MENGHILANGKAN DIRI

04/11/2013 at 16:31 (puisi)

Saudara-saudara para badak
marilah kita menghilangkan diri
dari semesta alam ini.”
“Menuju surga?”
“Tidak!
Surga hanya milik manusia,
Tuhan dan malaikat-malaikat.”
“Menuju neraka?”
“Juga tidak.
Neraka hanya untuk setan-setan dan
konon manusia yang berdosa.”
“Lalu ke mana?”
“Ya, ke mana?”
“Kita tidak akan ke mana-mana
kita akan jadi hantu
akan jadi kenangan
dan akan hidup abadi.”

“Mari kita muksa.”
“Murco.”
“Gaib.”
“Menyatu dengan Hyang Widi Wasa
melebur jadi lumpur
lalu menguap jadi debu
jadi awan dan terbang
sampai ke Bangkok
sampai ke Brunei
lalu menyeberang Pasifik
dan terdampar di Hawaii
meleleh
meluncur bersama lava
yang membara
dan membeku serta dingin
hanyut dibawa gelombang Pasifik
lalu berselancar bersama tubuh-tubuh
kekar dan atletis
mari kita melenyapkan diri
hancur bersama daun-daun
ranting-ranting kering
dan lapuk
dihisap cendawan
dimakan belatung
digerogoti rayap.”

“Mari!
kita bercengkerama
di perut belalang
dan berwisata
di kelenjar lalat
dan jika lalat dan belalang itu
dipatuk burung jalak
kita akan bisa ikut bersiul
berkicau dan menyanyi memuliakan
pagi.”

“Mari kita menyatu dengan
desau angin
gemericik air Citerjun
dan derap irama
sayap-sayap albatros
yang mengarungi samudera
melintasi benua-benua.”
“Tetapi untuk apakah
itu semua?”

“Ya untuk apakah kita mati?”
“Untuk apa?”
“Tidak untuk apa-apa
kematian tidak pernah ada
kita tidak akan pernah bisa
lepas dari jagat raya
kita tidak akan pernah bisa
lenyap dari semesta ini
semua hanya siklus
air akan menjadi uap lalu mengembun
dan menetes
rumput dan daun-daun yang kita makan akan
menjadi darah menjadi daging
menjadi tulang
menjadi tahi
lalu tahi itu dimakan kumbang
dan tahi itu bisa terbang
tahi itu bisa naik ke langit
lalu didorong angin
dan menyusup masuk ke dalam
surga lalu para malaikat
dan roh manusia-manusia
yang suci bersin-bersin.”
“Matahari akan mati?
Kapankah
super nova
lubang hitam
kubangan
kita harus nyemplung ke sana.?”

Maka badak-badak itupun
lalu mencemplungkan diri
ke dalam lumpur lalu
bersukaria
dan berendam-rendam.

Ketika itulah suara keras
menderu-deru
makin lama makin bergemuruh
dan dekat
dan tampak sebuah helikopter
mengapung di udara
badak-badak itu heran
dari dalam heli itu
tiba-tiba
terlempar sebuah jaring
yang besar dan sangat kuat
seekor badak tertangkap lalu
dibawa terbang
tak lama kemudian
heli itu datang lagi lalu
menembakkan peluru bius
seekor badak tertembak lalu teler
dan dimasukkan jaring lalu
dibawa terbang
heli itu tampaknya dilengkapi
alat pelacak badak
sehari itu tertangkap empat
sampai lima ekor badak.

Di angkasa badak itu meronta-ronta
berontak tapi sia-sia
heli itu meluncur ke arah timur
melintas gunung Honje melintas kota
Rangkas terus ke timur
ke arah Sentul
ke arah sebuah rumah
dengan halaman entah berapa hektar.

Heli itu memutar dan merendah
badak-badak itu diturunkan
jaring dilepas
lalu badak-badak itu
bergerak
menggelepar
berdiri
dan mengeras
jadi kaku
jadi patung badak.

“Lebih baik kita murco
dan jadi hantu gentayangan
daripada jadi penghias taman”
kata badak itu begitu temannya datang.

“Pak, kok badaknya jadi patung?”
“Itu memang patung. Patung naturalis
yang dikerjakan oleh titisan Rodin
yang sekarang berdomisili di Pandeglang
Banten!”
“Nyoman Nuarta?”
“Bukan. Dia kan akan membuat patung
garuda raksasa. Ini kan patung badak.”
“Tadi bergerak-gerak lalu berdiri
tetapi tiba-tiba jadi kaku dan keras!”
“Itulah hebatnya sang pematung titisan Rodin.
Dia bisa menyihir penonton hingga
seakan-akan patung itu benar-benar hidup.”
“Tapi itu Pak! Heli itu datang lagi!
Coba nanti bapak lihat.”

Heli itu datang lagi.
Seekor badak  diturunkan.
Jaring dibuka. Badak itu bergerak-gerak,
berdiri, sempoyongan, menggelepar-gelepar
lalu meregang, kaku dan menjadi patung!
“Nah Pak! Bapak menyaksikan sendiri kan ini tadi?”
“Menyaksikan apa?”
“Ini tadi! Badaknya kan hidup! Tapi tiba-tiba kaku lalu menjadi patung!”
“Itulah hebatnya pematung kita. Itu tadi bagian dari kreasi seninya!”
“O!”
“Makanya, kamu jangan kuper!
Harus jadi anak gaul dan tidak boleh kekurangan PD!”
“Ya Pak! Terimakasih!”
“Nah sudah berapa patung badak sekarang?”
“Limapuluhan pak!”
“Berarti sudah semuanya.”
“Bapak pesannya limapuluh ya?”
“Benar! Coba nanti kau beri
nomor registrasi dan kau catat rapi
di agenda ya?”
“Perlu dilaporkan ke bagian akunting pak?
Supaya tutup tahun nanti bisa masuk neraca?”
“Itu prosedur baku! Jangan lupa pula bagian sekuriti harus ditugasi
untuk mengamankan seluruh kawasan. Sekedar
tahu saja ya, badak-badak ini seluruhnya terbuat dari
emas 24 karat!”
“Emas seluruhnya pak?”
“Benar. Tetapi sengaja diberi warna orisinil badak yakni
abu-abu kecokelatan untuk kemuflase. Untuk menghindari
penjarahan.”
“Seluruhnya berapa ton pak?”
“Sekitar 350 ton!
Semua itu nantinya akan saya selundupkan ke Hongkong!”
“Dari mana pak emas-emas ini?”
“Dari PT Aneka Tambang di gunung Pongkor.
Biasa. Saya main dengan orang dalam.
Rencananya saya juga akan membuat patung banteng,
patung rusa dan gajah.
Total beratnya sekitar 5.000 ton.”
“Ck, ck, ck! Hebat!”
“Makanya! Kamu jangan bandel!
Nanti sore kau uruskan tiket ya! Telepon saja ke Raptim.
Saya akan terbang malam ke Denpasar terus langsung ke Hawaii!”
“Siap Pak! Kopornya sudah diurus ibu ya?”
“Sudah! Nanti kalau badak-badak itu kembali hidup,
tolong disediakan makanan dan digiring ke tempat kubangan
di seberang sana ya!”!
“Baik Pak!”
“Sekarang saya mau lengser!”

Roh-roh badak itu
berkumpul di bukit Sentul
mereka heran
takjub
malam yang dingin
tetapi banyak sekali lampu
banyak sekali rumah-rumah
bau manusia
bau bensin dan solar yang dibakar
dalam mesin-mesin mobil
bunyi yang gaduh
deru motor
deru lalulintas
di jalan tol Jagorawi
tak ada lagi pohon-pohon
tak ada lagi belukar.

“Memang kita tidak perlu pohon lagi ya!”
“Kita tidak perlu kubangan tidak perlu daun-daun.
Kita merdeka.”
“Bebas. Kita bisa bergerak ke mana saja tanpa ada rintangan apa pun.”
“Kita tengok saudara-saudara kita dipulau Sumatera dan Kalimantan?”
“Badak Sumatera maksudnya?”
“Ya. Kita silaturahmilah!”
“Mengapa tidak sekalian ke Afrika?
Kita tengok saudara-saudara kita yang bercula dua.”
“Culanya ada dua?”
“Ya dan badan mereka besar-besar.”
“Serem sekali ya?”
“Lebih serem kita. Sebab kulit mereka polos-polos saja
mirip kebo. Kita kan punya baju zirah yang berlipat-lipat.”
“Saya pengin ketemu gajah.”
“Sudah berabad-abad badak jawa tidak pernah ngobrol dengan gajah.
Kapan obrolan terakhir dilakukan oleh
nenek moyang kita?”
“Mungkin limaratus ribu tahun silam.
Mungkin lebih lama lagi.”
“Lebih baik kita ketemu manusia.  Pimpinan manusia.”
“Namanya presiden. Dia tinggal di Jakarta
dan rumahnya dijaga tentara.”
“Jangan takut. Tentara kan tidak dapat melihat kita.
Ingat, kita hanya roh!”
“Mungkin kita ziarah dulu ke gunung Pangrango
ke Kandang Badak.”
“O, ya, ke petilasan para leluhur kita.”
“Mari, mari!”
“Ayo!”

Roh para badak itu
bergerak
meninggalkan bukit Sentul
mereka tidak berjalan tetapi
juga tidak terbang
mereka bergerak
karena roh tidak kelihatan
mereka tidak menabrak apapun.

Mereka melayang naik melintasi
Ciawi terus naik lagi ke Gadog.
Mereka tidak perlu merunut
jalan raya yang berliku-liku
tetapi terus langsung naik dan
mendarat di lembah
yang disebut Kandang Badak.

Udara relatif hangat
tidak sedingin di puncak Gede
atau Pangrango
di lembah ini
ada mataair kecil tapi jernih
dan senantiasa mengalir sepanjang tahun
kandang badak adalah
pertemuan dua gunung
Gede dan Pangrango
di sini ada jalan yang menurun
menuju Cibodas
ada simpangan ke arah kawah
lalu ada jalan pendakian
ke kiri untuk mencapai
puncak Gede dan ke kanan akan
sampai ke puncak Pangrango
di sinilah para mahasiswa itu
mendirikan tenda-tenda
yang berserakan di bawah pepohonan
ada juga yang ngekem di
bangunan pos.

Para mahasiswa itu
muda-muda
laki-laki dan perempuan
ada yang berpacaran
tetapi kebanyakan lupa pada urusan asmara
mereka marah
mereka kalah
di Jakarta
mereka ditembak dan beberapa orang mati
mereka diusir dari kampus mereka
lalu mengungsi ke gunung Gede-Pangrango.

“Mungkinkah tentara itu akan datang kemari?”
“Mungkin saja!”
“Kita habis kalau mereka datang!”
“Tapi kita kan pecinta alam.”
“Ya, di sini kita bukan lagi demonstran.”
“Kita sedang kalah.”
“Kita sedang mengumpulkan tenaga,
sedang mengatur siasat
dan siapa tahu roh para badak
yang menghuni kawasan ini
mau membantu kita!”
“Ya siapa tahu kita lalu jadi kuat seperti badak
yang berkulit tebal
dan bisa menyeruduk!”
Roh para badak itu
tiba-tiba merasa iba dan bersimpati
kepada para mahasiswa
mereka lalu berkomunikasi.

“Perkenalkan kami Roh para badak.”
“…………..?”
“Lo jangan takut.
Kami tidak akan mengganggu
melainkan justru akan membantu kalian!”
“Membantu? Anda ini siapa?”
“Ya siapa?”
“Kami roh para badak!”
“Roh para badak?”
“Bukan setan?”
“Bukan roh teman kami
yang tertembak bulan lalu?”
“Bukan! Kami asli roh para badak!”
“Dari Ujung Kulon sana?”
“Ya!”
“Waduh, kok tiba-tiba datang kemari?”
“Kami berziarah. Kami ingin berkomunikasi
dengan roh nenek moyang kami di sini.”
“O!”
“Lalu badan wadag kalian?”
“Ada di Sentul sana!
Kami diangkut dengan heli.”
“Apakah Anda bisa menampakkan diri?”
“Bisa! Ayo teman-teman,
kita menampilkan diri.”
“Ya inilah kami.
Asli badak cula satu dari Ujung Kulon.
Di dunia ini tidak ada duanya!”
“Wah benar!”
“Ya! Badak!”
“Oh My God! Rhinocheros!”
“Mami. Ada badak!”
“Hi, galak tidak ya mereka?”
“Tidak. Kami tidak galak. Peganglah,
kami tidak apa-apa!”

Para Mahasiswa itu
kawanan badak
udara gunung yang dingin
api unggun
kabut
malam itu mereka berdiskusi
lalu menjalin kolusi
untuk melancarkan aksi.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: