PENJARAHAN I

22/10/2013 at 11:07 (puisi)

Jalan raya Panimbang Cimanggu
panjang dan berliku
lewat Cigeulis
deretan  hutan manggis
kadang batang-batang melinjo
bukit-bukit itu
kawasan selatan kabupaten Pandeglang
seperti sedang tidur nyenyak
diayun-ayun naik dan turun
menikung
kadang-kadang aspal tipis itu mengelupas
atau bolong-bolong
jembatan-jembatan kecil
semua harus dilewati dengan sangat
hati-hati.

Kampung yang lelah
setelah berpuluh tahun bahkan beratus tahun
hanya pohon kelapa
hanya hutan albisia
terkadang petak-petak  singkong
yang lusuh dan tak terawat
Sawah
yang tiba-tiba membentang
di antara rumpun pisang
dikitari gerumbulan pandan duri
inilah  oasis itu
yang melegakan dahaga
rapi dan hijau.

Air tidak pernah bermasalah
dari tahun ke tahun
agak kecokelatan tetapi bersih
kawanan kerbau berlarian dan berendam
kambing-kambing kacang
kepakan sayap burung kuntul
seperti kuncup bunga melati
yang tiba-tiba mekar
dari hamparan karpet
hijau
rata
dan luas.

Cimanggu
kota kecamatan itu
terkapar kesepian
mungkin merindukan angin
barangkali  memanggil-manggil deru mobil
membelah jalanan itu pecah jadi dua
ke kiri melilit gunung Ipis
menyisir gunung  Honje dan gunung Tilu
tembus ke  Rancapinang
desa terakhir
desa pesisir di samudera Hindia
Cimanggu
makin ke kanan
sepi itu makin tajam
makin berkelok-kelok dan terus menurun
lalu berlabuh di Sumur
di antara kerumunan perahu nelayan
aroma selat Sunda
pokok-pokok ketapang tua
kadang cemara
dari Sumur jalanan itu terus ke selatan
hanya makadam
bukan aspal
tapi bersih dan sepi
lurus
terus sampai ke Taman Jaya
sebuah kampung nelayan kecil
dermaga Taman Nasional
dan pos jagawana.

Pagi itu lumayan cerah
ada beberapa gumpal awan comulus
tetapi hampir seluruh langit
biru terang dan bersih.

Jalan raya Panimbang Cimanggu itu
bergetar
puluhan truk besar kecil
pick up
jip
minibus
semua menderu-deru
meraung-raung
pelan tetapi pasti
merangkaki aspal tipis itu
dan menyemburkan asap knalpotnya
yang ungu dan menyesakkan napas.

Konvoi besar itu
mengarah ke Taman Jaya
di atas truk
ratusan manusia bersiaga
mereka menyanyi-nyanyi
berteriak-teriak
semua membawa senjata dan peralatan
ada golok
parang
gergaji mesin
kapak
linggis
beberapa di antaranya
bersenjatakan senapan otomatis
maupun manual.

Di dalam jip dan minibus
tampak laki-laki yang juga bersiaga
namun mereka lebih santai
ada yang tertawa-tawa
ada yang makan
ada yang asyik mendengarkan musik
sambil menyaksikan sajian
panorama alam di kiri kanan jalan.

Iring-iringan kendaraan itu terus melaju
terus merayapi jalanan yang
biasanya sangat sepi
dan sekitar pukul 11.00
rombongan paling depan
tiba di Taman Jaya.

Dengan sigap beberapa orang turun dari jip
dengan senjata terkokang dan terhunus
mereka menuju kantor Taman Nasional
kantor kepala resor Polisi Hutan.

Antena pesawat CB
yang menjulang tinggi itu
mereka rusak
para aparat Taman Nasional
terbengong-bengong dan kaget
mereka lalu diborgol dan dimasukkan
kamar lalu dikunci.

Beberapa orang berjaga-jaga
di halaman kantor itu.

Rombongan demi rombongan tiba
truk-truk itu diparkir sembarangan
pimpinan rombongan
seorang laki-laki pendek gemuk
tampil dengan megaphone
di tangan.
“Perhatian! Perhatian!
Truk-truk harap terus ke selatan
sampai Ujung Jaya
ayo terus ke sana!”

Truk-truk itu lalu bergerak ke Selatan
dengan gontai
kadang-kadang harus didorong
beberapa terperosok di tanah becek
dan meraung-raung
berusaha melepaskan diri
penumpang truk itu turun
lalu ramai-ramai berjalan kaki.

Beberapa buah traktor
diturunkan dari truk-truk itu
lalu berjalan menerobos barisan.

Penduduk kampung
yang biasanya hidup dalam keheningan alam
merasa sangat ketakutan
mereka berusaha lari
masuk hutan
beberapa keluarga bersembunyi
di rumah masing-masing
menutup pintu
dan menguncinya dari dalam
mereka yang tergolong pemberani
menonton dari kejauhan
satu dua jawara lalu menggabungkan
diri dengan rombongan itu.

Jalan kampung
Taman Jaya – Ujung Jaya
terpotong oleh beberapa kali kecil
yang tidak bisa dilewati mobil
orang-orang itu lalu menghunus gergaji mesin
dan menebang pohon-pohon kelapa
batang-batang kelapa bertumbangan
dipotong-potong lalu diseret
dijadikan jembatan darurat
truk-truk itu
dengan gontai
menyeberanginya pelan-pelan
deru traktor
deru puluhan truk
deru gergaji mesin
sorak-sorai rombongan
gonggongan anjing penduduk
siang makin panas
keringat menetes
rasa haus
rasa lapar
lapar?

Seekor kerbau yang melintas di jalan
segera ditangkap
lalu dibantai
tanpa dikuliti
karkas itu dicincang
beberapa orang membuat api
beberapa memotong bambu
mereka memanggang potongan-potongan
daging dan
menyantapnya setengah matang.

“Garam!”
“Kecap kalau ada.”
“Merica dan cabai!”
“Itu kan ada warung!”
“Tutup. Tidak ada orangnya.”
“Dobrak saja!”
“Ya dobrak saja!”
“Yang kuat!”
“Ya begitu. Ada tidak?”
“Lo itu yang jualan! Cantiknya!”
“Sini, sini, dibawa kemari!”

Gadis itu
masih belasan tahun
sebenarnya jauh dari cantik
dia berkebaya
berkain
dan rambutnya diikat begitu saja di belakang
dia ketakutan
menjerit-jerit
meronta-ronta
tetapi dia terus diseret
sambil ditelanjangi
lalu diperkosa beramai-ramai
sampai pingsan.

Siang itu sangat panas
dan gaduh
asap api unggun membubung tinggi
deru mesin truk terus meraung-raung
di pucuk rumpun bambu
dua ekor gagak bertengger
mereka diam
mereka lapar dan melihat ceceran
daging dan darah kerbau
tetapi mereka takut untuk turun
mereka diam
dan terus saja di sana menunggu.

Siapakah rombongan
ratusan orang itu?
dari manakah mereka?
dan mau apa?
mau apa mereka?

“Kami adalah rakyat yang lapar
yang selama ini tergusur dan dikalahkan
kami mau menjarah Taman Nasional
Ujung Kulon!”

Di desa Ujung Jaya
rombongan penjarah itu
mendirikan base camp
mereka menebang pohon
semua pohon
mereka merampas ternak penduduk
semua ternak
mereka memperkosa gadis-gadis
dan wanita-wanita yang masih layak
untuk diperkosa.

“Apakah janda ini juga kita perkosa?”
“Harus!”
“Ayo saya duluan!”
“Lo kok tahu kalau dia janda?”
“Dia sendiri tadi yang bilang begitu.”
“O, sudah berapa lama menjanda?”
“Setahun?”
“Sebulan?”
“Baru dua hari?”
“Siapa yang mau panggang ayam?”
“Kambing!”
“Itu di sana banyak kambing!”
“E, jangan mikirin perut melulu.”
“Ayo kerja.”
“Ini pohon ini harus ditebang!”
“Sudah banyak Mas!”
“Sudah penuh truknya!”
“Ya untuk besuk!”
“Ayo kerja lagi!”

Monyet dan babi hutan
adalah satwa yang paling berani
tinggal di dekat kampung
mereka biasa mencari makan di ladang-ladang
apa saja yang ada
singkong, jagung, padi, ubi jalar
semua mereka makan
selama ini monyet dan babi hutan
dianggap paling mengganggu penduduk
tetapi kali ini
merekalah yang merasa sangat terganggu.

Monyet-monyet itu berlarian
dengan sangat gaduh
masuk jauh ke dalam hutan
babi-babi hutan itu
juga tunggang-langgang mencari
tempat aman
mereka kaget
takut
tetapi juga heran

“Ada apa manusia ribut-ribut
berasap
menebang pohon
lalu membawa pergi kayu-kayu?”

Taman Nasional Ujung Kulon
memang suaka terakhir
sekelompok satwa
tetapi kawasan gunung Ipis
Gunung Honje dan gunung Tilu
sudah lama rusak berat
terutama lereng bagian timur
sudah tak ada lagi pohon-pohon besar
perladangan liar marak di mana-mana
tetapi kawasan tanah genting
semenanjung
pulau Peucang dan
pulau Panaitan
masih benar-benar utuh
tetapi sampai kapan?

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: