DOA PARA BADAK

11/11/2013 at 15:15 (puisi)

Puncak Pangrango yang biru
puncak Gede yang tidak kelihatan
mataair yang mengalirkan air jernih
langit yang hampir selalu berkabut
pohon-pohon entah pohon apa
pakis-pakisan
tanah vulkanis
batu-batu
roh nenek moyang
padamu kami mengadu.

Sebab tak banyak lagi yang bisa diajak bicara
sebab tinggal sedikit yang bisa dipercaya
ketika pohon-pohon tumbang
diterjang gergaji mesin
ketika tanah hutan dibuldoser
lalu binatang-binatang ditembak
dan diopset
batu-batu diseret dari kali
lalu diperkosa beramai-ramai
taman nasional dijarah
gunung-gunung dibakar
siapa lagi yang bisa kami ajak bicara
selain roh nenek moyang?

Angin
ranting kering yang bergerak-gerak
bunga rododendron yang oranye
pucuk-pucuk puspa merah jambu
deretan paku tiang
lumut-lumut tebal
kayu angin
kami ingin menumpahkan
sumpah serapah
caci maki
dan amarah yang sekian tahun
diperam dan disembunyikan.

Mari kita
seruduk pos-pos jagawana
dan kita kencing dan berak bersama-sama
di lobi gedung Manggala Wanabakti
roh nenek moyang
maukah kalian menyusup
ke mimpi para mantan menteri kehutanan
lalu mengamuk di sana.

Angin
terbangkanlah sampah batin
ini jauh ke langit sana
satukanlah dengan gumpalan mendung
lalu jatuhkan dan serakkan
ke halaman kantor departemen kehutanan.

Angin
kami rindu desau
yang dingin
untaian edelweis
arbei hutan
embun dan kristal matahari
di tengahnya.

Siapa lagikah yang masih mungkin
kami ajak tertawa dan menangis bersama
sejak kadaka dibetot dari dahan-dahan tinggi
lalu dibiarkan layu dan mengering
di pinggir-pinggir jalan
dan anggrek bulan diseret
dibanting-banting lalu diborgol
dan diikat di sepetak papan kecil
lalu dibiarkan kepanasan dan kehausan
di taman yang luas
dan sepi.

Untuk apa pemilik taman itu
menjajar-jajarkan
bekisar
burung prenjak
roh nenek moyang yang purba
maukah kalian
berlarian di angan-angan
menteri lingkungan
dan kalian seruduk nuraninya
yang mungkin lebih sering
tertidur di siang bolong.

Embun
untaian berlian yang
berkilau di dahan-dahan
di ujung rerumputan
matahari pagi
yang terperangkap
di bulu-bulu halus daun edelweis.

Siapa lagikah yang masih bisa
berhujan-hujan tanpa kedinginan
roh nenek moyang yang jauh
datanglah dan mengucurlah
bersama mataair yang jernih itu
lalu mengalir ke bawah sana
dan membasahi sawah-sawah
yang sudah mengeras
penuh semen dan aspal
roh nenek moyang
maukah kalian menggumpal
jadi bulatan bola golf
lalu melesat jauh ke dalam
jantung para pejabat dan konglomerat
yang berpelukan
dan berguling-guling
di rumputan.

Roh nenek moyang
turunlah bersama kabut
bersama hujan yang akan
melarutkan top soil kurus itu
lalu jadi air bah
yang menyuburkan gang-gang becek
dan memakmurkan rumah-rumah petak
yang berjejalan di bantaran kali.

Kapankah
barat dan timur
dapat saling menyapa
utara dan selatan
mau bergandengan tangan
dan berjalan beriring-iringan
mungkinkah kiri dan kanan
tidak saling menikam
dan golok-golok hanya
digunakan untuk mengupas kelapa
dan membelah kayu bakar.

Kemiskinan
haruskah mereka itu
berhadap-hadapan dengan mall
dengan pasar swalayan
dan tempat-tempat hiburan
dengan semangat berkobar-kobar
untuk berak dan kentut
dan saling meludah
sambil menutup hidung rapat-rapat
lalu dari mana udara segar
bisa masuk ke dalam rohmu
kalau semua saluran dan lubang
ditutup rapat dan disemen
disegel dengan kawat duri
dengan portal
dengan pentungan dan tameng.

Roh nenek moyang
kami berdoa
kami meminta
entah apa namanya
mungkin semangat
barangkali nyali
atau sesuatu yang bisa jadi pegangan
bersama
semacam petuah atau slogan
atau nyanyian yang bisa
kami teriakkan ramai-ramai
kami siulkan bersaut-sautan
kami minta hal yang sangat sederhana tapi
bukan fatamorgana.

Jurang
lereng yang terjal dan hijau
kabut di kejauhan
bunyi air terjun yang samar
sebentar ada sebentar tiada
untaian bunga anting
apakah kami harus mengucapkan
selamat pagi atau selamat sore
selamat bertemu atau selamat berpisah
apakah benar
yang harus kami  ucapkan kata selamat
dan bukan uluran tangan dukacita
ikut bersimpati.

Nenek moyang
nenek moyang para badak
kami tidak minta petunjuk
kami juga enggan mohon saran
kami ingin kekuatan
kami mengharapkan nyali
hingga berani bilang ya
kalau memang ya dan
mau bilang tidak kalau
memang benar-benar tidak
dan menyebut mungkin
kalau memang
tidak tahu dengan pasti.

Puncak Pangrango
lereng kawah yang terjal
puncak Gede
bibir kawah yang tipis
batuan vulkanis
deretan santigi gunung
angin pasti sangat kencang
di atas sana
roh nenek moyang
kepada siapa lagi kami harus lari
harus ngumpet dari kejaran
peluru tajam.

Bisakah elang dan enggang itu
meminjamkan sayapnya
hingga sejenak kami bisa terbang
lalu hinggap di pucuk dahan yang tinggi
dan peluru-peluru itu akan
kehilangan kekuatan
roh angin
roh embun
roh batu-batu
kami harus lari ke mana lagi.

Dapatkah angin itu jadi tirai baja
dan embun itu jadi ujung kawat berduri
lalu batu-batu jadi benteng kokoh
yang melindungi kami
malam, siang dan pagi serta
sore hari
dari
kejaran Batara Kala
raksasa pemangsa apa saja.
Mungkin hujan itu dapat
menganyam jaring dan perangkap
untuk menjebak Hyang Maha Kala
agar tidak berani menginjak-injak
dan tidak sampai hati
menggigit dan menghisap
darah dan daging
yang lemah.

Tetapi
puncak Pangrango itu selalu bisu
kawah Gede itu hanya kepulan asap
angin itu dingin dan keras
dan embun itu sangat menyilaukan
kapan kabut itu tersibak
lalu matahari tergopoh-gopoh
merangkul dan memeluk rapat-rapat
lalu obrolan menjadi hangat
dan darah pun mencair
roh baik itu mengalir dari tumit
merata ke ubun-ubun
kapan kebisuan itu dapat dilabrak
lalu dipaksa bicara
kapan?

Roh langit
awan dan kabut yang berlomba-lomba
menjauhi cakrawala
roh bisu
marilah kita tidak
saling menuding
tidak saling menikam
roh bisu
marilah kita berlomba diam
berlomba tidak saling menyapa
tapi juga tidak saling mengganggu
marilah kita menikam
diri kita masing-masing
memarahi mulut kita
memelototi mata kita
memaki-maki kuping masing-masing
mari kita menukik ke relung jantung lalu
ikut berdegup
ikut meniti aliran aorta
masuk ke pembuluh vena dan menyusup
sampai ujung rambut
silakan.

Roh yang sempurna
tak ada lagi baik dan buruk
suci dan dosa
panas dan dingin
semua saling mengisi
saling melengkapi.

Roh nenek moyang
kami tak lagi peduli
dengan nyali
dengan semangat yang meluap-luap
dengan target kemenangan
mungkin kami hanya akan berperan
sebagai penyeimbang
agar timbangan tidak patah
agar denyut nadi tidak pecah
roh yang jahat
roh yang baik
datanglah bersamaan dan saling
berebut tempat
kami siap.

Kawah gunung Gede gemuruh
asap mengepul dan menggumpal
lalu naik jadi awan dan hujan
petir meledak dan memancarkan
api yang menyilaukan
apakah kamu mau meletus
roh gunung
meletuslah kalau waktumu memang
sudah tiba
hamburkan amarah itu
membasuh lereng yang hijau
menyiram deretan santigi
perdu gaulteria
rumpun edelweis
semua dari abu
dan akan kembali menjadi abu
tetapi mengapa hanya mereka yang
boleh membakar dan
kami yang harus hangus terbakar?
Angin
air
air yang mengkristal
dan menetes
di duri-duri arbei
api
api yang jauh di perut bumi
hangatkan mimpi tupai yang kedinginan
mimpi tikus yang kadang terlalu rakus
hangatkan pasir dan batu-batu itu
dengan lelehan lavamu
Amin.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: