Proyek X

15/01/2014 at 16:10 (novel)

Terminal D, Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta, tanggal 17, matahari sangat terik, wajah-wajah sumringah menunggu di beranda kedatangan. Panitia penyambutan siap dengan segala perangkat. Seorang gadis belia cantik jelita memegang erat rangkaian lily, mawar, dan anyelir, siap dikalungkan ke leher Sang Tamu Agung, yang sebentar lagi akan datang. Wartawan koran, majalah, tabloid, radio, kantor berita, televisi, news dot com, semua bersiaga dengan peralatan masing-masing. Semua tegang menunggu kedatangan tamu istimewa ini. Perwakilan resmi dari event organizer, mengenakan jas, berdasi, dan yang perempuan berblazer, dengan rambut tersanggul rapi. Semua berderet layaknya pager ayu dalam ritual sakral upacara adat pernikahan Jawa para bangsawan keraton. “Siapa yang akan datang? Ya, siapakah yang akan datang sekarang ini? Seorang penyanyi rock dari Amrik, atau pemain handal Inter Millan? Kok tidak ada yang tahu sih? Aku harus tanya ke siapa ini?”

Sudah sejak berbulan silam, terbetik kabar, bahwa Jesus Kristus, Alah Putera, Nabi Isa Al Masih Alaihissalam, akan datang ke Indonesia dengan pesawat khusus. Pesawat itu akan mendarat di Terminal D, Bandar Udara Soekarno-Hatta, Jakarta. PT Garuda Perkasa Entertainment, sebuah EO terkenal, telah berhasil menangkap peluang emas ini. Awalnya, perusahaan EO ini harus bersaing ketat dengan ratusan perusahaan EO lain, termasuk yang dimiliki oleh para elite bisnis, dan politik Indonesia, guna memperebutkan Proyek X. Ini sebuah proyek rahasia, untuk mendatangkan Isa Al Masih ke negeri yang 80% penduduknya Muslim. EO itu saling jegal, saling menjatuhkan, saling menjerumuskan. Maka, hari yang ditunggu-tunggu itu pun tibalah sudah. Rombongan penjemput tamu agung, termasuk kaum jurnalis, sudah sedari pagi tadi bersiaga penuh di beranda kedatangan Terminal D Bandar Udara Soekarno – Hatta, Jakarta. Mereka gelisah. Mereka tegang.

“Jadi katanya beliau itu benar telah turun dari surga, tepat di pelataran Kubah Sakhrah, atau The Dome of The Rock itu, di Kota Suci Jerusalem itu, lalu dengan jip militer, dan pengawalan super ketat, dibawa menuju Queen Alia International Airport, Amman,  Jordania. Katanya, di Queen Alia sudah disiapkan sebuah Boeing 737 – 200, yang dicarter panitia dari Royal Jordanian Airlines, untuk mengangkut beliau, dan rombongan langsung ke Jakarta. Apakah benar begitu informasinya Bapak-bapak dan Ibu-ibu? O, jadi memang benar ya? Ya kalau itu semua hanya sekadar rumor, tentu Bapak-bapak dan Ibu-ibu ini tidak akan berada di sini bukan? Dari pagi tadi menunggu dan terus menunggu, tentu capek sekali, dan tidak mungkin kalau ini semua hanya sekadar isu. Tetapi aku sedikit ragu. Firasatku, kita semua ini akan ditipu. Biasalah kelakuan panitia itu memang selalu begitu. Kita menunggu di sini, tamunya diselundupkan lewat jalan tikus, dan tahu-tahu sudah ada di hotel.”

Di tengah ketegangan menunggu, seorang wartawan super senior tampak sibuk membaca pesan singkat di telepon selulernya, lalu bergegas ia mendekati para wartawan yunior. Mereka tampak saling berbisik. Tidak lama kemudian seluruh wartawan itu berhamburan keluar dari beranda kedatangan. Bergegas mereka menuju pintu lain. “Benar kan? Ini memang tipuan klasik. Ada gadis cantik siap dengan karangan bunga di ruang kedatangan, eee, tamunya nyelonong lewat pintu samping. Tetapi kami-kami ini kan bukan wartawan kemarin sore toh? Kami-kami ini juga punya mata, punya telinga, punya tangan, dan punya kaki yang berada di dalam sana. Semua tipu daya yang mungkin terjadi, sudah kami antisipasi. Kami sudah menyiapkan tim lain di semua pintu di bandara ini. Pokoknya moment penting ini tidak boleh terlewatkan. Jadi jangan sekali-kali menganggap kami-kami ini bodoh, dan gampang dikelabuhi ya? Ayo teman-teman, kita menyusul mereka di pintu samping itu!”

Tetapi para wartawan itu memang benar-benar bernasib buruk. Sampai dengan pukul empat sore, tamu agung yang ditunggu-tunggu tetap belum juga datang. Pukul 14.25 memang tampak pesawat Royal Jordanian Airlines mendarat dengan sangat mulus di landas pacu terminal II. Tetapi tamu agung itu tidak ada di sana. “Jebul itu tadi pesawat reguler. Bukan yang carteran. Ini rombongan penjemput yang tadi seperti barisan pager ayu, lengkap dengan chear-leader yang akan mengalungkan rangkaian bunga, kok semua sudah menghilang? Sontoloyo tenan ini. Bagaimana Bang? Ini kan kurangajar sekali toh? Anda jangan hanya diam saja dong. Sudah nyata-nyata dikadalin mentah-mentah begini, kok Abangnya ini masih nyantai-nyantai saja. Ayo kita ke Thamrin saja. Kita labrak itu kantor EO yang ngaco itu. Kita kerahkan Preman Tanah Abang, kita beri masing-masing gocap juga sudah oke. Ayo lo agak cepetan sedikit. Kita ini sedang cari uang, bukan sedang yayang-yayangan di Ancol!”

Malam itu, malam yang juga cerah dan bercuaca sangat baik, semua stasiun televisi nasional, menyiarkan gambar yang sama. Jesus Kristus, Sang Putera Alah itu, Nabi Isa Al Masih Alaihissalam, memang benar-benar telah datang ke Indonesia. Tadi siang pukul 15.20, Boeing 737 – 200 Royal Jordanian Airlines yang dicarter panitia, telah mendarat dengan selamat  di Ngurah Rai International Airport, Denpasar, Bali. Hanya ada seorang fotografer Reuters yang diberi kesempatan untuk mengabadikan peristiwa ini. Tidak ada kameraman. Hingga, yang disiarkan oleh seluruh stasiun televisi nasional pada malam ini, hanyalah sequence foto jepretan wartawan Reuters tadi. “Memang sontoloyo tenan kok EO ini. Ayo kita boikot saja mereka. Tidak usah kita liput, tidak usah kita siarkan, tidak usah kita perhatikanlah. Sombong benar ya mereka? Sudahlah, kita meliput kampanye para caleg saja. Pilih yang anak pengusaha, atau anak mantan pejabat. Amplop mereka selalu tebal lo! Gizi mereka memang oke punya.”

* * *

Tiga suit rooms, lima vila, dan 20 superior room, di Bromo Cottages, Tosari, Pasuruan, sudah sejak tiga bulan silam dibooking PT Garuda Perkasa Entertainment. Seorang penyanyi rock dari AS, akan tetirah di sini sekitar seminggu. Sang penyanyi rock itu, seperti biasa, berambut gondrong, dan juga berbrewok tebal. Manajer Bromo Cottage, meskipun ia seorang penggemar berat musik rock, sama sekali tidak mengenal penyanyi yang satu ini. Tetapi apa urusannya? “Gue ini yang penting kan ngasih servis sebaik mungkin kepada siapa pun. Kalau penyanyi ini puas dengan servis gue, ia akan cuap-cuap di negerinya. Ini sebuah promosi gratis yang sangat efektif. Gue kagak peduli dienya ngetop atau kagak. Ia tamu yang berhak dapet servis sesuai standar Bromo Cottages.” Maka sang manajer itu pun ekstra sibuk. Banyak hal yang harus ia perhatikan, sampai ke detil paling kecil. Sebab memang sudah agak lama mereka tidak kedatangan tamu sebanyak sekarang ini.

Sebulan sebelum tamu datang, panitia sudah menaruh deposit senilai sewa seluruh rooms, selama seminggu. Bahkan beberapa rooms akan dipakai selama dua minggu. Sebab seminggu sebelum tamu datang, panitia sudah akan menginap di sini. “Dalam kondisi krisis finansial seperti ini, ketika para turis bule ngedrop angka kunjungannya setelah bom bali I dan II, setelah bom Kedubes Australia, setelah bom J.W. Marriott, booking tiga suit room sekaligus, baru kejadian sekarang ini. Lumayan. Mudah-mudahan ini awal dari angin segar, yang tahun-tahun mendatang akan terus berhembus ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Duh Gusti, terimakasih atas berkat dan rakhmat, dan karuniaMu. Tapi apa benar ada penyanyi rock sepenting ini kok gue kagak kenal? Ya siapa tahu dienye ini penyanyi yang memang kagak ngetop-ngetop amat, tapi tajir. Di Amrik kan apa saja bisa kejadian. Dua tahun lalu, kagak kebayang bakal ada anak Negro dari Kenya, bisa jadi presiden Amrik.”

Maka penyanyi rock itu pun datang. Ia bercelana jeans, bersepatu boot ala koboi Texas, berbaju barong khas Bali, dan wajahnya benar-benar ganteng. Umurnya baru sekitar tiga puluhan. Rombongannya, semuanya juga gondrong. “Ini penyanyi solo, atau grup band ya? Ah, bodo amir. Egepelah. Pak, menu dinnernya tetap seperti rencana kan? Yes, semua siap. Mohon apabila ada masalah bisa kontak saya langsung. Ya di nomor yang kemarin itu. Saya juga tetap akan standby di sini. Dont worry Pak. Ya, ya, selamat sore.” Tengger, kaldera purba yang menganga di bawah sana, tetap tersaput kabut putih agak abu-abu. Gunung Batok benar-benar seperti potongan tempurung kelapa yang ditangkupkan begitu saja di Lautan Pasir. Di sebelahnya, Bromo, kerucut berkawah yang selalu mengepulkan asap, dan nun di selatan sana, di balik Gunung Ider-ider, Sang Maha Meru setiap 10 menit akan meletupkan energi vulkaniknya menghambur ke atas menjadi gulungan asap bergumpal-gumpal.

“Dingin sekali di sini ya, apa namanya ini? Ten-jer? Ten-ger? Teng-ger? Ya Tengger. Di Judea, di Samaria, juga amat sangat dingin pada waktu malam hari. Tetapi pada siang hari, udaranya amat sangat panasnya. Ough, its grazy! Kalian bilang aku ini penyanyi rock dari Amerika? Ha, ha, ha, haaa… Tetapi aku senang sekali. Ya itu memang cara untuk menipu, supaya mereka tidak ribut-ribut ya? Benar, aku senang. Jadi di sini juga ada red wine? Ada bread tanpa ragi? Ada korban bakaran? Lamb? Beef juga? Waduh, apa itu potato? Aku tidak kenal potato. Ya kalau kalian bilang aku ini Allah Putera, ya semuanya aku tahu. Tetapi aku ini juga 100% manusia, dan aku tidak tahu potato. O, itu seperti bread tetapi tumbuh di dalam tanah ya? Enak juga? Ya, ya, ini enak sekali. Wouw, kalian juga ada olive oil? Kaki aku dulu kan diurapi pakai minyak ini, oleh perempuan pendosa. Menyenangkan. Tetapi kalian jangan berpikiran yang bukan-bukan ya? Aku ini tetap Allah Putera, tetap Nabi Isa.”

Gala dinner, barbeque, udara Tengger yang menggigilkan badan, sparkling dan red wine, tak ada pers. Sama sekali tidak ada pers. Para wartawan itu, wartawan koran, majalah, tabloid, televisi, radio, kantor berita, semua tumpah ke Bali. Ada yang mengaduk-aduk Kuta, menyisir Jimbaran, menelisik Sanur, dan terbanyak menghambur ke Nusa Dua. “Dimana ya dia? Apa sudah ada info yang mendekati akurat? Mungkinkah ada di Ubud? Jangan-jangan di Lovina sana? Bali ini sebenarnya kan sempit sekali toh? Kok dia seperti hilang begitu saja. Padahal foto-foto dari Reuters itu jelas sekali. Dia sudah landing di Ngurah Rai, berarti dia sudah ada di Bali. Jadi sobat-sobat semua, ayo kita agak kerja keras sedikit. Ayo kita aduk-aduk seluruh hotel dan resor di seluruh Bali ini. Saya yakin malam ini, paling lambat besuk, kita pasti akan mencium jejaknya. Paling tidak kita akan mendapat info tentang keberadaannya. Brengsek memang itu EO. Maunya apa sih ngumpet-ngumpet begitu? Yang aku khawatirkan, sebenarnya kita telah ketipu. Tetapi rekaman dari The Dome of The Rock, dari Queen Alia International Airport, semuanya jelas kok. Memang EO kita saja yang brengsek.”

“Sabar Mas, sabar. Ini memang bahan headline kelas satu. Ini barang mahal. Maka menangkapnya juga tidak mudah. Tetapi kan tidak mungkin EO itu akan main kucing-kucingan terus. Dalam waktu dekat ini pasti akan ada jumpa pers resmi. Yang aku heran, umat Kristen, baik Protestan maupun Katolik, kok sepertinya adem ayem saja ya? Juga Umat Muslimnya. Yang saya dengar dari teman, para petinggi KWI, PGI, dan MUI malah marah. Mereka tetap tidak percaya bahwa yang datang ini benar Jesus Kristus, alias Nabi Isa Alaihissalam. “Ini negara mau hajatan Pemilu, ada-ada saja akal orang untuk memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dan ulah mereka memang sudah keterlaluan. Kalau ada orang mengaku bisa melakukan penyembuhan, masih bisa dimaklumilah. Ini EO mengaku-ngaku telah mendatangkan Jesus Kristus, Isa Alaihissalam. Kelewatan bener lo ngibulnya. Tetapi orang-orang sekarang ini hobinya memang dikibulin mentah-mentah ya?”

* * *

“Tuan, pagi ini kita akan ke Penanjakan. Ini tempat paling tinggi di Tengger. Di sana kita akan menyaksikan sebuah panorama yang spektakuler, yang juga ciptaan Tuan sendiri, tentu bersama Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus. Silakan Tuan!” Mata Jesus yang kebiru-biruan berbinar terkena sinar obor. Dia tampak sangat-sangat happy. “Andaikan ada keledai ya? Ini akan mengingatkan 2000 tahun yang dulu, yang ketika itu aku juga naik keledai ke Jerusalem.” Baru saja selesai Jesus berucap, dua petugas Bromo Cottages yang tegap-tegap, dan seorang pawang menyeruak di antara kerumunan kuda dan pemiliknya. Dua petugas itu mengapit pawang yang menuntun seekor keledai putih. “Wouw! Kalian ini memang very-very profesional. Ini didapat dari mana keledai? Didatangkan dari Jordania? Berikut pawangnya? Tukang keledai itu maksudnya? Anda semua grazy! Tetapi aku senang sekali, sudah bisa naik keledai sekarang? Okey, ya, ini binatang yang sama, dengan yang aku naiki untuk masuk ke Jerusalem dulu.”

Dini hari, udara masih sangat dingin. Langit cerah, bulan mati, maka bintang gemerlap seperti menempel dekat sekali. Langit mirip plafon kubah raksasa dari beledu hitam. Kaldera Tengger, yang disebut lautan pasir itu, masih berupa sapuan putih titan yang masif. Batok dan Bromo menjadi sepasang tonjolan terbalut t-shirt sangat ketat. Jalan dari resor itu terus menanjak. Lampu senter, obor, bunyi telapak kaki kuda beradu dengan batuan jalan makadam. Pukul 03.30, rombongan itu tiba di Gunung Penanjakan. Pihak Garuda Perkasa Entertainment, dan Bromo Cottages, sudah sejak bulan lalu berkoordinasi dengan Aparat Pemkab Pasuruan dan Probolinggo, agar pada dini hari sekarang ini, kawasan di sekitar Penanjakan dikosongkan. Hanya mereka yang punya ijin khusus diperbolehkan berada di sini, sekarang ini. Maka, dengan lancar rombongan itu sampai di Penanjakan tepat sebelum sunrise itu menampakkan dirinya di atas puncak Argopuro dan Ijen.

“Tuan akan minum red wine, teh atau kopi?” Sejenak Jesus mengernyitkan dahi. Lama ia berpikir. “Apa itu teh? Apa itu kopi? Wouw, teh itu minuman dari negeri penghasil sutera itu ya? Chaina? Ya, ya, aku sudah membaca tentang teh, tetapi tidak pernah mencicipi. Kalau kopi? Minuman Arab? Minuman baru? Kapan itu? Ohh, baru sekali ya. Baru 1.000 tahun lebih setelah aku diangkat ke surga? Well, kalau begitu aku akan coba kopi.” Panggung di Penanjakan itu sudah sejak seminggu yang lalu didisain seperfek mungkin. Kursi-kursi diarahkan menghadap ke selatan, tetapi dimungkinkan untuk menengok ke timur dengan leluasa. Tempat duduk Jesus dipilihkan yang paling strategis, hingga ia bisa lepas memandang ke selatan, juga sesekali menengok ke arah timur. Suasana agak temaram, udara tetap masih sangat dingin, meski kopi dan teh hangat telah dihidangkan. Kemudian, pentas alam itu pun dimulai.

Mula-mula seleret warna jingga disapukan dengan kuas tipis dan tajam, di cakrawala. Gradasi warna agak terang juga segera diusapkan dengan kuas besar, tetapi berbulu lembut. Panggung, berupa kaldera raksasa, gunung Batok, Gunung Bromo, Gunung Widodaren, seperti gundukan mainan anak-anak di tengah lautan pasir. Di seberang tebing di arah selatan, tampak gundukan gunung Ider-ider, sebagai latar depan dari Gunung Semeru. Awalnya, semua itu tampak samar tersaput kabut. Lalu lampu pentas dinyalakan pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Sampai kemudian akan menjadi terang benderang. Proses itu akan berlangsung sekitar satu jam. Pukul lima pagi, suasana di ketinggian puncak gunung sudah akan terang benderang. Ketika itulah kaldera, dengan gundukan-gundukan gunungnya, dengan jalan di lautan pasirnya, juga mereka yang sedang menuju puncak Bromo, akan tampak sangat jelas sekali. Kuda-kuda itu seperti barisan semut yang membawa makanan di punggung mereka.

“Nah, inilah Tuan. Disanalah nantinya pentas itu akan diselenggarakan. Kami memperkirakan akan ada sekitar jutaan massa, yang datang menghadiri acara kita ini. Sekitar 2.000 wartawan dari seluruh dunia yang sudah diseleksi panitia, akan hadir di sini. Diharapkan, tuan hanya akan berbicara sekitar satu jam. Itu sudah sangat cukup. Apa pun yang akan Tuan sampaikan ke mereka, pasti akan mereka terima. Selanjutnya, acara serupa akan diselenggarakan di Pantai Parangtritis Yogyakarta, dan Alun-alun Surya Kencana, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Itu hanya acara tambahan. Acara utamanya ya di Tengger ini. Selain dua acara tambahan itu, Tuan juga akan hadir pada beberapa acara yang skalanya lebih kecil, mungkin dihadiri oleh sekitar 10.000 orang, dan tentu saja acara-acara kecil dengan hadirin 500 sampai 1.000 orang. Jumpa pers yang dalam waktu dekat ini akan kita selenggarakan, diperkirakan akan dihadiri antara 200 sampai 500 wartawan.”

Matahari itu, bola raksasa berwarna merah darah di cakrawala timur itu, dalam waktu beberapa menit sudah berubah menjadi pendar putih yang sangat menyilaukan, dengan posisi yang terus bergeser semakin tinggi. Dataran tinggi Tengger terbangun. Petak ladang kentang yang bersap-sap, deretan pohon akasia. Ayam ramai berkokok, burung-burung berkicauan, domba mengembik, anjing kedengaran ribut saling menggonggong, dan dari jauh juga tertangkap suara tawa serta teriakan orang-orang yang berangkat ke ladang. Langit bulan Maret biru bersih. Udara mulai terasa dingin, sebab diam-diam bola matahari itu mulai bergeser ke arah utara katulistiwa. Jesus dan rombongan kembali ke Bromo Cottages di Tosari. Breakfast sudah siap. “Tuan bisa mandi terlebih dahulu, dan ganti baju. Bisa pula langsung makan pagi. Semua sudah disiapkan.” Sementara itu, para wartawan yang menyelusup ke seluruh pelosok Bali, tetap tidak berhasil menemukan tokoh yang mereka cari. * * *

Fragmen Novel Para Calon Presiden

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: