INSIDEN SENTUL

18/11/2013 at 16:22 (puisi)

Pantun pembuka:

“Bereli-reli ke sirkuit Sentul
berbalapria  finish di penjara
berkali-kali sakit dipukul
berdarah pelipis karena tentara.”

Rumah besar
modelnya tidak jelas
untuk apa juga kurang kentara
bahkan milik siapa
juga tak ada jawabnya.

Tetapi halamannya luas
total 500 hektar
hutan belantara 300 hektar
danau 30 hektar
padang rumput 50 hektar
kebun buah 60 hektar
taman 50 hektar
dan bangunan 10 hektar.

Komplek itu dikelilingi jalan
dibatasi tembok
dan sungai buatan yang
penuh buaya
aligator
dan ikan piranha.

Hutan seluas 300 hektar itu
terletak di lembah dan mengelilingi
padang rumput, kebun buah, taman
dan kompleks bangunan
yang berada persis di tengah-tengah.

Di hutan itu hidup rusa, kijang
babi hutan, banteng, macan tutul
macan kumbang, macan loreng sumatera
gajah sumatera dan singa afrika
semut, ular kobra, sanca
lebah liar dari kalimantan
dan burung gagak.

“Apa yang belum ada?”
“Badak!
Badak bercula satu dari Ujung Kulon
Badak-badak jawa yang hanya
tinggal 50 ekor itu
harus diangkut kemari.”
“Untuk apa?”
“Untuk melengkapi
jagat mikro ini.
Tanpa badak
hutan yang mengelilingi rumah mewah
menjadi tidak komplit
menjadi tidak sempurna
ibarat garam dan bumbu
diperlukannya hanya sedikit
tetap mutlak
masakan tanpa garam dan bumbu
akan menjadi hambar
tidak enak disantap.”

Bangunan dengan
taman, danau dan hutan itu
sangat misterius
tidak sembarang orang bisa masuk ke sana
kaum awam
rakyat gembel
hanya bisa menyaksikan kehebatannya
melalui tayangan tivi
itupun pada saat tamu agung
datang berkunjung
untuk main golf
santap siang
berburu
atau mancing
sambil mengayuh kano.

Tamu-tamu agung itu
diangkut dengan heli
langsung dari bandara atau
hotel bintang 5
tempatnya menginap.

Rakyat tidak punya hak untuk
menginjak rumput di taman ini
harum catleya yang potnya sengaja
ditebarkan di seantero sudut taman
hanya boleh masuk ke hidung
para tamu agung
wangi melati
mawar merah putih
kantil
kenanga
dan irisan daun pandan
hanya boleh tercium oleh
para bidadari
dan roh nenek moyang
yang kehadirannya perlu dipancing
dengan jajan pasar
nasi kuning
dan asap hio
asap kemenyan
tapa brata
pantang bersenang-senang
hanya semedi
mengatur keluar masuknya hawa hidup
mengosongkan pikiran
pasrah
sumarah
ingat pada sangkan paraning dumadi
hingga hidup jadi berimbang
harmoni.

Lalu rakyat?
wong cilik
kawulo alit
gembel
para sudra
para waysia
para paria
kaum proletar
yang selalu lapar
yang selalu menuntut dan menuntut
lalu berontak
demo
bolehkah mereka masuk
istana Sentul?

Tidak boleh
mereka akan mengganggu harmoni
mereka cukup
dihibur di Taman Mini
Taman Bunga, Taman Buah
Taman Safari, Taman Impian
dan Taman Lawang.

Tapi badak?
sekarang badak-badak bercula satu itu
sudah berkumpul di sini
meski hanya diam mematung
hanya berupa patung.

Sastro
satu-satunya rakyat gembel
yang boleh berak, kencing
dan meludahi rumput-rumput mahal itu
sudah mengemban dawuh
untuk mengumpulkan para pintar
dari empat penjuru mata angin
mereka diminta
untuk “memanggil”
roh para badak
agar mau kembali
ke badan wadagnya
lalu badak-badak itu akan
berlarian masuk hutan
menyatu dengan para satwa lainnya
berkembangbiak
beradaptasi dengan lingkungan
lalu bisa menyempurnakan kehidupan.

Para pintar
paranormal itu
berjuang keras
berhari-hari
berminggu-minggu
tanpa hasil
mereka capek
pusing
merasa bosan
dan uang lalu bukan menjadi
segala-galanya.

“Reputasiku hancur!”
“Harga diriku diinjak-injak badak!”
“Aku mau pulang saja lalu kawin lagi.
Mumpung masih ada umur.”
“Aku masih akan terus berusaha!”
“Aku mau mengerahkan roh para wali.”
“Aku akan mencoba vacum cleaner baru
untuk menyedot arwah para badak itu.”
“Aku akan menggunakan perangkap nyamuk.
Siapa tahu roh para badak itu
dapat kujaring lalu kumasukkan kembali
ke badan wadagnya.”
“Mari kita mencoba!”

Mantra
jampi-jampi itu lalu dibaca
bersama
beramai-ramai
beberapa badak mulai membuka mata
satu dua tampak bergerak-gerak
mereka mendongakkan kepala
menggerakkan kaki
lalu pelan-pelan berjalan.

“Hore!”
“Kita berhasil kang!”
“Iyo, awake dewe biso!”
“Badake urip! Urip maning!”
“Ayo kang digiring menyang ngalas
kana!”
“Ayo!”

(-Iya, kita bisa!-Badaknya hidup! Hidup lagi!
-Ayo kang, digiring ke hutan sana!)

Badak-badak itu
menggeliat
matanya merah
mereka mendengus
culanya besar dan kekar
kepala mereka menunduk dan mengancam
dua kaki depannya yang kokoh
direnggangkan.

“Dijapani maning ben lulut!”
“Empun!”
“Kok malah arep ngamuk ngono?”
“Napane sing lepat nggih kang?”
“Kowe mau mbengi nglonte yake?”
“Mboten!”
“Ngombe?”
“Mboten!”
“Keplek ya? Wah mesti da keplek
nganti mbengi. Ya ta?”
“Mboten!”
“La kok ora mandi?”

(-Dibacakan mantra lagi biar jinak
-Sudah
-Kok malahan mau mengamuk
-Apanya yang salah ya kang?
-Kamu tadi malam main perempuan ya?
-Tidak
-Minum minuman keras?
-Tidak
-Judi kartu ya? Wah pasti semua main judi sampai malam. Ya kan?
-Tidak.
-La kok tidak mujarab?)

Tiba-tiba para badak itu bergerak
para pintar
paranormal
tukang kebun
satpam
semua diseruduk dan diinjak-injak
bendungan dijebol
buaya dan piranha
hanyut ke arah Ciliwung
tembok-tembok kokoh
beton bertulang itu
roboh diseruduk cula badak
lapangan golf seperti ditraktor
pohon durian tumbang
pohon nangka tercerabut akarnya
pohon beringin kusut masai
badak-badak itu lalu berkubang
di danau buatan
yang sekarang tinggal genangan lumpur
seluruh komplek istana
porak-poranda.

Satpam
salah satu di antaranya
siuman
kaki kanannya patah
tangannya lunglai
tapi pelan-pelan masih bisa
meraih HP dan HT
dengan alat itu dia bisa mengontak
kantor pusat
ajudan boss
koramil, kodim, polres dan polsek.

Tak lama kemudian bala bantuan datang
badak-badak itu ditembak
tetapi pelurunya mental
senjata berat dikerahkan
panser didatangkan
heli meraung-raung di udara
perang!
peluru mortir itu jatuh di punggung badak
dan jegur!
tetapi badak yang sedang berkubang
hanya tersenyum
kanon diarahkan ke kepala
Dung!
kepala badak geleng-geleng
asap mengepul
badak-badak itu mengentaskan diri
dari kubangan
lalu dengan santai
bergerak ke arah utara.

Para polisi dan tentara itu dicuekin
badak-badak itu  meratakan bangunan istana
memporakporandakan taman
dan menghancurkan hutan
binatang-binatang yang ketakutan
berlarian ke arah gunung Pancar
terus naik ke Megamendung
dan menerobos Cisarua
lalu bersilaturahmi dan
minta suaka di Taman Safari.

Para badak
menjadi super
tidak tembus peluru
tidak mempan tembakan
dan bisa membuldoser tiang beton
jembatan layang.

Badak-badak itu lepas
lalu berkonvoi menuju metropolitan
Jakarta
untuk mencari dua teman mereka
yang dijadikan sampling
untuk diteliti
di laboratorium Mabes Polri.

Pak Boss
yang ketika itu sedang
berada di sebuah restoran
di Ginza
di jantung kota Tokyo
sambil merem-melek
menelan sushi
dan merangkul geisha
menerima laporan dari
Kang Sastro.

“Ketiwasan Kanjeng Sultan!
Badakipun ngamuk, sedoyo risak!
Telas!”
“Lo, sembrono kowe Tro! Para waskita piye?”
“Sami mboten kuwagang Den. Sedoyo sami mlajeng lan tinggal glanggang!”
“Waduh, kowe kok iso kecolongan ngono ki piye Tro!
Yo wis aku tak teko. Pesawatku sesuk
jam papat sore yo!”
“Nuwun inggih sendiko!”

(Celaka paduka Sultan! Badaknya mengamuk, semua rusak! Habis!
-Lo, bercanda kamu ini Tro! Para cerdik pandai bagaimana?
-Mereka tidak mampu menanggulangi Den! Semua berlarian meninggalkan tugasnya
-Waduh, kamu kok bisa kecurian begitu bagaimana Tro?
Ya sudahlah, saya akan datang. Pesawat saya besuk jam empat sore ya?
-Siap!)

Sore itu jam 18.00 WIB
Televisi mulai memberitakan
Ihwal INSIDEN SENTUL
enambelas tewas
empat satpam, dua tukang rumput
dua paranormal
dan delapan tentara semua
terinjak-injak badak
tigapuluh empat luka-luka
dan sepuluh di antaranya
menderita luka berat hingga
perlu dirawat di Unit Gawat Darurat
seluruh bangunan istana hancur
bendungan jebol
dan taman serta hutan porak-
poranda.

Buaya, aligator dan piranha
masuk ke Ciliwung dan
kali Sunter
seorang ibu rumah tangga yang
sedang cebok telah hilang pantatnya
disambar buaya
seorang penambang pasir tinggal
kerangka karena
diserbu piranha.

Para badak
yang tiba-tiba menjadi super
dikabarkan
sedang menuju Jakarta
greng-greng-greng
(Iklan)

Penonton
sebenarnya masih sangat
mengharapkan kelanjutan
berita insiden Sentul
tetapi berita selanjutnya justru
tentang kunjungan menteri koperasi
yang membagi-bagi sembako
duit IMF
sambil tersenyum-senyum.

Tetapi berita di koran justru
menyebutkan bahwa televisi swasta
itu dinilai vokal hingga
langsung dibeli oleh kerabat presiden
greng-greng-greng…….
(Sinetron)

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: