EPISODE MALAM

31/12/2013 at 15:54 (puisi)

Ngantuk
tapi tidak boleh tidur
lapar
tapi tidak boleh minum
haus
tapi tidak ada yang bisa diminum
hujan
tapi tidak boleh minum
gelap
tapi tidak boleh meraba-raba
tidak boleh merem
petir
tapi tidak boleh menyambar
geledek
tapi keras sekali kedengaran.

Tak kelihatan bulan
tak kelihatan angin
bintang-bintang menyusup jauh
ke dalam benakmu ke dalam
matamu
dan dingin
tetapi tidak boleh berpelukan
tidak boleh saling memandang
kentut
tapi tidak boleh keras-keras
nanti bau.

Semua harus tetap sopan
dan menggelinding
di rel masing-masing
semua harus berfungsi sesuai
dengan kelaziman
kentut harus lewat dubur
bersin tidak boleh diarahkan
ke siapapun
lalu semua harus menahan napas
berkonsentrasi
kaki bersila
tangan sedekap
kepala tetap di atas leher
baju-baju dikancingkan
mata boleh kedip-kedip tapi
jangan terlalu sering
sepi
hanya riuh aliran darah dari aorta
hanya gedebur jantung
yang memompanya.

Kosong
tapi tidak usah kecewa
cemas
tapi jangan terlalu takut
hitam
karena malam dan
listrik padam
keras
karena tak ada bantal
tak ada kasur
harus
karena memang begitu ketentuannya
sudah
mungkin seseorang atau seseekor
yang membereskannya
kapan?
bisakah dicatat jamnya
detiknya, menitnya
tanggal dan harinya
bulan dan tahunnya
hari pasarannya
wetonnya
shionya
bintangnya
virgo atau gemini?
sedih
tetapi semua sudah terlanjur
mari kita sate kontol kambing
lalu dibubuhi merica
dilumuri kecap dan cabai
dan bawang.

Mari kita menyedot oksigen
mengingat-ingat bau angin
atau warna-warni pelangi
atau kepulan asap cerobong pabrik
atau kabut tipis
di puncak gunung Salak
menunggu
tapi tak ada yang akan segera datang
melolong-lolong
lolongan serigala kedinginan
lemas
lunglai
habis sudah tenaga dihamburkan
untuk demo
untuk protes
untuk mondar-mandir dari
rumah ke kampus dari kampus
ke keramaian kota
lalu maling-maling mengangkat
sumpah jabatan
sambil menyantap sate kambing
dan menenggak bir hitam
lalu malamnya nonton
ketoprak humor
sambil memeluk lonte
yang merangkap jadi bintang sinetron.

Habis
ketika itulah kita harus siap
untuk menangani apa saja
secermat mungkin
masih bisakah kita menggadaikan
hujan?
masih mungkinkah kita
menjual angin
atau sempatkah kita
membongkar pegunungan Jayawijaya
dan mengambil emasnya
tembaganya
peraknya
kotekanya
untuk foya-foya?

Seekor cicak
dalam gelap malam
masih bisa mencari makan
juga tokek dan tikus
dan burung-burung hantu
serta kelelawar itu masih
dengan mudah menggerogoti buah jambu
tetapi manusia?
yang tinggal di kardus-kardus itu
yang melingkar di bawah jembatan
layang?
dapatkah mereka menuntut
jatah oksigen dan air lebih
dari yang seharusnya?

Marilah kita biasa-biasa saja
mengarahkan tangan untuk hanya
mengambil secukupnya
sesuai dengan kepantasan
sesuai dengan hak kita masing-masing
tanpa perlu menyerobot
berselingkuh
atau maling
tapi merampok tetap boleh
kalau yang melakukan atasan.

Jadi masih bolehkah seekor kerbau
atau monyet
atau kecoak
masuk ke Istana Negara
bercengkerama di jalan Thamrin?
dan membangun jembatan layang dari
Istiqlal ke Katedral
tetapi
sebelum hujan itu makin deras
dan telingamu makin merasakan
denyut malam mengendor
lebih baik tak usah memikirkan
masa depan kerbau
nasib baik moyet
dan cara memperbaiki kehidupan kecoak.

Marilah kita rileks
menikmati oksigen gratis
dan air gratis
yang mengucur dari langit
bukalah mulutmu lebar-lebar
lalu tengadah di tengah
lapangan
dan rasakan hujan yang dikirim
langsung oleh Tuhan itu
masuk ke kerongkongan
membasahi rohmu yang tandus
dan kering-kerontang.

Mari
kita buka baju
buka celana
termasuk BH dan celana dalam
lalu hanya berkain sarung
kita longgarkan dada
kita buka hidung yang mampet
lalu tangkaplah hawa hidup
sebanyak mungkin
tanpa debu tanpa asap beracun.

Tetapi
masih adakah dua paru-paru
yang terpasang cukup baik
dan bisa kembang-kempis
seperti kemarin-kemarin?
mengapa tak ada jawaban?
mengapa hanya batuk-batuk
yang makin keras
mengapa tidak pernah secara tegas
kau tentukan pilihan
dari empat mata angin yang
tersedia
utara
selatan
barat
atau timur?
atau kau akan terus-terusan
menunduk dan menghitung jari-jari
kakimu
apakah masih genap duapuluh?
atau akan kau dongakkan kepalamu
ke atas hingga
lehermu dapat leluasa bersentuhan
dengan angin?

Sementara itu
kita tetap boleh mengulur
mimpi-mimpi kita
ke segala arah
menembus tembok Grand Hyatt
dan menjumpai seorang jenderal
sedang memeluk gundiknya
dengan nafsu yang menggelora
lalu dangan mimpi yang lain lagi
kita bisa sampai ke sebuah pesantren kecil
di pulau Madura
dan seorang kiai masih sangat setia
melafalkan ayat-ayat Al Qur’an
yang menggema di antara
pelepah daun nipah.

Mimpi itu merdeka
mimpi itu boleh menjarah
toko-toko
boleh memanggang tubuh-tubuh
yang tertembus peluru
dalam kobaran api
di sebuah pusat perbelanjaan
mimpi itu boleh memperkosa
gadis-gadis cina dan membantai para ulama
mimpi itu boleh memorak-porandakan
Jakarta, Kupang, Ambon, Kosovo,  Dili atau
Los Angeles sekalipun.

Tetapi bolehkan mimpi itu
tiba-tiba menjadi
tontonan di televisi
dan dicetak tebal
di koran-koran
lalu menjadi trauma berkepanjangan
menjadi luka yang menganga
di jantungku
di paru-parumu
di aorta mereka?

Malam adalah saat yang tepat
untuk mengistirahatkan luka-luka
tetapi ledakan-ledakan itu
pasti bukan petasan
bukan lagi mimpi
mari
kita masing-masing membawa
sekop
cangkul
kita gali kuburan kita masing-masing
di tempat yang paling nyaman
di atas bukit kapur
di bawah kerindangan tajuk
pohon jati
lalu kita bisa memandang anak cucu
terengah-engah mendaki tanjakan
terjal itu
sambil menjinjing sekantung kembang
dan seikat kenangan
tentang wangi melati
dan harumnya cempaka
tetapi jangan kau tonton lagi
televisi
jangan kau baca
head line koran
jangan kau dengarkan
berita-berita di radio mancanegara
jangan kau pencet-pencet keyboard Internet.

Marilah kita dengarkan
angin yang
menggoyang daun-daun jati
dan kita lihat sawah-sawah
jauh di bawah sana
yang masih ditanami padi
dan belum dilapisi aspal
serta dipancangi tiang-tiang beton
tetapi
sawah-sawah itu hanyalah
sebuah siklus
suatu ketika akan berwarna hijau
lalu menjadi kuning
dan kemudian merah kecokelatan
lalu kembali ke hijau lagi
tidak mungkin sawah-sawah itu
akan kuning terus atau hijau abadi
atau selalu merah kecokelatan
dan di malam hari
semua akan menjadi hitam
remang-remang
dan tak ada yang bisa dilihat.

Kecuali mimpi-mimpi itu
mimpi buruk
mimpi bidadari
mimpi yang tak diharapkan
tapi tiba-tiba jadi kenyataan
dan mimpi yang diidamkan
tapi tak pernah bisa diwujudkan.

Ayam berkokok
tapi tak boleh diartikan
sebentar lagi akan pagi
angin meluncur dengan kecepatan
di atas 100 km per jam
dan kedengaran sangat keras
tapi jangan diharapkan
langit akan segera tersibak
lalu bintang-bintang
lalu bulan memamerkan
keindahan Ilahinya
apakah mendung itu
badai itu
hanya kita lihat
sebagai malapetaka
sebagai sesuatu yang mencemaskan?

Padahal
kita bisa menikmati keindahan
gerak topan
guyuran hujan dan angin
dengan menyatukan diri kita
dalam irama yang sama
marilah kita menjadi camar
menjadi elang laut
yang bisa lentur
dan meliuk-liuk
lalu hanyut
terbawa arus
tanpa dihancurkannya
atau batang-batang kelapa
yang ramping dan hanya
melambai-lambai
ketika badai itu
menawarkan pesonanya.

Tapi
apakah besok pagi matahari akan
terbit lagi dari timur?
apakah warna hitam
warna abu-abu gelap
akan diganti pelangi warna-warni
atau hanya akan ada warna
putih buram?
kita hanya bisa yakin
kita hanya boleh percaya
apakah diri kita ini
benar-benar ada
atau hanya fatamorgana
kita tidak pernah tahu dengan pasti
bahkan bisa saja kita
merasa terheran-heran
mengapa tiba-tiba saja kita ada
dan mengapa di sini
di ruang ini
di saat ini
bukan di Antartika
bukan di Tibet
bukan di galaksi lain
bukan di milenium lain?
kita tidak akan pernah tahu
padahal kita ingin sekali tahu
dan akan terus berusaha supaya tahu
meskipun kita sadar upaya itu
akan sia-sia.

Semua akan tetap menjadi
rahasia abadi.

Jakarta
deru lalulintas yang jauh
terpantul beton pencakar langit
terpantul aspal
deru yang makin melemah
kadang-kadang bunyi sirene
kadang letusan entah apa
lalu musik atau
suara nyanyian mendayu-dayu
mungkin dari radio, barangkali suara tivi
atau kaset atau CD
sekali-sekali deru sepeda motor
trek-trekan
lalu sebilah sepi yang sangat
tajam
menghunjam leher
dan mengoyak jantung

Tetapi kita tidak kunjung mati.
Sepi hanya menindih
dengan dingin
dan tidak terlalu keras
tetapi sangat terasa
dan meninggalkan
beberapa goresan yang dalam
dan panjang.
“Nglangute mas yen ngene iki!”
“La kowe kuwi ora narik mau?”
“Narik! Tekan jam loro!”
“Awit esuk?”
“Setengah limo mangkat. Seko ngomah jam papat!
Wingenane bar lebaran kae aku mangkat jam telu saben dino.
Rong dino ngedur ora ona penumpang.
Rekane nggolek lengganan bakul janganan. Ora entuk.
Mangkat jam limo entuk limolas.
Mangkat jam telu entuk limolas.
Pada wae!”
“Bar lebaran?”
“Iya – Let sedino!”
“Ya durung ana uwong.
Iki mau wae sepi terus kok.
Biasana telung rit wis entuk setoran.
Wingi-wingi kuwi sedilit wae entuk nem rit,
nanging ora ana duwite. Ngentek-enteke gas!”
“Nek gas rak murah?”
“Iyo. Nek bensin ya modar tenan!
Mbok disetel tivine kuwi!”
“Walah, apa kuwi – Siaran langsung kok – Pidato.
Ngendi-endi pada.”

(Suasana begini benar-benar nggak enak ya Mas?
-Tadi kamu tidak narik?
-Narik cuma sampai jam dua
-Dari pagi?
-Setengah lima pagi start. Jam empat dari rumah.
Tempo hari habis lebaran  itu berangkat jam tiga pagi tiap hari.
Dua hari berturut-turut tidak dapat penumpang.
Maunya cari langganan pedagang sayur, tidak dapat juga.
Berangkat jam lima pagi dapat limabelas.
Berangkat jam tiga pagi juga dapat limabelas. Sama saja
-Habis lebaran?
-Iya, selang sehari
-Ya belum ada orang. Ini tadi juga sepi terus.
Biasanya tiga rit sudah dapat setoran.
Kemarin-kemarin sebentar saja sudah dapat enam rit,
tetapi tidak ada uangnya. Ngabis-ngabisin gas.
-Kalau gas kan murah?
-Iya, kalau bensin ya benar-benar mampus. Tivinya itu disetel!
-Wah, apa ini? Siaran langsung. Pidato. Di mana-mana sama)

Sepi
di rumah petak itu
dua sahabat
sopir mikrolet
terus ngobrol tentang pekerjaan mereka
diterangi bolam 15 wat
yang sinarnya kuning pudar
ditemani teh tubruk kental
dan keretek murahan.

Malam terus menghunjamkan
cengkeramanya ke tengkuk Jakarta
yang semakin renta
semakin terbungkuk-bungkuk.

Fragmen Prosa Lirik Negeri Badak

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: