PENJARAHAN III

24/10/2013 at 16:23 (puisi)

Senin pukul 10.00
percakapan telepon
antara Ir. Harjuno
eksekutif muda sukses
anak jenderal purnawirawan kondang
dengan teman selingkuhnya
Diah Banowati
mantan peragawati sukses
selebritis kenamaan ibukota.

“Lu jangan brengsek!”
“………………”
“Kagak bisa.”
“………………”
“Ya pokoknya nggak bisa.”
“………………”
“Coba!”
“………………”
“Ya coba saja kalau berani.”
“………………”
“Gua perkosa lu!”
“………………”
“Ya, tapi diwakilkan satpam.”
“………………”
“Tidak bisa. Minggu depan ini saya
masih ke Madrid lalu terus ke Rio.”
“………………”
“Ya, Pert kan deket. Kita kedip
juga nyampai.”
“………………”
“Nggak apa-apa. Tahu juga nggak apa-
apa. Bini gua kan baik.”
“………………”
“Ya cowok lu itu yang memang cemburuan.”
“………………”
“Makanya!”
“………………”
“Minggu ini lagi! Saya sudah janji sama
Oom Bimo.”
“………………”
“Boleh. Lu mau ikut juga boleh.”
“………………”
“Ya hutan! Namanya juga Ujung Kulon.”
“………………”
“Ada. Hotelnya juga ada.”
“………………”
“Oom Bimo pakai heli.”
“………………”
“Ada, kapalnya sudah nunggu di sana.”
“………………”
“Enak saja, dia bawa! Dua lagi.”
“………………”
“Ya nggak tahu cabo mana yang dia tenteng.
Dari Bongkaran ‘kali!”
“………………”
“Gila lu!”
“………………”
“Udahlah!”
“………………”
“Apa? Steak badak? Steak celeng
ya banyak!”
“………………”
“Banteng bisa.”
“………………”
“Ya biar Oom Bimo yang telepon Menteri!
Gua nggak ada urusan.”
“………………”
“Di kantornya.”
“………………”
“Ya kan ada helipadnya.”
“………………”
“Ya jam-jam segini.”
“………………”
“Lo Oom Bimo kan nggak bisa bangun
pagi.”
“………………”
“Brengsek bener.”
“………………”
“Pert lagi.”
“………………”
“Lu kebelet banget sih sama cowok Aborigin.”
“………………”
“Tititnya kecil! Mending sama Arab.
Atau sama gua.”
“………………”
“Terserah.”
“………………”
“Ya, kan Oom Bimo bawa dua. Lu
nggak ikut satunya ya buat saya!”
“……………..”
“Idih, amit-amit. Udahlah gua mau
kerja.”
“……………..”
“Ya ngerjain sekretaris. Namanya juga
sekretaris baru, cantik lagi.”
“……………..”
“Udahlah, udah, udah!”
“……………..”
“Bodo!”
“……………..”

Kapal-kapal troling itu berderet-deret
di dermaga Pulau Peucang
ada yang buang sauh agak jauh
di tengah
ada yang merapat di pantai yang putih
jumlahnya puluhan
ada yang mancing dasar
untuk dibakar malam ini.

Peucang
sebuah pulau karang kecil
yang tak akan pernah tampak
di peta Indonesia
dia menempel di ujung semenanjung
paling barat Pulau Jawa
dan hanya dipisahkan
selat yang tenang sekali
namun berarus deras di bawah sana.

Pasir putih yang sangat halus
pohon ketapang raksasa
jambu kopo
pandan laut yang berjajar rapat
sumur yang hanya berjarak beberapa meter
dari pantai
tapi airnya sangat jernih dan tawar.

Dermaga itu menghadap ke selatan
ke arah daratan semenanjung Ujung Kulon
dengan latar belakang Gunung Payung yang
hampir selalu berkabut
di arah barat sana Tanjung Layar
dengan menara suarnya yang menjulang
dan malam hari
selalu menyala, mati, menyala, mati
dengan interval yang sangat panjang
seperti denyut jantung yang
sangat lemah
sangat mencemaskan.

Peucang adalah contoh atol tropis
dengan hutan hujan dataran rendah
yang masih utuh
meranti
jamuju
berangan
melinjo
burahol
belimbing wuluh
rusa jawa yang jinak
biawak
dan babi hutan bisa tiba-tiba
menerobos belukar lalu melintas
dekat sekali
ke dua sejoli
yang sedang berselingkuh
Ir. Harjuna dan Diah Banowati.

“Ini kan padepokan Eyang Abiyoso
yang asri
di pinggiran hutan
lalu resor itu
restoran itu
adalah pendopo tempat menerima
cantrik-cantrik.
Mereka
cantrik-cantrik itu tinggalnya
di bivak sana!”
“Ya. Lalu gua Harjuna dan lu Banowati
lagi berduaan dan mau NGENTOT!”
“Hus! Saru Kangmas! Ngentot itu
sangat, sangat kasar.
Mengapa tidak bersetubuh atau bersebadan!
Tetapi itu nanti.
Sekarang kita kan sedang kasmaran.
Sedang memadu cinta!”
“Diancuk lu!
Katanya mau steak banteng?
Atau hiu?
Oom Bimo  dapat hiu gede sekali!”
“Badak Kangkas. Saya ngidam steak badak.
Kalau tidak saya ngambek lo!”
“Bodo amat! Lu mau ngambek, mau ngewek,
mau ngentot. Terserah. Gua mau ngrokok!”
“Jangan kangmas Harjuna. Rokok itu racun.
Rokok itu akan membunuh kita pelan-pelan.
Kanker! Kanker paru-paru.
Aku mau paru goreng! Paru badak!”
“Badak melulu! Memek lu memek badak!”
“Kok saru lagi Kangmas?
Telingaku risih lo mendengarnya.
Dan air liurku nyaris menetes
membayangkan lidah panggang.
Lidah badak!”
“OOM BIMO!!! MANA CABO SATUNYA?
SELESAI BELUM? CABO YANG INI LAGI
KUMAT AYANNYA!”

Dor!
Tembakan itu dari arah
padang Cidaun
tempat banteng-banteng merumput
Dor
Sekarang sangat dekat
di pelataran resor
Dor
Rusa jantan besar tersungkur
Dor
Biawak telentang
Dor
Monyet terkapar
Rrrrr …………
Rubber boat merapat
banteng jantan besar
dilemparkan ke pasir
diseret
dikerek
lalu dikuliti
dan dicincang
Dor
Monyet betina bunting juga ditembak
Dor
Merak jantan kelepak-kelepak-kelepak
Dor, dor, dor
babi, babi, babi
kawanan babi
Dor
kancil
Peucang!

“Ya, orang Sunda bilang kancil itu
Peucang.”
“Ini Pulau Peucang? Pulaunya Kancil?”
“Mari kita memanggang Peucang!”
“Badak! Aku merindukan aroma badak panggang!”
“Ngentot lu! Badak tidak boleh ditembak.
Tinggal 50 ekor badak cula satu di planet ini!”
“Pokoknya Badak Kangmas! Badak!”
“Lu yang gua tembak kalau resek melulu!”

Diah Banowati
anggun dan sexy
mantan peragawati top
bintang selebritis ibukota
merogoh saku jeansnya
mencomot HP
memencet-mencet nomor
lalu menempelkan di kuping

“Siang Oom!”
“………………….”
“Ya saya!”
“………………….”
“Di Peucang Oom.”
“………………….”
“Ya. Banyak, sama teman-teman.”
“………………….”
“Sudah! Ya banyak.”
“………………….”
“Banyak sekali. Nanti malam barbequenya.”
“………………….”
“Katanya sih. Tapi Oom, saya ingin badak.
Satu …. saja Oom! Boleh kan?”
“………………….”
“Ngentot lu! Di sini nggak bakalan
ada HP bisa nyangkut!”
“Sebentar ya Oom………….Nih, Menteri Kehutanan!
Lu ngomong sendiri!”
“……………….???”
“Halo, eh maaf Pak!”
“………………….”
“Ya!”
“………………….”
“Ya Pak!”
“………………….”
“Ya!”
“………………….”
“Siap Pak!”
“………………….”
“Maaf Pak. Ya. Heli masih Pak.
Masih ada di sini. Ya, cukup Pak!”
“………………….”
“Mampus lo! Pokoknya gue mau
sate badak!”

Rrrrrr……………..
heli terbang
senapan dipasang
heli menyeberang selat
ke arah padang Cidaun
heli berputar-putar
merendah
membidik
berhenti di udara dan
Dor!
(yang kena banteng)
Dor!
(banteng lagi)
Dor-dor-dor
(tiga banteng tersungkur)

“Kok banteng melulu Oom Bimo!”
“Ya memang susah badaknya. Mana coba?”

Diah Banowati
Cantik dan ngebet daging badak
dia ambil HP
dia pencet-pencet nomor
ditempelkan di Kuping.
“Kolonel Haryo ya? Ini Diah. Tolong
dengan Bapak!”
“………………….”
“Bapak siapa lagi! RI I!
Masak mau bapak gua nyambungnya ke elo!”
“………………….”
“Siang Pak!”
“………………….”
“Memang berisik!
“Di Heli!”
“………………….”
“Sama Oom Bimo!”
“………………….”
“O…….!”
“………………….”
“Ya, ya!”
“………………….”
“Ya.”
“………………….”
“Yang brewokan itu kan?”
“………………….”
“Nyari badak kok susah ya Pak?”
“………………….”
“Bagaimana?”
“………………….”
“Ya, itu kan di Afrika Pak!”
“………………….”
“Saya mau yang di sini.”
“………………….”
“Di Ujung Kulon!”
“………………….”
“Ya sekarang ini saya sedang di Ujung Kulon!
Dikiranya Bapak di mana?”
“………………….”
“Ah, bapak ini!”
“………………….”
“Bagaimana?”
“………………….”
“Siapa?”
“………………….”
“Suwito?”
“………………….”
“Oom Bimo tahu?”
“………………….”
“Ya, ya. Dag, Pak!”

Suwito
Raden Mas Suwito Kartorejoso
Jawa
tapi sudah 40 tahun di Banten
dia dipanggil
dijemput Heli
di drop di Peucang
dengan rubber boat ke Cidaun
lalu membaca jampi-jampi
mengerahkan tenaga batin
memanggil Sang Badak.

“Pi jompa jampi
banteng lunga badak teka
ora nyruduk malah silo
tak beleh gulumu
tak bujeli culamu
Pi jompa jampi
mandi!”

(Tra mantera mantera
banteng pergi badak datang
tidak menyeruduk malahan bersila
saya sembelih lehermu
saya potong culamu
tra mantera-mantera
mujarab!)

Dari arah gerumbulan
badak jantan besar menyembul
dan mendekat

“Ono opo kang?”
“Lo, badak kok iso ngomong ki piye?”
“Yo iso wong crito kok!
Rak yo do slamet to kang sampeyan?”
“Yo becik-becik wae!”
“Awakmu piye?”
“Elek kang! Elek banget!”
“Kok elek piye to?”
“Yo elek. Wong arep kok beleh!”
“Iki rak mung tugas ta!
Jane aku yo ora tegel!
Wong badak bagus-bagus ngene kok dibeleh!
Eman banget jane!”
“Nek eman yo ojo kok beleh!
Aku tak lunga yo?”
“E……ojo. Mengko disik!”
“Mengko-mengko yo tetep
arep kok beleh to?”
“Ngene! Cekelno banteng siji
lanang sing gede. Dandanono badak.
Den ayune siji kae pancen edan tenan kok!”
“Den ayu sopo kang?”
“Den ayu Diah!”
“Ayu tenanan opo kang?”
“Lo kowe iki rak badak. Ojo melu-melu!”
“Ben badak nanging rak lanang to kang?”
“E, ojo melu-melu edan kowe.
Kae ki demenane jendral
konglomerat, mentri, presiden!
Presiden wae yo isih melu-melu kok.
Kowe sisan!”
“Aku Kang?”
“Badak ora susah melu-melu.
Wis kono ndang nyekel banteng.
Sing gede yo? Lanang lo!”
“Iyo Kang!”
“Badak edan!”

(Ada apa kang?-Lo, badak kok bisa bicara,
ini bagaimana?
-Ya bisa, ini kan hanya cerita? Bagaimana kabarnya kang?
Baik-baik saja kan?
-Ya, baik-baik saja, anda bagimana?
-Jelek kang, jelek sekali!
-Jelek bagaimana?
-Ya jelek karena mau kamu sembelih!
-Ini kan hanya sekadar tugas, sebenarnya saya juga tidak sampai hati.
Badak ngganteng-ngganteng begini kok mau disembelih.
Sayang sekali sebenarnya.
-Kalau sayang ya jangan disembelih. Saya pergi dulu ya?
-E…..jangan. Nanti dulu.
-Nanti-nanti juga akan tetap kamu sembelih kan?
-Begini, tolong tangkapkan banteng satu, jantan, yang besar.
Berilah pakaian badak.
Den ayunya itu memang benar-benar gila kok.
-Den ayu siapa kang?
-Den ayu Diah.
-Ayu beneran kang?
-Lo kamu ini kan badak. Jangan ikut campur.
-Biarpun badak tapi kan jantan kang?
-E, jangan ikut-ikutan gila kamu. Dia itu simpanannya jenderal,
konglomerat, menteri,  presiden. Presiden pun masih ikut-ikutan.
Kamu lagi!
-Saya kang?
-Badak tidak usah ikut-ikutan! Sudah sana cepat-cepat
menangkap banteng.
Yang besar. Jantan ya!
-Iya kang!
-Badak gila!)

Badak jantan besar itu
melangkah pergi
Raden Mas Suwito menunggu
dua jagawana juga menunggu
tak lama kemudian
badak yang tadi itu datang lagi
dengan menyeret banteng jantan
gemuk dan besar.

“Lo, kok durung kok dandani? Kowe ki sembrono!”
“Yo iki, delengen disik. Wis matuk opo durung?
Nek durung yo tak golekke maneh sing luwih gede.”
“Yo uwis! Iki wae! Ayo, cekat-ceket lek didandani!”
“Sim salabim! Abrakadabra! Dadiyo badak!
Cring-cring-cring.
Wis Kang. Wis dadi badak.”
“Lo, culane kok telu ki piye?
Badak ngendi culane telu?”
“O, cring-cringe mau ping telu. Kakehan kudune
pisan wae yo Kang?”
“Badak gendeng kowe ki! Wis ngerti cringe kudu siji
kok ya dipingteloni. Sengojo to kowe ki?”
“Lali aku Kang. Wis iki wis tak ilangi culane sing loro.
Ngene to?”
“Na, yo ngene iki. Badak bagus tenan kowe kuwi!”
“Opo maneh Kang!”
“Wis. Do nrimo yo Dak.”
“Podo-podo Kang. Sampeyan isih nang Banten?”
“Yo isih. Arep ngopo maneh? Wong wis tuwek kari nunggu mati.”
“Wis to? Aku tak lungo yo Kang!”
“Lungoo!”
“Ora sido kok beleh to?”
“Ora-ora!”
“Yo maturnuwun tenan.
Tak-ding-ding-tak-ding-jreng……”

(Lo, kenapa belum didandani? Kamu ini bercanda.
-Ya ini, dilihat dulu. Sudah cocok atau belum? Kalau belum saya carikan lagi yang lebih
besar.
-Ya sudah. Ini saja. Ayo cepat-cepat didandani.
-Sim salabim! Abrakadabra! Jadilah badak!
Cring, cring, cring. Sudah kang. Sudah jadi badak.
-Lo, kenapa culanya ada tiga? Badak dari mana yang bercula tiga?
-O, tadi cring-cringnya tiga kali. Kebanyakan. Mestinya kan cukup satu ya kang?
-Badak gila kamu ini. Sudah tahu kalau cringnya cuma sekali kok dibaca tigakali.
Sengaja kamu ini ya?
-Lupa saya kang. Sudah, ini dua culanya sudah saya buang. Begini kan?
-Nah, ya begini ini. Betul-betul badak ngganteng kamu ini!
-Apa lagi kang?
-Sudah, terimakasih ya dak!
-Sama-sama kang. Anda ini masih di Banten?
-Ya masih. Orang sudah uzur begini, tinggal menunggu mati.
-Sudah kan? Saya boleh pergi kan?
-Pergilah!
-Tidak jadi disembelih kan? Tidak, tidak!
-Ya terimakasih sekali. Tak-ding-ding-tak-ding-jreng….)

Pulau Peucang
dua resor ber-AC
satu resor country
restoran
kantor
bivak-bivak
di sekelilingnya hutan
benar-benar hutan lebat
dan di tengah-tengah lapangan rumput
bisa untuk helipad
biasa untuk lalulintas monyet
untuk mondar-mandir biawak
dan tempat rusa-rusa pamer tanduk
yang bercabang-cabang
tetapi malam ini api unggun besar
panggangan steak
panggangan sate
kerumunan laki-laki dan perempuan
semuanya jetset
semuanya berpasang-pasangan
semuanya sedang berselingkuh-selingkuhan.

“Mana badakku? Oom Bimo!
Suwito kok lama amat sih?”
“Suruh itu Kangmasnya nyusul!”
“Iya ini. Balita satu ini. Maunya netek melulu!”
“O……Itu dia Mbah Suwito!”
“Dan badaknya!”
“Lo, masih hidup!”
“Gila! Dituntun mex!”
“Benar-benar Rambo Banten dia!”
“Abah Suwito!”
“Lo, itu kan banteng?”
“Iya. Kok banteng?”
“Banteng dengkulmu. Lihat baik-baik.
Pelototkan matanya!”
“Banteng!”
“Iya banteng Mbah!”
“Oom Bimo, kok banteng sih?”

Raden Mas Suwito
memang menuntun banteng jantan besar
ke arah api unggun.
“Sim salabim, abrakadabra banteng dadio badak
Cring!”
“Badak!”
“Ya badak besar sekali!”
“Badak kan? Dari tadi yang saya tuntun ini ya badak! Bagaimana?”
“Badak!”
“Ya Badak!”
“Bagaimana Mbak Diah? Sembelih?”
“Lo itu kan banteng Mbah?”
“O, matane isih awas genduk iki!”
“Yo awas wong guruku karo gurumu podo kok!”
“E la dalah! Yen ngono kowe
sing dadi badake nduk. Sim salabim, abrakadabra.
Cring, cring, cring.
Dadiyo badak cula telu!”
“E. Mbahe kok kurangajar to!”
“Lo badaknya ada dua!”
“Ya ada dua, yang satu cantik!”
“Hanya satu! Yang satunya jadi banteng lagi!”
“Ini badak kok sexy sekali sih?”
“Ya, telanjang bulat lagi!”
“Kita sembelih yo, lalu dipanggang!”
“Jangan! Kita perkosa dulu ramai-ramai!”
“Ayo……..!”
“Awas! Jangan rebutan! Antre satu-satu!”
“Ayo, kita antre sembako!”
“Embah duluan. Embah itu harus nomor satu!
Aku belum pernah dapat yang seperti ini.
Ini yang sering di Tivi itu kan?”
“Lo, bantengnya jangan dilepas Mbah!”
“Wah bantengnya ngamuk!”
“Aduh, aduh!”
“Lari, lari!”
“Tolong aku keiinjek.”
“Aku ditanduk. Aduh pantatku!”
“Rokku sobek!”
“BHku lepas. Tolong!”
“Celana dalamku! Lo? Ternyata aku tidak pakek
celana dalam dari tadi itu!
Tolong banteng itu mengejarku!”

Gaduh
berlarian
restoran terbakar
api berkobaran
semua menuju kapal
tak ada yang berani ke hutan
onggokan daging
api unggun
tikar
darah
aroma parfum yang mesum
kilatan lampu blitz
kameraman yang terjatuh
sambil tetap mengambil gambar
reporter yang tergopoh-gopoh
menyodorkan mik.

“Ini tadi kejadiannya bagaimana Mbah?
Kok lalu kacau begini?”
“Sontoloyo!”
“Embah tadi menangkap banteng atau badak Mbah?”
“Sontoloyo!”
“Tadi Embah kelihatan mau memperkosa Mbak Diah.
Sudah sempet belum Mbah?”
“Sontoloyo!”
“Tadi kelihatannya Mbak Diah sudah mau nyerah lo.
Apa Embah masih kuat?”
“Sontoloyo tenan!”

Pulau Peucang kembali sepi
kadang angin itu terasa sangat kencang
lalu sayup-sayup
kedengaran debur ombak di Tanjung Layar
kadang deru mesin perahu
terdengar menjauh
lalu hilang
sekali-sekali jerit rusa betina
memanggil anaknya
dan lengkingan anaknya
menyahut entah dari mana.

Pohon ketapang raksasa
di pangkal dermaga
dahan-dahan nyamplung
yang menjuntai
jauh ke pasir pantai
serangga malam
ya, bunyi serangga malam itu
sebuah simponi purba
entah mimpi
entah nyata
nyaris tak ada
bedanya.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

2 Komentar

  1. Edmond-Louis Dussault said,

    Dengan hormat:

    Saya baru selesai menerjemahkan sebagian dari buku Negeri Badak, termasuk Penjarahan III, ke dalam bahasa Perancis.

    Ada beberapa kalimat yang belum jelas maknanya bagi saya :

    “Lu yang gua tembak kalau resek melulu !” (artinya kata “resek” ?)
    […]
    ” Bapak siapa lagi ! RI I! (artinya RI I ?)
    Masak mau bapak gua nyambungnya ke elo! ” (artinya elo ?)
    […]
    Tak-ding-ding-tak-ding-jreng (kiranya tidak ada artinya, tetapi tiruan bunyi apa ?)
    […]
    “lya ini. Balita satu ini. Maunya netek melulu!” (arti seluruh kalimat kurang jelas)
    […]
    “Gila! Dituntun mex! ” (artinya “mex” ?)
    “Abah Suwito!” (artinya “abah”)

    Itulah kesulitan bahasanya buat saya.

    Seandainya Pak Rahardi rela menghubungi saya melalui surat elektronik, ada beberapa masalah yang dapat kita bicarakan lebih lanjut.

    Terima kasih banyak sebelumnya !

    • frahardi said,

      Yth. Pak Edmond Louis Dussault

      Terimakasih Bapak telah menerjemahkan buku saya yang berjudul Negeri Badak, kedalam bahasa Perancis.
      Adapun beberapa kata yang Bapak tanyakan artinya sebagai berikut :
      Resek = Rewel, berisik, ribut
      RI I = Presiden
      Elo = Kamu
      Tak-ding-ding-tak-ding-ding-jreng = Musik gamelan Jawa
      Balita = Bayi, anak-anak
      Balita = Akronim dari Bawah lima tahun
      Kurang lebih, Iya ini = Si bayi satu ini maunya (inginnya) menyusu melulu (terus)
      Abah = Bapak

      Kalau masih ada yang kurang jelas, Bapak bisa email ke saya.

      Terimakasih,
      F. Rahardi
      Email : frahardi@yahoo.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: