PENJARAHAN II

22/10/2013 at 11:38 (puisi)

Selat Panaitan
jernih dan tenang
sesosok perahu panjang
terlentang dan terayun
digoyang gelombang alun
mesin disel entah berapa PK
tak bersuara
hanya cakrawala
hanya sepi lengkungan  pantai
dan tali sauh yang terentang
kadang kendor
kadang tegang.

Mengapa awak perahu itu
yang mungkin berjumlah belasan
tampak sibuk sekali
beberapa berkelebatan di air
kadang bergegas ke permukaan
menarik napas dengan deras
lalu menyelam lagi
tanpa tabung oksigen
tanpa altimeter
hanya kaca mata sederhana
sementara
awak yang lain menyiapkan jaring
mengisi drum-drum plastik
kantong-kantong plastik
dengan air laut.

Hari baru pukul sembilan pagi
cuaca cerah
setelah beberapa hari kemarin angin barat
hujan dan gelombang besar
habis-habisan
melabrak perairan Taman Nasional
Ujung kulon.

Teluk Panaitan itu
berperairan sangat tenang
tak ada riak gelombang
hanya sisa-sisa alun
yang datang dari samudera Hindia
lalu lengkungan langit
biru tapi keras.

Air laut jernih
nun di dasar sana
gugusan karang  tampak putih
lalu ikan hias warna-warni
bagai kibasan sampur para penari
bedaya serimpi
kadang kuning
kadang merah
kadang biru
cerah sekali.
ikan-ikan lain yang melintas cepat
sambil memiringkan tubuhnya
tampak seperti kelebatan samurai
putih dan tajam.

Cahaya matahari
yang jatuh di air
terpental dan buyar
lalu menyebar bagai tusukan jarum
ribuan dan langsung menghunjam
ke pelupuk mata.

Nun di dasar teluk sana
para penyelam itu
menebar racun potasium
ikan-ikan besar segera oleng
dan pingsan
ikan-ikan kecil mungkin langsung mati
lobster yang bersembunyi di sela-sela
karang juga teler
anemon yang tersiram potasium itu
menjadi layu
karang-karang mengeriput
gurita segera menjulur-julurkan
tentakelnya lalu menjauh
kerang dan kepiting
mengubur diri dalam-dalam di balik pasir.

Para penyelam itu sibuk
memburu ikan napoleon
yang kelengar dan mabok
lalu dijaring dan dibawa naik
lobster yang ngumpet di sela-sela karang
ditarik paksa
karang-karang yang menghalangi
dicongkel
dipalu dan dilinggis.

Matahari makin keras
udara berkeringat
angin laut mengibarkan baju-baju
ikan napoleon dan lobster itu
dicemplungkan ke  drum
air laut yang bersih
dengan oksigen murni
dan satwa-satwa laut itu
terbangun
bergerak-gerak
dan segar kembali.

Hongkong
kawasan bisnis yang sibuk
dan kaya itu
bukan hanya perlu cula badak dan
kontol macan
dia juga senang lobster dan ikan nepoleon
dan dolar Hongkong yang dikibas-kibaskan
aromanya tercium sampai ke teluk Panaitan
Taman Nasional Ujung Kulon
dan puluhan perahu
ratusan awaknya
tak gentar menghadapi cuaca buruk
angin barat
dan gelombang pasang.

Para petugas Taman Nasional
yang gajinya pas-pasan
mereka cuekin
sebab di perahu itu
ada aparat keamanan berseragam
dan bersenjata
yang siap mengamankan
dan menyukseskan penjarahan.

Hongkong
etalase kultur Cina
yang dikemas stereofoam
dan dipoles lipstik Inggris
Apalagi yang kau maui
otak monyet yang disedot hidup-hidup
atau mumi mini
yang digali dari makam-makam
kuno
di bumi Makasar?

Sarang walet
liur burung kecil
pemangsa serangga itu
juga tersedot
mangkuk-mangkuk porselin
ruang restoran yang hangat
bumbu pedas
lampion yang bergoyang-goyang
dan tubuh-tubuh keringatan
obrolan
tawa
asap rokok
judi mahyong
dan transaksi bisnis
kelas New York, Paris dan Tokyo.

Hongkong
rantai apakah yang menggandeng jantungmu
dengan denyut gua Sang Hyang Sirah
di Taman Nasional Ujung Kulon?

Tonjolan-tonjolan karang raksasa
tebing cadas tegak lurus
yang menjulang ratusan meter
hajaran ombak yang keras dan
menghentak
orang harus berteriak-teriak
untuk berkomunikasi satu sama lain
karena desau angin
dan gelora ombak itu
tak pernah reda sedetikpun
gemuruh
keras
dan serba raksasa.

Perahu-perahu nelayan
kapal-kapal mancing
enggan mendekat ke mari
takut terseret arus
atau dihempas gelombang
membentur karang.

Hongkong
daya gaib apakah yang kau sihirkan
hingga di malam gulita
sesosok perahu bergerak mendekat
ke Sang Hyang Sirah
membuang sauh
lalu beberapa orang menceburkan
diri ke dalam gulungan ombak
berbekal jerigen kosong
lampu senter terbungkus plastik
dan galah-galah bambu
mereka berenang mendekat ke mulut gua
di tonjolan karang besar itu
kalau nasib baik
mereka bisa merapat
lalu masuk ke celah-celah karang
kalau lagi apes
gempuran gelombang
akan membanting tubuh-tubuh kecil itu
menghempas dinding karang.

Di gua itulah
burung-burung walet membangun
sarang
untuk menaruh telur
dan melanjutkan keturunan.

Hongkong
betapa kuat dan jauh
jangkauan tanganmu
hingga bisa menyentuh
sudut paling sepi
di ujung paling barat pulau Jawa.

Gua-gua itu
burung-burung kecil yang terus terdesak
dengan tekun meneteskan liurnya
lalu mengoleskannya di tonjolan karang
di sudut gua yang gelap
jauh
terpencil
dan terlindungi
deburan ombak.

Tetapi
sampai juga tangan-tanganmu itu ke sana
menjarah
menghempaskan telur-telur
anak-anak walet
ke dalam deburan ombak.

Hongkong
begitu perlukah liur burung itu
untuk membangkitkan daya hidup
syahwat
atau mitos kuno yang
dilanggeng-langgengkan
atau apa?

“Kami hanya sekadar mencari nafkah
Kami diupah Rp 20.000,- per hari
apa pun yang kami dapat.
Kalau kami mendapat banyak,
toke-toke itu akan memberi
persenan
bisa sepuluh ribu, duapuluh ribu
bisa juga sampai limapuluh ribu.
Lumayan
daripada jadi nelayan
atau memburuh di pabrik.
Sebab menjadi petani
tanah sudah tak ada lagi.”

Menjarah?

“Ya kami tahu masuk
dan mengambil apa pun
di Taman Nasional
memang dilarang.
Kecuali mancing
mengambil air
atau berlindung ketika badai datang
atau menginap di malam hari.
Tetapi itulah kerja kami yang
paling banyak menghasilkan uang.
Lobster
ikan napoleon
dan sarang walet
yang lain-lain tak seberapa.”

Hongkong
petugas Taman Nasional itu
pasti belum pernah menjejakkan kakinya
di trotoarmu yang padat itu.
Barangkali Menteri Kehutanan
Dirjen
paling banter Kepala Taman Nasional
yang pernah sempat menghirup
asap hiomu
dunia petugas jaga wana hanyalah
bivak sederhana
menu yang hanya itu-itu saja
keluarga yang jauh di kota
perahu karet
HT
dibentak-bentak atasan
dan honor yang tak seberapa.

Hongkong
metropolitan di pinggir Pasifik itu
pasti jauh dari angan-angan petugas jagawana
sesuatu yang tak pernah terbayangkan
tetapi, ke metropolitan yang jauh itulah
satwa-satwa yang mereka jaga
ditangkap dan dikirim.

Laut
gua-gua walet
terumbu karang
potasium dan dolar
dan perut yang lapar
dan bujukan para toke
semua bergulir
berputar
teraduk-aduk
hingga perut siapapun akan mual
kadang harus muntah-muntah
dan kemudian demam
nyamuk-nyamuk di muara Cigenter
di pos Karangranjang
malaria adalah acara rutin keluarga
keluarga jagawana
keluarga nelayan
keluarga penjarah
tetapi bukan keluarga para toke
yang telah merentangkan benang panjang
dari gua-gua sepi di pantai karang itu
dengan restoran-restoran bintang
di jantung Metropolitan Hongkong.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: