INTEROGASI II

17/12/2013 at 14:34 (puisi)

Nama?
Umur?
Pekerjaan?
Tempat Tinggal?”

Badak itu diam
namun sangat tersinggung
pertanyaan-pertanyaan itu
hanya layak diajukan
untuk manusia
bukan untuk badak.

Pertanyaan-pertanyaan
untuk badak lebih sulit
untuk dijawab : Mengapa?
Mengapa dia harus ditangkap
dipenjara
diinterogasi
disetrum
digetok kepalanya
sampai pingsan?

Mengapa?
mengapa para mahasiswa itu
harus mati
harus luka-luka
harus kesakitan?

Mengapa?
ayam dan kambing dan sapi
harus disembelih dan
dagingnya dicincang lalu
direbus, digoreng dan dipanggang
mengapa langit harus biru
tetapi kadang-kadang putih
kadang-kadang kelabu
mengapa mendung harus hitam
lalu menjadi hujan menjadi gerimis
aku ingin tahu mengapa
bukan apa
bukan siapa
bukan berapa
bukan kapan
bukan bagaimana.

Mengapa?
dan aku tidak ingin jawaban
itu datang sebagai
petunjuk
semacam petuah
atau hadiah ulang tahun
aku ingin jawaban itu seperti
tupai
yang akan terus berkelit dan
berlari kadang bersembunyi
dan aku akan terus mengejarnya
meskipun setiapkali jawaban itu
bisa kuraih dan kutangkap
dia akan melahirkan pertanyaan baru
yang jauh lebih sulit
dan membuatku
menjadi tidak berdaya.

Mengapa?
mengapa daun berwarna hijau
mengapa pohon kelapa berbatang lurus
dan terus meninggi
menantang langit
mengapa di ujung moncongku
tumbuh tonjolan kulit yang
disebut cula
mengapa?

Mengapa badak tidak seperti
kerbau tidak seperti banteng
tidak seperti rusa
tidak seperti gajah?

Manusia
mestinya kalian menyiapkan
rincian jawaban
untuk mengurai
pertanyaan-pertanyaan itu
dan bukan malah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan matematis
pertanyaan-pertanyaan digital
yang jawabannya sudah baku.
Nama?
Umur?
Jenis kelamin?
Pendidikan terakhir?
Pekerjaan?
Alamat?
Apakah badak punya alamat?
ya, di kandang nomor sekian
di Blok Mamalia
di Kebun Binatang Ragunan
atau di Taman Safari
di Cisarua.
Tetapi di Taman Nasional Ujung Kulon
badak boleh berak di Cibandawoh,
makan pucuk nibung di Cegok
lalu berkubang di muara
Cigenter

Alamat?
apakah sepetak sabana di Cidaun
di Taman Nasional itu
bisa jadi alamat
apakah pulau Jawa juga alamat?
mungkin planet biru ini
Galaksi Bima Sakti kita
juga bisa menjadi sebuah alamat
semacam sepetak kubangan
di muara Cikeusik
atau RT sekian RW sekian
di sebuah gang sempit
di Kramat Sentiong.

Nama?
mungkin yang diperlukan hanyalah
nomor-nomor
kode-kode huruf
sekadar perangkat untuk membedakan sesuatu
dengan sesuatu yang lain

Jumlah?
mengapa diperlukan pembedaan
antara nol dan tak terhingga?
dan kapan?
waktu hanyalah titik-titik
dari sebuah siklus
dari mana?
dan mau ke mana?
sangkan paraning dumadi
tak ada gunanya diulang-ulang
sebab yang paling penting adalah
mengapa semua itu perlu ada
dan mengapa harus selalu demikian?

Mengapa belibis harus bertelur
mengapa serigala selalu melolong
di saat bulan purnama
mengapa rusa-rusa itu
hanya mau menggosok-gosokkan
tanduknya di pangkal pohon
jambu kopo
mengapa bukan di pohon melinjo
atau pohon belimbing wuluh?
dan kalong-kalong itu
mengapa tampak berat dan
lamban ketika harus
mengepakkan sayapnya
mengapa mereka
berbondong-bondong ke utara?
apakah di sana sedang banyak
buah sawo?

“Mengapa yang Anda pilih sebagai
tokoh buku ini kami para badak
dan bukan banteng atau marmut
atau kucing
Apakah Anda pernah ketemu kami
memohon ijin
atau membuat MOU?”

“Atau Anda tanpa etika
tanpa sopan santun
telah begitu saja mencatut nama besar kami
hingga Anda ini sebenarnya nebeng keren
sebab kami-kami ini kelasnya
sudah internasional
sementara Anda?”

“Berarti sebenarnya
telah terjadi manipulasi besar-besaran
coba kalau Anda itu pengarang hebat
pilih saja tokoh sentralnya
bebek tegal
simpel
sederhana
dan kelasnya ya lokal
sangat lokal
hingga kalau buku Anda itu ngetop
di tingkat nasional saja
maka yang ngetop ya Anda sendiri
lebih-lebih kalau bisa ke tingkat
regional
bebek tegal itulah yang justru
membonceng Anda
tapi kami?
NO!”
“Badak Afrika tidak ada apa-apanya
yang sekelas dengan kami hanyalah
panda raksasa Cina!
atau Yetti dari Himalaya!
Jadi jangan kami dibuat mainan
diremehkan
dilecehkan
itu namanya tidak mengenal
Hak Azasi Hewan (HAH)
Biarkanlah kami hidup
sesuai dengan
hakikat hidup kami.”

(Begini ya dak ya!
Sebenarnya saya sebagai penulis buku ini
justru ingin protes keras pada kalian
mengapa justru kalian
secara tiba-tiba
tanpa basa-basi
telah menyusup
masuk ke dalam benak saya
hingga tiba-tiba saja
bisa saya jadikan tokoh.
Padahal,
sebenarnya saya sudah mendapat tawaran
untuk menulis biografi
seorang jenderal purnawirawan
dan akan dibayar mahal
selain itu saya juga ingin menulis
tentang lonte-lonte
tetapi semua berantakan
gara-gara kalian!
Tetapi badak,
sebaiknya silang pendapat ini
kita sudahi dulu
dan nanti kita lanjutkan di forum lain
silahkan!)

“Jadi interogasi dilanjutkan?”
“Ya! Silahkan!”
“Tetapi siapa yang harus diinterogasi
dan siapa interogatornya?”
“Kok siapa?
Tadi katanya mengapa?
Siapa, apa, kapan, berapa, di mana,
bagaimana, katanya itu semua tidak penting.
Katanya yang penting mengapa?”
“Ya, maksudnya mengapa harus ada interogasi.
Mengapa bukan dialog dari hati ke hati
karena dialog jauh lebih baik
daripada monolog!”
“Tapi pengarang sukanya kan monolog!
Mana mungkin pengarang bisa
berdialog dengan pembacanya di dalam bukunya?”
“Mungkin saja!”
“Coba!”
“Saya malah akan menginterogasi mereka.
Mari kita tangkap salah seorang di antara mereka!”

Salah seorang pembaca itu
mahasiswa Fakultas Sastra UI
berhasil dijebak
oleh para badak
lalu dibawa masuk ke dalam buku ini
untuk diinterogasi!
Dia meronta-ronta
dia berontak habis-habisan
dan mencoba untuk kabur.

“Saya protes keras.
Mengapa saya tiba-tiba ditangkap
dan dibawa masuk ke  dalam buku gombal ini.
Urusan  saya masih banyak
dan semua penting-penting.
Saya masih harus koordinasi dengan teman-teman
untuk bergerak dan menuntaskan
pengadilan masalah  korupsi.
Mengapa saya dibawa kemari?”
“Mengapa Anda bertanya begitu?”
“Karena pertanyaan ini sangat mendasar.
Sangat esensial.
Saya dan juga semua mahasiswa di negeri ini
tidak mau ditunggangi oleh siapapun.
Kami bukan kuda,
bukan sepeda motor,
bukan kerbau congek.
Lebih-lebih
kami bukan badak!”
“Tidak ada yang tertarik untuk menunggang Anda.
Enakan menunggang kuda poni!”
“Lalu mengapa kami ditangkap?”
“Kami, saya (pengarang buku ini)
dan badak (tokoh buku ini)
ingin menginterogasi Anda sebagai pembaca.”
“Lo kok enak saja!
Saya sudah susah-susah membaca!
Sudah keluar  duit segala untuk membeli buku
kok malah ditangkap dan diinterogasi.
Pengarang apa itu?”
“Ini namanya demokrasi.
Saya dan badak ingin dapat masukan
bagaimana baiknya cerita ini dilanjutkan.”
“Jangan tanya saya.
Kalau mau tanya-tanya sama kritikus.
Salah satu dosen saya bisa dipanggil.
Dia sangat tajam daya analisisnya
tapi sekaligus juga sangat padat acaranya
dan tarifnya Rp 1.500.000,- per sekali tampil
ditambah transpor pesawat PP dan
akomodasi minimal bintang tiga.”
“Panggil dia.
Beri honor Rp 5.000.000,- sekali tampil.
Inapkan di hotel bintang lima diamond
dan naikkan concord
lalu jemput dengan limo!”
“Kapan?”
“Jangan tanya kapan, apa, siapa dan sebagainya.
Di sini hanya berlaku
pertanyaan mengapa!”
“Ya, mengapa?”
“Mengapa kritikus itu harus kita datangkan
dan mengapa harus
dibayar mahal?”
“Mengapa buku ini harus dikritik!”
“Culik dia dan perkosa
agar hamil dan melahirkan
kritik yang brilyan.”

“Tidak usah diculik aku sudah datang sendiri nih.
Akulah kritikus kenamaan itu.
Mengapa Anda memanggil?”
“Karena pendapat Anda penting sekali
untuk menjembatani pengarang dan pembaca.
Sekaligus untuk promosi.”
“Saya kenal Anda sudah sejak 20 tahun silam.
Dan selama 20 tahun itu
Anda hanya menghasilkan sampah.
Menghasilkan tai.
Aku muak karena seluruh karya-karya Anda itu bau!”
“Anda Keliru. Minimal kurang rinci.
Saya tidak hanya menghasilkan sampah dan tai
tapi juga kentut, keringat, kencing, daki dan ingus.
Jadi banyak sudah yang saya hasilkan.”
“Tapi semua itu berbau!”
“Jelas. Kentut presiden, kentut jenderal,
kentut artis Holywood, kentut Andapun juga bau.
“Tapi semua itu hanya berdampak
pada pencemaran lingkungan.
Lain dengan karya anda.
Saya selalu mual dan mau muntah
sehabis membaca karya-karya Anda itu!”
“Karena selesai membaca langsung bunting?”
“Saya laki-laki. Maaf!”
“Sekarang laki-laki sudah beremansipasi.
Lihat para direktur itu. Satpam itu!
Perut mereka buncit semua kan?”
“Saya sarankan dengan serius
mulai saat ini Anda berhenti menulis,
bertobat dan menjadi orang baik-baik.
Tiap minggu ke Gereja, berdoa
dan memohon ampunan Tuhan!”
“Mengapa? Mengapa saya harus berhenti menulis?
Apakah tulisan saya
telah mengganggu Anda?”
“Bukan hanya saya.
Seluruh pembaca buku Anda
telah merasa terganggu berat
karena polusi kentut dan daki dan tai
yang Anda tulis itu
telah mencemari otak mereka!”
“Kritikus! Jesus selama 33 tahun juga
telah kentut dan beol tiap hari
dan tahinya menumpuk-numpuk.
Juga Presiden Clinton
juga Ratu Elizabeth.
Selama mereka masih doyan makan
pasti menghasilkan sampah, kentut dan tai!”
“Tapi tai Anda itu nyemplung
dan hanyut di tulisan! Itu bahayanya!
Dan Anda keras kepala.
Saya sudah puluhan tahun jadi kritikus.
Saya sudah baca mulai dari Homerus,
Sartre sampai Wiji Thukul!
Jadi jangan membantah.
Stop. Berhentilah menulis.
Minimal di bab ini!”
“Itulah beda antara kritikus sastra
dengan kritikus seni lukis.”
“Maksud Anda?”
“Kalau kritikus seni lukis,
pasti tidak akan menyuruh-nyuruh pelukis
untuk berhenti melukis!”
“Alasannya?”
“Lo, belum tahu kan?
Seorang kritikus pernah bertanya
pada pelukis Affandi.
Kapan dia akan berhenti melukis?
Apa tanda-tanda lukisannya selesai (sudah jadi).
Dan jawab sang maestro itu :
Tanda lukisannya sudah jadi
dan dia harus berhenti adalah kalau dia sudah capek!
Jadi falsafah itulah
yang juga saya anut ketika menulis!”
“Lalu mengapa Anda mengundang saya?
Juga mahasiswa saya ini?”
“Bukan hanya Anda yang saya undang.
Saya juga mengundang jenderal
bahkan presiden!”
“Mereka telah Anda culik
dengan paksa!”
“Sama saja!
Ada yang harus dipaksa dengan ancaman,
dengan rayuan ada pula
yang harus dipaksa dengan uang!”
“Anda terlalu menyamaratakan keadaan
dan menggampangkan permasalahan.
Saya dan juga mahasiswa saya ini
mulai bosan dan  mau pulang.
Saya banyak urusan!”
“Pulang? Enak saja mau pulang.
Proyek ini telah mengeluarkan ongkos
hampir Rp 15.000.000,-
hanya untuk mendatangkan Anda!
Lalu Anda mau pulang begitu saja dengan alasan bosan!
Dengan alasan bahwa saya hanya
menghasilkan sampah dan tai!
Pak kritikus saya sebagai penulis,
telah sengaja memilih posisi yang kering-kerontang
dari sisi menghasilkan uang.
Sebab peluang untuk menulis naskah sinetron,
biografi jenderal atau paket bacaan
Depdikbud bagi saya terbuka sangat longgar.
Tetapi itu semua saya tolak dengan sebuah
kecongkaan dan kedunguan,
demi dunia yang kering-kerontang ini.
Lalu Anda hanya bilang singkat :
sampah dan tai!”
“O, jadi Anda tersinggung?
Sastrawan jangan gampang tersinggung!”
“Saya tersinggung bukan karena
dibilang menghasilkan sampah dan tai!
Saya tersinggung karena Anda sebagai dosen,
guru besar malahan, yang merangkap sebagai kritikus,
ternyata terlalu doyan duit.
Diskusi semacam ini mestinya kan cukup dilakukan
di beranda rumah sambil mengunyah
singkong goreng dan menyeruput teh panas.
Tetapi Anda menuntut hotel bintang,
honor gede, liputan media massa
termasuk CNN dan BBC.
Apa itu wajar?
Sementara setelah itu semua saya penuhi,
komentar Anda sepele : Sampah dan Tai!
Badak, yang sebenarnya juga protes keras pada saya,
Anda cuekin. Tidak Anda komentari.
Lalu tiba-tiba Anda mau pulang!
Bagaimana Badak?”
“Biarkan saja dia pulang Mas.
Serahkan honornya!
Mungkin kita datangkan saja jenderal Wibisono!”
“Baik, silahkan tanda tangan dulu di  sini.
Lima juta kan?”
Ini Mahasiswa Anda cukup Rp 500.000,- saja!
Sekretaris Anda Rp 50.000,-
Sopir Anda cukup dapat nasi kotak.
Selamat siang!”

Mengapa?
Mengapa seseorang harus diinterogasi
diculik
diperkosa
dibujuk dengan uang jutaan
dirayu dengan tepuk tangan
dipuja-puja dengan sorotan kamera
dan serangkaian wawancara
lalu ditokohkan
didewakan
dipuja-puja
diamini
dianggap wali
bahkan nabi
tapi kemudian dilupakan
lalu dilengserkan
diancam
diteror
didemo habis-habisan
dihujat
bahkan akhirnya diseret
ke pengadilan
dijatuhi hukuman mati
lalu dirajam beramai-ramai
di muka khalayak
mengapa?

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: