INTEROGASI I

03/12/2013 at 16:23 (puisi)

Seekor badak berhasil dibekuk
aparat paranormal
dan digiring
ke Markas Besar Paranormal Nasional
untuk dimintai keterangan.

Badak itu
telah ditotok jalan darahnya
lalu titik-titik syarafnya
simpul-simpul bioritmiknya
telah ditempeli
kertas-kertas kuning
bermantera.

Badak itu
lalu jadi kaku
tapi tetap sadar
tetap bisa melihat
tetap bisa mendengar
tetap bisa mencium udara
ruang interogasi yang sumpek
dan pengap.
“Siapa dalang dari seluruh kerusuhan
yang terjadi akhir-akhir ini?”

Badak itu berkedip tiga kali
menelan ludah
menghela napas
lalu melontarkan jawaban.

“Kuno!”
“Apanya yang kuno?
Kamu mau menghina petugas ya?”
“Ya otakmu itu yang kuno!
Tidak pernah dengar yang namanya sutradara?
Penulis cerita?
Penyusun skenario?
Pencatat script?
Lighting?
Cameraman?
Editor?
Produser?”
“Maksudmu bagaimana?
Ditanya dalang kok jawabnya ngelantur.”
“Begini. Dalang itu kan jaman dulu.
Yang menggerakkan wayang memang dalang.
Dia juga merancang cerita dan mengatur laku.
Tapi kini telah ada film, sinetron, lawak dan ketoprak humor. Semua itu hasil kerja kolektif.”

Isyarat
beberapa petugas paranormal datang
badak itu disihir
lalu meronta-ronta kesakitan
seperti tersengat setrum ribuan volt
kemudian lemes.
“Masih mau macem-macem?”
“Masih tidak mau ngaku?”
“Siapa dalangnya?”
“Siapa yang menunggangi kalian?”
“Siapa provokatornya?”
“Yang membiayai?”
“Yang mengorganisir?”
“Tujuan akhirnya apa?
Membentuk negara sendiri?
Menggulingkan pemerintahan yang sah?”
“Makar!”
“Setrum lagi!”
“Sihir! Sihir!”
“Dibuat kesurupan supaya mau ngaku!”
“Dikasih wisky biar mabuk dan ngoceh macam-macam.”
“Arak!”
“Tuak!”
“Brem!”
“Cap Tikus!”
“Oplos! Oplosan saja yang mujarab!”
“Hush! Sampanye! Vodka! Tiquila!”
“Bandrek!”
“Lo, bandrek kan tidak bikin mabuk?”
“Tapi dalam cuaca dingin begini
minum bandrek bisa menghangatkan badan!”
“Juga menghangatkan hati
menghangatkan pikiran
lalu kita bisa ngobrol santai dari hati ke hati!
Bukankah begitu badak?”
“Memang! Itu lebih bijaksana!”
“Ya ayo, ini ada bandrek ada ronde!
Semua panas! Kamu doyan kan badak?
Soalnya biasanya kamu hanya minum
air sungai Cigenter, Cibandawoh atau Cidaun.”
“Doyan! Saya pernah dijamu bandrek
oleh anak-anak Mapala!”
“Lo, di mana?”
“Dulu, ketika mereka sebulan penelitian di Cikeusik.”
“O!”
“Para mahasiswa itu muda-muda,
pintar-pintar dan baik-baik,
ada April ada Putri ada Pipit.”
“O, jadi hubungan antara para mahasiswa
dan kaum badak itu sudah terjalin lama ya?
Jadi otak dari semua huru-hara ini para mahasiswa itu ya?
Akhirnya!
Akhirnya kamu mau mengaku juga ya!”
“Lo, bukan! Bukan mereka!
Dalang dari semua ini ya yang ngarang!
Mestinya yang kalian tangkap itu bukan kami tapi dia!”
“Si pengarang?”
“Ya, dialah yang paling bertanggungjawab terhadap
seluruh kemelut yang terjadi di buku ini.
Dia pantas ditangkap, diadili
dan dijatuhi hukuman yang seberat-beratnya!
Kami, para badak ini, hanyalah sekadar pelaksana.
Jadi bapak-bapak ini salah tangkap
dan salah culik!”

Para petugas itu
berseragam lengkap
mengepit map
menjinjing tas
dan meluangkan waktu
untuk menghadap diriku.

“Asallamualaikum!”
“Wallaikum Salam!
Silahken masuk silahken duduk!”
“Terimakasih Pak.
Bagaimana kabarnya setelah lengser?
Sehat-sehat saja?”
“Alhamdulillah, sehat.
Meskipun nganggur tetap sehat belum terkena stroke!
Sehat jasmani, sehat rohani.”
“Sokur Alhamdulillah!
Begini Pak, kedatangan kami-kami ini adalah
dalam rangka konfirmasi tentang berbagai isyu
yang sekarang-sekarang ini
ramai dibicarakan  masyarakat.”
“Saya tahu! Saya mengerti!
Jadi sebelum Anda-anda ini dateng kemari,
sebenarnya saya pribadi sudah merencanaken
untuk dateng ke Anda-anda
guna melaporken daripada keadaan yang sebenarnya.
Akan tetapi Anda semua telah meluangken waktu
untuk mengecek daripada isyu-isyu
yang berkembang di luar sana,
maka perlu saya tekanken bahwa
saya pribadi sebenarnya sama sekali tidak bermaksud
untuk membuat kacau daripada keadaan di negeri ini.
Maka apabila ada di antara saudara-saudara
atau siapa saja berhasil menemuken
sepatah atau duapatah kata di dalem buku saya ini,
dan ternyata bahwa kata-kata tersebut
telah menyebabken daripada kekacauan,
maka saya persilahken kepada siapa saja
untuk segera menghapusnya
dengan Tipex.
Sebab sedari dulu mula
memang tidak ada sedikitpun terbersit daripada
lubuk hati saya yang paling dalem,
bahwa ada niat untuk mengacau.
Jadi silahken!”
“Baiklah Pak.
Kalau begitu kami permisi
dan sewaktu-waktu kami mengharapkan
penjelasan lebih lanjut dari Bapak,
kami akan datang lagi.
Tetapi benar kan Bapak
yang mengarang buku ini?”
“Itu memang benar
tetapi sebenarnya tidak sengaja.
Semua kan atas kehendak yang di atas sana!”
“Maksud bapak kehendak anak-anak
yang sedang main CD player di lantai atas itu?”
“Bukan!
Maksud saya Tuhan!”
“O!”
“Tuhan itu Maha Kuasa lo!”
“O!”
“Juga Maha Murah dan Maha Baik!”
“O!”
“Coba bayangken,
dalem suasana daripada krismon demikian,
juga dalem kondisi nganggur setelah lengser,
e…….rejeki itu dateng seperti
aliran sungai Citarum.
Deras dan lancar!”
“O!”
“Makanya kalau saudara-saudara
kebetulan ada sedikit kesulitan daripada
masalah ekonomi, silahken!
Saya selalu terbuka untuk membantu daripada
siapa saja yang memang sedang sanget memerluken
uluran tangan!
Silahken!”

Para petugas itu
lalu membuka-buka map
membongkar isi tas
mengeluarkan berkas-berkas
menggelar kertas
menggenggam bolpen
menyiapkan laptop
lalu mencatat.

“Kami telah menghubungi
pengarang  buku ini dan mengorek
keterangan-keterangan penting
yang bisa menjadi  kunci
guna memecahkan berbagai permasalahan  penting
di buku ini.
Pengarang itu tetap tidak mau mengakui kesalahannya
dan justru melemparkan tanggungjawab ke  pihak lain.
Dia mengatakan bahwa
Tuhan adalah pencipta segala-galanya.
Termasuk buku yang ditulisnya,
termasuk kekacauan
yang terjadi di  buku ini.
Bukankah itu sebuah sikap tidak mau bertanggungjawab?
Padahal pada waktu dia menulis,
tidak pernah  ketahuan dengan jelas
apakah  dibantu oleh Tuhan atau oleh Setan.
Karenanya perlu dirancang
sebuah program penelitian yang menyeluruh
guna mengungkap misteri yang masih menyelimuti
diri pengarang kita ini.
Untuk itu akan segera disusun sebuah proposal guna
diajukan dalam APBN tahun depan
atau bisa pula dimintakan grant
dari USAID sebesar $ US 500.000,-
Dari hasil penelitian tersebut
akan bisa terungkap dengan jelas latar belakang
dan motivasi pengarang kita ini.
Apakah dia benar-benar berada di pihak Tuhan YME
atau justru berasal dari Setan
dengan motivasi utama menciptakan kekacauan.
Bisa pula dia itu plin-plan.
Kadang-kadang di pihak Tuhan
kadang-kadang ikut Setan.
Untuk sementara baru ini
yang bisa kami laporkan sambil menunggu
hasil survei secara lengkap.”

Markas Besar Paranormal Nasional
badak yang berhasil dibekuk
dan ditahan
para interogator
algojo
ahli-ahli sihir
ruang yang sangat mistis
aroma tiga bunga
mawar, kantil dan kenanga
wangi irisan daun pandan
bau asap kemenyan
asap dupa
asap hio
dengung mantera
irama doa
sebait pantun.

“Menari saman dikala gundah
onak dan duri di Batang Hari
mencari Tuhan tidaklah mudah
tidak dicari datang sendiri.”

Badak itu gemetar
kejang-kejang
lalu dirasuki roh nenek moyang
“Dari kemarin-kemarin saya sudah bilang.
Jangan ribut soal dalang
itu hanya ada dalam pertunjukan wayang
dalam film dan sinetron
sutradara bukan segala-galanya
masih ada penulis cerita
penulis skenario dan masih banyak lagi
ingat kan yang kubilang
kemarin-kemarin itu?”

“Benar mbah! Pengarang cerita ini
juga sulit untuk
dimintai pertanggungjawaban.
Dia terus berusaha mengelak
sambil melemparkan tanggungjawabnya
langsung kepada Tuhan YME!”

“Nah, kan sulit?
Sebab Tuhan memang sumber dari segala-galanya.
Dan kalau sudah dilemparkan ke sana
permasalahannya jadi buntu!”

“Kalau begitu kami hanya
akan minta penjelasan teknis.
Di manakah Anda
antara pukul 17.00 sd 23.00 WIB
hari Selasa tanggal 15 Desember yang lalu?”
“Di pojokan silang Monas!”
“Pojokan mana?
Pojok tenggara, baratdaya, barat laut atau timur laut?”
“Barat Laut!”
“Itu kan depan Istana?”
“Persis!
Memang saat itu saya berada tepat di depan istana!”
“Apa yang Anda lakukan pada saat itu?”
“Tidak ada. Saya hanya berdiri saja.
Kadang-kadang duduk!”
“Motivasi Anda?
Mengapa Anda berada di sana?
“Tidak ada.
Tempat itu saya pilih karena nyaman.
Di sana ada pohon trembesi besar dan rindang.
Dari sana, Istana Merdeka yang disorot lampu itu
tampak bagus sekali.
Di Taman Nasional Ujung Kulon
tidak ada pemandangan seperti itu!”
“Tetapi tempat yang indah
di Jakarta ini kan banyak.
Mengapa justru di depan istana?
Apakah bukan dengan maksud-maksud tertentu?”
“Maksud tertentu jelas ada.
Yakni Istana itu suatu ketika harus diserbu!
Tetapi bukan untuk menculik presiden.
Presiden Anda kan sudah kami kuasai!”
“Ya, di mana sekarang dia berada?”
“Di Indonesia!
Dia masih berada di sini!”
“Tepatnya?”
“Di pulau Jawa.
Tepatnya di istana Bogor!”
“Bohong. Istana itu kosong!”
“Goblok! Paranormal goblok!
Presiden Anda itu sedang saya sembunyikan di istana Bogor.
Kalau mudah dilihat orang dan ditemukan,
namanya bukan sedang disembunyikan!”
“Kapan presiden kami kalian kembalikan?”
“Bisa jadi tidak akan pernah kami kembalikan.
Kami juga memerlukan manusia seperti itu
untuk menjadi Presiden para badak
di Ujung Kulon!”

Interogasi berlanjut
pertanyaan itu terus diulang
sampai tiga empat kali
dan badak itu menjawabnya
dengan : Tadi sudah ditanyakan
dan sudah saya jawab!
lalu petugas paranormal itu
marah
dan menggebrak udara
dan petir menggelegar
lalu turun hujan lebat
selama dua hari dua malam
Jakarta banjir
rumah-rumah terendam
jalan raya jadi seperti
sungai Cigenter
mobil-mobil mogok
panser-panser terjebak genangan
para pendemo naik rakit
batang pisang melintas dari
Sudirman hanyut menuju Thamrin
lalu parkir di lapangan Monas
para badak menolong anak-anak
dan ibu hamil keluar dari rumah
lalu mengungsi ke
Koramil dan pos Kamling.

“Apakah benar ini pengaruh La Nina?”
“Mungkin juga ada bau-bau La Petite?”
“Kedengarannya seperti irama La Paloma?”
“Kalau diamat-amati sih tampak mirip La Brador!”
“La, rak ngawur! La Nina kok tekan La Brador!”
“Apakah benar Tugu Monas itu
akan tenggelam?”
“Ya bisa jadi! Terserah Tuhan dong.
Dia mau menenggelamkan Monas,
Eifel! Liberty! Pisa! Piramid
atau gunung Gede Pangrango!
Itu urusan dia.
Kami, para badak dan kalian para manusia,
marilah mencoba untuk tidak saling mencampuri
urusan Tuhan!
Mari kita urus yang memang merupakan urusan
kita masing-masing!”
“Jadi pagi ini kita harus mengurus apa?”
“Beol!”
“Ya, nomor satu beol dulu!”
“Sambil kencing kan?”
“Jelas! Setelah itu baru mandi lalu ganti baju
lalu menyeruput kopi tubruk
lalu membaca koran!”
“Itu kan manusia. Badak lain!”
“Apa badak tidak pernah beol?”
“Kok soal beol! Ganti baju, ngopi, baca koran!
Itu yang urusan manusia.
Kalau beol dan kencing dan mandi, badak juga perlu.
Hanya mandinya mandi lumpur!”
“Jadi bagaimana soal beol?
Setuju?”
“Setujuuu……..!”

Palu lalu diketokkan
ke kepala badak
sebanyak tiga kali
badak itu sempoyongan
dan pingsan.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: