Ketika pelajaran sejarah itu sampai ke zaman Singosari, cerita pun menjadi makin seru. Ken Arok, tokoh sentral dalam cerita pak guru itu, dulunya seorang penjahat. Dia lalu insaf dan berguru pada seorang brahmana. Oleh brahmana itu, Ken Arok diminta datang ke Tumapel untuk mengabdi pada akuwu di sana yang bernama Tunggul Ametung. Sampai di Tumapel, Ken Arok terpesona demi melihat kecantikan istri akuwu itu yang bernama Ken Dedes. Secara rinci, pak guru bercerita bagaimana Ken Arok memesan keris ke Empu Gandring, membunuh Tunggul Ametung, kemudian menggantikannya sebagai akuwu maupun suami Ken Dedes, lalu menyerbu Singosari dan menjadi raja. Di zaman inilah, kata pak guru pemujaan Hyang Syiwa mencapai puncaknya. Konon, yang dikorbankan pada Hyang Syiwa kadang-kadang berupa gadis-gadis belasan tahun yang diperkosa lalu dibunuh di altar persembahan. Pembunuhan, perjudian, mabuk minuman keras,  dan kejahatan lain disahkan menjadi sarana pemujaan bagi sang dewa perusak itu.
Di kelas yang sama, di kurun waktu yang sama, seorang bruder mengajarkan sifat-sifat Tuhan. Bruder itu menunjuk ke sebuah tulisan di dinding kelas. Di situ tertera 5 sila dalam Pancasila. Sila pertama adalah “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Kami semua waktu itu bingung. Apakah artinya Esa? Bruder itu menjelaskan. Esa itu artinya tidak satu, tapi juga tidak banyak. Jadi, Tuhan itu memang tidak bisa dihitung. Tidak kecil tapi juga tidak besar. Tuhan itu tidak terlihat, tidak bisa  mati dan abadi. Supaya simpel, disebut saja Esa. Teman saya yang terkenal paling nakal dan hobinya membantah segera saja nimbrung, “Tuhan itu Mahabaik Bruder”. “Tepat sekali”, kata bruder itu. Tuhan Mahabaik, Mahasempurna? Betul juga. Teman saya tadi tetap ngotot. “Tapi Bruder,” katanya, “kalau Mahabaik berarti tidak Mahasempurna, sebab dalam kesempurnaan, kebaikan selalu diimbangi dengan kejahatan. Jadi, kalau Tuhan itu Mahabaik saja, berarti Dia tidak sempurna. Kalau Dia sempurna berarti selain Mahabaik juga Mahajahat”.

Bruder itu sambil tertawa-tawa menjelaskan bahwa kesempurnaan Tuhan itu terjadi karena Dia mengandung berbagai sifat. Tuhan juga merusak ciptaannya sendiri, menurunkan penyakit, membuat bencana alam, membuat panen gagal. Namun, itu semua dilakukannya untuk tujuan baik, yakni untuk menjaga keseimbangan alam. Di sinilah konteks Mahabaik dan Mahasempurna itu tidak bertentangan jadinya. Di luar kelas, pada waktu istirahat saya dan beberapa teman tetap ramai berdebat (teman-teman yang ikut berdebat dengan saya itu kemudian ada yang menjadi pastor ada yang menjadi bruder). Dalam perdebatan itu, kami tetap mempertanyakan ihwal “kesempurnaan” Tuhan. Berarti ajaran Budha Syiwa itu benar? Teman yang lain menyahut, kalau yang dipuja hanya Syiwa, lebih-lebih kalau tekanan pemujaan itu hanya pada perbuatan jahat, maka sebenarnya itu sudah mengingkari hukum alam. Selama berhari-hari, topik Budha Syiwa dan kesempurnaan Tuhan itu tetap menjadi bahan pembicaraan kami yang rata-rata baru berumur 10 tahunan.

Tahun 1967, saya berumur 17 tahun dan sudah menjadi guru SD. Kepala sekolah saya masih muda. Umurnya tak berselisih jauh dengan saya. Dia sudah menikah, beranak satu tapi kemudian bercerai. Hubungan saya dengan dia dekat sekali. Saya selalu memanggilnya dengan sebutan Pak, sementara dia memanggil saya Dik. Karena dekatnya hubungan itu, kami sering pergi berdua ke mana-mana. Saya sering menginap di tempat kosnya. Kadang-kadang, saya ikut ke rumah mertuanya kalau kebetulan dia sedang menengok anaknya. Kepala sekolah saya ini beragama Islam. Dia taat beribadah. Ia selalu menjalankan sholat lima waktu dan pada bulan Ramadhan pun dia berpuasa. Dia seorang anggota PNI (Partai Nasional Indonesia) yang sangat fanatik. Namun dalam soal moral, dia longgar sekali. Dia mau mencuri, dan dalam soal seks dia luar biasa. Menurut ceritanya, dia pernah meniduri 20-an lebih anggota Gerwani (ormas wanitanya PKI). Ceritanya, waktu G30S meletus, dia bertugas untuk menahan para anggota Gerwani karyawati perkebunan teh. Katanya, waktu itu badannya sampai lunglai betul. Dia pun bercerita secara detil bagaimana cara meniduri puluhan wanita itu secara bergilir. Katanya, ada beberapa yang masih perawan.

Ketika saya menanyakan mengapa dia yang sangat taat menjalankan agama itu, tetap dapat demikian longgarnya mengumbar nafsu seksnya, dia tertawa terbahak-bahak. Seks itu katanya surga. Surga dunia. Apakah itu bukan dosa, tanya saya. Tidak, katanya. Seks itu baru dosa kalau dilakukan dengan pemaksaan, ancaman, atau kekerasan. Tapi bukankah anggota Gerwani yang ditahan itu sebenarnya juga “terpaksa” melayaninya? Katanya, tidak. Para Gerwani itu, katanya, melayaninya dengan sangat bersuka cita. Dia lalu menganggap saya ini bodoh dan masih terlalu hijau. Di lingkungan itu, seks memang menjadi sesuatu yang sangat longgar aturan moralnya. Wanita yang sudah kawin cerai sampai 7 atau 8 kali justru sangat bangga dengan statusnya. Mereka pun melakukannya di gudang, di rumah kosong, di kebun teh, di ladang jagung, dan lain-lain, dan tampaknya sanksi yang dijatuhkan oleh masyarakat pun sangat longgar. Paling jauh, kalau skandal ini ketahuan, laki-laki dan wanita ini disuruh menikah dan tidak pernah terjadi ribut-ribut.

Semula saya menduga, istilah “surga dunia” yang dikemukakan oleh Kepala Sekolah saya itu hanyalah gurauan. Namun ternyata dia serius. Surga seperti yang dilukiskan oleh ajaran agama itu sebenarnya tidak ada. Kehidupan roh sesudah mati itu ya tidak seperti yang digambarkan oleh agama itu. Begitu katanya selalu. Jadi surga itu ya adanya di dunia ini. Tapi, mengapa dia selalu rajin sholat? Katanya itu wajib. Namun tatkala saya mendebatnya terus, dia pun segera saja memotong dan mengatakannya bahwa saya ini selain masih hijau, ternyata juga bodoh. Sebab, katanya, saya tidak mau memanfaatkan surga dunia yang ada, bahkan tidak kunjung memahaminya.

Aturan moral yang longgar, bahkan kecenderungan untuk memuja “kemaksiatan” yang saya dapati di lingkungan mengajar saya di akhir tahun 60-an, mengingatkan saya pada paham Syiwaisme. Di sekitar perkebunan teh itu memang banyak saya jumpai peninggalan sejarah berupa reruntuhan batu candi. Bahkan di dekat situ ada sebuah desa bernama “Gonoharjo”. Disebut demikian lantaran di desa itu banyak diketemukan patung Ganesha (gono = ganesya) yakni putra Syiwa. Jadi, dugaan saya, kecenderungan untuk melakukan kemaksiatan berupa pencurian hasil hutan, penyelewengan seksual, judi, dan minum minuman keras, adalah sisa-sisa dari paham Syiwaisme. Mereka melakukannya dengan hampir tanpa beban moral sedikit pun. Bahkan dengan slogan untuk mengejar “surga dunia”.

Sebelumnya saya pernah menduga, sikap masyarakat yang longgar terhadap tindak kemaksiatan itu disebabkan oleh pengaruh lingkungan perkebunan teh yang dikelola oleh Belanda. Biasanya di lingkungan semacam ini, moral di sekitar masalah seks memang agak longgar. Bahkan saya banyak menjumpai wajah-wajah dan sosok “bule” di lingkungan pegunungan itu yang pasti merupakan “warisan” dari zaman penjajahan dulu. Namun, biasanya bangsa ini saya ketahui agak ketat dalam menjaga moral terhadap tindak kriminal seperti pencurian. Hingga kemudian saya menduga, selain karena faktor kehadiran Belanda, yang menyebabkan “pemujaan” terhadap kemaksiatan itu justru sisa-sisa paham Syiwaisme yang berasal dari zaman sekian abad yang silam.

Menghadapi lingkungan dan suasana semacam ini, saya agak sulit untuk menerimanya. Saya memang senang dapat menikmati alam pegunungan yang segar, hutan tropis yang masih tergolong baik, adat istiadat penduduk desa yang polos itu. Namun, berada dalam masyarakat yang ikatan moralnya longgar, saya merasa tidak nyaman. Lebih-lebih kalau saya berada di lingkungan pencuri atau penjudi. Dalam masalah seks, kepala sekolah saya punya paham, seks adalah surga dunia. Di rumah Pak De, tempat saya menumpang ada seorang janda muda yang cantik, yang sudah tujuh kali kawin dan masih belum punya anak. Saya juga pernah mau dijodohkan dengan anak pak bekel dan anak mantan lurah di desa itu. Namun, saya tidak mau. Salah seorang mandor hutan bujangan di desa itu, pernah “dijebak” oleh seorang wanita bersuami dan sudah punya anak. Jadilah kemudian mereka dikawinkan, setelah wanita itu diceraikan lebih dulu oleh suaminya. Kisah semacam ini adalah hal yang dianggap wajar oleh masyarakat setempat.

Ketika masih berada di lingkungan Gereja Katolik yang mayoritas didukung oleh para priyayi, saya merasa gerah dengan segala macam aturan moral yang ketat. Namun ketika saya nyemplung di lingkungan yang moralnya longgar di tempat saya mengajar, saya pun kembali gerah. Saya tetap tidak bisa memahami, mengapa anak umur 12 tahun sudah dinikahkan? Mengapa puluhan anggota Gerwani itu ditiduri? Mengapa ada janda yang kawin cerai sampai tujuh kali dan justru bangga sekali dengan statusnya? Mengapa hutan tropis itu dibabat kayunya? Saya sungguh masygul tatkala melihat pohon yang sudah dua atau tiga pelukan orang dewasa itu ditebang dan digergaji. Akan tetapi, ketika para pencuri kayu itu ditangkap lalu digiring ke kantor “kemantren” lalu mereka duduk mencangkung dengan mata kosong, ada yang tidak pakai baju, saya pun merasa iba. Pak de yang jadi mantri itu mengatakan mereka sudah berkali-kali ditangkap tapi tidak juga kapok. Akan tetapi saya tetap merasakan ada sesuatu yang salah. Hutan itu memang harus dilestarikan. Tapi orang-orang yang mencuri kayu itu juga tidak cukup hanya ditangkap lalu dipenjara. Tampak benar bahwa para pencuri kayu itu melakukan pencurian melulu karena mereka miskin dan perlu makan. Mereka menebang kayu di hutan juga dengan sebuah keyakinan bahwa yang mereka lakukan bukan pencurian. Sama halnya dengan Kepala Sekolah saya yang merasa bahwa meniduri para Gerwani itu bukan dosa. Sama halnya dengan janda yang sudah tujuh kali kawin cerai dan justru menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang membanggakan. ***

Artikel dimuat di Buku Menggugat Tuhan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: