BADAK DAN PRESIDEN II

26/11/2013 at 10:48 (puisi)

Istana Bogor
bangunan indah bergaya Barok
halaman yang luas
dikelilingi kebun raya
pohon-pohon raksasa
lapangan rumput
kawanan rusa totol
sepi
hening
kalau langit cerah
di arah selatan
agak ke baratdaya
gunung Salak itu seakan dekat sekali
dan agak jauh di tenggara
pasangan Gede dan Pangrango
tampak anggun tapi angkuh
bemo
deru bemo itu
di malam yang sudah larut
atau ketepak kaki kuda delman
yang ladam besinya
keras membentur-bentur aspal
semua itu kedengaran seperti
dari alam lain
dan bila angin bertiup agak kencang
seakan ada sebuah konser besar
yang gaungnya berkepanjangan
bergetar dan bergulung-gulung
di relung lorong
di antara pilar-pilar besar itu
lalu menggelepar di lantai marmer
di sinilah presiden itu diam dan
tepekur.

“Sudah 42 Gubernur Jenderal
menghuni bangunan ini.
Empat-puluh dua!
Tapi baru berapa Presiden?
Masih muda sekali Republik ini.
Baru 50 tahun lebih sedikit.
Sementara bangunan ini
sudah 140 tahun lebih.
Dan rusa-rusa itu?”
“Sementara kami-kami ini yang
menggantikannya tuan Presiden.”
“Badak?”
“Ya.”
“Lalu ajudan? Sekretaris? Anak isteri?
Presiden kan juga punya anak, punya isteri?
Lalu para pengawal? Paspampres?”
“Pengawal di luar sana!
Yang di istana ini hanya para petugas
dan tuan presiden sendiri!”
“Kalau begitu saya anggap saja saya sedang cuti.
Cuti besar!”
“Tetapi tuan presiden sedang kami sandera.
Tak ada seorang pun yang tahu kalau
tuan presiden ada di istana ini!”
“Lalu apa tuntutan kalian?”
“Kami menuntut merdeka.
Dengan wilayah seluruh pulau Jawa!”
“Grazy! Coba, siapa pimpinan kalian.
Kok jumlahnya seperti ribuan di luar?”
“Kami hanya limapuluh ekor dan tanpa pimpinan.
Yang di luar itu roh nenek moyang
yang jumlahnya memang ribuan.”
“Grazy! Roh badak? Apa itu?
Yang saya tahu Roch Basuki sama Rohana!”
“Tuan presiden, tuntutan kami serius.
Kalau tuntutan ini tidak dipenuhi
kami akan hancurkan peradaban manusia dan ……..”
“Silahken bunuh! Sedari lahir ke dunia ini
saya sudah sangat siap untuk mati!”
“Bukan. Kami tidak akan bunuh tuan presiden.
Tuan presiden akan abadi di istana ini!
Menyatu dengan roh para Gubernur Jenderal!”
“Oh! No!
Apa saya sudah mati? Apa ini mimpi?
Tidak kan?”
“Untuk bisa menyatu
dengan roh para Gubernur Jenderal dan hidup abadi
orang tidak harus menunggu mati.”
“Tuntutan kalian sangat tidak realistis.
That’s grazy!”
“Kami mau merdeka.
Kami tidak mau dikurung di sepetak lahan
bernama Ujung Kulon!”
“Badak!
Kalian keliru.
Kami para manusia pun juga banyak keliru
dalam menafsirkan arti kata “merdeka”.
Merdeka adalah kata yang mudah diucapkan.
Mudah dituntutkan tetapi sulit untuk dihayati.
Badak!
Di manakah letak kemerdekaan yang hakiki?
Pada lahan seluas Jawa seluas Kalimantan
atau daratan Asia?
Tidak!
Merdeka itu hanya ada di hati kita masing-masing.
Jadi, menuntut kemerdekaan kepada pihak lain adalah
hal yang mustahil.
Ketidakberdayaan, ketidakbebasan
sebenarnya kita ciptakan sendiri.
Sekarang ini saya kalian sandera.
Tetapi saya tetap merdeka dan menganggap
ini hanyalah cuti besar dan istirahat.
Dan saya bebas
untuk bersikap demikian.
Badak!
Lihatlah manusia!
mereka mengaku bebas
mereka sok merdeka
tetapi diam-diam mereka
membiarkan diri mereka dijajah
bahkan diperbudak oleh banyak hal
ada laki-laki yang dijajah isterinya
ada pengusaha yang dijajah uang
ada profesor yang dijajah ilmunya
ada orang yang diperbudak pekerjaan
dijajah oleh jabatan
dijajah harta benda
diperbudak pangkat dan kehormatan
kalian sendiri telah dijajah oleh nafsu
untuk merdeka!”
“Kami memang nyata-nyata telah
digusur dan dijajah oleh manusia!”
“Lucu! Itu lucu badak!
Justru
manusialah yang telah dijajah oleh mitos
yang menempel di culamu itu!
Manusialah yang sebenarnya telah kalian jajah
tanpa mereka sadari.”

“Badak! Manusia telah mendapatkan
satu hadiah istimewa dari sang pencipta.
Hadiah itu berupa kesadaran terhadap
diri dan lingkungannya.
Sebuah kesadaran untuk berpikir.
Sebuah karunia yang
sama sekali tidak dimiliki mamalia lain.
Tapi badak!
Apa yang dihasilkan oleh karunia itu?
Justru tragedi.
Manusia justru terjajah oleh kesadaran itu.
Manusialah satu-satunya binatang
yang tidak dapat hidup dengan stabil
bebas
dan gembira.”

“Badak!
Kemampuan berpikir yang
dimiliki bangsaku adalah
candu
racun yang telah
menjadikan manusia ketagihan
dan terus menambah dan menumpuk racun
dalam dirinya.
Kemerdekaan berpikir itu menjadi
begitu besar volumenya hingga
menyentuh ke hal yang sangat subtil
ruang
waktu
dan energi.”

“Badak!
Manusia sudah tahu dengan sangat baik benda-benda.
Mulai dari inti atom yang dikelilingi
proton dan neutron
sampai ke bintang yang dikelilingi oleh  planet
dan inti galaksi yang dikelilingi oleh
bintang-bintang dengan planetnya.
Manusia juga sudah sangat cerdik
memanfaatkan benda-benda itu.
Tetapi badak, begitu kesadaran berpikir manusia
sampai ke ruang, waktu dan energi
mereka menjadi tak berdaya.
Manusia tidak mampu
menukik lebih jauh ke dalam inti atom.
Mereka juga takluk kalau harus menembus
batas galaksi paling luar.
Waktu!
Manusia juga tak berdaya merentang batas awal
dan akhir dari sang waktu.
Dan energi?
Siapakah sumber dari seluruh energi
mulai dari gerak elektron mengelilingi inti atom
sampai ke gerak planet-planet mengelilingi bintang?
Tak ada jawaban!
Manusia
yang berotak secerdas Einstein pun
akhirnya tak berdaya lalu takluk
dan percaya bahwa ada sesuatu yang tak terbatasi
oleh ruang
oleh waktu
oleh energi.”

“Badak!
Terus terang saya iri padamu!
Makhluk merdeka yang masih bisa berlarian
makan dedaunan
menghasilkan keturunan dan
menikmati hidup!
Sungguh badak
aku iri!”

Presiden itu
istana Bogor yang anggun
hanya membisu
dan mata kecil badak itu
seperti lubang kehidupan
kecil tetapi memancarkan energi
luar biasa
presiden itu lalu berjalan
ke arah beranda
ke arah halaman rumput
ribuan badak mengelilinginya
presiden itu tersenyum
tapi matanya beku
seluruh wajahnya menyiratkan duka yang keras
senyum
senyum itu hanyalah
gerak mekanis dari bibir yang ditarik sedikit ke atas
tetapi duka itu
tetap mengambang dan membayang
sangat jelas.

“Tuan Presiden!
Duka itu tidak datang dari langit
tidak datang dari rumputan
tidak datang dari pohon-pohon
juga bukan dari burung atau jangkrik
lihatlah teratai itu
dengan tegar dia menyembul dan mekar
lalu ditantangnya matahari
dengan keindahannya
dengan kesombongannya
tetapi dia lalu sadar
dan segera merunduk
kembali menyelam
hanya kali ini dia berisi biji-biji kecil
yang akan menyebarkan benih
kehidupan baru.”

“Tuan Presiden!
waktu hanyalah siklus
tanpa awal dan tanpa akhir
sedang ruang juga baru sebatas Anda ketahui
dari orbit proton dan neutron
terhadap inti atom
sampai orbit galaksi-galaksi entah
terhadap apa.
Tetapi bukan berarti ada batas terkecil
dan batas terbesar
semua tak terhingga.”

“Tuan Presiden
duka itu
kekecewaan itu
hanya sekadar berawal dari diri Anda sendiri
pilar-pilar Barok istana ini
begitu indah bagi gubernur jenderal baru
yang tiba dengan kapal laut
dari seberang benua sana
tetapi
pilar-pilar indah ini
adalah jeruji penjara yang membosankan
bagi seorang bekas presiden yang dikucilkan
oleh penggantinya”

“Tuan Presiden!
Kalau sekarang tuan berduka
maka sumber duka itu ada di dada
atau perut atau kepala Anda!”

“Persis!
Memang begitu itu!
Kalau para badak saat ini merasa terkurung
di sebuah taman sempit
maka itu hanyalah perasaan saja.
Kemerdekaan lalu menjadi sebuah utopia!
Bahkan keinginan untuk merdeka
bisa menjadi sebuah kungkungan tersendiri
yang membuat kita menjadi
tidak akan pernah bisa benar-benar merdeka.
Karena sesudah kemerdekaan didapat
akan datang keinginan-keinginan lain.
Kita lalu menjadi budak keinginan.”

“Tuan Presiden!
Saat ini kami merdeka.
Para badak menjadi penguasa dan Anda sandera!”
“Oh tidak!
Saya tetap merdeka.
Saya justru merasa lega.
Tiba-tiba saya bisa terbebas dari kungkungan kekuasaan.
Ini enak.
Nyaman!”
“Tuan di bawah kekuasaan kami!”
“No! Yang menguasai  saya ya diri saya sendiri!
Saya bebas untuk merasa merdeka dan berpikiran nyaman! Apapun yang terjadi!”
“Kalau begitu tuan akan segera kami bunuh!”
“Good!
Itu sangat bagus!
Mati adalah kemerdekaan yang paling murni!
Dengan mati saya terbebas dari semua kungkungan!
Jadi silahken bunuh.
Silahken seruduk lalu injek-injek sampai gepeng!
Ayo! Makin cepat makin bagus!”
“Lo, kok begitu?”
“La maunya kalian para badak bagaimana?
Maunya saya keder, gemetar
memohon ampun lalu meluluskan tuntutan-tuntutan?
Begitu?
Apakah menurut pendapat kalian saya ini banci?
Atau gadis cengeng?
Saya ini Presiden!
Pemimpin 200 juta bangsa manusia
yang menguasai negara ini beserta seluruh isi-isinya
termasuk badak!
Ngerti?”
“Kalau begitu kami telah gagal menculik
Anda!”
“Tidak juga! Sebab yang kalian lakukan
sebenarnya bukan menculik
tetapi justru membebaskan saya
dari kungkungan rutinitas.
Sekarang saya mendapatkan suasana alternatif
yang sungguh sangat menyenangkan.
Terimakasih kangmas badak!”
“We la dalah.
Ketiwasan tenan!
He konco-konco para badak
termasuk para arwah leluhur.
Ayo kumpul.
Ada pengumuman penting!”

Istana Bogor
sunyi itu tiba-tiba jadi gaduh
deru telapak badak
menghentak lantai marmer
badak-badak itu
mendengus
mendongakkan cula
dan mendorong-dorong apa
saja yang dapat didorong.

“Tenang Saudara-saudara. Tenang!”
“Ya, kita tidak boleh merusak
dan melampiaskan dendam.”
“Ini peninggalan sejarah!”
“Ada arwah para Gubernur Jenderal di sini.”
“Kita harus menghormati monumen peradaban!”
“Lalu apa yang harus kita serbu?”
“Ya apa?”
“Istana monyet?”
“Bukan!
Kita akan menyerbu markas besar tentara manusia!”
“Di mana?”
“Di mana saja! Ayo!”
“Ayo!”

Para badak itu
gegap gempita
gemuruh
seperti panser
seperti tank
bergerak
pelan-pelan
tapi kokoh
yakin
dan penuh percaya diri.

Istana Bogor
kembali sepi
kembali senyap
angin
daun-daun karet hutan yang berjatuhan
lambaian cemara
harum bunga pinang
teratai raksasa dari Amazon
presiden itu
tepekur
dia diam
dan memandangi
kerimbunan tajuk
pohon-pohon raksasa
di kebun raya.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: